Hidden Feeling

Hidden Feeling
Chapter 48


__ADS_3

“Haaaa...., Ribuan ya?”, Gumamku memikirkan sesuatu.


Wahah Hilda saat ini sangat murung karena mereka paham kalau mereka salah...


“Jadi Putri Hilda, Negara ini memanggil berapa Pahlawan?”, Tanya Lia penasaran.


“Saya tidak tau tepatnya berapa, Tapi mungkin itu sekitar Ratusan Pahlawan”, Jawab Hilda dengan serius.


Ratusan ya, Mungkin aku memerlukan informasi lebih banyak lagi...


“Ano Putri Hilda, Bisakah kamu memberitau kami apa yang terjadi di Kastil ini?”, Tanya Anisa yang ingin informasi lebih banyak lagi.


---\=\=\=---


Hilda menjelaskan semuanya kepada kami, Sepertinya Raja menyuruh semua Anak-nya untuk melakukan Pemanggilan Pahlawan dan ikut serta dalam pembasmian DeadMill...


Total Anak Raja ada 15 (7 Putri dan 8 Putra)...


“Hmmmm...”, Aku memikirkan sesuatu sambil memegang daguku.


“Putri Hilda, Bolehkah aku bertanya sesuatu?”, Mintaku karena seperti ada yang mengganjal di pikiran ku tentang ini.


“Apa itu?”.


“Saudara anda yang lain, Mendapatkan berapa Pahlawan saat Pemanggilan?”, Tanyaku menatap Hilda dengan tajam.


Awalnya Hilda cuma diam karena kaget dengan pertanyaan ku...


“Sekitar 20 atau 30 ke atas”, Jawab Hilda dengan wajah lesu.


“...!”, Lia dan Anisa terkejut mendengarnya.


Itu sudah wajar karena yang di panggil Putri Hilda cuma kami ber tiga, dan aku yakin dia sangat tertekan dengan ini, tapi dia berusaha tersenyum menyambut kami dengan hangat...


Aku yakin akan terjadi Diskriminasi antara saudara-nya, aku harus sebisa mungkin membantu-nya...


“Kak Vilan, Apa yang sedang kau pikirkan?”, Tanya Lia yang melihatku sedang memikirkan sesuatu.


“Aku hanya memikirkan rencana untuk mengalahkan DeadMill, soalnya kita hanya bertiga”, Jawabku sedikit membuat wajah bodoh.


“Jadi, Apa kau mendapatkan nya?”, Tanya Lia yang sangat penasaran.


“Tentu saja!, Kalian nantikan lah itu besok”, Jawabku tersenyum senang.


---\=\=\=---


Penyerangan DeadMill hanya tinggal 3 hari lagi, besok kami harus segera berangkat menuju Garis depan pertahanan...


Jadi hari ini bisa ber istirahat dengan tenang, Tuan putri menyiapkan kami tempat tidur dan makanan yang enak...


Aku sangat bersyukur tentang itu, tapi sekarang aku tidak selera makan jadi aku langsung pergi ke-kamarku...


[Lizis, Bisakah kau menggunakan sihir yang bisa membunuh DeadMill itu], Tanyaku yang penasaran dari tadi.

__ADS_1


[Sayang sekali Ragil, seperti nya itu tidak ada, jika kau menyerang DeadMill menggunakan sihir itu hanya akan membuatnya menjadi kuat], Jawab Lizis yang sekarang berada di ruangannya sendiri.


Perlindungan Mutlak Sihir, ini benar benar Merepotkan, mungkin aku harus belajar menggunakan itu, Pedang yang sudah lama tidak ku pakai...


[HARTA SUCI RAKNA]!!...


Dengan kemampuan fisik-ku yang sekarang aku bahkan tidak bisa memegang pedang itu dengan benar karena berat...


*Tok tok...


Seseorang mengetuk pintu kamar-ku, dia adalah Putri Hilda...


“Tuan Vilan, boleh saya masuk?”, Panggil Hilda.


“Masuklah!”, Balasku membuka pintu kamar-ku.


“Jadi?, Ada perlu apa Tuan Putri dengan ku?”, Tanyaku yang duduk di tempat tidurku.


Hilda memejamkan matanya dan duduk di sampingku...


“Mungkin ini sedikit memalukan, tapi aku mohon kepada Tuan Vilan, TOLONG TIDURLAH DENGANKU!!”, Teriak Hilda yang wajahnya sangat merah.


