
“Aku tidak peduli sama sekali di sini siapa sebenarnya yang salah! Hukuman akan tetap berlaku bila ada orang yang melanggar perintahku! Aku tidak ingin ditentang lagi dan aku pun tidak suka dibantah sekalipun olehmu—“
Evans menatap Alea marah. “Sekalipun kamu istriku. Aku tidak suka dibantah, Lea!” tegasnya.
“Ya, aku tahu Ev. Tapi ini tidak adil. Pelayan itu tidak salah. Akulah yang salah karena sudah memintanya untuk mencarikan kunci ruangan itu!”
“Kalau begitu seharusnya kamu itu tahu akan apa yang sudah aku larang dan apa hukuman bila kamu tidak mendengarkan setiap perkataanku, Lea!” desis Evans murka.
Amarah Evans meluap seolah pria itu tidak ingin, baik dirinya dan juga istrinya mengenang tempat itu sementara Alea memandangi sang suami dengan tatapan penuh tanya.
Evans seharusnya tidak semarah ini bukan padanya?
Ruangan itu—pavilion itu tentunya Alea tahu sejarahnya. Semua hal yang terjadi di dalam sana, Alea tahu.
Bahkan semua penghuni mansion pun tahu ruangan yang dilarang keras itu adalah tempat dimana Evans Colliettie menyimpan para wanita jallangnya.
Tetapi, di sini. Alea sama sekali tidak peduli akan hal itu. Alea pun tidak merasa sakit hati apa lagi kecewa pada suaminya akan masa lalunya itu.
Perbuatan Evans dulu padanya begitu juga dengan kegilaan Evans dengan wanita peliharaanya, Alea sudah mengikhlaskan semuanya karena kini Alea adalah istri sah dari sang Mafia Italia tersebut.
di dunia ini tidak ada orang yang mulus hidupnya bukan?
Tetapi kenapa Evans terlihat begitu marah besar dan juga terkesan berlebihan. Apa sebenarnya ada sesuatu hal yang selama ini Evans sembunyikan darinya?
Apa Evans sebenarnya ada hati untuk wanita itu?
Alea menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
“Ev, aku mohon dengarkan aku dulu. Please, lihatlah aku sebentar, Ev,” mohonnya.
Evans menurut, pria itu mendengus pelan lalu menurunkan pandangannya sembar melanjutkan langkahnya.
“Kenapa kamu begitu ketakutan aku berada di sana? Kenapa kamu begitu semarah ini, Ev?”
Evans bungkam. Tetapi, Alea tidak akan menyerah dengan praduganya.
“Ada ada dengan tempat itu, Ev? Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku?”
“Ev….”
Alea memejamkan kedua matanya seraya menarik nafas kembali, Evans benar-benar membuatnya semakin penasaran karena tidak kunjung dijawab semua pertanyaanya.
“Apa ada sesuatu hal yang terjadi di sana, hmm?”
“Apa selama ini kamu tersadar kalau kamu mencintai Ruby, Ev?”
Kedua bola mata Evans menatap penuh marah, namun secepat kilat pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain agar Alea tidak bisa melihat kegusaran di raut wajahnya yang tampak begitu jelas.
Sementara Alea, sama sekali tidak mengerti dengan sikap Evans. Tanpa sadar langkah kaki Evans membawanya ke kebun mawar miliknya.
__ADS_1
Pria itu pun duduk di kursi kayu yang menghadap patung wanita bersayap. Tetapi, pria itu sama sekali tidak menurunkan istrinya untuk duduk di sampingnya melainkan Evans memangku Alea dan pelukan kedua lengan Evans pun semakin merapat.
Dibawah sinar matahari sore yang terasa panas disertai semilir angin yang menyapu rambut suaminya. Alea mengerjapkan matanya menatap keseluruhan wajah suaminya yang terpapar sinar matahari, membuatnya silau.
“Aku paham kalau kamu marah seperti ini karena kamu ada hati bukan pada wanita itu?”
“Ev, meski aku kecewa bila kamu selama ini membohongi dirimu sendiri. Tetapi, aku mengizinkan kamu bersamanya, karena aku ingin kamu bahagia dengan dia!”
“Ck! Perkataan macam apa itu, hah?” bentak Evans, tidak terima.
“Apa kamu meragukanku, sayang? Apa kamu meragukan cintaku yang besar ini padamu, Lea?” suara Evans meninggi diiringi bola mata yang menghunus tajam.
Nafas Evans pun tidak beraturan seiring kecewanya pada sang istri yang beranggapan lain padanya.
“Aku sudah mengatakan padamu, kalau aku mencintai wanita itu lalu kenapa aku memintamu menjadi istriku, hah? Untuk apa aku repot-repot menyelamatkanmu kalau tidak ada rasa sayang padamu!”
Alea diam. “Untuk apa aku mati-matian mengejarmu, Lea kalau kamu masih belum paham juga!”
