
Di kediaman yang berbeda, lebih tepatnya di kediaman Arseno.
Jojo dan Aziel masih berada di dapur, dengan Jojo masih memakan mie instand punya Aziel.
"Kalian sedang apa?" tanya Arseno yang sudah kembali dari luar, sambil membawa beberapa kantong makanan yang sengaja ia beli untuk mereka.
Arseno melangkah mendekati mereka berdua, yang sedang duduk dengan santai.
"Kamu memasak mie instand?"tanya Arseno kepada Jojo yang sedang menghabiskan kuah dalam mangkuknya.
"Tidak" jawab Jojo santai.
"Calon anak ku yang memasakkannya untuk ku" ucap Jojo yang melihat ke arah Aziel yang bermuka datar.
"Enak saja, gara-gara kamu memakan mie ku. Aku jadi menahan lapar" ucap ketus Aziel.
"Tidak usah di bahas lagi, ini makanlah tadi papa keluar membeli makanan" ucap Arseno sambil menata makanan di atas meja.
"Wah, ini baru nikamatnya makan" ucap Jojo dengan senang.
Tanpa sungkan Jojo langsung makan dengan lahap, tanpa memperdulikan tatapan kedua lelaki yang ada di dekatnya.
"Apa kau tidak pernah makan-makanan enak?" tanya Aziel mencibir Jojo.
"Dasar rakus" umpat Aziel yang melihat makanan didepannya juga Jojo makan.
"Makanlah Boy" ujar Arseno.
Mereka makan dengan nikmat dan santai kecuali Jojo.
"Astaga perut ku rasanya mau meledak" ucap Jojo sambil mengelus perutnya.
"Iyalah kenyang, makanan yang ada disini hampir semuanya kau yang makan" ketus Aziel.
"Kan makanannya enak-enak, sayang jika tidak segerah di habiskan" ucap Jojo yang tidak mau kalah.
Melihat kedua orang di depannya hanya mempeributkan hal yang sepele membuat Arseno menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
"Berasa punya anak dua" ucap Arseno dalam hati yang melihat tingkah keduanya.
.............................
Hari sudah semakin larut dan menunjukkan pukul 11 malam, dan Jojo berencana untuk pamit dari rumah Elejar.
Telepon rumah Arseno berdering, dan dengan santai Arseno menuju telpon rumah yang ada di ruang keluarga. Mereka bertiga memutuskan untuk menonton TV terlebih dahulu karena mata mereka belum mengantuk.
Sambungan telepon terhubung.
"Ada apa?" tanya Arseno karena ia tahu itu adalah nomor penjaga bagian gerbang rumahnya.
"Maaf mengganggu tuan, ini ada yang datang. Katanya mau jemput temannya di rumah tuan!,"Jelas penjaga gerbang.
"Suruh masuk saja kalau begitu" perintah Arseno dan sambungan telepon terputus.
"Apa kau menyuruh teman mu datang kesini?" tanya Arseno kepada Jojo yang lagi menonton sambil memakan cemilan yang Arseno beli tadi.
"Sudah datang ya?" tanya Jojo balik tanpa menjawab pertanyaan Arseno.
"Iya" ucap Arseno dan langsung menuju pintu utama untuk membukakan pintu.
Sampai di depan pintu, Arseno langsung membuka pintu dengan sedikit ada rasa penasaran dalam hatinya.
Setelah pintu terbuka, seorang lelaki tampan yang mungkin umurnya hanya beberapa tahun saja beda dengan Jojo.
"Cari siapa?" tanya Arseno datar.
"Jojo" jawab pemuda itu yang tidak kalah datar menatap Arseno.
"Silahkan masuk" ajak Arseno yang mencoba bersikap ramah.
Mereka duduk di ruang tamu, dan Arseno sesekali melirik penampilan lelaki didepannya ini yang penuh dengan warnah hitam melekat di tubuhnnya.
Hening, tidak ada yang mau membuka suara, saat Arseno ingin menanyakan ada hubungan apa antara lelaki yang ada di depannya dengan Jojo?. Pertanyaan itu tidak jadi ia ucapkan, karena Jojo sudah datang mendekat kearah mereka.
