
“Brengsek si Evans Colliettie!”
Suara umpatan itu membuat Alea langsung mengangkat pandangannya ketika tengah melihat adonan kue yang sedang dibuat.
Dipandanginya sosok pria asing berbadan besar yang berdiri di depan pintu dapur dengan perasan takut.
Tadinya, Alea pikir pria itu adalah Massimo atau Lucas.
Tetapi, bukan karena pria itu berambut hitam legam dengan tatapan matanya yang nampak tajam—menakutkan.
Ekspresi pria itu pun terlihat begitu bengis dan tidak ada senyuman yang terukir di wajahnya.
Aura yang terpancar pun terlihat mengintimidasi mengingatkannya pada sosok Evans meski tidak setampan sang suaminya. Ya, walau ekspresi mereka serupa.
“Bahkan pria keji itu sama sekali tidak mengundangku di saat acara pernikahannya. Dasar brengsek!”
Umpatan pria itu terdengar keras bahkan sampai menggema di dapurnya.
Alea mengedarkan pandangan mencari Berta yang tadi duduk manis di kursi tinggi. Sialnya, Berta pun tidak ada di tempat itu, bahkan Mika yang sejak tadi berjalan mondar-mandir seperti setrikaan belum kering dan penuh pengawasaan pun sudah tidak ada di mana-mana.
‘Astaga, kemana perginya mereka,’ batin Alea.
‘Dia siapa? Apa musuh Evans?’
Alea menoleh ke kanan dan kiri mencari beberapa anak buah Evans di depan. Ah, entah kenapa hari ini Alea begitu sial karena tidak ada siapa-siapa.
‘Kalau dia musuh Evans kenapa bisa masuk ke dalam mansion ini? Bahkan sampai ke mansion pribadi Evans?’
‘Astaga, kemana para penjaga itu?’ batin Alea tak henti bertanya, akan menghilangnya semua penghuni mansion.
“Kamu siapa?” tanya Alea dengan nada satu oktaf, naik.
“Kalau kamu mau bertemu dengan suamiku. Dia tidak ada di sini!” kata Alea berujuar pada pria di depannya.
“Apa, suami?”
Seruan yang terdengar menakutkan dan bersamaan dengan aura si pria yang begitu jelas terpancar kuat yang bisa Alea lihat sekalipun terhalang oleh mini kitchen.
Tanpa sadar, Alea sadar mengambil pisau dengan hati-hati dan memegangnya dengan erat.
“Ya Tuhan, sebenarnya siapa pria ini?” batin Alea.
Tanpa terduga, pria itu tertawa lebar dengan raut wajah yang nampak menakutkan.
“Siapa kamu, hah?”
Pria asing itu mencoba mendekatinya dengan sikap waspada, sementara Alea berdiri dengan sikap siap untuk menghantamnya jika pria itu hendak akan melukainya.
Tidak ada orang di ruangan ini yang akan menolongnya dan sialnya, Alea memakai dress selutut.
Pria asing itu pun terus melangkah maju dan mendekat, membuat Alea langsung menyerang dengan pisau.
Terkejutnya ketika, pria itu bisa mengambil pisau yang dia genggam dengan erat dengan sedikit memukul tangannya.
Tapi, bukan Alea bila dia tidak punya cara lain. Alea pun berhasil menyikut perutnya hingga pria itu mundur kebelakang dengan tatapan bengis diiringi senyuman yang menakutkan.
Pria itu diam dan kembali mendekat. Namun, gerakan Alea yang cepat membuat pria itu tersentak kaget ketika mendapatkan tendangan tepat di perutnya sehingga pria itu tersungkur di lantai dengan kedua tangan Alea yang menggenggam erat.
“Stop, stop Mrs Colliettie, maafkan aku yang sudah menakutimu.
“Tolong jangan pukul aku lagi aku takut dibunuh Mr Colliettie jika aku sudah membuat istri tercintanya terluka.”
Sontak Alea melongo mendengarkan pria asing yang memohon ampun.
“Kamu perlihatkan?” tegas Alea menatap pria di depannya yang berdiri memegangi perut.
“Penjahat? Apa wajahku terlihat seperti penjahat, Mrs?”
“Ya,” jawab Alea, pendek.
Pria itu mendengus pelan seraya menatap wajah cantik Mrs Colliettie. Ada hati yang bergumam kalau seorang Mafia kejam seperti Evans itu begitu beruntung mendapatkan wanita yang terlihat serupa.
Tidaklah, lemah dan bisa menguasai bela diri itulah pasangan yang cocok untuk mendampingi sosok seperti Evans yang notabene selalu berada di dunia gelap.
“Astaga. Aku tampan seperti ini mana mungkin penjahat, Mrs.”
Pria itu melangkah mendekati Mrs Colliettie, Nyonya besar di mansion sang mafia dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Perkenalkan. Namaku, Rafael salah satu sekretarisnya sekaligus orang kepercayaan Mr Evans Colliettie.”
__ADS_1
“Sekretaris?” ulang Alea yang dianggukan cepat oleh pria bernama Rafael.
