Hidden Feeling

Hidden Feeling
Chapter 22


__ADS_3

"Ragil..Bangunlah"aku seperti mendengar suara lembut Hana.


"Ha-na.."Aku membuka mataku pelan pelan


"Woy Ragil, kau tidur aja tubuhmu sangat kelelahan"Ucap Rasya disampingku


Tik...


"Ragil?, ada apa? kenapa kau menangis tiba tiba"tanya Rasya


Aku memegang wajahku.


"kau benar, kenapa aku menangis ya?, padahal Hana sudah menyuruh agar tidak menangis pun, maaf Hana, maaf Hana, aku.. tidak bisa menepati janjiku, tapi kali ini aja tolong biarkan aku menangis, Huuuuaaaaahhhh.....!"Aku terus menerus mengeluarkan air mata.


*Bugh


Rasya memelukku dan ingin menenangkan ku, tapi dirinya sendiri juga sudah tidak bisa menahan air matanya sendiri.


Setelah itu kamipun sudah sedikit tenang, aku melihat sekitarku kami sekarang masih berada di hutan yang dibuat Ivan.


"Ngomong ngomong, dimana Despa?"tanyaku yang sudah tenang


"Entah, tadi dia di sekitar sini"jawab Rasya.


Ditempat Despa berada.


Despa sekarang lagi memeriksa mayat Ivan yang masih berada di wujud serigala nya.


"Dahulu kala ada seorang Manusia Serigala yang sangat kejam dan dia mencintai seorang putri kerajaan yang sangat cantik, dia membuat sumpah kepada putri tersebut untuk terus patuh, sang putri menerimanya, tapi putri itu cuma memanfaatkan kekuatan manusia serigala untuk membunuh semua Rivalnya yang mendekati pangeran, karena itu banyak yang dendam kepadanya dan sang putri dibunuh, manusia serigala itu marah dan membunuh semua manusia yang ada di dalam kerajaan, dia membuat lingkaran sihir untuk menghidupkan sang putri tapi tidak bisa sama sekali, dia putus asa dan memutuskan tangan kirinya untuk ritualnya, dan akhirnya sang putri bisa hidup tapi saat dia kembali hidup sang putri membunuh manusia serigala tersebut dan mengucapkan,"Masih belum cukup~", selesai"


Despa bercerita kisah itu didepan mayat Ivan.


"Ivan, bukannya cerita itu sangat cocok dengan mu sekarang?, tapi sayangnya kau tidak dapat membunuh semuanya"ucap Despa tersenyum


Setelah itu Despa pergi dari situ dan kembali kepada Ragil dan Rasya.

__ADS_1


"Tapi dari cerita tadi, siapa yang bakal dipilih sang pangeran ya"Guman Despa


Swuuushh...


"Angin ini sangat hangat"dalam Hatiku


Sekarang aku berada dimakam Hana.


"Hana...mungkin dari sekarang aku akan melakukan hal yang kau benci, tapi, aku mohon tetaplah melihatku"ucapku dalam lubuk hati terdalam.


Aku meletakkan sekuncup bunga lily warna putih dimakamnya Hana dan pergi.


Aku sudah menguatkan tekad ku.


"Semi...aku pasti akan...


Membunuhmu!".


Kami beristirahat sebentar dihutan Ivan, menunggu waktunya tiba.Waktu kami untuk melanjutkan penyelesaian lantai 4 yaitu lantai terakhir tinggal 7jam 37menit lagi.


Sambil menunggu kami mempersiapkan diri kami sendiri.


Sekarang sudah malam hari, Bulan dan bintang bintang nampak jelas dari hutan ini dengan indah meskipun semuanya cuma tiruan.


Aku melihat Rasya duduk sendirian dan menghampirinya.


"Rasya, kenapa kau?"tanyaku.


"Ragil?, bukan apa apa"Wajah Rasya sangat murung.


Aku sedikit penasaran, tapi aku tidak berani melanjutkan pembicaraan ini.


"nee..Ragil, apa manusia lemah cuma bisa menangisnya?, apa manusia dilahirkan hanya untuk matinya?, aku tidak tau apa apa"tanya Rasya.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya sama sekali, aku ingin menjawab"itu sama sekali tidak benar!", tapi kenyataannya memang seperti itu, manusia terlalu banyak errornya.

__ADS_1


Disetiap cahaya pasti ada kegelapannya, mau itu di duniakupun pasti ada kegelapan, dunia manapun pasti ada kegelapannya.


Pasti wajar saja kalo Rasya berpikir begitu.


"Kalo gitu, Ragil aku tidur dulu ya, kaupun jangan memaksakan dirimu, selamat malam"Rasya pergi tidur didalam tendanya.


"iya, selamat malam"jawabku


Ctek..


Despa tiba tiba datang dan memanggilku.


"Woy Ragil, sinilah ada yang ingin kubicarakan!"Despa memanggilku.


Aku menuruti nya.Kami sekarang berada didalam hutan.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"Tanyaku


"Mulai sekarang apa yang akan kau lakukan?"Tanya Despa


Aku masih belom memikirkannya tapi ada sesuatu yang sudah pasti.


"Aku akan membunuh Semi dan menyelamatkan Anisa"Ucapku dengan serius.


"Serius kau, jika kau melakukan itu, kita akan kalah dan terkana hukuman, meskipun begitu kau benar benar ingin menyelamatkannya?!"Tanya Despa lagi


"Aku serius, meskipun begitu, aku tetap ingin melindunginya, dia seperti aku saat dulu, jadi aku ingin menolongnya"Ucapku


Despa tersenyum.


"Kalo gitu, aku punya rencana...."


Sisa waktupun sudah habis, kami melanjutkan perjalanan kami ke tujuan terakhir kami.


Kami memasuki lantai empat istana, dan seperti biasa tempat lantai tersebut berhasil membuat kami terkejut. Tempat lantai ke empat adalah....

__ADS_1


Sekolah kami sendiri!!.


__ADS_2