
“Tu-tunggu dulu, Tuan.” Suara si pria terdengar terbata.
“Sepertinya kita harus membicarakan kesalahpahaman ini lebih dulu, Tuan,” kata si pria dengan mimik wajah yang ketakutan.
Aura gelap Evans Colliettie yang membunuh itu tentunya membuat siapapun ketakutan. Mati detik ini juga, tentunya tidak diinginkan oleh siapapun bukan?
Pria tersebut dan juga kekasihnya, tentunya tidak ingin mati konyol di tangan sang Penguasa Italia. Terlebih lagi anak buahnya tidak sebanding dengan jumlah anak buah Evans Colliettie, tentunya mereka kalah saing.
Evans menaikan satu alisnya. “Salah paham, hah?” Suara Evans dingin namun terdengar membunuh membuat semua orang yang berada di dalam sana pun merinding mendengarkannya.
“Kalian semua sudah menculik istriku dan kini kau mengatakan padaku salah paham?”
“Ka-kami tid—”
Dor!
“Haaaahh….”
Jerit semua wanita di dalam sel akan tembakan yang terlepas dari senjata moncong panjang sang penguasa Italia pada salah satu anak buah penjahat tersebut.
Korban pertama adalah anak buah yang memaki Alea ketika Alea meminta obat untuk Alice dan akhirnya pria itu mati seketika akan timah panas yang menembus tepat di jantungnya.
“Di mana istriku!” teriak Evans, murka.
Pria tersebut menoleh pada kekasihnya yang sama-sama ketakutan.
“Bawa wanita itu kesini.”
Wanita berambut ikal itupun mengangguk dengan tubuh yang bergemetar ketakutan setengah mati. Hal yang tidak diinginkannya ternyata terwujud. Dia kini berhadapan dengan The Black Rose secara langsung.
Tidak ingin mati konyol di sini, wanita berambut ikal tersebut pun bergegas pergi keluar yang diikuti oleh salah satu anak buah Evans Colliettie.
“Tolong maafkan kami karena kami tidak tahu kalau salah satu wanita yang kami bawa adalah istri anda.
“Ini murni kesalahpahaman. Tuan bisa membawa istri anda pergi. Kami tidak akan menghalanginya. Tapi tolong….”
Pria itu terdengar tengah mencoba bernegosiasi dengan Evans Colliettie yang terlihat begitu murka.
“Tuan bisa lepaskan kami, tanpa membunuh kami.”
Evans menarik sudutnya ke samping diiringi tatapan membunuh.
__ADS_1
“Ck! Melepaskan kalian tanpa membunuh, hah?”
Evans meludah ke lantai, menatap bengis pada pria di depannya. Seringai iblisnya membuat pria itu ketakutan.
“Setelah kau sudah mengganggu wilayahku, membuat kekacauan di tempat kelahiranku—menculik beberapa wanita untuk dijual ke Spanyol dan menculik istriku?”
Ada kalimat yang terjeda, Evans semakin lekat menatap pria tersebut.
“Apa kau pikir semudah itu aku akan melepaskan penjahat seperti kalian, hah? Apa kau tidak pernah berpikir akan akibatnya bila kau sudah berurusan dengan Evans Colliettie?”
Pria itu menelan salivanya dalam-dalam, ia sudah tahu akan konsekuensi berurusan dengan Evans Colliettie.
Pria tersebut bersama dengan kekasih nya pun sudah tidak punya kesempatan untuk hidup karena pria kejam itu tidak ada kata pengampunan.
Tidak lama, wanita berambut ikal tersebut pun keluar membawa wanita yang terlihat begitu kacau dan juga berantakan diiringi pekikan keras yang terdengar penuh kemarahan.
“Apa yang ingin kalian lakukan padaku lagi hah? Apa kalian tidak takut akan ucapanku kalau kalian akan mati karena sudah membuatku seperti ini.
“Suamiku Evans Colliettia pastinya akan membunuh kalian sem—”
Wanita berambut blonde yang mengaku sebagai Alea pun menjeda perkataan ketika melihat siapa yang berdiri dengan tegak di depannya.
Bola matanya sontak membuat lebar-lebar diiringi ekspresi yang syok. Bibirnya terkatup rapat ketika siapa yang kini berada di hadapannya.
Sementara Evans Colliettie yang tengah bersedekap langsung menaikan satu alisnya diiringi menajamkan tatapannya.
“Ini istri anda Tuan. Alea Anjanie. Silahkan Tuan bisa membawa istri anda pergi!”
Wanita itu sontak menganga diringin mata yang kembali membulat sempurna.
