
“Ev…. Ru—”
“Ssssttt.... Jangan takut, Lea. Aku akan membawamu pulang.”
Mungkin yang ada di dalam pikiran Evans saat ini, Alea ketakutan dengan kejadian ini.
Tapi sayangnya bukan itu yang Alea takutkan. Bukan kejadiaan yang berdarah-darah ini melainkan sesuatu hal yang selama ini Alea tidak ketahui.
Entahlah mengetahui hal yang menyakitkan ini membuat Alea susah bernafas akan sesuatu yang membuat Alea mati rasa. Hatinya sangatlah sakit mengalahkan rasa sakit di sekujur tubuh ini.
Diamnya Alea, wanita itu menyimpan pikiran yang kacau saat ini bahkan hatinya tidak bisa menerima semua kenyataan ini.
Pandangan Alea yang masih sama luruh kedepan. Sayangnya, hanya tatapan kosong dengan kepala penuh tanya. Alea begitu saja membiarkan Evans membawanya pergi sampai keduanya kini berada di landasan helipad.
“Jadi aku ini cacat? Wanita cacat yang tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku sendiri?” batin Alea seraya memandangi pinggiran kapal yang terlihat jelas.
Dari pandangannya itu Alea hanya melihat bagian-bagian kapal yang kini sudah terbakar sampai kapal setengah kapal tersebut terbakar.
Alea dan Evans yang berada di landasan pun menunggu helikopter yang yang kini mendekat.
“Sayang, peluklah aku lebih erat lagi,” pinta Evans.
Pria itu tidak menyadari bungkamnya Alea yang sejak tadi menatap kosong sekalipun Alea mendengar semua yang dikatakan Evans padanya. Namun, Alea enggan menjawab pertanyaan bahkan permintaan Evans yang meminta memeluknya erat.
Satu Helikopter berada di beberapa meter di atas kepalanya, satu orang di atas helikopter pun menjatuhkan tali yang langsung ditangkap oleh Evans lalu mengikat pinggang mereka berdua dengan erat.
Satu tangan Evans dililitkan pada tali tersebut untuk menjadi pegangan semenatra tangan yang lainya memegangi tubuh Alea yang masih menangis.
Duarrr!
Kapal tersebut meledak begitu saja dengan kedua tubuhnya pun ikut terguncang diterpa deru angin yang kencang menyapunya tubuhnya.
“Berpegangan lebih erat lagi, sayang,” teriak Evans kencang.
Alea mendengar dan memeluk Evans dengan erat. Lagi, lagi suara wanita itu membuat Alea menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suaminya diiringi mata yang terpejam.
Alea tidak tidak bisa menahan air matanya yang masih terus membasahi wajahnya saat tiba tubuh mereka terangkat naik untuk menjauh bagian kapal lain yang mulai terbakar.
Alea kembali membuka mata dan memandangi bawah kapal dengan kobaran api yang semakin membesar dengan gumpalan asap hitam pekat yang berada di bawah kaki mereka.
Evans menahan berat bobot tubuh mereka, bergelantungan diringin senyuman lembut pada sang istri. Tak lupa Evans mendaratkan kecupan hangat di kening untuk menenangkan Alea yang masih menangis.
“Ssstt… jangan menangis lagi, sayang. Kita selamat.”
Helikopter tersebut pun membawa Alea dan Evans mengarah pada salah satu kapal mewah di antara kapal lainya. Ternyata, dibawah pun sama.
Alea menangkap beberapa boat kecil yang mengikutinya kemana helicopter itu mengikuti kemana arah helicopter tersebut pergi seolah memastikan Evans dan Alea tidak terjatuh.
Tak lama helicopter pun berhenti di atas salah satu dek kapal dan menurunkan Evans dan Alea dengan selamat.
__ADS_1
Tubuh Alea langsung meluruh jatuh dengan tubuh yang bergemetar.
“Lea….”
Evans membawa Alea ke dalam pelukan. “Lea, kamu tidak apa-apa?”
Evans menggendong sang istri ala bridal dan berjalan masuk ke dalam kapal mewah tersebut.
Dari kejauhan Alea hanya bisa memandangi kapal yang berjarak cukup jauh dari kapal dimana Alea berada. Tidak lama, kapal tersebut pun meledak dan membakar habis tanpa sisa.
Itulah bukti kekejaman dari seorang Evans Colliettie tanpa membiarkan satu orang pun tersisa di atas kapal tersebut. Semuanya mati mengenaskan dan terbakar hidup-hidup di tengah samudra.
“Apa kamu melihatnya, sayang?” tanya Evans yang menangkap sang istri tengah memandangi kapar tersebut.
