
Alea mendelik dibuat terkejut ketika wanita itu memegang senjata dan mengacungkan kearahnya seraya berdiri tegak saling berhadapan.
“Kaulah sumber penderitaan sahabatku.”
“Kaulah yang sudah membuat sahabatku menderita selama ini, Alea. Kau sudah membuatnya terluka dan hal itu membuatku sangat membencimu, sangat!”
Lagi lagi Alea dibingungkan dengan perkataan wanita itu. “Bahkan aku ingin sekali membunuhmu untuk sahabatku itu.
“Agar rasa sakit hatiku dan juga dendamnya bisa terbayar, melihat kau mati ditanganku,” ucapnya seraya menarik kuncian senjata apinya.
Alea mundur perlahan dengan kernyitan dalam.
Sahabat?
Siapa sahabat yang dimaksud wanita itu?
Dan sahabat yang mana yang tidak sadar Alea sudah melukainya hingga membuatnya menderita.
“Sahabat?” tanya Alea dengan tatapan bingung.
Wanita itu tertawa kembali melihat Alea yang kebingungan akan yang dimaksudnya.
“Katakanlah padaku siapa sahabatmu dengan jelas.”
Wanita itu tertawa sarkas dan lagi lagi melayangkan tatapan tajam.
"Apa kau tidak ingat dengan sahabatku itu, hah? Sahabatku itu seorang wanita yang sudah kau lukai, Alea!”
Sejenak wanita itu terjeda dan menarik nafas dalam-dalam.
“Apa kamu masih ingat dengan wanita bernama Ruby?”
Sontak Alea tercengang mendengarkan nama itu.
“Ruby?”
“Ya. Ruby adalah sahabatku. Dia dengan bodohnya rela menjadi wanita jallang demi cintanya pada Evans Colliettie, pria kejam tanpa perasaannya!”
Wanita itu terlihat marah yang terdengar meledak-ledak. “Dan kaulah yang sudah membuatnya menderita dan membuat sahabatku seperti ini.
“Kau sudah menghancurkan perasaanya, membuat sahabatku itu tersingkir dari mansion Evans Colliettie ketika kedatanganmu itu.”
“Tidak. Aku tidak—“
Alea menggeleng kepalanya. Itu tidak benar. Alea sama sekali tidak menyingkirkan Ruby dari mansion Evans dan Alea pun tidak membuat perasaan wanita itu hancur apa lagi menderita seperti yang dikatakannya.
Alea tahu jika Ruby mencinta Evans Colliettie. Tetapi...
__ADS_1
Semua ini bukan kemauan Alea.
Alea berjalan mundur tanpa sadar punggungnya sudah berada di belakang pagar pembatas.
Alea menoleh sejenak ke belakang di mana lautan luas seolah sudah menyambutnya dan tanpa sadar entah kapan Alea melakukan ini, tubuhnya sudah berada di luar dengan menggenggam pagar pembatas cukup keras.
Wanita itu mendekat seraya mendorong senjatanya.
“Ruby sendirilah yang pergi dari mansion Evans, bukan aku yang melakukanya.”
“Apa kau bodoh hah? Apa kau tidak pikir karena apa Ruby pergi jika bukan karena kau, hah?”
“Kaulah yang sudah membuat dia pergi dari mansion Evans Colliettie, hah?”
“Dan kau tidak pernah tahu ketika dia datang ke tempatku. Ruby menangis setelah dia berhasil melarikan diri dari mansion Evans.
“Dia menceritakan semuanya apa yang sudah terjadi di mansion Evans sampai pada akhirnya sahabatku itu menceritakan semuanya tentang dirimu.
“Wanita jallang yang munafik!” umpat si wanita keras, dengan emosi yang sudah tidak tertahan lagi.
"Alih-alih kau tidak ingin menjadi wanita jallangnya. Tetapi, kau menusuknya dari belakang dan..."
Wanita itu menatap lebih lekat. "Kini kaulah yang menjadi istri dari The Black Rose, Evans Colliettie!”
Alea menggelengkan kepala pelan. Wanita itu salah bila berpikir seperti itu padanya. Dia semua ini sama sekali bukan keinginannya.
“Ck! Aku tidak percaya hal itu karena kau wanita yang licik, Alea.
“Kau pun tidak tahu bukan kalau akulah yang sudah membantu Ruby untuk keluar dari Italia ini? Agar dia bisa menjauh dari kejaran Evans Colliettie, yang masih memburunya."
