
*Keesokan harinya~
*Ceklek...
Aku membuka pintu kamarku dan pergi untuk ber siap siap, karena hari ini kami akan menuju ke Medan perang...
“Huaaaaaaa...”, Aku menguap ngantuk.
Semalam aku begadang latihan mengangkat Rakna tapi tetap tidak bisa, padahal aku sudah memakai sihir perkuat...
“Tuan Vilan, Selamat pagi”, Salam Hilda di meja makan.
“Selamat pagi juga”, Balasku dengan wajah lesu.
Aku pun juga ikut duduk di meja makan untuk sarapan sebelum berangkat...
“Kak Vilan, Apa kau tidak papa?”, Tanya Lia.
“Aku tidak papa, Bagaimana dengan kalian?”, Tanya balik ku.
“Seperti yang kau lihat”, Jawab Lia dengan wajah lesu.
Sepertinya mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak, yah itu wajar saja...
“Anisa, Makanlah yang banyak”, Suruhku yang melihatnya sangat kelelahan.
“Aku tau itu”, Jawab Anisa yang langsung memakan sarapannya.
Baiklah, Setelah sarapan kami akan langsung pergi ke Medan Perang...
---\=\=\=---
---\=\=\=---
---\=\=\=---
“Nona Hilda, Apakah anda yakin akan ikut?”, Tanya Anisa khawatir.
“Tentu saja, Karena saya adalah Putri kerajaan, jadi aku harus melakukan kewajiban ku”, Jawab Hilda tersenyum.
“Baiklah”.
Anisa masih tetap mengkhawatirkan Hilda, sebenarnya aku sudah membiarkannya menguping pembicaraan kami tadi malam, ku pikir itu hal yang bagus untuk memberitahu nya kalau aku bisa di percaya...
Tapi sepertinya dia jadi lebih mengkhawatirkan kondisi Hilda...
---\=\=\=---
“Apa kalian sudah siap!?”, Tanyaku tersenyum.
“Tentu saja!”, Jawab mereka serentak.
kami pun akhirnya berangkat menuju Garis depan pertahanan kerajaan...
---\=\=\=---
__ADS_1
---\=\=\=---
---\=\=\=---
Kami pergi menggunakan kereta kuda untuk ke sana, dan tidak sampai setengah hari kami sudah sampai...
Di sana kami melihat banyak kali orang dari Dunia lain, bahkan disana juga anak SMP, Apa yang mereka pikirkan sebenarnya tentang kami...
“Yo Hilda, Akhirnya kau datang juga”, Sapa seseorang dengan sombong.
“Kak Isan”, Ujar Hilda yang tidak suka dengan nya.
Kami pun turun dari kereta kuda, entah kenapa kami merasakan banyak sekali pandangan aneh ke arah kami...
Hilda pun menjadi gugup...
---\=\=\=---
“Woy woy, Apa apaan ini, berhenti-lah melihat kami seperti itu, padahal kami baru sampai pun”, Ucapku dengan keras sambil tersenyum sombong.
Saat itu juga semua nya pada melihat ke arahku...
“Tuan Vilan, tolong berhenti-lah”, Suruh Hilda yang sangat panik.
“Kak Vilan, Apa yang ingin kau lakukan?”, Ujar Lia yang gugup.
“Bodoh, Apa yang kau lakukan, kita jadi pusat perhatian kan?”, Marah Anisa kepada ku.
Yah, Aku cuma ingin bersikap sok keren saja, suasananya terlalu tenang, di lihat dari wajah wajah para Pahlawan lainnya sepertinya ada yang percaya diri, panik, sedih, dan lain lain...
“Bocah Diamlah!!”, Teriak seseorang dengan tegas memarahi ku.
“Aku adalah Komandan Ksatria Hihan yang akan memimpin pertempuran kali ini”, Jawab Hihan dengan tegas.
“Heeee..., Hebat kali, jadi sebagai seorang ksatria boleh kah aku meminta pendapat anda?”, Mintaku dengan sopan.