“Itulah akibatnya jika mereka dengan berani berurusan dengan Evander Colliettie. Apalagi orang yang sudah berani melukai malaikatku.
“Itulah resiko yang harus mereka tanggung, terbakar hidup-hidup di dalam kapal tersebut,” ungkap Evans ikut menatap sejenak kapal tersebut.
“Ev…”
Tangisan Alea kembali pecah dan tidak bisa lagi terhindarkan. Rasa sakit hatinya kian mencuat begitu saja diiringi sesak.
“Ev…” Dipeluknya erat leher Evans yang menggendongnya.
“Tenanglah, sayang.” Evans menempelkan bibirnya di bibir sang istri yang bergemetar.
“Kamu aman bersamaku, istriku.”
“Ev…” panggil Alea untuk ketiga kalinya.
Evans tersenyum menatap gemas sang istri.
“Apa sayang?”
“Apa nanti kamu akan meninggalkanku?”
Kening Evans mengernyit diiringi tatapan bingung pada sang istri.
“Kenapa kamu berkata seperti itu, sayang?”
Derai air mata Alea tak bisa dihindarkan lagi dan terus menangis.
“Aku takut kamu meninggalkanku, Ev. Dan kamu memilih—”
Evans menghentikan langkah kakinya. “Apa maksudmu, sayang? Aku tidak mengerti.”
Alea pun tidak sanggup untuk mengungkapan isi hatinya yang saat ini hancur.
Dia menangis sejadinya dan menyembunyikan wajahnya di bidang dada Evans yang menatapnya bingung.
Alea meringis kesakitan, ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang begitu menyiksa di bagian belakang punggungnya.
__ADS_1
“Sayang. Apa yang ingin kamu katakan padaku, hm?”
Wajah Evans berubah cemas. Apa lagi wajah pucat sang istri yang meringis membuat Evans justru lebih takut lagi.
“Sayang. Kamu kenapa? Ada apa sayang?”
Evans menghapus air mata Alea yang terus berjatuhan di dalam gendongannya.
“Katakan padaku, sayang. Ada hal apa yang mengusik pikiranmu itu, hmm?” tanya Evans, lembut.
Kernyitan kening Alea membuat Evans semakin panik.
“Ev… aku—”
“Aaahh…”
“Bertahanlah sayang.”
Evans berjalan dengan cepat dan berteriak pada anak buahnya untuk memanggilkan dokter pribadinya yang sudah berada di dalam kapalnya.
“Punggungku sakit sekali, Ev.”
“Bertahanlah sayang…”
“Ehmm… Ya Tuhan… ini sakit sekali. Apa aku akan mati?” gumam Alea palan.
Sontak Evans melotot menatap sang istri dengan tatapan marah.
“Jangan pernah kamu berkata seperti itu, Lea!”
“Sakit sekali, Ev.”
“Bersabarlah, sayang.”
Pandangan Alea mulia mengabur diiringi rasa sakit yang begitu menyiksa tubuhnya. Perlahan kedua mata Alea menutup dalam kegelapan.
Sekalipun begitu, hatinya masih berteriak histeris akan ketakutan yang akan terjadi bukan pada dirinya tetapi, sesuatu yang lain.
Untuk pertama kalinya, Alea dilanda rasa ketakutan yang begitu besar. Tak bisa di pungkiri kalau rasa takut Alea karena wanita itu takut Evans akan meninggalkannya dan berpaling darinya bila Evans tahu kalau Ruby tengah mengandung anak dari benih suaminya sendiri.
Di saat suaminya mati-matian tak menginginkan anak dari pernikahan dengannya. Apa ini alasan Evans yang sebenarnya?
Evans menolak anak dari pernikahannya karena ia cacat? Dan Evans sendiri pun apa mungkin sudah tahu kalau Ruby mengandung calon keturunannya?
“Ya Tuhan. Apa ini jawaban dari pertanyaan hamba selama ini? Hamba cacat tidak bisa memberikan keturunan untuk suami hamba karena suami hamba sebenarnya tau ada wanita lain yang tengah mengandung keturunannya?”
“Bila benar begitu. Sungguh aku iri pada wanita yang beruntung bisa mengandung benih dari suamiku. Betapa cacatnya aku sebagai wanita tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Apa semua ini karena racun itu?” batin Alea.
“Ya Tuhan, Bila engkau izinkan dan mempercayaiku dengan amanahmu.
“Aku berharap bisa memiliki satu orang anak saja dari suamiku. Aku ingin memberikan keturunan Colliettie, amin,” batin Alea berdoa dalam kegelapan yang membawanya.
__ADS_1
Yuk, bantu like dan kasih thor gift dan iklanya, terima kasih sebelumnya