“Katakanlah kepadaku, Dimana Ruby saat ini,” mohon Alea. Ia ingin sekali menjelaskan masalah kesalahpahaman ini.
“Apaaah?”
Wanita itu tersenyum sinis. “Aku memberitahu keberadaan Ruby, hah?”
Wanita itu berusaha mendorong hingga tubuhnya hampir keluar dari pagar besi. Dipegangnya pagar kapal dengan erat agar ia tidak terjatuh ke lautan luas di bawahnya.
“Apa kau pikir aku akan memberitahukan, di mana Ruby berada hah?” seru si wanita. Dorongan tangan si wanita itu semakin kuat.
“Ck! Itu tidak akan terjadi!”
“Tapi kamu harus memberitahukannya dimana dia berada. Aku mohon padamu. Aku ingin bertemu dengan Ruby dan menjelaskan semua ini.”
"Menjelaskan apa lagi, hm? Apa kau akan menjelasakan padanya kalau kini kau sudah menikah dengan Evans Colliettie dan pada akhirnya kamulah yang menjadi Nyonya Colliettie. Apa begitu?”
"Bukan seperti itu. Aku mohon padamu di mana Ruby berada.”
Wanita itu mendorong senjatanya kemudian berdesis di depanya. Sejenak, wanita itu menarik senyuman menakutkan namun juga tatapan yang senang pada Alea.
__ADS_1
“Apa kau ingin tahu apa yang terjadi pada Ruby saat ini, hm?”
Alea terdiam mencengkram erat pegangannya diiringi debaran jantung yang kian menggila.
“Sekalipun hatinya terluka akan kedatanganmu. Tetapi, Ruby kini berbahagia.
“Dia sudah mendapatkan apa yang selama ini sedang dia usahakan. Itulah alasannya yang mengharuskan dia pergi jauh dari Evans Colliettie.”
Kening Alea mengernyit, menatap si wanita itu yang tersenyum miring sebelum menghempaskannya pada mimpi buruknya.
“Ruby hamil anak dari Evans Colliettie, keturunan Colliettie!”
Dorr!
Alea tercengang, air matanya begitu saja jatuh akan hal yang baru saja ia dengarkan.
Tubuh Alea membeku di tempatnya tanpa tidak menyadari wanita itu menjatuhkan senjatanya dengan tubuh yang meluruh jatuh ke bawah setelah timah panas itu menerpa punggungnya.
Pandangan Alea kosong dengan bola mata yang nampak syok menatap sekitarnya.
Setetes demi setetes air mata pada akhirnya membuat air mata Alea berjatuhan untuk alasan yang belum sampai ke otaknya dan mencernanya dengan jelas. Namun, reaksi dari hatinya begitu cepat.
Di antara pasangannya, terlihat sosok Evans Colliettie berlari mendekatinya dengan ekspresi khawatir.
Kalimat wanita itu begitu sangat menusuk hatinya. Kenyataan pahit yang Alea rasakan ketika mendengarkan kata-kata hamil dan juga keturunan Colliettie.
Dan satu hal yang membuat hati Alea hancur ketika wanita itu mengatakan sebelum mati.
“Kau kalah Alea. Sekalipun kau memiliki Evans. Tetapi, siapa yang tidak menyangka kalau Evans mati-matian menolak anak darimu karena pria itu telah tahu darah dagingnya sendiri dan kau tidak akan pernah memberikan keturunan karena kau cacat Alea. Kau cacat!”
Bibir Alea bergetar hebat dengan perasaan yang campur aduk.
Tanpa sadar tubuhnya pun ikut bergemetar sehingga Alea tidak bisa lagi menahan tubuhnya hingga Alea hampir saja terjatuh jika Evans tidak lekas berlari dan menopang tubuhnya lebih dulu.
“Kenapa sesakit ini rasanya,” gumam Alea dalam hati.
“Lea… Lea…” Evans memanggilnya.
Anehnya, meski Evans berada di dekatnya. Tetapi kenapa suara Evans terdengar begitu jauh.
“Bertahanlah sebentar lagi. Kamu akan selamat. Aku di sini, Lea.”
Alea diam tidak menjawab perkataan yang Evans lontarkan padanya. Padanganya masih sama kosong dan menatap ke depan.
Saat ini rasa takutnya mengalahkan rasa shocknya yang begitu hebat sekalipun tubuhnya di peluk erat Evans.
“Ev…. Ru—”
“Ssssttt.... Jangan takut, Lea. Aku akan membawamu pulang.”
__ADS_1