Ada ketakutan yang terpancar begitu nyata di wajah wanita ketika berhadapan langsung dengan Evans Colliettie yang sesungguhnya.
Wanita itu tidak bisa lagi membual seperti yang sudah-sudah untuk menyelamatkan nyawanya sekalipun dia harus di perkossa oleh salah satu pria dan setelah itu digilir dengan anak buah yang lainnya, miris bukan?
Mengaku sebagai istri Evans Colliettie agar bisa dibebaskan tetapi wanita itu mendapatkan pelecehan.
“Sa-sa-yangku, E-ev-vans,” sapa si wanita terdengar terbata dan diiringi senyuman yang dipaksakan.
Di belakang sana di deretan para wanita, Alea pun sama. Alea sama terkesiap seraya menutup mulutnya erat memandangi kejadian yang tidak terduga, ketika ada seseorang wanita yang mengakui sebagai Alea Anjanie.
Dada Alea naik turun akan apa yang akan dilakukan Evans terhadap wanita yang berbohong itu yang mengakui istrinya, sementara Evans nampak terlihat sangat santai namun penuh intimidasi.
Diturunkannya senjata api tersebut, dengan perlahan Evans mendekati wanita yang mendadak wajahnya pucat begitu juga nyalinya yang menciut seraya menundukan wajahnya.
__ADS_1
Evans mengulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan hitam untuk memegang dagunya, lalu menyentakan wajahnya agar wanita itu mau menatapnya kembali.
Evans memperhatikan secara detail wajah wanita tersebut. Wajah tampan Sang Penguasa yang begitu dekat membuatnya tidak bisa berpaling untuk menatapnya, meski terkesan santai namun menakutkan.
“Alea?” tanya Evans pada si wanita tersebut.
“Kamu Alea Anjanie, istriku?”
Dengan susah payah wanita itu menelan salivanya. Dia bungkam dan tidak menjawab sapaan Evans. Bibirnya terkatup rapat akan ketakutan yang nyata di hadapannya itu.
Evans tersenyum miring seraya mengusap pipi wanita itu sebelum mundur, Evans menoleh ke arah pria itu dengan tatapan Evans yang tajam mengisyaratkan untuk mendekat dengan tangan nya. Pria itu pun menghampirinya dengan takut.
Bukk!
Kepala pria itu dihantam keras dengan ujung senjata moncong panjangnya yang Evans pegangi sejak tadi. Tubuh si pria terhempas ke sel besi di bawah jeritan para wanita di dalam sana dan juga jeritan kekasihnya yang langsung bergerak menghampirinya.
Si pelaku wanita itu terdiam sejenak dengan tubuh yang membeku ketika para anak buah Evans langsung menodongkan senjata api tepat di belakang kepalanya.
Wanita yang mengaku sebagai pun menjerit ketakutan dan mundur dengan menutup telinganya.
Para anak buah penjahat itu langsung mengacungkan senjata apinya ke arah Evans yang sudah menganiaya Bosnya.
Sayangnya, gerak cepat anak buah Evans Colliettie membuat jeritan yang cukup kencang ketika semua anak buah sepasang kekasih itu pun mati dan menyisakan sepasang kekasih di depannya itu.
Alea menutup mulutnya rapat-rapat, sesaat Evans menghampiri si pria yang terjerembab di depan pagar besi. Pria tersebut menatap bengis pada Evans sekalipun wajahnya penuh darah.
Evans menendang perut pria itu dengan keras lalu menghantamkan kembali senjata apinya ke wajah sip ria itu dan kembali menghempaskannya keras hingga pria itu terhimpit di dekat pintu sel.
“Honeeeyyy!!!” teriak kekasihnya dengan linangan air mata.
Pria itu terlihat sudah tidak berdaya saat Evans berjongkok di depannya lalu mencekik leher pria tersebut keras dengan tatapan bengis.
“Kini kau sudah berani mempermainkan Evans Colliettie, hah?” serua Evans terdengar mukra.
“Di mana istriku?” teriak Evans, keras.
Pria itu sudah tidak berdaya, namun pandanganya sejenak pada si wanita di depannya tersebut yang sama takutnya.
“Ja-ja-ja di di-dia buk-an istri anda, Tuan?” kata si pria terdengar terbata.
Siapa yang tidak syok bila malaikat maut berada di depannya, dan pria itu tidak percaya kalau wanita itu sudah berani membohonginya.
Pria itu bersujud di depan Evans. “To-tolong ampuni sa-saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau wanita itu bukan istri anda,” sambung si pria.
__ADS_1
“Ck! Dasar bajjingan kamu, hah? Kau sudah menipuku!”