
Sampai didepan pintu ruang rapat, Leo membukakan pintu agar kedua atasannya memasuki ruangan itu.
Melangkah dengan tegas mereka sudah di sambut oleh para karyawan yang berdiri menyambut kedatangan mereka. Duduk di kursi kebesaran khusus pemimpin rapat, Jojo mulai melihat lihat orang orang yang hadir di dalam ruangan itu.
"Perkenalkan nama saya Ramkes"ujar Jojo memperkenalkan namanya secara singkat.
"Selamat datang Nona Ramkes"ucap mereka bersamaan menunduk hormat kepada Jojo yang sudah duduk dikursi pimpinan.
"Apa semuanya sudah hadir?"tanyo Jojo yang melihat beberapa kursi penting yang belum terisi.
Mendapat pertanyaan dari sang pimpinan, membuat mereka mengabsen satu persatu devisi mereka dengan lewat tatapan mata.
"Sepertinya kita harus menunggu yang lain!"ujar Jojo dengan santai sambil bersandar pada sandaran kursi.
Jojo yang terlihat tenang dalam berbicara dan duduk bersantai melipat satu kakinya di atas kaki yang lain. Berbeda dengan apa yang Jojo rasakan, mereka merasa bahwa suasana di dalam ruangan itu sangat tegang dan mencekam. Begitu juga dengan Pak Haris, Leo dan juga Sherly yang merasakan yang sama dengan karyawan lainnya.
Leo dan Sherly berada disisi kanan dan kiri Jojo, keduanya menatap kearah Jojo dengan tatapan kagum. Sepertinya apa yang diberitakan tentang tuan Eljar bahwa nona Ramkes adalah arus yang tenang tapi mematikan. Kata kata yang sangat cocok untuk Jojo saat ini pikir mereka berdua.
Menunggu selama lima belas menit, sudah ada beberapa karyawan yang datang terlambat. Jojo yang melihat mereka datang terlambat tetap mempersilahkan mereka masuk.
"Sepertinya sudah lengkap semua?"tanya Jojo yang melihat seluruh penjuru kursi jajaran yang sudah terisi penuh.
"Sudah Nona"ucap mereka.
"Baik, perkenalkan sekali lagi. Nama saya Ramkes"ulang Jojo memperkenalkan namanya lagi.
"Apa perusahaan dibawah pimpinan pak Haris beberapa tahun ini ada kendala?"tanya Jojo dengan raut muka serius.
Hening, didalam ruangan itu hanya ada kehening. Jojo melihat mereka tidak berbicara mulai mengetuk ngetuk meja dengan jari tangannya. Ketukan jari yang menghasilkan bunyi membuat suasana didalam ruangan itu tambah mencekam.
...............
Masih dalam suasana tegang di Aula rapat, salah satu devisi mulai berani angkat bicara.
"Izin menjawab nona, sebelumnya perkenalkan saya sebagai perwakilan dari devisi satu. Mengatakan bahwa bagian devisi kami atau yang saya pimpin tidak terdapat adanya kendala nona, semuanya sejauh ini aman dan terkendali nona"ucap kepala devisi itu dengan sedikit berkeringat gugup.
"Apa anda yakin, tidak ada keluhan atau yang lain sebagainya?"tanya Jojo untuk memastikan.
__ADS_1
"Yakin nona"ucapnya dengan tegas.
"Baik, apa devisi lain juga sama apa yang dikatakan oleh devisi satu?"tanya Jojo lagi.
"Sama nona!"seru mereka serempak.
"Baiklah, jika semuanya aman dan terkendali. Silakan kalian semua melanjutkan pekerjaan kalian yang sempat tertunda"ucap Jojo dengan tenang.
Mendengar ucapan Jojo, mereka bisa bernafas lega hari ini, menurut para karyawan lainnya.
Sedangkan Leo dan Sherly mempunyai pemikiran yang sama yaitu, mereka menganggap bahwa ini belum berakhir dan tentunya tidak mungkin secepat ini selesai.
Saat para karyawan sudah berdiri dari kursinya masing masing, Jojo kembali membuka suara dengan lantang dan itu membuat mereka terdiam dan berdiri kaku.
"Silakan kalian keluar, kecuali devisi keuangan dan devisi pemasaran serta devisi perlengkapan!"ujar Jojo dengan suara keras.
Mendengar nama devisi mereka disebut membuat mereka susah bernafas.
"Leo usir orang orang yang tidak mempunyai kepentingan diruangan ini!"perintah Jojo dengan tegas kepada Leo.
................
Didalam ruang rapat itu hanya terdapat tiga devisi, yang sedang harap harap cemas akan nasib mereka.
Berdiri dari tempat duduk, Jojo melangkah maju menghadap ke arah tiga devisi itu dengan tatapan tajam.
"Sama seperti pertanyaan saya beberapa saat yang lalu"ucap Jojo yang sengaja ia jeda.
"Apakah ada kendala pada ketiga devisi ini?"tanya Jojo dengan penuh penekanan.
Masih tetap bungkam dan tidak mau menjawab dengan jujur dan saling melempar pandangan satu sama lainnya.
