HEART OF THE MAFIA

HEART OF THE MAFIA
Dijual atau Dilelang?


__ADS_3


“Ehm….”


Alea menarik nafas sebisanya seraya memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.


“Ev…” panggil Alea pelan.


Alea yang masih memejamkan matanya pun merasa kan lebih dulu tubuhnya yang terasa dingin dan sedikit menggigil. Entah dimana keberadaanya sekarang ini.


Alea memeluk tubuhnya dan mengeratkan pelukannya di kedua lututnya.


Perlahan Alea membuka kedua bola matanya dan memandangi langit-langit yang sama sekali ini bukan kamar Silvia terakhir Alea tinggal.


“Aku di mana ini?” gumam Alea, pelan.


Yang kedua bola Alea tangkap hanya atap gelap dengan sedikit cahaya yang minim itu pun berasal dari satu ventilasi kecil.


Diliriknya ke samping lalu ke penjuru ruangan, yang bisa Alea tangkap ada pagar besi yang menyerupai sel tahanan.


Alea mencoba bangun dari posisinya yang beringsut seraya merintih kesakitan memegang kepalanya. Pasangannya kembali beredar ke penjuru ruangan yang cukup besar ini.


“Ya Tuhan,” ucap Alea terkejut.


Alea menyadari kalau ia tidak sendiri berada di dalam ruangan tersebut. Ada banyak wanita dan kira-kira ada sekitarnya, yang bisa Alea tebak mungkin ada dua puluh lebih wanita di dalam ruangan yang sama. Dari yang terlihat masih bocah, muda dan juga wanita berusia di bawah empat puluh tahun.


“Benar-benar aku terjebak perangkat sindikat perdagangan wanita,” batin Alea.


Dalam diamnya, Alea masih memandangi semua wanita yang berada di dalam ruangan yang sama ini.


Kebanyakan wanita menatapnya dengan tatapan menyedihkan seperti mereka hendak mendapatkan vonis kematian tidak bisa keluar dari dalam sini.


“Aku di mana, ini?” tanya Alea pada puluh wanita di samping dan di depannya.


Suara dengungan dan juga suara ombak yang memecah di laut pun terdengar jelas.


Sayangnya, semua wanita disini diam membisu tidak menjawab sama sekali pertanyaan satu pun.


Terlihat ada beberapa orang yang tampaknya tidak peduli dan juga ada yang mendengus sinis dan ada juga yang memalingkan wajahnya tidak peduli.


Meski tidak tahu di mana Alea sekarang. Akhirnya Alea bangkit dari duduknya saat tidak ada satupun jawaban yang terdengar dari mulut mereka.


Alea menghampiri salah satu celah cahaya yang masuk ke dalam ruangannya dan tercengang ketika ia melihat ke luar.


Hamparan lautan begitu jelas tertangkap. Alea memeluk tubuhnya yang membeku karena tersadar kalau ia sudah sejauh ini berada saat ini.


“Bukanya ini…”


Alea mengatupkan bibirnya seakan tidak percaya.


“Kita berada di tengah lautan,” ucap seseorang yang duduk di lantai tidak jauh dengan dirinya.

__ADS_1


Wanita berwajah lusuh itu menjawab kecengan Alea.


Alea menurunkan pandangannya ke bawah dan menghampiri si wanita tersebut yang duduk dengan kepala menunduk.


Alea pandangi sejenak wanita itu yang tak terlihat bagaimana wajahnya. Yang bisa Alea lihat satu lengannya yang memar dan juga terluka.


“Kita sudah jauh dari Italia sekarang ini,” kata si wanita itu, lagi.


“Kita akan pergi kemana?” tanya Alea.


Dua matanya basah, Alea yang menyentuh lengan si wanita itu pun ikut bergetar mendengarkan jawaban yang akan dijawab oleh si wanita tersebut.


“Ke Spanyol.”


“Apaah? Sepanyol?” seru Alea, terkejut.


Bukan pergi lebih dekat dari rumahnya, tetapi ini akan lebih jauh lagi. wanita itu mengangkat wajahnya.


“Untuk apa kita pergi ke Spanyol?”


Bola mata Alea menatap kesedihan dari si wanita tersebut begitu juga dirinya.


“Untuk di jual entah atau kita akan di lelang.”


“Dijual atau dilelang?” ulang Alea tersentak kaget.


Ternyata, sesulit ini jalan yang harus Alea tempuh untuk bisa pulang ke rumah setelah berhasil keluar dari The Black Rose Kingdom.


Jawabnya, jelas. Sudah tidak ada gunanya lagi menyesal untuk saat ini.


Keinginan yang besar ingin terlepas dari cengkeraman The Black Rose yang selalu memenjarakannya di istana megahnya.