“Tunggu tenanglah Tuan Putri!!”, aku yang sedikit terkejut.


“A-Aku minta maaf (>///<)”, Hilda menjadi sedikit gugup.


---\=\=\=---


Setelah beberapa menit akhirnya Hilda sedikit tenang dan menceritakan semuanya kepada ku...


“Tentu saja tidak, saat itu aku hanya tidak berani untuk menolaknya”, Balas Hilda yang marah dan mencari alibi.


Putri Hilda membuat sebuah taruhan dengan Kakak nya, jika dia bisa mendapatkan Pahlawan yang lebih lemah dari Kakaknya, Hilda harus menjual tubuhnya di rumah Bordil (Prostitusi)...


Ini sedikit merepotkan, karena kami sekarang tidak tau seberapa Kuat Kakak nya, Hilda sudah putus asa karena tau dirinya Kalah jadi Hilda ingin pengalaman nya denganku...


---\=\=\=---


TAPI!!...


Sepertinya aku bisa memanfaatkan taruhan mereka...


“Tuan putri, bolehkah aku memanggilmu Hilda saja, karena itu sedikit panjang”, Mintaku tersenyum.


“Aku juga tidak papa”, Sepertinya aku di perboleh kan.


“Baiklah, sekarang akan ku tanya sesuatu kepada Hilda?”, Aku berdiri di depannya dan menatapnya, lalu...


“APAKAH KAU INGIN MENANG?!!”, Tanyaku tersenyum sinis.


Hilda mendelik terkejut dengan pertanyaan ku tersebut lalu Hilda menjawabnya dengan jawabannya yang sangat dia inginkan...


---\=\=\=---

__ADS_1


“AKU INGIN MENANG!” Teriak Hilda dengan semangat yang mempercayai ku.


“Kalau gitu, Mari kita buat Kakakmu-, Tidak”, Aku menggelengkan kepalaku.


“Bukan hanya Kakakmu, Mari kita buat semua orang terkejut melihat dirimu yang sangat kuat Hilda”, Ulangku tersenyum dan memberi Hilda sebuah Harapan.


---\=\=\=---


“Tapi, Apakah itu bisa?”, Hilda menjadi ragu ragu.


“Tenanglah, Percayalah kepadaku Hilda(◠‿◕)”, Jawabku tersenyum percaya diri.


Hilda hanya terdiam dan wajahnya sedikit ceria lagi...


“Sekarang tutupilah bajumu dengan ini”, Suruhku memberinya selimut karena sekarang Hilda memakai Piyama yang tembus pandang.


*Puuusshhh...


“(>///<) Terima kasih banyak Tuan Vilan, kalau gitu aku pergi dulu”, Permisi Hilda yang kembali lagi ke kamarnya.


---\=\=\=---


---\=\=\=---


---\=\=\=---


*Buk!...


“Haaaaaaa....(٥↼_↼), Itu tadi hampir saja”, Gumamku menghela nafas lega.


[Ahaha..., Kau sudah berjuang Ragil], Tawa Lizis mengejekku.


Saat Hilda memintaku untuk menidurinya, Nafsu naik drastis, jadi jika tidak ku tahan, mungkin aku bisa menyerang Hilda saat itu...


[Bukannya, tadi kesempatan mu Ragil, kenapa kau melepaskannya?], Tanya Lizis yang bingung.


Aku kembali ke kasurku dan ber-rebahan...


“Kau tau kan, Hilda orang-nya sangat polos dan baik, dan aku juga tidak bisa melakukannya jika itu bukan keinginan nya sendiri, jika aku tetap melakukannya aku yakin dia akan menyesalinya saat bertemu orang yang sangat di cintai nya”, Jawabku dengan wajah lesu dan lelah.


[Heeee..., Aku tidak percaya Ragil sangat memperhatikan hal hal seperti itu], Lizis tersenyum senang.


---\=\=\=---


Kau benar, aku juga tidak percaya kalau aku bisa mempedulikan orang lain selain Keluargaku dan Anisa...


Ah!, Ada satu yang ingin kutanyakan kepada Lizis...


“Lizis, di Dunia ini...


...APAKAH ADA PENYIHIR YANG LEBIH HEBAT DARI KU?!”, Tanyaku tersenyum sinis.


---\=\=\=---

__ADS_1


[TIDAK ADA!!]...


__ADS_2