
Sampainya di bandara, ketiganya masuk kedalam bandara dan berjalan menuju jet pribadi yang sudah siap mengudara.
Tidak berselang lama jet pribadi milik BAS Crop sudah berada di atas ketinggian ribuan kaki.
................
Di tempat lain!
Sebuah mobil tengah berada tepat diseberang pagar sekolah, sedari pagi ia terus melihat-lihat keadaan sekitar agar bisa menemukan orang yang ia cari.
"Apa dia belum juga datang?"tanya Arseno pada dirinya sendiri, dengan tatapan yang tidak lepas dari gerbang masuk sekolahan Jojo.
Sudah berjam-jam ia menunggu disana, sampai jam sekolah berakhir tapi belum juga menemukan seseorang yang ia cari. Merasa penantiannya yang tak berujung, membuat Arseno kembali kekediamannya.
Karena nanti malam ia akan menjalani dinas malam di kantor polisi tempatnya bertugas.
"Masih ada hari esok"gumam Arseno untuk menyemangati dirinya sendiri.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, Arseno sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Tinggal terpisah dengan orang tuanya adalah hal yang biasa bagi Arseno.
Sampai didepan pagar tumah yang cukup tinggi dan terdapat beberapa penjaga rumah yang sudang bertugas.
Masuk kedalam pekarangan rumah mewah yang sudah di bukakan oleh penjaga gerbang, rumah yang hanya di huni oleh dirinya dan anaknya.
Memarkirkan mobil didepan garasi, lalu keluar dari dalam mobil, pintu rumah yang sudah terbuka lebar oleh pembantunya.
"Selamat datang tuan"sapa pembatu rumah yang menyambut kedatangan majikannya.
"Aziel mana bi?"tanya Arseno.
"Den Aziel lagi di taman belakang tuan"jawabnya.
"Ya sudah lanjutkan pekerjaan mu!"ucap Arseno sambil berlalu dari hadapan pembantunya.
Melangkahkan kaki kelantai dua, dimana hanya terdapat dua kamar disana, yaitu kamar dirinya dan juga kamar anak semata wayangnya.
Masuk kedalam kamar yang selama ini ia tempati seorang diri.
..............
Waktu makan malam tiba, kedua anak dan ayah itu, tengah makan malam bersama di meja makan, tak jauh dari tempat mereka makan ada dua orang pelayan yang memantau dari kejauhan jika sewaktu-waktu majikan mereka perlu sesuatu.
Hubungan kedua cukup akrab, walaupun Arseno tidak selalu menemani aktivitas sang anak, tapi ia selalu memantau Aziel dari kejauhan.
"Pa, apa papa akan bertugas malam ini?"tanya Aziel kepada sang papa.
"Iya, kamu hati-hati dirumah, jika terjadi sesuatu hubungi papa"ucap Arseno yang sudah sekian kalinya memperingatkan sang anak agar berhati-hati.
__ADS_1
Hidup dengan nama keluarga besar Honson, membuat mereka harus waspada. Karena dalam dunia bisnis tidak ada yang akan memandang umur maupun saudara, jika itu sudah berurusan dengan kejamnya dunia bisnis.
"Siap pah!"ucap Aziel dengan hormat layaknya seorang perwira yang hormat kepada sang atasan.
"Itu baru jagoan papah"ucap Arseno dengan bangga.
Menyelesaikan makan malamnya, Arseno pamit kekamar untuk bersiap mengganti seragam kerja.
Perlangkapan dinas malam yang sudah sempurna melekat di tubuhnya membuat Arseno semakin tampan dan berkarismatik.
Menuruni anak tangga ia melihat sang jagoan tengah menonton televisi di ruang keluarga.
"Boy, papah berangkat kerja dulu ya"pamit Arseno kepada sang buah hati.
"Hati-hati pah!"ucap Aziel sambil mencium tangan Arseno.
..............
Mengendarai motor khusus untuk anggota kepolisian membuat penampilan Arseno semakin gagah dimata para wanita yang melihat Arseno melintas dijalan raya.
Sampainya di kantor polisi, Arseno sudah di sambut baik dua sahabatnya yang tengah menunggu kedatangannya.
"Tumben telat?"tanya Hendra yang sudah berjalan mendekat kearah Arseno.
"Biasa"jawab santai Arseno.
"Buruan nikah, apalagi udah ada yang suka, jangan dianggurin anak orang dong bos. Kasian noh"ucap Feri yang menunjuk seorang wanita tengah menatap ke arah mereka.
"Yey dibilangin malah ngeyel"timpal Hendra.
Sebenarnya Arseno sudah lama tau bahwa Ayu menyukai dirinya, tapi selama ini Arseno hanya menganggap Ayu hanya sebatas rekan kerja saja tidak lebih.
