Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
06. Perdebatan


__ADS_3

Sampai di tempat pos penjagaan, disana sudah banyak orang yang terkena tilang, dikarenakan tidak memiliki kelengkapan surat kendaraan.


Menuju pos yang paling ujung, ada beberapa polisi berseragam lengkap tengah berkumpul disana. Jojo yang saat ini lagi bertukar pesan kepada Mira untuk mengantarkan baju dan juga meminta kepada Mira agar menggantikannya untuk mengurus permasalahan yang menimpanya saat ini.


Dengan perasaan campur aduk, Mira menuruti pesan yang dikirim oleh Jojo.


Jojo yang secara tidak sadar bahwa polisi itu sudah berhenti di salah satu pos yang paling ujung, dan membuat ia menabrak bagian punggung sang polisi. Ponsel yang ia mainkan terjatuh saat bersamaan ia menabrak orang didepannya.


Melihat ponselnya terjatuh, Jojo menunduk dan mengambil ponselnya yang memperlihatkan layarnya sedikit retak.


"Retak layarnya"gerutu Jojo yang mengecek kondisi ponselnya yang sudah tergeletak di atas lantai.


Saat mengambil ponselnya, rokok beserta korek api yang berada di saku bajunya ikut terjatuh.


Melihat sebungkus rokok terjatuh yang berasal dari Jojo, membuat para polisi berpendapat buruk terhadap sikap Jojo.


Meneliti penampilan Jojo dari atas sampai bawah yang masih mengenakan seragam sekolah. Tampilan rambut yang pendek acak acakan dan memakai pewarna rambut jika diteliti lebih jelas. Baju yang tidak dimasukkan kedalam rok, penampilan Jojo saat ini jauh dari kata layak untuk anak sekolah pada umunya.


"Ada yang salah?"tanya Jojo dengan tatapan sedikit menajam.


"Tidak ada"ucap salah satu polisi dengan sedikit takut melihat tatapan Jojo.


"Silakan duduk Nona"ucap lelaki berseragam yang memberhentikan mobil Jojo.


Duduk dengan tenang tanpa beban dan tanpa ekspresi menatap polisi yang ada didepannya.


"Atas nama Jovanda R?"tanya lelaki itu yang bertuliskan nama Arseno P di seragam di bagian kanannya.


"iya"jawab singkat Jojo.


"Kenapa tidak membawa STNK adek, Adek tau sendiri bahwa STNK itu sangat penting dalam berkendara"ucap polisi itu dengan sopan.


"Iya tahu"sahut Jojo dengan acuh


Mendengar ucapan Jojo, mereka hanya geleng geleng kepala melihat sikap acuhnya.


Sambil memainkan ponsel Jojo menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari polisi yang mengintrogasinya. Kesal dengan sikap acuh wanita didepannya, Arseno atau yang biasa yang di panggil dengan nama Seno berdiri dari tempat duduknya.


................


Berdiri dari tempat duduknya Arseno berjalan mendekati Jojo dan merebut ponsel yang ada di tangan Jojo.


"Eh kembalikan"pinta Jojo melihat ponselnya yang sudah berada di genggaman tangan Arseno.


Berdiri saling berhadapan, keduanya saling menatap sengit. Sedangkan para polisi yang ada di tempat itu hanya sebagai penonton.


"Apa kamu tidak mampu untuk membeli ponsel?"tanya Jojo sambil menatap mata lelaki itu.


"Jika kamu tidak memiliki uang untuk membeli ponsel, tenang saja akan aku belikan yang spesial untukmu"tawar Jojo dengan santai.

__ADS_1


Mendengar ucapan Jojo membuat Arseno bertambah kesal.


"Kamu pikir, saya tidak mampu beli ponsel?"tanya Arseno dengan tatapan tajam. sedangkan yang di tatap juga takkalah menatap datar.


"Siapa tahu kamu tidak mampu"ucap Jojo santai.


"Kamu"seru Arseno dengan geram.


"Apa?"tantang Jojo balik.


"Dasar tidak punya sopan santun"ucap Arseno dengan suara tegas.


"Iya aku emang tidak punya sopan santun, terus, mau kamu apa?"tanya Jojo dengan kesal.


"Dengan melihat kelakuan kamu ini, pasti kedua orang tua kamu akan malu punya anak seperti kamu!"ujar Arseno dengan tegas.


Habis sudah rasanya emosi yang Jojo tahan, saat Arseno menyebutkan kata kata orang tua.


Menghela nafas kasar dengan dada yang mulai naik turun emosi yang semula ia tahan akhirnya ia lepaskan.


"Iya, aku memang tidak punya sopan santun"ucap Jojo dengan suara lantang dan sedikit bergetar.


"Kau tau kenapa?. karna tidak ada yang mengajari aku, lalu aku harus apa?"


"Harus apa hah?, jawab?"teriak Jojo dengan nafas memburu.


Orang yang berada di sekitar sangat jelas mendengarkan perdebatan mereka berdua.


