Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
20. Curahan Hati


__ADS_3

Setelah kepergian Jojo, Arseno mendekat ke arah kedua temannya.


"Mau ngopi juga?"tawar Hendra kepada Arseno yang sudah duduk di depan mereka.


"Boleh"ucap Arseno.


"Bentar aku pesan dulu!"ujar Hendra dan berlalu memesan kopi untuk Arseno.


"Gimana perasaan kamu sama Jojo Sen?"tanya Feri serius.


"Entahlah"ucap Arseno bingung.


"Saran ku, kalau emang kamu masih bingung dengan apa yang kamu rasakan, lebih baik sementara waktu ini kamu hindari Jojo"saran Feri dan disetujui oleh Hendra yang sudah duduk dan ikut mendengarkan.


"Aku juga sependapat Sen, kayaknya Jojo suka sama kamu, dari pada kamu mempermainkan perasaannya lebih baik kamu jauhkan saja"sahut Hendra yang ikut memberi saran.


"Aku masih ragu ini hanya sekedar perasaan suka atau aku mencintainya"ucap Arseno.


"Kaliankan tau sendiri status ku saat ini, sedangkan dia. Dia lebih muda, cantik sedangkan aku, aku sudah punya anak"ucap Arseno dengan wajah bingung.


"Gini Sen, menurutku jika kita mencintai seseorang, apa yang menjadi ketakutanmu itu bukanlah hal yang harus dijadikan alasan"ucap Feri bijak.


Mendengar saran dari kedua sahabatnya membuat Arseno berpikir tentang apa yang membuat perasaannya ragu.


.....................


Di waktu yang sama,


Jojo yang sudah meninggalkan tempat Arseno bekerja, dengan mengendarai motor kesayangannya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Jojo selalu mengingat saat ia diam-diam memandang Arseno dari kejauhan. Sungguh ia sangat mengagumi sosok Arseno yang tegas dan berkarismatik.


"Sepertinya aku harus sedikit bermain layangan"gumam Jojo. Karna ia sangat yakin jika Arseno punya perasaan yang sama terhadapnya.


"Huh, sepertinya itu harus dilakukan"ucap Jojo selesai dengan pertimbangannya.


Jojo, merencanakan akan membuat Arseno sadar akan perasaannya dengan sikap cuek yang akan Jojo lakukan mulai saat ini. Hanya dengan cara itulah agar Arseno menyadari perasaannya.


Sampai di tempat tujuan, Jojo memarkirkan motornya di tempat parkir khusus.


Sampai di lobi Hotel Jojo sudah di sambut kedua resepsionis yang bekerja di Hotel miliknya.


"Selamat datang nona"sapa kedua resepsionis itu.


"Ya, kak Isabelnya ada?"tanya Jojo


"Ada nona di ruangannya, apa perlu kami panggilkan?"tanya resepsionis itu ramah.


"Tidak perlu, aku akan kesana sendirian saja"ucap Jojo yang menolak tawaran kedua pekerjanya.

__ADS_1


"Oh, iya jangan lupa siapkan makan malam, karna saya akan menginap disini"ucap Jojo.


"Baik nona"ucap kedua resepsionis itu bersamaan.


"Lanjutkan pekerjaan kalian"ucap Jojo dan berlalu menuju lift khusu petinggi.


Melihat kepergian nona mereka membuat mereka semakin mengagumi Jojo.


"Masih muda, baik terus pembisnis lagi"ucap rsepsionis yang bernama Vera.


"Iya benar, sungguh beruntung kita bisa bekerja dengannya"ucap Meli yang ikut membanggakan bos kecil mereka.


"Maka dari itu kita tidak boleh, menghianati kepercayaan bos kita, apalagi ia sangat berjasa untuk kita yang awalnya hanya orang biasa"ucap Vera yang mengingat masa-masa dimana sebelum ia kenal dan di ajak Jojo bekerja.


"Harus itu"ujat Meli dengan yakin.


..................


Sampai didepan lift terdapat dua orang penjaga yang mengamankan lift, agar tidak sembarangan orang menggunakan lift tersebut.


"Selamat datang nona"sapa keduanya ramah kepada Jojo.


"Mau kelantai paling atas nona?"tanya penjaga 1.


"Ketempat kak Isabel saja"ucap Jojo.


Mendengar ucapan Jojo dengan cepat salah satu dari mereka menekan tombol menuju lantai yang Jojo inginkan.