“Ya, Mrs Colliettie. Dengan banyak aset yang dimiliki seorang Evans Colliettie, tentu saja dia harus memiliki sekretaris yang kompeten, pekerja keras dan bisa diperintahkan seenaknya sendiri.” Ada kalimat di ujung yang itu memang kenyataan. Pria itu selalu seenak hati memerintah.
Rafael masih memegang perutnya yang sakit akibat tendangan Mrs Colliettie yang luar biasa keras, beruntung wanita itu adalah Nyonyanya, jika bukan pasti Rafel sudah membalasnya.
“Maaf, kalau aku sudah membuat anda takut Mrs, dan tolong maafkan perkataanku yang tidak sopan mengumpat suami anda.
“Tapi ada alasan tersendiri aku mengumpat suami anda. Aku marah saat tahu pria itu sudah menikah tanpa mengundangku. Aku nekat datang kemari untuk melihatnya langsung dan—"
Rafael melihat Alea seraya bersikap dengan melipat lengan di dada.
“Aku tidak percaya dengan apa yang sudah aku lihat, ternyata Mrs Colliettie pandai bela diri.
“Aku kagum dengan tendangan anda yang kuat itu.”
Hidung Rafael mengendus-ngedus aroma kue yang begitu kuat di dapur ini.
“Sejak aku datang, aku begitu sesak nafas ketika mencium aroma kue dari mansion pribadi Mr Colliettie.”
“Apa aromanya tidak enak sampai membuatmu sesak nafas?”
“Ah, tentu tidak. Perutku malah lapar.”
Rafael berikan cengiran yang diiringi kedua bola matanya pandangi sekilas adonan kue yang dibuat oleh Mrs Colliettie. Pria itu mendesah pelan dan melena salivanya dalam-dalam.
“Kelihatanya kue yang anda buat, sangat lezat. Ah, tapi sepertinya aku tidak bisa mencicipinya. Apa ini untuk suami anda, Mrs?”
Alea diam sejenak, seraya menarik nafasnya pelan. Dipandanginya beberapa loyang yang berjajar. Dia pun tidak tahu kue yang dia buat itu untuk siapa karena selama dua minggu ini Evans meninggalkannya.
Alea yang lebih sering membuat keras kue dengan beberapa macam rasa dan juga kreasi tentunya kue buatannya yang banyak itu daripada mubazir, Alea selalu memberikannya pada Berta untuk dibagikan pada yang lain.
“Oh ya, Mrs. Mr Colliettie akan tiba sebentar lagi dan anda harus siap-siap.”
“Untuk apa?”
“Sudahlah ikuti saja perkataanku. Anda harus lekas bersiap-siap.”
Alea tidak mendengarkan perkataan pria tersebut, dia lebih melanjutkan kegiatannya yang terganggu oleh pria itu. Di tuangkan adonan kue ke dalam loyang lalu memasukan ke dalam oven lalu menyetel waktunya.
“Ayolah, Mrs. Waktunya sudah mepet,” kata Rafael, lagi.
“Apa kamu mau mencicipinya?”
“Hmm...tentu jika diperbolehkan. Aku mau."
“Tentu saja boleh, asal kamu mau menunggu kue yang berada di dalam oven sana,” tunjuk Alea.
Rafael tersenyum senang, bola mata pun membulat sempurna.
“Terima kasih banyak, Mrs.”
“Hm….”
“Apa perutmu masih sakit akan tendangku? Sepertinya sejak tadi aku perhatikan kamu memegangi perut?”
“Sakit Mrs, anda menendang dengan keras.”
“Maafkan aku jika begitu, sebagai ucapan maafku. Kamu boleh menghabiskan kue itu jika sudah matang.”
Rafael langsung tersenyum lebar. “Terima kasih Mrs Colliettie.”
“Sama-sama.”
Di saat Alea hendak berbalik badan, Alea teringat sesuatu.
“Rafael.”
“Ya, Mrs?”
“Apa dua minggu ini Evans pergi denganmu?”
“Sure! Setelah menikmati empat bulan bersantai ria dengan sang istri tercintanya, Mr Colliettie kembali bekerja karena banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Ini cuti yang membuatku sesak nafas karena terlalu lama dan membuatku kelelahan!” gerutu Rafael, kesal dan sedikit curhat.
Empat bulan cuti panjang bagi karyawan biasa tentunya sudah di depak dan dipecat mentah-mentah. Tetapi, bila yang cuti selama itu adalah pemilik perusahaannya sendiri, Rafael harus bilang apa?
Pria itu rela kerja rodi, bolak balik naik dan turun private jet demi mengurus semua bisnis Evans Colliettie.
__ADS_1
Rafael mendengus lirih. "Baru saja sehari bekerja saja sudah membuat gendang telingaku rasanya akan pecah dan daun telingaku begitu panas sampai hampir dua minggu ini, karena suami anda lebih banyak menggerutu karena merindukan istri tercintanya di rumah.”
‘Benarkan seperti itu?’ batin Alea.
Ada secuil rindu dan juga senang mendengarkan perkataan pria itu setelah kebencian Alea begitu banyak pada sang suaminya.
