HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Jangan Pergi Lagi Dariku, Lea!


__ADS_3


“Kamu terlalu berlebihan, Alice.” Tatapan mata Evans membuat Alea paham.


“Kamu harus pergi dan harus kembali sehat. Kita akan bicara lagi nanti.”


Alea menarik nafas sejenak ketika Mika masuk dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


“Aku minta tolong padamu, Mika. Kamu temani dia sampai ke tempat yang aman dan juga tolong berikan pengobatan untuknya karena dia sedang sakit.”


Mika menoleh ke arah dan menatap Tuannya. Evans berikan anggukan pelan mengizinkan.


 “Baik Nyonya,” ucap Mika seraya membawa Alice untuk dievakuasi.


Alea melengkungkan senyuman menatap kepergian Alice yang sudah dari pandangannya.


Bola mata Alea tersentak kaget, saat Evans menarik badanya dan membawanya ke dalam pelukan yang begitu—erat.


Keduanya terdiam beberapa menit seolah tengah meresapi irama jantung yang berdetak sama begitupun hatinya berubah sangat tenang seolah keduanya sama-sama saling merindukan satu sama lain.


“Aku tidak peduli sekalipun kamu membenciku, Lea. Tapi, aku tidak bisa membiarkanmu pergi dari sisiku lagi. Kamu adalah milikku, Lea,” tegas Evans seraya mengeratkan pelukannya.


“Ev…”


Air mata Alea kembali berderai membasahi wajahnya seraya menatap sang suami dengan penuh penyesalan.


“Maafkan, aku.”


Evans melepaskan pelukannya dan memegangi bahu Alea. Ditatapnya sang istri yang menangis di depannya, namun Evans berikan senyuman lembut dengan jarinya menghapus air matanya.


“Ssstt… kamu tidak salah, sayang. Akulah yang salah disini. Akulah yang sudah membuatmu pergi dariku. Jadi, kamu tidak usah meminta maaf padaku, sayang.”


Evans mengecup kening sang istri dengan lama setelah itu mengusap wajah sang istri dengan lembut.


Ditariknya tubuh kurus sang istri dan kembali membawa dalam pelukan penuh kerinduan. Satu tangan Evans membelai lembut rambut sang istri.


Tak lama, Evans melepaskan pelukannya dingin tatapan penuh kerinduan yang terpancar pada sang istri yang terdiam karena Alea sudah kehabisan kata-kata untuk suaminya itu.


Evans berikan senyuman lebar dan menarik tangan Alea untuk di genggam erat dengan satu tangan yang lainnya memegang senjata seraya mengajak Alea untuk keluar dari tempat ini.


Alea tersentak ketika Evans berbalik sebelum melalui pintu yang sudah berada di depan matanya.

__ADS_1


 “Aku minta padamu, Lea. Apapun yang terjadi, tolong jangan jauh dariku lagi. Aku tidak sanggup hidup tanpamu, Lea.”


Alea mengangguk sembari tersenyum semenatra Evans pun mencium punggung tangan dan mengangkat senjata apinya. Mereka pun keluar bersama-sama dengan Alea yang berada di balik punggungnya dan membawa berjalan di sepanjang deck kapal.


Alea tersenyum senang, akhirnya Evans menyelamatkanya. Entah bagaimana nasibnya jika Evans tidak datang untuk menyelamatkannya, mungkin Alea akan menangis darah karena kebodohanya itu.


Bunyi tembakan yang terdengar saling menyerang di gendang telinga keduanya. Entah berada di mana sumber tembakan tersebut, yang jelas di mana Alea berada di dalam satu kapal tersebut.


Tidak hanya suara tembakan, namun suara ledakan pun terdengar cukup keras sehingga membuat tubuh Alea limbung akan guncangan. Beruntungnya, Evans bergegas menangkap tubuh sang istri.


Alea menggenggam erat tangan Evans yang terlihat waspada. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Alea menghela napas panjang, dulu ia dan Evans pun pernah berada di situasi ini dan mereka bisa melewatinya dengan selamat meski ya, rasanya Alea tidak yakin akan terbiasa.


"Kamu jangan takut, sayang. Kita akan selamat dan kembali pulang ke rumah bersama,” ucap Evans meyakinkan pada sang istri yang terlihat cemas.