"Ah, sepertinya kalian tidak mau jujur. Baiklah!"seru Jojo dengan tenang.
"Sherly, Leo bagikan berkas yang sudah saya siapkan tadi!"peritah Jojo yang langsung dituruti oleh keduanya.
"Silakan kalian baca dengan teliti, jika ada pertanyaan silahkan tanyakan"ucap Jojo sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
Bukan hanya ketiga devisi itu yang membaca dengan cermat, bahkan Pak Haris, Leo dan juga Sherly ikut penasaran apa isi dari berkas itu. Karena sedari tadi Sherly dan Leo hanya ditugaskan untuk membawanya saja tanpa tau apa isinya.
Dua kata yang cocok untuk Jojo, dari ketiga orang yang menatapnya dengan kagum yaitu, "Luar Biasa" ucap mereka bertiga dalam hati.
...............
Ketiga devisi itu masih membaca setiap kata disetiap lembarnya. Sehingga salah satu ketua devisi itu membuka pendapatnya dengan sejuta kebingungan di kepalanya.
"Maaf sebelumnya nona saya mau bertanya?"ucapnya dengan sedikit takut melihat tatapan tajam dari Jojo.
"Ya silahkan"ucap singkat dari Jojo.
"Maaf sebelumnya tanpa mengurangi rasa hormat. Saya perwakilan dari devisi perlengkapan sangat keberatan dan sekaligus bingung dengan berkas yang baru kami terima hari ini.
Dari daftar barang yang kami terima dan barang yang keluarkan itu sesuai dengan apa yang dituliskan pada berkas pengajuan yang sudah di tanda tangani oleh pak Haris selaku pimpinan di perusahaan ini.
Tidak tau kenapa, berkas yang kami terima saat ini sangat berbeda dengan berkas yang dibagikan hari ini tentunya. Ini sungguh sangat dipertanyakan, sebagai kepala devisi saya tentunya tidak mau disalahkan begitu saja"Penjelasan dari ketua devisi perlengkapan.
Mendengar penjelasan dari devisi perlengkapan, Jojo hanya terlihat diam tanpa mengomentari sedikitpun.
"Izin bersuara Nona!"ucap perwakilan devisi pemasaran yang mulai merasa janggal akan situasi saat ini.
"Ya silakan"ujar Jojo masih dengan ekspresi tenang.
"Sebagai devisi pemasaran, kami disini merasa bahwa pihak kami adalah pihak yang disalahkan. Untuk menghindari hal itu saya, ingin meluruskan bahwa berkas yang kami terima dari bagian devisi perlengkapan, itulah yang kami pasarkan Nona. Bahkan beberapa barang yang terdaftar pada berkas pengajuan yang sudah di tanda tangani lengkap oleh para petinggi. Terlihat jelas bahwa, beberapa daftar yang harus kami pasarkan sesuai dengan apa yang tertulis dalam berkas itu. Dari yang kami simpulkan bahwa, terdapat pada kedua berkas yang kami punya dan yang kami terima ini sungguh berbeda baik dari segi kualitas barang, maupun dari segi harga tentunya"ucap kepala devisi pemasaran yang merasa pihaknya yang mulai terancam dalam situasi yang memanas saat ini.
"Jadi menurut kalian para devisi pemasaran bahwa yang salah dalam kasus ini adalah dari devisi perlengkapan?"tanya Jojo yang sengaja memancing suasana semakin memanas.
"Bukan seperti itu nona, saya tidak menuduh salah satu devisi. Hanya saja inikan masalah yang cukup berat, dan tentunya harus di teliti sampai keakarnya. Kami tidak mau nantinya disalahkan begitu saja. Mentang mentang kami yang memasarkan barang barang tersebut"sanggah cepat oleh kepala devisi pemasaran yang mulai terpancing emosi.
"Dari devisi perlengkapan ada yang ingin disampaikan?"tanya Jojo kepada devisi perlengkapan.
"Ada nona, kami sependapat dengan apa yang disampaikan oleh devisi pemasaran tentang kualitas barang dan harga yang sudah di pasarkan saat ini, bisa dikatakan jauh dari kata standar. Melihat daftar barang yang sudah beredar dipasaran dengan kualitas rendah. Kami merasa bahwa kami, tidak pernah dan tidak akan pernah mau mengeluarkan barang yang mempunyai kualitas buruk. Ini adalah beberapa copyan berkas pengajuan yang kami terima beberapa bulan terakhir ini, anda bisa mengceknya sendiri nona"jelas kepala devisi perlengkapan yang berusaha bersikap formal dalam diskusi itu.
Melangkah kemeja devisi perlengkapan, Jojo mengambil berkas yang diberikan kepadanya. Membaca dengan sekilas, Jojo mulai paham isi dalam berkas itu.
"Nah setelah anda baca nona sangat terlihat bukan perbedaan pada kedua berkas pengajuan yang ada pada kami dan yang anda bagikan?. Jadi saya atau kami yang ada diruangan ini, memohon agar masalah ini segera diselesaikan nona sampai ke intinya. Agar kami tidak saling menyalahkan satu sama lain"jelas kepala devisi perlengkapan dengan raut wajah sedikit frustasi.
__ADS_1