HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Sedikit Luka!


__ADS_3


“Bagaimana caranya?”


Pandangannya berarah pada ruangan yang mereka duduk saat ini. Sungguh mustahil untuknya bisa keluar dan melarikan diri dari ruangan ini.


Mereka berada ditengah lautan yang luas dan juga dalam. Tentunya lari, dari sini dia akan mati.


 “Apa kamu sedang membual denganku?” tanyanya diringin tawa.


“Hai, siapa namamu?” tanya Alea seraya mengalihkan pembicaraan.


“Alice.”


Wanita itu menatap Alea. “Tolong jangan berkata hal-hal yang mustahil.


“Kita semua yang berada di sini tidak bisa lolos dari tempat ini. Kamu harus sadar kalau kita ini sedang di mana.”


Alea terdiam dan tidak kembali bersuara.


“Mungkin bila kita sudah tiba di tempat tujuan kita masih bisa punya kesempatan untuk melarikan diri dari sana.”


Alea lagi lagi diam tanpa memutuskan kontak mata mereka.


 “Para penjahat itu membawa kita berada di lautan menuju Spanyol.


“Tetapi, diantara mereka tidak ada seorang pun yang peduli pada kita. Mereka sudah seperti iblis, hanya bisa menyiksa kami.”


Alice menatap Alea penuh rasa putus asa. “Apa menurutmu kita bisa keluar dari sini. Bebas tidak dijual ke rumah bordil?”


Itulah yang Alea pikirkan sehingga rasanya lidahnya kelu untuk menjawab.


Ia sendiri pun tidak tahu apa ia bisa keluar dari sini di mana tadi semangatnya begitu tinggi untuk keluar dari tempat tersebut.


Kenapa kini mendadak sepertinya itu memang mustahil. Perlahan, Alea memalingkan wajahnya menghindar tatapan Alice yang masih menunggu sebuah jawaban.


Tidak ada satu kata sebagai jawaban yang keluar dari mulut Alea karena ia sendiri pun tidak tahu harus menjawab apa.


 Jika Evans tahu kalau ia diculik. Apa mungkin semua itu masih ada harapan dan juga kemungkinan mereka akan terbebas?


Hh, itu kalau benar-benar Evans akan mengejarnya sampai kemana ia pergi dan berada seperti perkataanmu itu.


Sedihnya, Evans tidak tahu dengan keadaanku sekarang ini apalagi Silvia yang entah bagaimana nasibnya di tangan Evans Colliettie.


Mengingat wanita paruh baya itu, Alea jadi merasa bersalah telah meminta bantuan pada Silvia.


Dalam diam Alea hanya bisa berdoa semoga Silvia tidak dibunuh oleh Evans Colliettie.


“Tetapi mati juga bukan pilihan yang terbaik, Alice.” Pada akhirnya, Alea membuka suaranya dari keheningan.


“Tapi bagiku itu jalan satu-satunya. Aku tidak ingin hidup sepanjang akhir hayat sebagai wanita kotor dan kamu pun akan merasakan nanti.


“Percayalah padaku, kamu pun pada akhirnya putus asa dan mati adalah keputusan yang tepat,” kata Alice.


Alea menghela nafas panjang duduk berdekatan dengan Alice seraya memandang wanita-wanita lain di depan matanya.


Ketika menarik nafas perlahan, bola matanya menangkap sepasang kekasih yang datang bersama.


Dipandanginya satu pria lain yang mengenakan topi. Alea memperhatikan dibalik punggung wanita-wanita yang lain berada di ruangan tersebut.

__ADS_1


Bila dilihat dari pakaiannya dan juga penampilannya. Pria itu terlihat berkelas sekalipun wajahnya yang terlihat tampan tapi juga terkesan menyeramkan.


Pria tersebut datang bersama dengan anak buahnya yang langsung menyebar membawa senjata pai dengan sikap waspada.


Tatapan dingin itu menusuk, pria itu memandangi para wanita yang berada di dalam sel penjara, sontak tatapan itu membuat takut para wanita yang di sekap di sel penjara tersebut.


Alea buru-buru memalingkan wajahnya, tanpa sadar Alea menggigit bibirnya menghindar tatapan pria itu yang sesaat tadi memandangnya.


“Ck! Hanya segini wanita buruan kalian, hah?” Pria bertopi itu memaki.


“Kami tidak mau mengambil resiko mati karena ketahuan oleh The Black Rose sudah menganggangu wilayahnya,” jawab pria yang sudah menculiknya.


“Tapi, aku yakin dan juga menjamin kalau kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.”


“Seyakin itukah?” tanya sip ria seraya menaikan satu alisnya.


“Hanya akulah yang berhak untuk menentukan kualitas mereka dan juga masa depan mereka akan di mana,” tegas si pria.


 “Baiklah, Tuan,” jawab si pria dengan luka panjang di wajahnya, menunduk.


Alea pandangi sejenak pria bertopi dengan lekat. Entah kenapa hatinya begitu yakin kalau pria iblis yang sesungguhnya dibalik penculikan ini tentunya pria itu.


“Ck! The Black Rose tidak ada apa-apanya. Bahkan, selama ini pria itu membiarkan para wanita di wilayahnya diganggu. Seharusnya kalian tidak perlu takut pada The Black Rose!”


Entah kenapa Alea menjadi ikut kesal mendengarkan perkataan pria tersebut.


Sungguh, terkesan sombong dan juga angkuh yang bisa Alea tangkap dari perkataan pria tersebut perihal Evans.


Alea jadi menerka-nerka seiringi kedua matanya masih memandangi pria tersebut.


