HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Alasan!


__ADS_3

“Apa Rafael membohongiku?”


Alea mendengus pelan seraya pandangi gerbang bercat hitam yang menjulang tinggi berjarak cukup jauh dari Alea berdiri di ruang utama berada.


Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang suami pulang.


“Apa iya dia pulang?”


“Apa dia tidak merindukanku?” tanya Alea lagi di dalam hati seraya menatap sedih.


Kedua matanya basah, rindunya begitu besar pada suami sekalipun di dominasi dengan rasa kesal yang masih terasa.


Alea membuat gestur melihat jam di pergelangan tangannya, sudah sepuluh menit ia berdiri di pintu utama menunggu kedatangan sang suami yang katanya akan pulang.


Senyuman Alea merekah di detik berikutnya ketika mobil sport keluaran terbaru berwarna hitam pekat masuk dan melaju menuju pintu utama dari mansion yang diiringi dengan beberapa mobil lainya dari belakang.


Alea terdiam, menunggu sampai sosok seseorang itu turun dari dalam mobil. Senyuman Alea merekah kembali ketika menatap kembalinya sang suami yang kini berjalan menghampirinya diiringi senyuman mempesona.


“Ya Tuhan, suamiku,” gumam Alea dalam hati, memuji ketampanan sang suami.


Alea bahkan sempat terpaku, memandang ketampanan sang suami tanpa kedua matanya tak bisa berpaling pada sosok pria yang ia rindukan.


Alea masih di sana berdiri menatap suaminya, bola matanya tersentak kaget saat tubuhnya terdorong masuk ke dalam dekapan Evans.


“Hai sayang, Mrs Colliettie,” bisik Evans lembut. Dikecupnya kening sang istri begitu dalam lalu bibir seksinya itu turun menyesap bibir merah muda candunya.


“Apa kamu merindukanku, sayang?” Evans melingkarkan tangannya di pinggang Alea dan kembali memberikan kecupan pada leher jenjang sang istri.


“Tidak!” jawab Alea, singkat. Bibirnya meruncing, mendadak hatinya menjadi kesal bila pertanyaan itu dilontarkan oleh Evans.


Jelas, Alea merindukan Evans hanya saja dia jaga image dengan pria yang menyebalkan di depannya itu.


Evans menaikan satu alisnya. “Untuk apa aku merindukan orang yang juga tidak merindukan aku?” lanjutnya, ketus.


Evans menatap gemas meski ia tahu kalau Lea nya marah. Evans melepaskan pelukannya, satu alisnya terangkat.


“Hh, seharusnya aku kesal bukan mendengarkan jawaban dari istriku tercinta yang tidak merindukanku pulang,” kata Evans kembali mengecup pipi Alea.


Bibir Alea mencebik, entahlah Evans bukan merajuk karena tidak di pedulikan. Emang dasarnya Evans kan tidak peka juga dengan perasanyaan dan juga masalahnya kenapa ia seperti ini.


“Sudahlah lupakan saja.”


Alea berikan bibir lima sentinya. Bahkan Evans sama sekali tidak meminta maaf untuk dua minggu ini.


“Apa kamu mau ikut denganku, sayang?”

__ADS_1


“Kemana?”


Evans bukan menjawab, tetapi pria itu menggenggam erat tangannya dan membawanya berjalan menuju pintu mobil sportnya.


Bahkan pria itu membukakan pintu mobil untuknya masuk seraya melindungi kepalanya agar tidak terbentur karena mobil sport Evans begitu pendek.


Ketika Alea sudah duduk, Evans lalu memasangkan seatbelt dan kembali berdiri tegak.


“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat di Napoli di musim semi ini, agar kamu tidak beranggapan padaku yang menyamakanmu dengan wanita murahan itu!”


Alea mengatupkan bibirnya, Mika benar-benar menyampaikan perkataan.


“Apa kamu ingin tahu sayang, bagaimana aku sangat marah sekali mendengarkan kamu berkata seperti itu, hmm?”


Evans mencium bibirnya sebelum mundur dan menutup pintu mobilnya. Pria berjalan memutari mobil lalu membuka pintu satunya dan duduk di kursi kemudi mengenakan seatbeltnya.


“Bukannya nasibku sama seperti mereka, Ev? Hanya bedanya kini hanya status Nyonya saja yang dulu pernah mereka perebutkan,” kata Alea mencoba mengutarakan perasaanya.


Jujur, rasa kecewa itu masih ada. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi, sayang. Sumpah, aku tidak suka mendengarkan hal itu,” geram Evans seraya menjalankan mobilnya menjauh dari area mansion.


“Kamu harus tahu, sayang. Kenapa aku melarangmu keluar tanpa sepengewasanku sendiri karena aku punya alasan tersendiri.”


Pria itu menoleh sejenak menatap sang istri yang langsung memalingkan wajahnya.


Demi apa, amarah yang menggebu di dalam hatinya ingin saja meledak ketika melihat sang istri terlihat mengacuhkannya. Evans tidak suka melihat Lea nya ngambek karena dikurung di dalam mansion.


Alea bungkam. Dalam diamnya, ia menghapus setetes air mata yang jatuh tanpa Evans ketahui.


Perkataan Evans menyadarkannya, kalau sekarang ini ia bergelar Nyonya Colliettie istri dari sang mafia Italia.


