
Keesokan harinya, Jojo berangkat sekolah lebih awal dari biasanya. Sampai di parkiran yang masih sepi Jojo, memarkirkan motor kesayangannya dengan sempurna.
Berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik melalui earphonenya, Jojo melangkah menuju ruang kelas.
Sampai di kelas ternyata, belum ada satupun siswa yang datang. Duduk di bangku Jojo menatap kearah luar jendela sambil yang masih mengenakan earphone di kedua telinganya.
Berbagai macam pikiran yang ada dikepala Jojo.
Suasana yang awalnya sepi sekarang sudah mulai ramai bahkan teman-teman Jojo sudah pada berdatangan dan duduk di kursinya masing-masing.
Edward hanya menatap datar kearah Jojo yang sedari tadi diam sambil memandang kearah luar jendela.
Bahkan sampai jam pelajaran berakhir Jojo masih menatap luar Jendela.
"Jo, ayo kekantin"ajak Rima sambil melepaskan earphone dengan paksa dari telinga Jojo.
"Ayo"ucap Jojo singkat.
Mereka berenam pergi meninggalkan ruang kelas untuk menuju kantin. Sampai dikantin, Chandra dan Zidan bertugas untuk memesan makanan mereka.
"Kenapa?"tanya Rima yang melihat Jojo diam saja selama pelajaran berlangsung, walaupun ia sudah sering melihat tingkah Jojo seperti itu.
"Tidak apa-apa"sahut Jojo.
"Ni anak selama pelajaran diam saja sudah kayak patung hidup"sindir Chandra yang sudah kembali memesankan makanan untuk mereka.
"Sudah biasa itu"timpal Zidan.
"Apa iya?"tanya Danu penasaran.
"Dia emang gitu, bahkan guru saja sudah pasrah melihat kelakuannya"ujar Anggel yang baru bergabung.
"Wah emang dasar ni cewek, seenaknya sendiri" ledek Chandra.
"Edward juga tuh kayak kulkas, beh dinginnya"ucap Rima sambil menunjuk kearah Edward yang berada duduk di sebelah Jojo.
"Kayaknya pas lahir udah kayak gitu!"ucap Chandra dan Danu. Karena keduanya sangat hapal sifat temannya yang satu itu sangat irit berbicara.
Saat tengah asik mengobrol mereka di kagetkan dengan ratu pembuly di sekolah BAS.
"Dasar cewek miskin"bentak Amel Anderson dengan keras sambil menggebrak meja.
Amel Anderson anak bungsu dari keluarga tiri Jojo.
"Tau ni anak orang miskin tapi sok-sokan sekolah disini"sahut Bella Wijaya.
"Punya biaya dari mana kalian?"tanya Hanna Dominic.
__ADS_1
Mereka berenam terkejut akan kedatangan Anggel dan para dayangnya yang tiba-tiba dan langsung memukul meja dengan keras.
"Siapa sih kalian?"tanya Chandra dengan heran karena baru pertama kali ia melihat ketiga wanita yang baru datang dengan suasana marah.
"Aduh kalian gak kenal sama kami?"tanya Bella kepada Chandra.
"Enggak"ucap Chandra dan Danu serentak kecuali Edward yang hanya menatap datar.
"Kalau begitu kenalkan, nama aku Bella Wijaya anak orang kaya ke sepuluh"ucap Bella dengan bangga memperkenalkan dengan sang pujaan hatinya.
"Nama ku Hanna Dominic dari keluarga Dominic yang terkaya nomor delapan"ucap Hanna dengan senyum manis sambil menatap Danu.
"Kalian pasti sudah kenal keluarga Anderson kan, Nama aku Amel Anderson orang terkaya nomor enam"ucap Amel yang berjalan mendekati kerah Edward sambil tersenyum manis.
"Sayang, kenapa kalian mau sih dekat-dekat sama ketiga sampah ini?"tanya Amel dengan manja kepada Edward.
"Lepaskan!"ucap Edward dengan tegas sambil melepas kasar tangan Amel yang melingkar di lengannya.
"Jangan kasar-kasar gitu"ucap Amel yang masih berusaha menahan tangan Edward untuk melepaskan tangannya.
"Gak usah dipaksa juga"ucap Rima dengan pelan tapi masih didengar oleh mereka.
