
“Tidak punya waktu lama untuk berpikir, Alea. Waktunya sudah mepet. Lekaslah kamu pilih.”
Alea diam sejenak. “A—aku….”
Alea kembali terdiam lagi. Perasannya semakin tidak menentu saat ini. Alea seperti berada di ujung tekadnya untuk bisa terlepas dari cengkeraman Evans.
Tetapi, entah kenapa pikiran pria itu selalu menghantuinya?
“Kamu sudah melangkah jauh sampai detik ini, Alea. Sudah sepuluh hari kamu berhasil keluar dari mansion suamimu. Apa harus dibatalkan?” kata hati kecilnya.
“Lima belas menit lagi, Alea, keretanya akan berangkat,” kata Silvia mengingatkan.
Alea menghembuskan nafasnya dan kembali memandangi arah kanan dan kirinya secara bergantian.
Seharusnya, sejak dulu bukan Alea melakukan hal ini. Mungkin dulu bila Alea merencanakan pelarianya mungkin Alea tidak akan menikah dengan pria berhati kejam seperti Evans.
Lagi lagi kenapa. Rasanya air matanya menetes tanpa henti ketika Alea berdiri dengan diam diambang keinginannya yang begitu besar namun juga pikiran Evans yang begitu besar pun sama tak bisa lepas dari pikirannya.
“Kamu itu nggak usah mikirin Evans. Toh, selama sepuluh hari ini semenjak kamu pergi, pria itu akan baik-baik saja bukan?
“Untuk apa kamu mempertahankan suami mu yang menolak mati-matian tidak ingin mempunyai anak dari rahimmu?!
“Ini jalan kamu, pergi darinya dan kembali dari awal melupakan Evans. Sudahlah, Alea sebelum bertemu pun pria itu akan baik-baik saja tanpa adanya kamu.
“Bukannya Evans selama ini kuat bukan?” kata hati Alea mencoba menyakinkan dirinya agar lekas pergi.
“Alea….”
Panggilan lembut itu membangunkannya dari lamunannya. Alea menatap kembali Silvia diiringi senyuman.
Kedua wanita yang berdiri di area sepi di sebuah stasiun kereta pun sama-sama melihat keberadaan kereta yang akan Alea naiki.
Alea ingin sekali menanyakan pada wanita itu, bagaimana wanita itu bisa berhasil mendapatkan satu tiket untuknya pergi ke Roma.
“Oh, ya. Bagaimana kamu bisa mendapatkan tiket ke Roma, Via?” tanya Alea menoleh ke samping.
Padahal pertanyaan ini tidak penting, tetapi Alea ingin tahu.
Silvia tersenyum pelan. “Kamu nggak usah cemaskan akan hal itu, Alea. Aku meminta bantuan dari salah satu temanku yang bekerja di stasiun ini.”
“Terima kasih banyak kalau begitu, Silvia.”
Wanita itu mengangguk, Alea kini merasa tenang. Apa lagi wanita itu menjamin dirinya akan sampai ke Roma dengan aman dan harus secepatnya mengurus surat-surat di sana dan menghubungi pihak perusahan Jeon untuk menjemputnya.
Tidak hanya itu, Silvia pun memberikan sejumlah uang tunai untuk perjalananya menuju ke Roma.
Alea benar-benar sangat berterima kasih yang teramat besar sampai Alea bingung harus bagaimana lagi mengucapkannya.
__ADS_1
“Baiklah, aku pamit, Silvia.”
“Apa keputusanmu sudah bulat memilih ke arah kiri?” tanya Silvia menatap ragu.
Alea menarik nafas sejenak. “Sudah sejauh ini, Silvia. Masa iya aku harus kembali.”
Silvia memeluk Alea sejenak. “Hati-hati di perjalanan, Alea.”
“Hm, terima kasih, Silvia.”
“Apa penampilanku terlihat meyakinkan?”
Silvia langsung mengamati penampilan Alea sekarang ini.
“Mungkin dengan masker dan juga topi ini kamu akan terlihat seperti pria bukan wanita.”
Alea berikan senyuman di mana Silvia tidak melihatnya terhalang masker hitam.
“Tapi kamu terlihat seperti pria cantik.”
Silvia merapikan penampilan Alea yang mengenakan pakaian adiknya.
“Pastikan penampilanmu tetap seperti ini sampai Roma, Alea. Agar kamu terhindar dari anak buah suamimu.”
Alea mengangguk, mendengarkan semua perkataan Silvia. Sekali lagi, Silvia menatap penampilan Alea dengan lekat sementara Alea menggenggam kedua tangan Silvia.
“Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu, ini Silvia.”
Silvia terdiam, mengeratkan genggaman Alea diiringi dua bola matanya menatap Alea sembari tersenyum sedih.