Tentunya, kehidupannya tidak akan seindah yang ia bayangkan. Alea kini sadar maksud dari perkataan sang suami.


Keluar mansion sekalipun bersama dengan Mika, tentunya bahaya selalu mengelilingi bahkan Alea sadar kalau musuh-musuh Evans di luaran sana tentunya mengincar dan menginginkannya mati agar balas dendam pada Evans, Lunas.


“Maafkan aku, Ev. Aku tersadar kalau inilah konsekuensi yang harus aku terima menikah dengan seorang mafia sepertimu. Aku tidak memikirkan ke arah sana,” kata Alea, tulus meminta maaf pada sang suami.


Ya, lagi lagi perkataan Evans menyadarkannya kalau kehidupannya akan selalu seperti ini untuk seterusnya, tidak ada kata damai setelah menikah dengan Evans Colliettie. Bukan Alea menyesal, tidak sama sekali.


Tetapi, dialah yang tidak sadar diri kalau sang suami adalah seorang mafia berbahaya tentunya kehidupannya pun tidak akan sebebas dulu.


Berandai-andai pun setelah menikah Alea akan bisa berbulan madu ke suatu tempat layaknya pasangan pengantin baru lainya. Berlibur berdua menyusuri tempat-tempat terindah di dunia.


Nyatanya, semua itu tidak berlaku untuknya. Empat bulan pernikahannya Alea masih selalu tetap berada di mansion terkurung di dalam sangkar emas sang mafia. Begitu menyedihkan bukan hidupnya?


Tapi, siapa sangka kalau hal itu karena Evans ingin Alea tetap aman.

__ADS_1


Evans meraih tangan Alea lalu menggenggamnya dengan erat.


“Kamu tidak salah sayang. Aku paham dengan keinginanmu itu. Aku melakukannya karena aku ingin kamu tetap aman dan aku tidak ingin kamu kenapa-napa, sayang,” ucap Evans seraya mengecup punggung tangan sang istri.


Alea berikan anggukan pelan, tubuhnya pun mendekat dan memeluk sang suami erat. “Maafkan aku,” kata Alea, lagi.


Evans mengecup kening sang istri di mana tubuh Alea menyandar. “Kamu tidak salah sayang, akulah yang tidak peka atas keinginanmu.


“Ketahuilah, aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau ada apa-apa denganmu. Kamu adalahnya nyawaku, Lea.”


Alea mengecup bibir sang suami yang di sambut oleh Evans yang mendadak menghentikan mobilnya ke samping kanan.


Evans membalas ciuman sang istri dengan nafas yang memburu dan kedua tangan yang tak lepas menarik tubuh sang istri untuk duduk diatas pangkuannya.


Alea terengah, bibirnya terukir senyuman untuk sang suami. “Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan.”


“Ya, kamu benar sayang. Aku takut lepas kendali di sini,” kata Evans, tersenyum.


Alea mengangguk dan kembali duduk di kursinya.  Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, Alea lebih memilih diam dengan pikirannya sementara Evans terfokus pada jalanan.


Dalam diamnya, Alea merasakan kalau kehidupannya terlihat sulit belakang ini. Ia merindukan saat-saat seperti dulu. Sebelum mengenal Evans ia bisa menikmati kebebasan. Hidup normal pada orang lain pada umumnya.


Evans memberhentikan mobilnya tidak jauh dari darmaga. Banyak para pejalan kaki yang menuju ke salah satu area terbuka yang berada di antara gedung-gedung tua Napoli. Di sekitaran, banyak para pertokoan dan juga pedagang di sepanjang jalan.


“Kita sudah sampai, Mrs Colliettie,” kata Evans seraya membuka pintu untuk sang istri keluar.


Namun, perkataan Evans yang lembut itu justru membuatnya kaget. Alea tidak menyadari kapan suaminya turun dan kini membantu melepaskan seatbeltnya.


“Kamu melamunkan apa, hm?” Evans mengulurkan tangannya yang disambut Alea dengan sikapnya yang diam.


“Tidak, Ev.”


“Aku mengajakmu jalan-jalan ke pusat kerajinan di Via San Gregorio Armeno, Naples.”


Alea mendatangi tempat yang ditunjukkan oleh sang suami.


“Bagaimana kalau kita menikmati kota ini sambil berjalan kaki? Bergandengan tangan menyusuri pertokoan di depan sana?” tunjuk Evans pada bangunan tua.


“Apa kamu mau aku gendong, sayang?” sambung Evans diiringi senyuman lembut. Ah, Lea nya masih kesal rupanya.


Alea menggeleng pelan. Ia tidak ingin digendong Evans karena seperti yang pria itu katakana. Menikmati tempat tersebut dengan berjalan kaki itu lebih asik dari pada harus digendong.


Tanpa ragu Alea mengaitkan jemarinya yang digenggaman oleh Evans dan turun. “Aku ingin berjalan kaki denganmu.”


“Oke. Ayo kita jalan,” ajaknya seraya menggenggam erat tangan Alea.

__ADS_1


“Jangan jauh-jauh dari pandanganku sedetikpun, istriku.”


Yuk guys bantu thor coment, like dan hadiah sebanyak-banyak dong biar thor semangat lagi update yang banyak. Terima kasih.


__ADS_2