__ADS_1
"Sudah lama sampai?" tanya Jojo yang tadi ia kembali kekamar mengambil ponselnya.
"Tidak, baru saja" jawab lelaki itu lembut.
"Apa yang terjadi" tanya Bimo salah satu anggota inti tim keamanan di black shadow.
"Biasa" jawab Jojo dengan tersenyum manis dan hal itu membuat Arseno semakin kesal melihat interaksi keduanya.
"Oh iya aku lupa!, Bimbim kenalkan ini Arseno dan Arseno ini Bimo" ucap Jojo yang memperkenalkan namanya.
"Bimo" ucap Bimo singkat sambil mengulurkan tangannya.
" Arseno, panggil saja Seno" ucap Arseno menjabat tangan Bimo.
"Kita langsung pulang?" tanya Bimo sambil menuntun Jojo untuk duduk di sebelahnya.
"Apa kau tidak keberatan?" tanya Jojo yang tau kalau Bimo belum lama sampai sedangkan jarak yang ia temput cukup jauh.
"Tidak masalah" ucap acuh Bimo.
"Kau mau pulang?" tanya Arseno yang seakan tidak rela Jojo meninggalkan rumahnya bersama dengan seorang lelaki.
"Iya, soalnya besok aku harus bekerja" ucap Jojo yang ingat kalau besok hari minggu.
"Kenapa harus dia yang jemput" tanya Arseno.
"Kan aku bisa mengantar kamu pulang" sambung Arseno lagi.
"Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu saja" jawab Jojo asal.
"Oh" ucap Arseno yang seakan tidak menerima alasan Jojo.
Jojo yang meneliti persaan Jojo mulai mengerti arah pembicaraan Arseno yang tidak rela kalau dirinya di jemput ataupun bersama lelaki lain.
"Bimo, kau tunggulah di mobil" ucap Jojo tanpa melihat ke arah Bimo.
Setelah kepergian Bimo, Jojo mulai bertanya kepada Arseno.
"Ada apa?" tanya Jojo dengan lembut sambil merapikan rambut Arseno.
"Apa kau cemburu?" tanya Jojo yang memancing Arseno.
"Tidak" sanggah cepat Arseno tanpa melihat raut wajah Jojo yang sedikit berubah.
Terdiam beberapa menit, Jojo hanya menatap hangat kepada Arseno sedangkan Arseno hanya duduk berasandar sambil memejamkan matanya.
"Ehem, baiklah kalau begitu aku pamit dulu" ucap Jojo yang merasa sedih karena Arseno mengatakan tidak cemburu.
Jojo melangkah menuju ruang keluarga dimana tempat Aziel yang masih menonton TV.
"Aziel" panggil Jojo.
Merasa namanya di panggil membuat Aziel mengalihkan pandangannya ke arah Jojo yang sudah berdiri didekatnya.
"Apa?"tanya Aziel malas.
"Calon mama pamit pulang dulu ya" ujar Jojo sambil mengelus rambut Aziel dengan lembut.
Walaupun Aziel menikmati sentuhan Jojo, tetapi ia tidak memperlihatkannya.
"Pulang saja sana, tunggu apa lagi?" ucap ketus yang keluar dari mulut Aziel.
"Kamu tidak mau memeluk calon mama mu ini" ucap Jojo dengan wajah yang tersenyum manis.
"Tidak" jawab ketus Aziel.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Jangan terlalu malam nonton televisinya" ucap Jojo dan langsung meninggalkan Aziel yang ada di ruangan itu.
Mendengar langkah Jojo menjauh darinya, membuat Aziel menatap punggung Jojo dengan pandangan yang sulit di pahami. Ada rasa suka, sedih bahkan ada rasa takut didalam dirinya.
Jojo hanya melirik sekilas kepada Arseno yang sedang duduk bersandar dan memejamkan matanya.
"Aku pulang!" ucap Jojo tanpa menghampiri Arseno.
__ADS_1
Mendengar ucapan Jojo membuat Arseno membuka matanya dengan cepat.
Dengan langkah cepat Arseno menghampiri Jojo yang akan meninggalkan ruang tamu.