Alea bungkam sembari menatap manik mata indah Evans yang menatapnya nanar. Pria itu menggenggam tangannya dan mengecupnya lama.
Satu tangannya membelai lembut rambut panjang sang istri dan satunya merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
“Maafkan aku, sudah membentakmu!"
Alea diam tidak menjawab. “Tolong jangan pernah ragukan cintaku padamu, Lea. Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun.”
Evans mengecup telapak tangan sang istri. “Ruangan itu adalah salah satu penyesalanku.”
Evans menghindari tatapan istrinya dan menyandarkan punggung di kursi dengan menarik Alea semakin merapat.
“Apa maksudmu, Ev?”
“Penyelasan apa, Ev? Apa kamu menyesal akan Ru—“
Evans menarik dagu Alea dan menenggelamkan semua kebingungan akan sikapnya.
Pria itu malah menciumnya dalam sampai Alea terengah dan terbuai. Alea memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan lembut Evans dengan kedua tanganya yang sudah bergerak menjelajah di tubuhnya.
“Ev… kamu belum menjelas—”
“Hmps…. Ev—”
Evans seolah tidak suka bila kegiatannya ini harus terhenti dan membahas masalah wanita itu. Tak ingin mengingat wanita itu, yang bisa Evans lakukan ingin melepaskan semua kerinduanku pada sang istri tercinta.
Perlahan Alea membuka kedua matanya seraya menarik nafas dalam-dalam. Alea terbelalak ketika melihat di mana saat ini ia berada.
Ya, Alea terbaring diatas tempat tidurnya dengan keadaan tanpa sehelai kain yang menempel di tubuhnya.
Entah, kapan pria itu membawanya sampai kini mereka berada di dalam kamarnya dan terbaring bersama sang suami yang mendekapnya begitu erat.
Bibir Evans tak henti mengecup puncak kepalanya dengan sama-sama tanpa sehelai kain di bawah selimut tebalnya. Alea sama sekali tidak menyadari kapan Evans membawanya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Sayang….”
“Hm…”
“Malam ini aku ingin mengajakmu ke festival kota,” bisik Evans membuat Alea langsung berbalik untuk saling berhadapan.
Bola matanya membulat lebar dengan wajah yang berbinar senang.
“Benarkah?”
Evans berikan anggukan pelan yang diiringi senyuman. Dikecupnya kembali kening sang istri penuh sayang.
“Hm. aku ingin mengajakmu jalan-jalan malam di kota kelahiranku. Kita sama-sama menikmati keindahan kotaku di malam hari.”
“Tapi—” Alea menjeda perkataan seraya menatap sang suami. Ingatan akan kejadian beberapa minggu lalu membuatnya takut.
“Kamu tidak usah khawatir. Aku sendiri yang akan menjagamu.”
Alea melingkarkan kedua lengannya di leher sang suami.
“Aku nggak mau kejadian seperti waktu itu.”
Evans berikan ciuman di bibir sang istri. “Tentunya tidak, sayang.”
Alea berseru senang. Wanita itu pun bangun dari posisinya.
“Baiklah, aku akan akan bersiap-siap dari sekarang.”
Evans menarik lengan sang istri dan membawanya lagi ke dalam pelukannya.
“Eth. Mau kemana hmm?”
Alea menatap Evans dengan kernyitan bingung. “Katanya mau ajak aku jalan-jalan malam. Aku harus bersiap dulu bukan?”
“Enak saja mau bersiap dulu. Nggak, nanti saja sayang.”
Tatapan Alea pada Evans semakin bingung, namun setelah Evans meraih tangannya dan membawanya ke samping. Kedua bola matanya membulat lebar dan terkekeh gemas pada suaminya.
“Adikku minta di manja dulu sayang, jangan melarikan diri gitu dong.”
Duh, sumpahnya Alea ingin menjerit keras kalau Evans sudah seperti ini. Tidak menyebalkan dan juga menakutkan bila marah.
“Haaaahh…. Ev,” jerit Alea keras, ketika mendapatkan serangan tiba-tiba dari Evans Colliettie.
“Sssshh…. Ah, Ev….”
Evans mengulum senyuman. Hh, meski ya rapet dan penuh perjuangan untuk mencapai rumahnya. Namun, setelah masuk tentunya membuat keduanya sama-sama mendessaahh keras di bawah kendalinya.
Tidak peduli mereka berteriak keras di dalam kamarnya, toh pelayan di mansionnya ini pun tentunya tidak ada yang akan protes bukan.”
“Ev…. Evans…. Ehmm Sstt….”
__ADS_1
Senyuman Evans kembali melukis. “Teriaklah namaku sekeras dan sekencang-kencangnya, sayang.
“Aku ingin mendengarkan kamu berteriak kencang namaku, semakin kamu berteriak kencang itu semakin membuatku menggilaimu, wifey!”