HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Trust


__ADS_3

“Sudah selesai nona. Jika ada keluhan, silahkan panggil saya dan saya akan lekas datang. Semoga Nona Alea selalu sehat. Kami permisi.”


Alea duduk setelah mengangguk, dia pun hanya bisa menatap kepergian Mika yang mengantarkan Dokter Cristine dan juga suster untuk keluar dan meninggalkan Tuan dan juga Alea di dalam ruangan inap.


Alea mengusap pinggulnya yang nyeri bekas suntikan dan kembali menatap Mika yang kembali masuk ke dalam kamarnya.


“Kau sudah urus semua kepulangan Alea?”


“Sudah, Tuan.”


“Kalau begitu siapkan mobil kita akan pulang sekarang,” pinta Evans yang dianggukan siap.


“Hah? pulang?” seru Lucas yang terkejut saat mendengarkan perkataan Evans.


Pria itu sudah membawa banyak makanan ke dalam kamar Alea, semua makanan yang lezat tentunya.


“Aku sudah membelikan banyak makanan Tuan untuk Alea. Kenapa harus pulang sekarang?”


Evans langsung melirik menatap Alea.


“Apa kamu lapar?”


Alea mengangguk pelan, dia memang lapar.


Evans pun menatap Lucas dan memberikan kode agar Lucas menaruh semua makanan yang Lucas beli untuk Alea.


“Simpanlah di situ setelah itu kamu boleh pergi?”


Lagi, lagi mata Lucas mendelik dengan bibir yang menganga. Sudah capek-capek dia membalikan makanan dan minuman yang banyak malah diminta keluar dari dalam kamar Alea.


Tujuan Lucas kan sebenarnya mau mukbang bersama dengan Alea. Tetapi, ini…


Evans melirik sejenak beberapa makanan yang penuh di meja sofa. Keningnya mengernyit ketika melihat makanan aneh di depan matanya.


“Apa semua makanan yang kamu beli ini ada gizinya?”


“Hah?” kata Lucas, lagi.


“Aku tidak membolehkan Alea makanan junk food yang kamu beli itu. Dia harus makan yang bergizi.”


“Jangan yang itu, Luc. Simpanlah di situ aku mau makan itu,” kata Alea menunjukkan satu kotak berisi roti lapis dan juga satu minuman dingin berwarna hijau.


“Tidak! Bawa dan bagikan pada suster atau orang-orangmu,” tegas Evans pada Lucas.


“Dan kamu,” tunjuk Evans pada Alea.


“Aku belikan yang lebih lezat olahan Chef khusus yang sudah tahu setiap makanan yang kamu makan mengandung banyak gizi!”


Kening Alea mengernyit, entahlah kesurupan apa mafia itu. Semuanya diatur oleh Evans dan makanan saja pun harus di atur oleh pria itu dan harus masakan Chef khusus.


Evans meraih ponselnya lalu menghubungi Mika.


“Kau bawakan makanan yang lezat dengan nilai gizi yang baik, Mika! Calon istriku lapar,” perintah Evans yang langsung dijawab cepat oleh Mika di panggilan telepon.


Alea mendengus pelan. “Please, izinkanlah aku makan roti lapis itu dan juga green tea. Sekali ini saja, Ev. Please,” ucap Alea menunjukkan wajah memohon seperti anak kecil.


Evans mengalah, dia pun mengambilkan satu kotak roti lapis dan juga green tea.


“Ini dingin, perut mu nanti sakit?”


“Tidak akan.”


Alea lekas mengambil alih satu cup berisi minuman dingin dan juga roti berlapis semenatra Lucas mengambil kembali makanan yang dia bawa.


“Tunggu—”


Baik Lucas dan Alea, kedua orang itu sama-sama menghentikan kegiatannya.


Bibir Alea yang sudah terbuka lebar hendak menggigit roti lezat itu pun terhenti.


“Apa roti itu dari tepung terigu organic? Semua bahan-bahannya organic?”


Kening Lucas mengeryit semenetara Alea menyipitkan kedua matanya menatap Evans, kesal.


“Saya tidak tahu apa penjual roti itu menggunakan semua bahanya organic atau tidak. Saya tidak menanyakan!”