Melihat Alea, Silvia seolah melihat adiknya. “Kamu tidak perlu berkata apa-apa lagi padaku. Aku justru senang bisa membantumu, Alea.”
Silvia menarik nafas dalam seraya mengeratkan genggaman tangannya.
“Cukup jaga dirimu baik-baik selama di perjalanan. Kamu harus bisa kembali pada keluargamu di sana.
“Ingat, kembali pulang bertemu keluargamu dan hidup bahagia, Alea.”
Tanpa terduga sebening air menetes di pelupuk matanya, Alea memeluk Silvia erat karena wanita ini sudah banyak membantunya.
“Terima kasih banyak Silvia. Jika aku sudah terbebas dan bisa bertemu dengan temanku. Aku akan mengunjungimu suatu hari nanti, Silvia.”
Silvia mengusap lembut rambut Alea. “Baiklah Alea, aku akan menunggu akan hal itu.”
Alea berikan anggukan pelan dan bergumam di dalam hati. “Maafkan aku pergi, Ev. Selamat tinggal.”
Setelah mereka mengucapkan kalimat perpisahaan, Alea sudah melangkah kakinya masuk ke dalam kereta sementara Silvia sudah berbalik pergi meninggalkannya.
Alea berdiri sesaat tidak jauh di ambang pintu kereta yang akan membawanya pergi jauh dari Napoli.
__ADS_1
Alea kembali menoleh dan memandangi punggung Silvia yang sudah menjauh dan terlihat begitu kecil di ujung sana.
Perasaan begitu resah kali ini. “Kamu harus kuat, Alea,” kata Alea dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Alea langsung memalingkan wajahnya untuk mengatasi semua keresahan di dalam dirinya.
Pandangan Alea menuju ke arah kerumunan orang-orang di depannya yang terlihat sedang mencari tempat duduk atau menyimpan barang bawaan di sebuah gerbong.
Alea memandangi sepenjuru gerbong dengan pikiran yang berkecamuk namun sekuat mungkin Alea untuk bersikap tenang.
Saat keyakinan itu datang, Alea mulai siap melangkah kakinya menuju depan sana dan mencari tempat duduknya.
“Nona…”
Alea membulatkan kedua matanya, tercengang dengan telapak tangan seseorang yang menyentuh pundaknya.
Dada bergemuruh, ketika seseorang mengetahui dirinya adalah seorang wanita sekalipun penampilan Alea sudah sangat seperti anak laki-laki. Hoody besarnya sudah menutupi tubuhnya dan juga kepalanya.
Alea berbalik perlahan dan berdiri saling berhadapan dengan seorang wanita yang terlihat biasa sedang menatapnya dengan cemas.
“Apa wanita yang tadi bersamamu itu temanmu?”
Alea mengerjapkan matanya, mengingat akan Silvia.
“Silvia?”
“Aku tadi melihat wanita itu dibawa paksa oleh dua orang di sana…” tunjuk wanita itu.
Bola mata Alea mendelik. “Apa? Silvia dia bawa pergi?”
Alea panik, ia terburu-buru berlari untuk menuju pintu keluar gerbong dan menyusul kemana tadi Silvia berjalan.
Alea takut kalau Silvia kemungkinan ditangkap oleh anak buah Evans atau dua orang jahat sindikat perdagangan manusia.
“Tuhan tolong lindungi Silvia,” batin Alea seraya keluar dan mengejar keberadaan Silvia.
Alea segera menolong Silvia dari orang-orang itu dan mencarinya sampai Alea tidak menyadari hoodie yang dikenakan berikut juga topinya terlepas dan terjatuh membuat rambut panjang Alea terurai sampai wanita itu berada di area stasiun yang cukup ramai. Alea telah mengabaikan keselamatannya sendiri.
Sampai di ujung sana jalan, Alea tidak melihat tanda-tanda keberadan Silvia di sana. Alea berhenti sesaat dan memalingkan tubuhnya dengan menyadari ada yang sesuatu yang aneh.
“Ya Tuhan keretanya,” gumam Alea memandangi kereta yang akan membawanya ke Roma bergerak maju. Alea memutuskan untuk berlari mengejarnya. Ia tahu kalau semua ini pastinya sebuah jebakan untuknya.
“Jangan pergi dulu, aku mohon. Tunggulah aku,” gumam Alea lagi seraya berlari kencang.
Sayangnya, tubuhnya mulai kehabisan tenaga sekalipun berlari bak kura-kura.
Alea kembali mencoba menggapai tiang untuk naik. Sayangnya, satu tangannya di cekal hingga membuat Alea terhuyung ke belakang dan terjatuh.
“Kamu menjebakku?”
__ADS_1