“Apa itu?”, Ujar Hihan menatapku dengan tajam.
“Kenapa ada anak anak yang ikut dalam pertempuran, bukannya kau Ksatria, dimana kehormatan mu sebagai Ksatria, Tuan Hihan!”, Ujar diriku menatapnya dengan tajam.
dan itu membuat Hihan terkejut diam...
“Tuan Hihan, Aku juga ingin mengetahuinya”, Ujar Anisa dengan tegas.
Hihan hanya terdiam dan kesulitan menjawabnya...
“Meskipun mereka anak kecil, mereka tetaplah Pahlawan, mereka memiliki kewajiban untuk melawan DeadMill”, Jawab Hihan yang berusaha mengabaikan ancaman dariku.
Aku melihat Anak anak SMP di sana yang sangat banyak, jika di lihat lebih dekat mereka masih kelas 8 SMP...
Bahkan sekarang mereka sedang ketakutan serta kebingungan...
Tapi sekarang aku tidak boleh melakukan apapun, ini belum saatnya untuk menjadi Pahlawan, Tapi...
*Duk!..Duk!..Duk!..
__ADS_1
Anisa mendekati para Anak anak SMP tersebut dan saat Anisa mendekati mereka, seorang Laki laki gendut mendekati dan menghalangi Anisa...
“Jadi kau Putra kerajaan nya?”, Tanya Aniaa.
“Hehe, Siapa kau?, berani beraninya mendekati Pahlawan Pahlawan ku”, Ujar Gendut itu tersenyum sombong.
“Pahlawan-Pahlawan ku” ya...
“Kenapa kau membuat Anak kecil seperti mereka pergi ke Medan Perang, Gendut!!”, Ujar Anisa tersenyum.
“Apa kata mu!! Brens*k!!, Woy Hilda apa kau tidak mengajarkan sopan santun kepadanya!!”, Bentak Gendut tersebut sangat kesal.
Anisa mengabaikan nya dan menuju ke arah anak SMP tersebut...
“Hey, Apa kalian ingin ikut perang?”, Tanya Anisa tersenyum lembut.
Anak anak tersebut menggeleng kan kepalanya...
“Baiklah, aku akan menyelamatkan kalian”, Ucap Anisa dengan penuh percaya diri.
“Woy, menjauhlah dari mereka!!”, Bentak Gendut tersebut.
“Aku minta maaf Kak Gula!!”, Ucap Hilda yang ketakutan dan menarik tangan ku.
“Hilda, Apakah dia yang sekarang membuat taruhan itu denganmu?”, Tanya Anisa tersenyum sinis.
“Eh!, Kalau kau tau, Cepatlah berhenti!!”, Ketus Hilda memarahi Anisa.
Jadi gitu, ini semakin menarik dan sepertinya kita memiliki keuntungan di sini...
“Hilda, kesini lah...”, Panggil Anisa yang membisikan sesuatu kepada Hilda.
“Eeeehhh!!, Mustahil!, aku tidak bisa!!”, Panik Hilda.
“Sudahlah, lakukan saja seperti kataku”, Suruh Anisa tersenyum.
“Baiklah”, Ucap Hilda pasrah.
Dia pun maju ke depan dan menghadapi Gula, yaitu kakak nya yang membuat taruhan dengan nya...
Hilda hanya kusuruh untuk...
“Kak Gula”, Panggil Hilda yang ketakutan.
“Apa?!”, Balas Gula.
“Di taruhan kita, Aku belum membilang keinginan ku kan!”, Tanya Hilda yang gugup.
“Apa yang kau bilang, mana mungkin kalian menang dariku kan”, Jawab Gula dengan wajah sombong.
“Kami BISA!!”, Ucap Hilda dengan tegas.
“A-Apa kata mu!!”, Gula sangat kesal.
---\=\=\=---
__ADS_1
“Kak Gula, Jika Aku menang, BERIKAN SEMUA PAHALAWANMU!!”, Teriak Hilda dengan keras.
Pengakuan nya membuat semua orang terkejut...