
“Bangunlah sayang, apa kamu tidak merindukanku?”
Dua puluh hari sudah setelah kejadian yang penuh dengan ketegangan malam itu dan kini sudah dua puluh hari sudah Alea dibuat sesak yang diiringi linangan air mata yang seakan tidak pernah berhenti membasahi wajahnya.
Alea pun tidak pernah putus memanjatkan doa dan bersujud pada sang ilahi untuk meminta kesembuhan sang suami.
Alea yang masih mengenakan mukenanya pun nampak begitu tenang meski tidak dengan kedua tangannya yang selalu bergemetar setiap menyentuh tubuh sang suami yang masih setia memejamkan matanya.
Disibakan mukena ke samping bahunya, dengan cekat satu tangannya mengusapkan handuk kecil yang hangat pada wajah suaminya yang belum sadarkan diri sejak kejadian di laut itu, meski keadaanya saat ini sudah bisa melewati masa kritisnya. Evans belum sadarkan diri.
Alea berusaha keras agar tidak menangisinya. Tapi, tidak bisa. Air matanya selalu terus berjatuhan membasahi pipinya.
Meski Alea tahu dan juga lelah menangisi pria yang sudah terbiasa berada di dalam kondisi seperti ini, tidur berhari-hari dengan balutan lukanya. Namun, tetap saja air matanya selalu membasahi pipinya.
Pandangannya tertuju pada tubuh sang suami yang dibiarkan tanpa memakai baju setelah menggantikan balutan perban di bagian pinggang dan juga dua lengan yang terkena luka tembak.
Sedihnya, ketika Alea memperhatikan tubuh sang suami yang banyak luka yang serupa menghiasinya tubuhnya membuatnya merasa sakit, sekaligus ngeri.
“Kenapa, kamu harus hidup seperti ini, Ev?” suaranya terdengar bergetar.
Perlahan tangan Alea terulur dan menyentuh lembut belas luka tepat di dada sebelah kirinya. Tangannya langsung bergemetar merasakan kulit kasar bekas luka yang akan selalu meninggalkan kenangan dan luka pahit di sana.
Luka di mana hidup Evans mulai dikelilingi kegelapan, kebencian dan juga kesepian. Luka tembak dari sang ibu. Kenangan menyakitkan itu tanpa sadar membuat derai air matanya kembali membasahi pipinya.
Alea seolah bisa merasakan bagaimana rasa sakit itu yang amat terdalam dari luka yang diusapnya ini.
Ditutupnya mulut dengan tangan sembari menundukkan wajahnya di samping Evans yang tertidur. Alea membiarkan semua air matanya kembali menggenang karena tak kuasa melihat dan merasakan betapa sakitnya penderitaan pria ini.
Pantas saja bukan kalau pria ini begitu melindunginya?
“Kamu pria yang baik, Ev. Tidak seharusnya hidupmu memberikan banyak luka seperti ini.”
Tidak peduli jika ada yang mendengar perkataan sekalipun tadi Mika baru saja datang ke dalam kamarnya.
Alea hanya ingin menumpahkan semuanya rasa sedih dan juga rasa takut kehilangan.
Perlahan Alea merebahkan diri di samping Evans, memeluk lengan suaminya dengan hati-hati dan menyembunyikan wajahnya di bahu suaminya dan menangis di sana.
“Tolong jangan membuatku takut, Ev. Kamu harus bertahan karena aku masih membutuhkanmu untuk bisa hidup di dunia ini. Aku mohon,” kata Alea, pelan.
Hatinya terasa sakit. “Bangunlah, Ev. Aku merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanku, hmm?”
Ratapan Alea terdengar memilukan, sebelumnya ia tidak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti ini pada Evans Colliettie.
__ADS_1
Tetapi, pria yang sedang berbaring di sampingnya yang tidak sadarkan diri itu adalah suaminya. Suami yang sudah mengorbankan nyawanya untuk menjaganya tetap selamat dan aman, seperti apa janjinya yang pernah Evans katakan.
Bagaimana bisa Alea mengabaikan begitu saja, pria ini. Hatinya jelas ikut sakit ketika melihat kesakitan pria yang dicintainya. Kesepian yang begitu menyedihkan ini.
“Bila waktu bisa berputar kembali. Aku hanya meminta pada Tuhan, seharusnya kita tidak pernah dipertemukan seperti ini denganmu. Bila, akulah yang membahayakan kehidupan mu sendiri.
“Semua ini karena aku. Bila kamu hidup di dunia yang begitu kejam. Mungkin jika kita tidak pernah bertemu mungkin kehidupanmu jauh lebih baik.”