“Kalau begitu tanyakanlah. Bila semua bahan yang dibuat penjual roti itu bukan dari kualitas bagus. Suruh penjualnya tutup tokonya!”


“Haah?” seru Lucas, mulutnya menganga.


“Cepat kamu hubungi,” seru Evans membuat Alea mendesah pelan dan meletakan satu roti lapis yang tidak jadi di makan.


Lucas lekas menghubungi number toko yang menjual makanan tersebut dari bungkus kemasaan yang terdapat number ponsel.


“Tidak usah menghubunginya, Luc.”


Lucas menoleh ke arah Alea yang duduk di Ranjang rumah sakitnya.


“Aku tidak jadi makan, laparku hilang karena harus mendengar kalau toko akan ditutup.”


“Kok, kamu ngomongnya gitu, hm?”

__ADS_1


“Jangan memutuskan rezeki orang yang tengah mencari nafkah untuk keluarganya, Ev. Aku tidak suka itu!


“Mau semua bahan ini dari tepung biasa dan bukan organic seharusnya kamu nggak langsung menutup tokonya.


“Aku akan berdosa bila kamu benar-benar melakukannya,” kata Alea, pelan seraya menundukan pandangannya.


Lucas buru-buru pergi mengetahui ada kesempatan untuk kabur.


Dia tidak mau diamuk dan tidak mau melihat pria itu memarahinya seperti yang sudah-sudah sekalipun ya pemandnagan di depannya membuat kepalanya penuh tanya.


“Makanlah kalau kamu mau. Tapi itu untuk yang terakhir kalinya kamu memakan roti seperti itu. Tidak tahu bukan penjual itu memberikan ragi pada rotinya dan kamu tidak boleh makanan seperti itu!”


Evans menarik nafas sejenak. “Aku sudah meminta Mika untuk Joe khusus menyiapkan makanan kamu dan mengatur semua pla makan yang sehat dan bergizi.”


Alea mendengus kesal. “Kenapa sikap menyebalkanmu masih saja ada, Ev?!


“Ini berlebihan dan aku tidak suka. Aku sudah terbiasa makanan seperti orang pada umumnya mengingat aku bukan dari kelas bangsawan.


"Aku tidak pernah mempudulikan gizi untuk tubuhku apa lagi memikirkan bahan makanan yang aku makan itu berasal dari organic atau tidak, karena yang aku pikirkan perutku kenyang.


“Aku bukan orang seperti mu yang selalu makan dengan Chef khusu. Jadi, tolonglah jangan melarangku.


Alea membuang nafas pelan. “Apa kamu sekhawatir ini dan secemas ini karena racun di dalam tubuhku sehingga kamu overprotektif?


"Apa ada hal yang serius sampai aku mendapatkan perlakukan khususmu ini, Ev?”


Wajah Evans berubah drastis dengan mata yang menatap tajam pada Alea.


“Katakanlah padaku, sebenarnya bagaimana kondisi kesehatanku? Kenapa kamu bersikap berlebihan.


"Apa aku akan mati secepatnya karena racun itu?” ungkap Alea melihat tingkah Evans yang overprotektif itu kemungkin dari itu.


“Kamu mengetahuinya?”


Alea menarik nafas pelan.


“Bryan sudah menceritakan semuanya, bahkan dia sendiri yang memberikan minuman itu padaku,” kata Alea pelan.


Evans mendekat dan merengkuh tubuh calon istrinya.


“Sayang—” Evans menjeda kalimatnya dan hal itu membuat tubuh Alea membeku.


Evans memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’


“Kamu tidak akan mati dengan racun itu. Kondisimu pun baik-baik saja saat ini sekalipun efek racun itu dan juga luka dalam yang kamu dapatkan ini tidak akan mempengaruhi tubuhmu.


“Kamu akan berumur panjang dan pendamping iblis menyedihkan sepertiku.”


Alea menoleh pada kedua lengannya yang masih terdapat memar. Padahal sudah tiga minggu, harusnya memudar bukan? Tetapi ini…


Evans mengurai pelukannya lalu berikan senyuman lembut untuk wanitanya.


“Tidak sayang. Aku berkata jujur, kamu sehat.”