“Sebenarnya pekerjaan seperti apa yang Evans lakukan bersamamu? Apa membunuh orang?” tanya Alea, spontan.
Bola mata Rafael membulat lebar sementara Alea pun entah kenapa tiba-tiba jadi penasaran apa yang dikerjakan oleh suaminya sampai pergi meninggalkan dirinya selama dua minggu ini tanpa adanya kabar.
“Membunuh orang, Mrs?”
Alea berikan anggukan, mantap. Rafael menaikan sebelah alisnya.
“Apa anda tidak tahu, siapa pria yang anda nikahi, Mrs? Apa pekerjaanya? Berapa aset-asetnya? Kekayaan? Uangnya di bank?”
Alea menatap dalam diam, tentunya bagaimana dia bisa mencari siapa suaminya sendiri dan Alea pun memang tidak ingin tahu akan sang suami.
“Hm. Aku nggak tertarik untuk mencari tahu siapa Evans Colliettie karena yang aku tahu dia seorang Mafia kejam seantero Italia."
Rafael mengernyit heran. “Hanya itu saja, Mrs?” tanya Rafael lagi yang dianggukan mantap oleh Alea.
Siapa Evans, tentunya Alea tidak tahu. Yang Alea tahu Evans Colliettie hanyalah seorang mafia kejam itu saja.
Rafael berdecak. “Serius anda tidak tahu siapa, J Evander Duquaire Colliettie?”
Alea mengedipkan dua bola matanya cepat.
“Siapa-siapa? J, apa tadi?”
Rafael semakin bingung pada wanita polos di depannya.
“Anda tidak tahu nama lengkap suami anda sendiri, Mrs?” tanya Rafael heran.
Alea menggeleng, tidak. Rafael menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan.
“J Evander Duquaire Colliettie, Mrs. Selain suami anda seorang ketua mafia yang semua orang tau. The Black Rose terkejam seantero Italia, yang tidak kata belas kasihan dan membunuh orang hingga ke akar-akarnya.
“Tetapi, Suamimu itu adalah seorang pengusaha sukses. Di bisnis legal dan juga ilegalnya.”
“Apa bisnis ilegalnya?” tanya Alea, penasaran.
“Mr Colliettie memiliki bisnis senjata api, alat peledak dan pelangganya bukan lagi dari kalangan biasa namun sudah dari kalangan elit.
“Mr Colliettie pun memiliki sindikat pembunuh bayaran yang terlatih dengan bayaran yang fantastis, menyewakan agen mata-mata yang sudah tidak diragukan lagi."
“Oke…cukup Rafael,” sela Alea cepat.
Padahal Rafael masih ingin menjelaskan dengan panjang lebar bagaimana seorang mafia terkaya number 2 di eropa.
“Lalu yang legalnya?”
“Mr Colliettie punya 5 perusahan besar yang berada di Asia, Eropa bahkan benua Amerika.
“JE Crops adalah nama perusahan yang sudah mendunia di bidang konstruksi dan juga teknologi.
“Bisnis lainya, kasino yang tersebar di Asia, Eropa dan Amerika. Club malam. Pabrik-pabrik di bidang industri, furniture.
“Mr Colliettie pun mempunyai showroom mobil mewah dan juga beberapa hotel bintang lima tidak ketinggalan pusat perbelanjaan, property, saham, Bank sendiri dan—"
“Ohh, baiklah jika begitu. Terima kasih Rafael sebaiknya aku akan bersiap-siap.”
Alea berbalik pergi, mengabaikan teriakan Rafael.
“Apa Mrs Colliettie baru sadar kalau anda sudah menikah dengan pria gila dan kejam yang kaya raya?
Alea mendengus pelan. “Mrs Colliettie, bila anda tertarik untuk menghabiskan uang Mr Colliettie saya dengan senang hati akan menemani anda kemana anda pergi untuk menghabiskan uang Mr Colliettie,” teriak Rafael.
Alea hanya menjawab dengan lambaian tangan dan pergi begitu saja tidak menanggapi perkataan Rafel. Sama sekali Alea tidak tertarik dengan cerita Rafael perihal kekayaan sang suami.
Jujur, sekaya apapun sang suami saat ini bagi Alea tentunya bukan hal yang penting bila kekayaan Evans tidak bisa membuatnya bernafas dengan tenang.
Hidupnya tidak akan pernah berubah dan akan sama seperti kelima peliharaan yang selama ini lebih dulu singgah di mansion ini. Sepanjang hidupnya, ia akan terkurung di sangkar emas sang mafia.
‘Ya, itu tidak akan pernah merubahku menjadi seperti wanita normal lain pada umumnya. Menikmati kebebasan dan hidupnya yang tenang tanpa ada rasa ketakutan yang nyata di setiap-tiapnya yang menghampiriku,’ batin Alea.
Meski begitu, ada hati kecil yang membuat Alea kagum dengan keberhasilan sang suami sesukses itu.
‘Akhirnya aku tahu sedikitnya akan siapa kamu suamiku, sekalipun aku tidak tertarik dengan harta yang kamu miliki. Yang aku inginkan hanya new life normally.’
__ADS_1