Jojo merasa tubuhnya hampir terjatuh kedepan akibat pelukan yang tiba-tiba ia terima dari belakang.
Dengan segerah, Arseno membalikkan badan Jojo menghadap kearah dirinya.
"Kenapa?" tanya Jojo lembut, sambil menatap kedua mata Arseno yang terlihat kegelisahan.
"Kau tidak akan meninggalkan aku kan?" tanya Arseno sambil memeluk Jojo erat.
"Maksudnya?"tanya Jojo bingung.
"Kau pasti lebih memilih diakan?. Secara dia lebih muda dan sangat pantas untuk mu. Sedangkan aku, umur kita berjarak 10 tahun dan aku juga seorang duda beranak satu" ungkapan kegelisahan di hati Arseno.
Mendengar ucapan Arseno, membuat mengerti inti permasalahan yang dirasakan oleh Arseno.
"Kau ingin menjauhi ku?" tanya Jojo yang melepas pelukan Arseno.
Melihat Arseno bungkam membuat, Jojo menghela nafas kasar.
"Jika aku ini tidak pantas untuk mu!. Aku akan menjauhi mu Seno" ucap Jojo dengan sunguh-sungguh.
Dengan berat hati Jojo melepaskan tangannya yang berada di pinggang Arseno.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu dan terima kasih untuk hari ini dan sebelum-sebelumnya" ucap Jojo dan langsung ingin meninggalakan Arseno yang masih terpaku akan perkataan yang keluar dari mulut Jojo.
"Tidak-tidak, bukan itu maksud ku" ucap Arseno yang menahan langkah Jojo.
"Terus apa?" tanya Jojo dengan pandangan bingung.
"Jika kau tidak yakin dengan hubungan ini lebih baik kita akhiri saja" ucap Jojo dengan pelan.
"Maaf-maaf, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi" ucap Arseno yang memeluk erat Jojo.
"Maafkan aku, karena aku sudah meragukan perasaanmu. Maaf!" ucap Arseno sambil mencium kepala Jojo beberapa kali.
"Arseno Honson Pratama" ucap Jojo sambil menatap serius kedua bola mata Arseno.
"Jika karena status ku yang hanyalah orang biasa dan masih pelajar. Lebih baik hubungan kita, diakhiri saja" ucap Jojo tegas.
"Tidak!, itu tidak akan terjadi" ucap Arseno dengan penuh penekanan sambil menatap tajam Jojo.
"Itu tidak akan terjadi!. Ingat kau adalah milik ku, dan hanya milik ku" ucap Arseno dengan marah.
"Kalau begitu jangan ragukan perasaan ku untuk mu" pinta Jojo dengan memelas.
"Tidak akan, itu tidak akan terjadi"
"Sayang maafkan aku, aku tidak akan meragukan mu lagi" ucap Arseno dengan rasa bersalah.
"Terima kasih" ucap Jojo memeluk erat tubuh Arseno
"Suatu saat aku akan ceritakan kehidupan ku kepadamu Seno"ucap Jojo dalam hati.
................................
Arseno mengantar Jojo kedepan rumahnya dimana Bimo yang sudah duduk di bagian kemudi mobil.
"Aku pulang dulu ya" pamit Jojo menghadap ke arah Arseno.
"Hati-hati ya" ucap Arseno dan mencium kening Jojo lembut.
Jojo masuk kedalam mobil dan mobilpun langsung keluar dari pekarangan rumah Arseno.
Arseno kembali masuk kerumah dan melihat Aziel yang berjalan menuju ke arahnya.
"Sudah pulang dia?" tanya Aziel.
"Iya barusan" jawab Arseno.
"Papa duluan ya kekamar dan kamu jangan terlalu malam nontonnya" ucap Arseno sambil mengelus kepala Aziel lembut.
__ADS_1
Melihat kepergian papanya membuat Aziel menatap ke arah punggung Arseno yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Semoga papa bahagia dan aku akan menyutujui keputusan papa dalam memilih pendamping hidupnya" ucap Aziel yang sebenarnya tidak sengaja mendengar percakapan antara Arseno dan Jojo.