Alea pandangi sejenak sebuah kapal yang cukup besar yang bisa Alea tangkap saat ini di mana kapal yang Alea tumpangi ini adalah kapal bermuatan barang-barang yang terdapat beberapa kamar di dalamnya.


Semua tempat terlihat begitu mengerikan karena banyak nyawa yang tergeletak mati begitu saja berserakan di sepanjang jalan.


Dengan tiba-tiba Evans menariknya kencang dan melindungi kepala Alea untuk menunduk di balik lemari besi di belakang punggung ketika desingan tembakan ke arahnya saling bersahutan.


Dor!


Dor!


Dor!


Duaaarrr!


“Ev….”


Jerit Alea ketika tubuh Alea terhempas dan menjauh dari Evans disaat keduanya tadi berpegangan tangan sebelum ledakan itu menggema di beberapa meter dari tempat mereka berada. Getaran ledakan itu terasa menggunakan kapal besar tersebut.


“Shitt!!!” umpat Evans ketika melihat Alea yang terjatuh di ujung sana.


Alea merintih kesakitan, seluruh tubuhnya sakit semua dengan kepala yang kembali berdenyut nyeri.


Sesaat, Alea mengerjapkan matanya. Alea melihat dua orang bertubuh besar menghampirinya.


“Alea…” teriak Evans di ujung sana. Pria itu nampak terlihat menembaki musuh-musuhnya.

__ADS_1


“Jangan cemaskan aku, Ev. Aku baik-baik saja,” jawab Alea dengan suara yang keras dari arah belakang Evans.


Dua pria bertubuh besar tersebut pun menarik Alea dengan paksa, tak terima. Alea pun membela diri dengan berkelahi dengan dua pria bertubuh besar di depannya. Meski hanya tenaga yang tersisa untuk melepaskan cekalan dua pria tersebut.


Evans menoleh ke belakang, pria itu menggeram marah ketika melihat istrinya sedang berkelahi dengan dua pria bertubuh besar.


Meski Evans tahu kalau istrinya pandai bela diri. Tetapi, melawan dua pria besar tersebut adalah kelemahan istrinya.


“Lea, menyingkirlah,” teriak Evans.


Alea langsung menyingkir dan menghindari dua pria bertubuh besar tersebut. Dengan mudah Evans melayangkan dua timah panas yang menerpa pada bagian belakang kepala dan satunya berada di belakang dada dan keduanya pun terjatuh ke lantai mati seketika.


Evans berlari kencang menuju di mana Alea berada, jarak mereka tidaklah jauh.


Namun, ketika mendengarkan suara desingan yang begitu nyaring Evans menghempaskan bahu kanannya ke lantai hingga membawa tubuh Alea langsung terseret berada di atasnya.


Satu tangan Evans  memegang senjata api laras panjangnya yang langsung di hunuskan ke atas dan menembaki berkali-kali penjahat itu yang terjatuh ke lantai bawah dengan keras ditembak mati oleh Evans.


Evans meletakan tubuh Alea di sampingnya, lalu bangkit segera mungkin menarik Alea untuk berdiri sekalipun rasanya Alea tidak sanggup lagi berdiri.


“Ev,” lirih Alea memanggil sang suami.


Betapa mengerikan situasi ini membuat tubuh Alea bergidik ngeri ketakutan melihat banyak penjahat yang mengejar dan menyerangnya.


“Ssst…. Jangan takut, Alea. Kamu pasti akan selamat.”


Evans menggenggam tangan Alea. “Di Lantai atas ada landasan helipad. Dua lantai dari sini.


“Berlarilah secepat yang kamu bisa aku akan mengikutimu dari belakang. Kamu paham sayang?”


Alea berikan anggukan paham. “Aku akan melindungimu sekalipun dengan tubuhku. Jadi kamu tidak usah takut, sayang.”


Evans menyusut air matanya yang mengalir di pipi sang istri. “Kamu adalah seorang istri The Black Rose.


“Kamu tidak boleh menangis seperti ini karena kamu adalah wanita yang kuat,” ucap Evans seraya mengecup kening sang istri.


Alea pun mengikuti intruski Evans dan berlari sementar Evans dibelakangnya menembaki para penjahat.


Coming next…


 “Apa kini kau merasa senang, hah? Tlah menjadi istri satu-satunya Evans Colliettie?”

__ADS_1


__ADS_2