Dan kejadian hal ini sama sekali tidak pernah Alea bayangkan sebelumnya tentunya kalau pada akhirnya dia berada di dalam situasi yang berbahaya dan juga rumit seperti ini.


‘Menyedihkan sekali nasibmu Alea. Keinginan bisa terbebas dari Evans justru kamu malah diculik oleh sindikat perdagangan manusia yang di jual belikan bahkan di lelang sudah seperti barang dagangan saja,’ kata hati kecil Alea seolah menyindir.


‘Nyaman yang mana? Mansion yang seperti penjara atau rumah border yang akan menjadi rumah terakhirmu dan memuaskan banyak pria hidung belang dan juga menjadi budak sekss?’ cemomoh hati kecil Alea, kembali.


Hanya membayangkan saja Alea berada di rumah bordil sudah membuat tubuhnya membeku dan bergidik ngeri.


Buru-buru Alea mengenyahkan bayangan yang menakutkan di dalam kepalanya yang mampir begitu saja.


“Ternyata lepas dari suami posesif malah berujung membawaku ke tempat yang lebih menakutkan,” gumam Alea dalam hati.


Alea mendesah panjang, ternyata bukan kebebasan yang Alea dapatkan dari pelarutnya ini melainkan bencana untuknya.


Entah lah, Alea benar-benar sudah sinting atau bodohnya sudah permanen yang kini pantas menjadi julukannya sekarang ini, karena keinginannya yang menggebu itu justru kini menjerumuskan dirinya sendiri.


“Berusaha lari di tengah lautan yang luas kaya gini? Ck! Mustahil. Mati konyol yang ada,” batin Alea.


Alea berdebat dengan dirinya sendiri, wanita itu sejak tadi merutuki kebodohannya.

__ADS_1


“Apa nanti setelah sampai aku bisa lari—memberontak?” batin Alea, tengah kembali merencanakan pelarianya lagi penjahat yang akan mengirimnya dari rumah border.


Alea yang tengah duduk dan memeluk kedua lututnya pun tak henti berpikir sembari melihat ekspresi wajah-wajah wanita di sekitarnya yang nampak serupa menunjukkan kesedihan, ketakutan dan juga kecemasaan akan nasibnya yang sama-sama akan di jual.


“Apa kamu terluka?”


Alea menatap wanita berambut pirang yang tidak jauh duduk dari posisi Alea berada. Wajahnya cantik terlihat lebam dan juga satu tangannya terluka.


“Apa mereka-mereka yang sudah melakukan kekerasan padamu?” tunjuk Alea pada penjaga yang duduk di bangku kayu.


Meksi wanita berambut pirang itu menatapnya, namun tatapannya terlihat kosong dan sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.


Bukan menjawab pertanyaan Alea, wanita itu malah menundukan kepalanya dan memeluk kedua lututnya.


“Aku tidak apa-apa,” ucapnya, suaranya terdengar bergetar.


“Jika aku akan di jual seperti ini dan dijadikan budak sekss. Aku lebih baik memilih mati daripada harus hidup menanggung malu.


“Aku malu pada anakku sendiri karena sebagai ibu aku tidak bisa menjaga diri dan juga—begitu kotor.”


Alea mengalihkan pandanganya padanya pada wanita di sampingnya turut menatapnya.


“Kamu mempunyai seorang anak?”


Wanita berambut pirang itu berikan anggukan pelan.


 “Ya. Aku punya satu anak perempuan.”


“Kalau boleh tahu berapa usianya?”


Wanita itu terlihat menghela napas lirih. “Minggu besok, dia genap dua tahun.


“Seharusnya aku bisa merayakan ulang tahun putriku yang kedua bukan? Tidak berada di sini?”


Ibu satu anak itu meremas kedua tangannya sendiri dan terlihat begitu erat karena terlihat jelas dari buku-buku jarinya yang memutih.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Alea pandangi wanita tersebut.


“Mereka mengira dan menganggapku wanita muda yang belum menikah. Tapi nyatanya aku sudah punya anak dan aku—”


Wanita itu terdiam sejenak, seraya menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan pembicaraan dengan pelan.


“Sebenarnya tidak pernah menikah.”


Alea terdiam, ia paham dengan wanita cantik di depannya. entahlah, Alea hanya menebak saja kalau jalan cerita hidup wanita itu pastinya menyedihkan.


Alea menatap iba pada wanita tersebut, tanpa sadar kedua tangan nya sudah lebih dulu bergerak untuk mendekat dan merangkul bahu wanita tersebut, hal itu sontak membuatnya kaget.


“Kamu jangan putus asa. Kamu harus berjuang agar bisa keluar dari sini dan bisa melihat putrimu lagi,” kata Alea pelan.


“Bagaimana caranya?”

__ADS_1


__ADS_2