Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
15. Penasaran


__ADS_3

Hanya dengan menempuh perjalanan selama 20 menit, mobil itu berhenti didepan sebuah bangunan kos-kosan khusus putri.


Sebuah mobil asing yang masuk kepekarangan kosan, membuat para penjaga disana mulai waspada tetapi tidak terlihat bahwa mereka sedang mengawasi.


Melihat Zidan turun dan diikuti oleh Rima yang ikut turun tergesah-gesah, membuat mereka bertanya-tanya.


Melihat Zidan membuka pintu mobil bagian belakang, dan Arseno keluar dari dalam mobil yang masih menggendong Jojo.


Salah satu dari mereka mulai bertanya kepada Rima.


"Apa itu Jojo?"tanya salah satu penghuni wanita.


"Iya"ucap Rima.


Mendengar bahwa nona mereka berada didalam gendongan seorang lelaki membuat mereka bingung.


"Apa yang terjadi?"tanya beberapa dari mereka dengan bersamaan.


"Sakit, tapi sudah lebih baik"ucap Rima yang ikut menyusul mereka menuju kamar Jojo yang terletak di bagian atas.


Mereka yang mendengar Jojo sakit mulai berdatangan manuju kamar Jojo untuk melihat kondisi Jojo.


.............


Sampai di depan pintu kamar yang bertuliskan Queen, Zidan membuka kunci kamar Jojo, yang terlihat biasa saja.


Masuk kedalam kamar, Arseno meletakkan tubuh Jojo dengan pelan diatas tempat tidur minimalis itu. Merapikan bantal dan selimut, Arseno malakukan itu agar Jojo merasa nyaman.


Dirasa posisi Jojo sudah aman, Arseno duduk di pinggir ranjang sempit itu sambil merapikan anak rambut Jojo di sekitar wajahnya.


"Masih pusing?"tanya Arseno dengan lembut.


"Sedikit"ucap Jojo dengan jujur.


"Istirahatlah, aku akan lanjut bekerja lagi"pamit Arseno kepada Jojo.


Mencium singkat kening Jojo dengan lembut, membuat jantung kedua merasa berdebar cukup kencang.


"Aku pergi, nanti aku kesini lagi" ucap Arseno saat melepas ciumannya dikening Jojo.


Arseno langsung keluar dari dalam kamar Jojo, saat sampai didepan pintu yang terbuka terdapat banyak orang ingin melihat kondisi Jojo dan hal itu dihalangi oleh Zidan dan Rima, Agar tidak masuk secara bersamaan.


"Saya pamit"ucap Arseno kepada Zidan dan juga Rima.


"Iya hati-hati terima kasih pak"ucap Rima sopan.


Melihat Arseno sudah mulai melangkah, membuat Zidan menyusul Arseno.


"Biar saya antar"ucap Zidan, karena saat mereka meninggalkan sekolah Arseno pergi bersama mereka.

__ADS_1


"Tidak perlu, sudah ada rekan saya yang jemput"ucap Arseno menolak tawaran Zidan.


"Baiklah, kalau begitu saya antar sampai depan"ucap Zidan.


Kedua berjalan berdampingan menuju pekarangan kosan Jojo.


"Apa aku boleh mengatakan seseuatu?"tanya Zidan dengan raut wajah serius.


"Tanyakan saja"ucap Arseno dengan muka serius.


"Apa kamu menyukai Jojo?"


"Jika kamu menyukainya, tolong terima dia apa adanya, baik itu berhubungan dengan masalah pribadi maupun tentang pekerjaannya!"ucap Zidan dengan tatapan serius.


"Jika kau hanya sekedar penasaran dengannya, lebih baik kau menjauh saja"lanjut Zidan untuk memperingati Arsen agar tidak main-main dengan sebuah perasaan.


Dari ucapan Zidan tentu banyak teka-teki yang tersirat disetiap kata yang diucapkan dan hal itu bukanlah hal yang dianggap remeh.


"Aku juga belum yakin"ucap Arseno dengan menerawang jauh.


"Ku ingatkan jangan sampai kamu mempermainkannya. Jika itu terjadi maka akan banyak kejutan untuk mu tuan Arseno Honson Pratama"


"ucap Zidan dengan tersenyum misterius.


"Sepertinya ucapan anda tidak bisa dianggap remeh"ucap Arseno memandang datar kearah Zidan.