"Sudah tau orangnya gak mau malah dipaksa"tambah Zidan yang ikut mengejek mereka.
"Sayang jangan mau dekat-dekat mereka ini, asal kau tau saja mereka ini tidak punya latar belakang yang tidak jelas"ucap Amel dengan menatap kesal kearah mereka bertiga.
"Dan orang ini"tunjuk Amel kepada Jojo.
Mendengat ucapan Amel yang keras membuat aktivitas kantin terhenti dan memusatkan ke arah meja mereka.
"Dan kalian semua, jangan sampai pacar atau kakak bahkan ayah kalian di goda oleh cewek ini"ucap Amel yang semakin menatap benci kearah Jojo.
"Cukup"teriak Rima yang tidak terima atas ucapan Amel yang mengarah kepafa Jojo.
"Kenapa tidak terima?"tanya Hanna.
"Memang benarkan kalau dia ini anak haram?"ucap Bella yang semakin membuat Rima tambah emosi.
"Cukup, aku bilang cukup!"ujar Rima sambil memukul meja dengan keras.
"Kalau kalian tidak mengetahui cerita yang sebenarnya lebih baik kalian diam"ucap Rima dengan marah.
"Dan kau!"tunjuk Rima dengan geram kepada Anggel.
"Berhentilah mengganggu kami, jika kau masih sayang nyawa mu itu"ucap Rima sambil menekan-nekan pundak Amel dengan keras.
"Orang miskin seperti kalian ini bisa apa ha?"tantang Amel dengan geram.
__ADS_1
"Kau!"ucap Rima terhenti saat ia mendengar ucapan Jojo yang menyebut namanya.
"Rima!"panggil Jojo dengan tegas.
"Dia ini jika tidak dilawan akan ngelunjak"ucap Rima sambil menatap kearah Jojo.
"Haiss, kau ini"ucap Rima kesal kepada Jojo dan langsung meninggalkan area kantin.
Melihay kepergian Rima membuat Jojo menghela nafas kasar dan beranjak darj tempat duduknya.
"Kau mau kemana?"tanya Amel yang melihat Jojo mulai berdiri.
"Bukan urusanmu!"ketus Jojo dan langsung meninggalkan mereka yang duduk diam melihat kejadian itu.
.......................
Jojo sudah sampai di bagian atas dmgedung sekolah, dimana tempat mereka menghabiskan waktu jika tidak ingin belajar.
"Kenapa kau diam saja?"tanya Rima yang menyadari kehadiran Jojo.
"Terus aku harus apa?, dijelaskan juga percumakan?"tanya Jojo dengan lembut.
"Tapi mereka sudah keterlaluan"ucap Rima dengan mata yanh berkaca-kaca.
"Sudahlah anggap saja kau tidak pernah mendengar omongan mereka"ucap Jojo sambil memeluk Rima erat.
Keduanya memiliki nasib yang tidak jauh berbeda, jika Jojo mengetahui siapa orang tuanya beda halnya dengan Rima yang tidak mengetahui apapun.
"Jojo, apa kau tidak merasa sakit hati?"tanya Rima dengan hati-hati sambil menatap kearah kedua bola mata Jojo yang hitam pekat.
"Lalu, aku harus apa?"tanya Jojo dengan raut wajah sedih.
"Kau taukan gimana rasanya? sakit Rima bahkan ingin rasanya aku bunuh diri saat orang membicarakan status ku"ucap Jojo dengan suara serak menahan tangis.
"Selama ini aku selalu menutupi rasa sakit itu tapi tidak bisa sepenuhnya"ucap Jojo sambil menangis.
"Kalian adalah wanita hebat"ucap Zidan dengan tiba-tiba sambil memluk kedua wanita yang dilanda perasaan rapuh.
"Suatu saat kita akan membalas rasa sakit itu!"ucap Zidan dengan penuh penekanan.
"Harus"batin keduanya kompak
"Sudah jangan sedih lagi, ada bahagia yang akan datang"ucap Zidan menyemangati kedua sahabtnya.
"Kau benar"ucap Rima sambil menghapus ingusnya.
"Dasar jorok"umpat Zidan.
__ADS_1
"Biarkan saja"ucap Rima santai.
Ketiganya tersenyum bersama seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.