"Baik nona"ucap keduanya serentak.


Lift mulai menuju lantai tempat Isabel bekerja, sampai di lantai tujuan Jojo keluar dan menuju ruangan Isabel.


Membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat orang yang didalam menjadi kaget.


"Astaga, kaget aku"ucap Isabel yang mengelus dadanya.


"Hehehe maaf kak kebiasaan"ucap Jojo dengan tersenyum lebar.


"Tumben, gak kasih tau dulu kalau mau kesini?"tanya Isabel yang menuju sofa dekat Jojo.


"Lagi kepengen kesini saja"jawab Jojo asal.


"Kalau kakak banyak pekerjaan lanjutkan saja, atau mau aku bantu?"tawar Jojo kepada Isabel.


"Tinggal sedikit lagi, nanti juga selesai"ucap Isabel.


Keduanya mengobrol dengan santai tanpa bahasa formal. Begitulah para karyawan Jojo jika tidak dalam suasana kerja makan mereka akan mengobrol santai.

__ADS_1


"Gimana, sekolahnya?"tanya Isabel.


"Yah begitulah"ucap Jojo dengan malas.


"Kalau malas gak usah sekolah"ucap Isabel yang sangat paham kalau Jojo sebenarnya sangat malas yang berhubungan dengan aturan terikat.


"Kalau gak sekolah, nanti kakak jadi pengangguran"ucap Jojo asal.


"Ya kau benar, kalau begitu kamu harus tetap sekolah"ucap Isabel yang mengingat dampak jika dirinya jadi pengangguran.


"Kak, kakak masih berhubungan dengan kak Arga Honson?"tanya Jojo dengan muka serius.


"Masih"jawab Isabel dengan tersenyum manis.


"Apa kakak tau siapa anak pertama dari keluarga Honson?"tanya Jojo.


"Hanya sekedar tau"jawab Isabel.


"Kenapa?"tanya Isabel yang bingung maksud dari pertanyaan Jojo.


"Aku menyukainya"ucap Jojo dengan lirih.


"Hah, yang aku dengar dia seorang duda kan?"tanya Isabel memastikan informasi yang ia dengar dan mendapat anggukkan oleh Jojo.


"Tidak apa-apa jika kamu menyukainya, yang penting dia bukan suami orang"ucap Isabel dengan tertawa.


"Ya kakak benar"ucap Jojo dengan semangat.


"Apa dia menyukaimu?"tanya Isabel.


"Aku yakin dia menyukai ku, hanya saja dia ragu akan perasaannya terhadap ku. Mengingat statusnya dan umur ku"ucap Jojo dengan lesu.


"Jika kamu yakin, maka berusahalah dan jika pemikiranmu salah tentang perasaannya maka lupakan dia. Berarti kamu dan dia belum berjodoh"ucap Isabel menasehati Jojo.


"Ya kakak benar, tapi aku akan tetap mencoba meyakinkan dirinya, kalau aku tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut"ucap Jojo dengan sungguh-sungguh.


"Kenapa tidak mencoba mendekati anaknya saja, jika anaknya tunduk maka bapaknya akan tunduk pula"saran Isabel.


"Hahahaha, sepertinya itu harus di coba kak"ucap Jojo dengan tertawa kecil.


"Kan siapa tau berhasil, apa salahnya di coba"ujar Isabel.


"Jika kau berhasil maka nanti kita akan menjadi ipar"ucap Isabel yang membayangkan.


"Ya kakak benar, tapi nanti kakak harus memanggilku kakak ipar"ucap Jojo.


Kedua tertawa bahagia bersama, keduanya memang sangat akrab. Baik Isabel ataupun Jojo keduanya akan saling memberi saran baik itu masalah pekerjaan ataupun masalah pribadi.

__ADS_1


Isabel sudah menganggap Jojo sebagai adiknya sendiri dan begitu juga kedua orang tuanya. Karena tanpa Jojo mereka yang dulu susah karena hutang dan dirinya pernah akan di perkosa oleh rentenir berengsek itu.


Isabel tidak pernah merasa ragu akan sifat Jojo yang kadang berubah menjadi anak kecil, manja dan kadang dewasa. Hidup dalam kekuasaan membuat seorang Jojo harus berpikir dewasa sebelum waktunya. Itulah yang membuat orang-orang yang bekerja ataupun mengenal baik dengan Jojo sangat mengagumi sifar bijaknya.


__ADS_2