Kedua sahabat Arseno, Hendra dan Feri tentu saja mengetahui hal itu, tetapi mereka tetap saja berusaha menjodohkan keduanya walaupun sebenarnya selalu mendapat penolakkan dari Arseno.
"Ayo masuk!"ucap Arseno sambil berjalan lebih dulu meninggalkan kedua sahabatnya.
Sampai didalam kantor, mereka bertiga disambut hangat oleh kedua teman kerja mereka siapa lagi jika bukan Ayu dan Sinta.
"Selamat malam pak Arseno"sapa Ayu dengan senyum manis. Sedangkan Arseno hanya merespon datar sapaan dari Ayu.
"Ya"ucap Arseno dengan datar. Karna ia tidak mau memberikan harapan kepada seseorang jika ia tidak menyukainya, apalagi ada seorang anak yang lebih berhak memilih calon ibu sambungnya dari pada dirinya.
Berwajah datar dan mengobrol seadanya adalah hal biasa bagi mereka yang sudah mengenal Arseno sejak lama.
................
Sampai diruangannya, Arseno menggantungkan jaketnya ke gantungan baju yang ada diruangan itu. Mempunyai pangkat yang lebih tinggi dibandingkan kedua sahabatnya membuat ia biasa saja.
__ADS_1
Duduk di kursi tempatnya bekerja, Arseno mendengar deringan ponsel yang cukup mengusik pendengarannya. Meraba-raba di setiap kantong jaketnya ia melihat sebuah ponsel asing di tangannya. Mengingat-ingat siapa pemilik ponsel itu membuat Arseno menghela nafas kasar karna ia tidak menemukan keberadaan Jojo untuk mengembalikan secara langsung dan meminta maaf kepada Jojo.
Suara ponsel kembali terdengar di genggamannya dan ternyata sebuah telpon masuk yang tanpa tertera nama maupun nomor di layar itu.
Penasaran siapa yang menelpon, membuat Arseno menjawab telpon itu setelah panggilan tersambung terdengar suara lelaki.
Saat panggilan tersambung!
"Hallo?"
"Apa kau baik-baik saja, aku mendapatkan informasi bahwa terjadi keributan di Negara A. Kau baik-baik sajakan?"tanya seorang lelaki diseberang sana dengan nada suara cemas.
Tidak ada jawaban dari Arseno ia hanya bertanya tanya dibenaknya siapa yang menelpon dan apa maksud dari perkataannya tadi?, pikir Arseno yang ikut merasa cemas.
"Hei kenapa kau diam saja, jawab aku!, kau baik-baik sajakan?. Jojo jangan buat aku semakin cemas"ucap suara disebrang sana yang semakin meninggi, dengan suara semakin khawatir.
Mematikan sambungan telpon secara sepihak, Arseno meletakkan telpon di genggamannya di atas meja.
Dengan pikiran menerawang, saat ia mengingat kejafian dimana Jojo tengah berdiri didepannya dengan tatapan penuh kecewa dan kesedihan yang mendalam. Mengingat hal itu membuat Arseno menghela nafas gusar.
"Ku rasa dia baik-baik saja?"tanya Arseno kepada dirinya sendiri.
Pintu ruangan terbuka dari luar ternyata kedua sahabatnya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa dengan raut wajahmu?"tanya Hendra bingung saat melihat wajah gusar Arseno.
"Apa kau sedang mengkhawatirkan seseorang?"tanya Feri yang ikut bingung melihat raut wajah sahabatnya dan hal itu sangat jarang terjadi jika tidak berhubungan dengan keluarganya.
"Entahlah"ucap Arseno menaikkan kedua bahunya.
"Apa ada masalah kelurga?"tanya Hendra sambil duduk didepan Arseno dan diikuti oleh Feri disebelahnya.
"Bukan"jawab Arseno cepat.
"Pasti seorang wanita kan?"tanya Hendra yang menduga-duga.
"Ada perlu apa kalian kesini?"tanya Arseno untuk mengalihkan pembicaraan.
"Astaga hampir saja lupa"ucap Hendra sambil menepuk keningnya.
"Besok kita akan mengadakan sosialisasi tentang tentang penggunaan obat-obat terlarang di sekolah BAS Crop. Jadi jangan sampai lupa!"ucap Hendra untuk mengingatkan Arseno walaupun berita itu sudah tersiarkan beberapa hari yang lalu.
"Tenang saja"ucap Arseno dengan santai.
"Kembalilah bertugas kalian"usir Arseno kepada kedua sahabatnya.
"Bilang saja kalau kamu sedang mengusir kami"ucap Feri dengan nada kesal.
__ADS_1
"Itu kalian tahu"balas Arseno acuh.
Keduanya keluar dengan perasaan kesal terhadap sikap Arseno yang tidak pernah berubah menurut mereka.