“Aku melakukan semua ini karena hanya ingin memastikan semua yang kamu dapatkan itu dari bahan yang terbaik. Maka aku harus overprotektif dengan kesehatanmu.”


Evans pandangi keseluruhan tubuhnya sekalipun yang dikatakan pria itu dia baik-baik saja.


Tetapi, ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan dan itu membuat Alea—


Tidak, TENANG.


Pikiran Alea begitu takut, dia takut kalau kondisi tubuhnya buruk dan pria itu menutupinya.


Namun, sentuhan lembut jemari Evans sudah mengusap lembut di dagu nya dan memaksanya untuk mengangkat kepalanya dan memperlihatkan ketakutannya dengan mata yang sudah berembun.


Evans menangkupkan wajahnya, kedua ibu jarinya pun mengusap lembut air mata yang entah sejak kapan berjatuhan di pipi.


Tatapan Evans yang begitu lembut solah menenangkannya sekalipun Alea tidak berkata apa-apa.


Setelah mengelus pipi, Evans menggenggam ujung rambut panjangnya lalu menciumm dalam dalam. Tidak hanya itu saja, Evans pun mengangkat pergelangan tangan Alea yang terdapat luka.


Alea memejamkan matanya, dengan dada perasaan yang berdebat. Nafasnya memburu ketika kepala Evans menunduk memulai untuk mengecup setiap luka yang terdapat dalam tubuh wanitanya dengan lembut.


Pria itu pun menaikan sedikit baju pasien yang dikenakan dan kembali memberikan kecupan di bekas luka yang terdapat di perut, pinggang dan juga bekas luka operasi sumsung tulang yang terdapat di belakang punggung Alea dan bekas jahitan yang panjang menjulang yang entah patut Evans tanyakan nanti pada Alea.


Bibir seksi itu terus semakin turun ke bagian pinggul membuat Alea hanya diam dan tak berani menghindarinya.


Ini bukan ciumman penuh naffsu. Namun, ciuman dan kecupaan yang mengisyaratkan kalau Evans tidak akan membiarkan Lea nya mendapatkan luka-luka lagi ke depannya.


Dan satu ciummann Evans yang berkesan dalam dan lama berakhir di suntikan yang tadi diberikan oleh Dokter Christine.


Ketika Evans menegakkan tubuhnya, pandangan mereka kembali bertemu. Pria itu mengatakan padanya dengan sebentuk rasa aman dan juga janji yang sudah tersirat.


“Kamu tidak mau makan roti ini? Atau mau makanan yang Mika bawakan nanti, hmm?”


“Kalau aku makan roti ini apa kamu akan menutup toko nya?”


Evans tersenyum manis, lalu berikan gelengan tidak.


“Tidak. Kalau aku mau aku akan bawakan roti yang kamu mau tentunya dengan bahan yang berkualitas baik. Makanlah setelah itu kamu istirahat sejenak sebelum kita pulang.” Evans mengecup keningnya.

__ADS_1


“Jangan berpikir yang tidak-tidak lagi, ya? Karena aku yang menjamin kalau kamu akan baik-baik saja.


“Semua yang aku lakukan dengan Dokter Christine hanya pencegahan saja. Tentunya, aku tidak mau ada hal yang serius.”


Alea mengangguk pelan dan berikan Evans seulas senyuman manisnya. Pria itu kembali berdiri dengan tegak dan berlalu pergi meninggalkannya.


Alea menarik nafas pelan seraya memandangi punggung lebar Evans.


Baru saja beberapa langkah Evans berjalan. Pria itu berhenti kemudian berbalik.


Evans kembali mendekati Alea dengan langkah lebar dan juga cepat. Pria itu menangkupkan wajahnya untuk mengecup kening Alea cukup panjang.


Keduanya kembali saling bersitatap setelah Evans melepaskan bibir seksinya di keningnya.


Entah ini seperti mimpi melihat Evans yang kini banyak tersenyum. Pria itu pun duduk di tepi ranjang dan terkejut ketika Evans membawa tubuh kecil itu ke dalam pangkuannya.


Evans melingkarkan kedua lengannya dan menatapnya dalam dekat.


“Untuk sekali ini saja. Aku mengizinkan Alberto dan juga Bibi Jovita untuk datang ke pernikahan kita itu pun mereka harus duduk di kursi yang paling jauh dan harus cepat pergi setelah acara selesai.”