Semua yang terdapat di tubuhnya dengan kesakitannya ini, Alea merasakan semua ini adalah karenanya.
Andai saja Alea mengikuti perkataan Evans untuk tidak banyak berharap dan banyak meminta seperti orang lain di luaran sana, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Karena setelah menikah dengan sang penguasa Italia, tentunya kehidupannya akan berbeda dengan orang lain.
Alea masih terisak dan terbawa suasana kesedihan, sampai wanita itu tidak menyadari adanya pergerakan dari sang suami.
Ia tersentak kaget ketika merasakan jemari digenggam seseorang dan satu tangannya yang lain membelai lembut kepalanya.
Alea menengadahkan kepalanya, senyuman sang suami pun merekah dan melihat Evans yang tersenyum senang menatapnya.
Secepat kilat Alea bangun dan terkesiap saat mengetahui Evans sudah sadar dan tengah menatapnya. Air matanya kembali membasahi pipinya saking senangnya melihat Evans yang sudah siuman.
Bahkan pria itu mengulurkan tanganya mengusap lembut pipinya.
“Aku amat bersyukur bisa melihatmu kembali, istriku.”
Alea menggenggam tangan Evans dan mengecup telapak tangannya.
“Ev…. Aku pun sangat bersyukur kamu kembali bangun.” Air mata Alea berderai lagi.
“Sssttt… aku sudah siuman dan kembali sayang. Jangan menangis, lagi,” kata Evans terdengar, lemah.
“Kamu membuatku ketakutan setengah mati, Ev. Jangan seperti ini, lagi.”
Evans tersenyum lemah, lalu menarik pelan tangan Alea agar dia kembali merebahkan tubuhnya diri di sampingnya. Jelas Alea menolaknya.
“Tidak, Evans. Lenganmu masih sakit.”
“Tidak apa-apa sayang, kemarilah.”
Evans menariknya paksa dan memposisikan lenganya di bawah leher Alea, lalu memeluk bahunya sembari menyeret sakit.
Alea yang melihatnya ikut menangis karena tahu ia, tahu Evans pasti kesakitan.
“Tetaplah di sini.”
Alea mengangguk, memeluk Evans pelan dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya dan menangis penuh syukur.
__ADS_1
“Jangan pernah mengatakan hal itu kembali karena aku sangat bersyukur bisa menemukan wanita sepertimu, sayang.”
Alea tercengang, “Kamu mendengarnya?”
Evans mengangguk, pelan. “Jangan pernah berpikir seperti itu karena selama ini aku tidak pernah menyesali apapun, Lea.
“Bahkan bila waktu bisa diputar kembali aku ingin lebih awal bisa berjumpa denganmu.
"Aku ingin orang yang pertama pria yang bertemu denganmu dan merasakan cinta denganmu dan bukan pria lain yang menyakitimu.”
Alea terdiam dan tidak menjawab perkataan Evans, ia hanya menundukan kepalanya di bidang dada Evans.
“Bahkan bila aku bisa, aku ingin meminta tidak ada luka di tubuhmu oleh ulahku!”
Alea mengangkat wajahnya, memandangi sang suami. “Akulah yang menyesal sudah membuatmu kesal dan juga melukaimu, sayang.”
“Ev….”
Bola mata Alea basah kembali, Evans seolah mengingat sikapnya padanya. Pria itu ternyata menyesali perbuatannya.
“Apa kamu tahu, sayang? Inilah yang dinamakan pulang ke rumah,” bisiknya seraya memeluk erat.
Alea memandangi sang suami. “Inilah rumah tempat yang paling nyaman karena kini ada wanita berhati malaikat yang selalu tersenyum hangat untukku, bahkan menangisi ku dan tidak lupa mendoakan keselamatanku.”
“Ev….”
“Aku sudah tidak butuh apapun lagi, sayang. Sungguh, yang aku butuhkan hanya kamu seorang.”
“Terima kasih untuk semuanya sayang,” ucap Evans seraya mencium puncak kepala sang istri.
“Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Ev. Aku sangat takut sekali ketika kamu tidak bangun-bangun.”
Evans kembali berikan Alea senyuman. “Dan aku senang kamu mengkhawatirkanku.”
Ale mendengus pelan seraya menatap Evans.
“Jangan menakuti aku kembali dengan seperti ini, Ev.”
Evans tertawa kecil melihat raut wajah Alea yang terlihat kesal kepadanya.
“Tidak sayang.”
Alea kembali tersenyum dengan satu tangannya menunjuk ke arah depan vas bunga yang berisi mawar hitam dan juga putih yang terdapat sepasang merpati.
“Lihatlah, menurutmu cantik bukan?”
__ADS_1
“Siapa yang mengizinkan kamu pergi?”