Selama ini banyak orang tidak mengetahui jika dirinya anak pertama dari keluarga Honson. Hal tersebut di karenakan Arseno tidak pernah mau menyebutkan nama keluarganya.


Tin


Tin


Suara klakson mobil jemputan Arseno sudah datang dan ternyata yang menjemputnya adalah Feri dan Hendra.


"Tenanglah aku tidak akan membuat apa yang ada dipikranmu tentang ku"ucap Arseno sambil membalikkan badan.


"Buktikan!"ucap Zidan dengan pelan tapi dengan nada penekanan.


............


Masuk kedalam mobil Arseno masih dalam pemikirannya.


"Bagaimana keadaannya, apa sudah baikkan?"tanya Feri sambil melihat Arseno dari depan.


"Sudah"ucap Arseno singkat.


"Siapa?"tanya Hendra yang penasaran.


"Cewek yang di gendong seno disekolahan tadi"ucap Feri santai.

__ADS_1


"Wow sepertinya ada yang mengincar daun muda rupanya"ucap Hendra mengejek Arseno.


"Sialan kalian!"ucap Arseno dengan kesal melihat kedua temannya menertawakan dirinya.


"Sepertinya tidak akan lama lagi Aziel akan mendapatkan mama baru"ucap Hendra dengan tersenyum.


"Apa kau sudah menyelidiki identitasnya?"tanya Feri.


"Sudah"ucap singkat Arseno.


"Apa ada yang mencurigakan?"tanya Hendra yang ikut penasaran.


"Sejauh ini belum"ucap Arseno terhenti.


"Hanya saja saat mengantarkan dia kekosannya, aku merasa beberapa penjaga disana mulai waspada saat kedatangan ku"ucap Arseno yang merasa heran jika ada sesuatu yang tersembunyi disana.


"Maksudnya?"tanya Hendra yang merasa bingung.


"Sebuah kok-kosan biasa, tetapi mengapa terdapat banyak penjaga disana?"tanya Arseno heran.


"Mungkin itu sudah menjadi prosedur tempat itu"ucap Feri mencoba menganalisa.


"Nah bisa jadi itu"timpal Hendra yang sependapat dengan Feri.


"Mungkin saja"ucap lirih Arseno.


Sampai di kantor, mereka lansung mengerjakan tugas dari sang atasan.


..................


Malam harinya, Arseno Hendra dan Feri mendapat jugas untuk berpatroli di tempat-tempat yang sering dijadikan tempat ngumpul.


Dengan adanya tugas itu, Arseno tidak jadi menengok kondisi Jojo apa sudah lebih baik atau tidak.


Mereka bertiga sudah dalam perjalanan menuju ketempat itu. Sampai disana mereka melihat sudah ramai orang berkumpul sambil berbincang-bincang dan ada juga yang sedang melihat lihat kendaraan mereka satu sama lainnya yang berjejer rapi dipinggir jalan raya.


"Lihatlah pasti mereka dari golongan orang kaya, lihat saja kendaraan mereka yang sudah di modif sedemikian rupa. Walaupun hanya motor biasa tapi setelah di modif sangat keren"ucap Hendra yang terus melihat kendaraan yang tersusun rapi itu.


"Pasti itu, lihat saja mereka memodifkan dengan gaya yang sangat keren"timpal Feri yang ikut kagum melihat kendaraan mereka.


Sedangkan Arseno hanya diam saja, walaupun sebenarnya ia juga sependapat dengan kedua temannya.


Melihat dari arah cukup dekat dengan mereka, membuat ketiganya tidak khawatir. Karena mereka berhenti ditempat makan, jadi hal itu tidak menaruh kecurigaan pada orang-orang.


Tidak berselang lama sebuah motor Ninja berwarna hitam datang, suasana yang awalnya tidak terlalu ribut dan sekarang disana semakin riuh, karena kedatangan pemotor itu.


Teriakan, siulan dan bahkan suara tepuk tangan terdengar jelas di telinga mereka bertiga, siapa lagi jika bukan Arseno, Hendra dan Feri yang masih memantau dari jauh sambil meminum kopi.


"Mungkin saja itu pemimpin mereka"ucap Feri yang melihat perkumpulan itu bertambah ramai.

__ADS_1


"Mungkin saja"timpal Hendra dengan mata tidak lepas dari motor yang baru sampai tersebut.


__ADS_2