Alea mendelik, senyuman merekah. “Untuk keluargamu dan juga teman-temanmu yang sudah aku tahu siapa saja.” Evans menjeda lalu menghembuskan nafas pelan.


“Maaf, aku tidak bisa mengabulkannya. Ada sesuatu hal yang tidak bisa aku katakan dan aku pun tidak ingin kamu membantahku lagi!”


Meski sedih, keluarganya dan juga teman-temannya tidak bisa turut hadir di pesta pernikahannya tetapi mendengarkan permintaan yang lainya dikabulkan, itu sudah lebih dari cukup bagi Alea.


Biarlah dia tidak bisa bertemu dengan keluarga dan juga teman-temannya. Tetapi, dia ingin lebih dulu dua keluarga itu kembali hangat dengan Evans.


Evans mengusap bibir Alea dengan lembut seolah pria itu ingin sekali menciumnya dengan rakus. Tapi kenyataanya, tidak sama sekali dilakukan oleh Evans.


Alea membulatkan mata seiring menatap Evans. Dia terkejut ketika ada sesuatu yang terasa mengeras.


“Maafkan aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu yang lain.”


Evans mengangkat tubuhnya dan memindahkannya untuk duduk di atas ranjang nya.


Pria itu kembali berdiri dengan senyuman aneh yang nampak jelas di matanya.


Evans sedikit berdehem.


“Kamu kenapa, Ev?” tanya Alea, penasaran.


Evans menjawabnya dengan senyuman lembut seraya menatap wanitanya.


“Ev..."


“Ya, sayang.”


Pipi Alea memerah di panggil sayang.


“Bolehkah aku bertanya pada mu satu hal?”


“Tanyakan saya, sayang,” jawab Evans terdengar manis oleh Alea.


“Kenapa kamu menungguku di penghulu?”


Evans tertawa pelan. “Karena tidak mungkin kalau aku menunggumu di altar, hmm?


“Kamu seorang muslim dan kau sudah tahu akan sikapmu yang sama sepertiku. Tidak ingin dibantah bila menyangkut keyakinan bukan?”


Alea menarik dua sudut bibirnya membentuk senyuman cantik.


“Dan aku tidak mau mendengarkan lagi kata ‘Aku tidak ingin menikah denganmu’ dari bibirmu lagi!”


Hati Alea dibuat meleleh dengan sikap lembut Evans.


“Maka aku sudah putuskan agar nantinya tidak akan repot dan berdebat berkepanangan lagi maka aku akan menikahimu dengan keyakinanmu.”


Sekali lagi, sumpah demi apa hati Alea senang mendengarkannya.


“Aku mualaf, Alea.”


Bibir Alea menganga dengan bola mata lebar-lebar. Namun, pria itu sepertinya tertawa melihat ekspresinya.


“Ya, meski aku. Mungkin tidak bisa lepas dari kebiasaanku.”


Senyuman Alea lenyap seketika. Meski begitu, dia bisa lega mendengarkan kalau Evans mualaf.


Jadi, bila begitu pernikahannya tidak akan dianggap zina seumur hidup sekalipun dia menikah dengan sah di depan penghulu dan para saksi bila pasangannya tidak punya agama dan tidak satu keyakinan.


“Terima kasih, Ev.”


Evans mengangguk pelan lalu memeluk Alea dengan hangat dan kembali mengecup kening Alea.


“Maaf, aku tidak bisa menunggumu. Aku harus segera pergi dari sini.”


“Hah? Kenapa?”


Evans kembali membisikan sesuatu di telinga Alea. Mendengarkan apa yang dikatakan Evans, Alea tertawa pelan seraya menatap Evans yang sama ikut tertawa.


“Makanlah yang banyak, ya. Lalu istirahat. Kamu harus banyak istirahat, sayang,” ucap Evans seraya kembali mencium keningnya.

__ADS_1


Tak lama, pria itu berbalik pergi keluar meninggalkan Alea dengan pandangan yang menatap Evans terpesona yang diiringi detakan jantung yang tak lagi terkendali.


‘Astaga… aku tidak menyangka dengan perasaan ini.’


__ADS_2