Terlintas rasa bersalah dalam hati Arseno mendengar ucapan Jojo yang membuat mereka bungkam.


"Bu bukan seperti itu!"ujar Arseno sedikit gugup.


Mira yang sedari tadi sudah datang mendengar jelas apa yang di katakan oleh Jojo. Sakit tentu saja ia merasa sakit apa yang di rasakan oleh orang yang selama ini membantu kehidupannya.


"Sudahlah tidak perlu dibahas!"ucap Jojo santai.


Saat membalikkan badannya untuk duduk di kursi yang ia duduki tadi ia tidak sengaja melihat Mira yang berdiri mematung tidak jauh dari tempat itu.


"Sudah lama"tanya Jojo kepada Mira yang mulai berjalan perlahan mendekatinya.


Mencoba terlihat biasa saja didepan Mira, Jojo berusaha mengubah raut wajahnya seolah olah tidak terjadi apa apa didepan Mira.


Tapi sayang ternyata Mira menyaksikan serta memdengar apa yang Jojo ucapkan tadi.


"Baru saja"ucap Mira dengan berbohong.


"Kau membawa apa yang aku perintahkan?"tanya Jojo.


"Tentu saja"ucap Mira dengan tersenyum manis. Menyerahkan peperbag kepada Jojo untuk berganti pakain.

__ADS_1


"Tunggu disini aku akan ganti baju terlebih dahulu"ucap Jojo dan mulai mengikuti salah satu polisi wanita, yang menunjukkan tempat agar ia bisa mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian biasa.


Jojo kembali dengan atasan yang berbeda sedangkan bagian bawahnya masih mengenakan rok sekolahnya.


"Mira tolong kamu urus yang disini ya, soalnya saya harus kebandara. Karna sebentar lagi aku akan pergi"ucap Jojo kepada Mira.


"Serahkan kepada ku disini!".


"Hati hati cepat kembali Nona"pinta Mira kepada Nonanya.


"Baiklah, mana kunci motornya. Jika menggunakan mobil takut tidak sempat soalnya waktunya sudah mepet!"ujar Jojo sambil melirik ke arah jam tangannya.


Berjalan dengan terburu buru, Jojo meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan ponselnya yang masih berada di tangan Arseno.


Sedangkan Arseno masih bingung akan situasi saat ini.


"Maaf tuan tuan, segala urusan yang berhubungan dengan Nona tadi silakan anda sampaikan kepada saya"ucap Mira dengan sopan.


............


Melajukan motor dengan kecepatan yang tinggi menuju bandara.


Sedangkan di bandara, terdapat dua orang paruh baya tengah merasa khawatir. Karena majikan kecil mereka yang di tunggu sedari tadi tidak kunjung datang.


"Pak coba telpon Nona lagi!, kenapa dari tadi tidak sampai sampai"ucap bi Ami dengan raut waja khawatir.


"Sabar saja buk, dari tadi bapak coba telpon Hpnya tidak di angkat"ujar Pak Udin yang sedari tadi berusaha menelpon Jojo.


Kursi tunggu bandara terdapat tiga orang yang juga merasa cemas menunggu kedatangan Jojo. Elejar dan kedua bawahannya sedari tadi terus menatap ke arah pintu masuk dengan ekspresi gusar. Jadwal keberangkatan tinggal lima belas menit lagi dan yang di tunggu tak kunjung datang.


Seorang wanita yang sedang berlari dengan koper di sebalah tangan kanannya. Dengan memakai hoddy kebesaran dan rok sekolah seorang wanita tengah mencari cari keberadaan orang yang ia kenalnya.


"Kenapa baru sampai?"tanya Elejar yang melihat Jojo sudah berhenti didepannya dengan nafas memburu.


"Hanya insiden kecil"ucap Jojo sambil mengatur nafasnya.


"Syukurlah kamu baik baik saja"ucap Elejar yang meneliti Jojo dari ujung kaki sampai kepala.


"Kenalkan, ini asisten ku dan juga sekretarisku"ucap Elejar menunjuk kedua karyawannya yang akan menemani Jojo di Negara A nanti.


"Saya Sherly Nona"ucap sherly sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan di sambut baik oleh Jojo.


"Saya Leo, asisten tuan Elejar Nona"ucap perkenalan dari Leo.


"Saya Jovanda panggil saja Jojo"


"Jika tidak dalam situasi pekerjaan jangan terlalu formal dengan ku"


"Lagi pula aku masih anak SMA"ucap Jojo dengan tertawa kecil.

__ADS_1


Melihat seorang wanita muda yang bisa di perkirakan bahwa umurnya masih di bawah mereka berdua.


Membuat keduanya bertanya tanya, apa tidak salah tuan Elejar menyerahkan pekerjaan ini dengan orang yang masih duduk di bangku SMA, begitulah pendapat Leo dan juga sherly saat melihat kedatangan Jojo sejak awal.


__ADS_2