“Apa mungkin pria itu adalah salah satu musuh suamiku?”


“Setelah aku mendengarkan kabar kalau pria penguasa Italia itu sudah menikah, maka aku sudah tahu kelemahan pria itu,” katanya.


Alea menarik nafas dalam seraya meremas tanganya sedih. Alea mendadak gelisah sekaligus takut kalau pria itu tahu dia lah istri dari The Black Rose yang berada di dalam sel tahanan dan menjadi tawanan.


Sungguh lucu bukan hidupnya kali ini?


Lalu apa yang terjadi pada dirinya bila pria itu tahu?


Alea menggigit bibir bawahnya dan memilih bungkan seraya mengalihkan wajahnya untuk menghindar tatapan mereka agar tidak ada orang yang mencurigainya.


“Sekalipun anda tahu kelemahannya, tentu saja kami tidak mau mengambil resikonya mati dibunuh oleh Evans Colliettie si penguasa kejam seantero Italia itu sekalipun sudah menikah,” kata si pria yang telah menculiknya.


“Namun….”


Pria berjaket kulit itu si pria yang membawa Alea ketempat ini pun terhenti lalu memandangi sekitar dua puluh wanita yang berada di dalam sel tahanan.


“Tanpa sengaja, kami menculik wanita yang mengaku sebagai istri Evans Colliettie.”


Bola mata Alea terbelalak, jelas Alea sontak kaget mendengarkan perkataan pria berjaket kulit tersebut.


Alea kembali mengangkat pandangannya menatap kearah pria tersebut.


“Ya Tuhan, bagaimana mereka bisa mengetahui hal ini?” batin Alea.


“Apah?”


Pria bertopi itu ikut terkejut, lalu sekian detiknya wajahnya kembali berbinar ceria.

__ADS_1


“Kau menculik istri Evans Colliettie?”


Pria tersebut manggut-manggut membenarkan.


“Apa kamu yakin?” tanyanya lagi.


Pria berjaket kulit itu menarik nafas panjang.


“Entahlah, Tuan. Kami tidak bisa percaya begitu saja pada wanita itu karena kami tidaklah pernah tahu bagaimana rupa istri dari Penguasa Italia.


“Kami hanya mendengar desas desus perihal istri Evans Colliettie yang seorang wanita asia dengan bola mata hitam."


“Di mana wanita itu sekarang? Bawa wanita itu ke depan hadapanku sekarang juga!”


Nafas Alea cepat diiringi bola mata yang mendelik. Tanpa sadar tubuhnya pun ikut bergetar dengan ketakutan yang begitu menyelusup hatinya.


“Ya Tuhan, tolong hambamu ini,” gumam Alea di dalam hati buru-buru merapal doa.


“Cepatlah bawa wanita itu kesini!” kata si wanita berambut ikal pada salah satu anak buahnya.


Wanita itulah yang menemukan dan juga membawa Alea hingga terjebak di sini.


Pria bertubuh besar yang sama di dalam mobil itu pun berjalan menghampiri sel tahanan dan setiap langkah pria itu membuat jantung Alea rasanya akan terlepas dari rongganya.


Pria bertopi itu menarik sudut bibirnya ke samping diringin ekspresi yang bahagia.


“Bila benar wanita itu istri dari Evans Colliettie si Penguasa Italia. Ini sangat menarik sekali.”


Lagi, lagi pria itu tak lepas tersenyum. “Aku tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi bajjingan itu ketika aku menggagahi istrinya? Mellecehkan seorang Queen Of The Black Rose?”


Tubuh Alea bergemetar hebat diiringi nafas yang terus memburu.


“Aku akan memberikan video percinttaan aku dengan istrinya pada Penguasa Italia itu.


“Lalu setelah itu aku akan melelang istri The Black Rose. Bukannya itu menarik?” tanya si pria pada anak buahnya diiringi senyuman devil yang tercetak di wajah tampannya.


Tubuh Alea membeku, namun Alea pun tidak bisa menahan tubuhnya yang terus bergemetar hebat karena ketakutan hal itu akan menjadi nyata.


“Si bajjingan itu tidak akan pernah menduga bukan, kalau akulah dibalik semua ini?”


Lagi lagi senyuman menakutkan itu yang nampak ketika tatapan Alea tidak berpaling menatapnya.


“Huuh, rasanya memberikan sedikit luka yang mendalam untuk pria bajjingan seperti Evans Colliettie melalui istrinya itu. Diperkossa, kalau perlu ramai-ramai tentunya akan membuat pria itu semakin murka bukan?”


“Ya Tuhan. Ampunilah dosa hambamu ini,” batin Alea.


Siapa yang tidak ngeri-ngeri sedap mendengarkan perkataan tadi. Dilecehkan, diperkossaa ramai-ramai sekaligus di rekam lalu diberikan video itu pada suaminya?


Tentunya, itu akan membuat Evans semakin membencinya bukan?


Alea menjerit keras di dalam hatinya, sungguh ia tidak menginginkan hal itu terjadi.


Pandangan Alea beralih seiringi tubuhnya yang tak berhenti terus bergemetar.


Sudah jelas bukan kalau pria bertopi itu memang punya hubungan tidak baik dengan suaminya sendiri dan juga menyimpan dendam.


Dari ekspresi wajah tampan pria bertopi itu pun jelas tersirat kebencian yang mendalam yang bisa Alea lihat dari sorot mata yang terlihat dingin.


“Haaah… Tidak!”

__ADS_1


“Tolong lepaskan aku!”


__ADS_2