
Masih dalam ruang rapat yang semakin memanas, ketiga devisi saling melontarkan pendapat mereka masing masing.
Melihat situasi yang sudah tidak terkendali akhirnya Jojo mengambil alih.
"Sudah memberikan pendapatnya?"
"Sudah saling menyalahkannya?"
"Semuanya sudah?"tanya Jojo berturut turt dengan suara penekanan.
Mendengar suara Jojo yang semakin meninggi, suasana yang semula ribut, kini di dalam ruangan itu menjadi hening.
"Saya ucapkan terima kasih kepada kalian yang berusaha mempertahankan devisi masing masing agar berada di zona aman"
"Cuman yang sangat saya sayangkan hal ini dan tentunya yang sangat saya tunggu adalah sebuah pengakuan kejujuran!"
"Apa itu sangat sulit?"
"Apa tidak berpikir akibat dikemudian hari?"
"Harus berpikir, akibat yang diterima bukan satu atau dua orang saja, bahkan semuanya ikut terkena dampak"ucap Jojo dengan panjang lebar untuk menyadarkan kesadaran orang yang menunduk takut menatapnya.
Jojo bukan tidak tau siapa dalang dari hal ini, hanya saja ia ingin orang itu menjelaskan dengan jujur. Walaupun ia dibawah kendali seseorang yang mempunyai pengaruh cukup besar.
"Yudi Dirgantoro"ucap Jojo sambil menatap kearah yang punya nama.
Deg
Mendengar namanya disebut, membuatnya memejamkan mata dengan kasar. Berharap bahwa ia salah mendengar.
"Perlu di ulangi?"
"Baik sepertinya sangat diperlukan dalam pengulangan!"
"Yudi Dirgantoro"ucap Jojo dengan keras.
Mendengar namanya disebut, membuat lelaki itu gemetar dan menatap takut kepada orang yang berada di ruangan ini.
"Selain nama yang saya sebutkan tadi, silakan keluar dari ruangan ini. Ingat jika ada yang membocorkan apa yang terjadi dalam ruangan ini, maka bersiap siaplah menerima hadiah dari Dewi kematian!"ucap Jojo dengan mengancam para karyawan yang masih tersisa.
"Baik nona"ucap mereka patuh. Lebih baik mereka mencari aman saja dari pada terkena masalah nantinya.
"Ingat jangan sampai ada yang saling menyalahkan satu sama lainnya dan kalian harus saling rangkul satu sama lainnya. Paham?"tanya Joko dengan suara tegas.
"Paham nona"ucap mereka serentak.
...............
Didalam ruangan itu, hanya terdapat satu tersangka utama yang duduk di tengah Aula sendirian.
"Kau tau apa kesalahanmu?"tanya Jojo dengan bersikap santai.
"Dengar, tindakan anda ini sudah membuat beberapa pihak merasa rugi"ucap Jojo yang sudah duduk di hadapan lelaki itu.
Sedangkan dibelakangnya terdapat tiga orang yang menyaksikan hal itu.
__ADS_1
"Sudah tau kesalahanmu?"tanya Jojo lagi.
Mengangguk dengan berat hati lelaki itu mengiyakan atas pertanyaan dari Jojo.
"Kalau seperti ini sedari tadi tidak usah membuang waktu"ucap Jojo dengan kesal.
Melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan hampir makan siang. Jadi Jojo memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di ruang rapat itu.
Menunggu selama tiga puluh menit pesanan yang dipesan oleh pak Haris akhirnya datang.
"Makanlah, dihukum juga butuh tenaga"ujar Jojo dengan santai.
"Terima kasih nona"ucap Yudi dengan tulus kepada Jojo.
Acara makan siang dengan ketenangan mereka berlima makan di meja yang sama.
"Makanlah Yudi, jika kamu tidak menghabiskan makanan itu. Maka saat ini juga aku akan membunuhmu!"ucap Jojo dengan tatapan mengintimidasi kearah Yudi yang terlihat tidak berselera untuk makan.
Acara makan siang bersama sudah selesai, saat ini Jojo kembali mengintrogasi Yudi atas kesalahan yang ia buat.
"Apa yang membuat kamu melakukan itu?"tanya Jojo dengan lembut.
Mengerti akan perasaan gelisah Yudi, Jojo memerintahkan untuk ketiga orang dibelakangnya untuk menjauh dari mereka berdua.
Setelah mereka bertiga menjauh, Jojo mulai mendesak Yudi untuk bercerita.
"Sebenarnya tanpa kamu berbicara aku sudah tau"ucap Jojo dengan santai.
"Maksudanya?"tanya Yudi yang kurang paham.
Mendengar ucapan Jojo, membuat Yudi mulai membuka jati diri dan beberapa alasan yang membuat ia melakukan itu.
Dari kejauhan ketiga orang yang hanya memperhatikan keduanya, melihat Yudi yang menangis membuat mereka bertanya tanya apa yang Jojo katakan sehingga lelaki itu mau bercerita.
"Tidak perlu di khawatirkan karna semuanya sudah saya ambil alih"ucap Jojo agar Yudi lebih tenang.
"Anda serius nona?"tanya Yudi seakan tidak percaya.
"Jika begitu datanglah ke Hotel X, karena nanti malam akan ada pertunjukkan"ucap jojo dengan santai.
"Sudahlah semuanya tidak perlu dipikirkan lagi, jalanilah kehidupan yang baik bersama orang orang yang anda cintai. Jika ada maslah jangan sungkan untuk bertanya dan mencari solusi kepada yang lain. mungkin kepada saya boleh saja"nasihat Jojo dengan bijak.
"Baik nona, terima kasih banyak nona sudah mau membantu saya"ucap Yudi dengan senang.
"Ya dan jangan lupa untuk datang nanti malam!"ujar Jojo dan mulai beranjak meninggalkan Yudi yang tengah diselimuti harapan.
Melihat Jojo mendekat ke arah mereka membuatnya berdiri dari duduk untuk mendekat kearah nonanya.
"Ayo kita pulang, aku sangat lelah hari ini"ucap Jojo dengan jujur.
"Nona jika saya boleh tau, apa yang anda katakan kepada pak yudi sehingga ia menangis pilu seperti tadi?"tanya Sherly dengan penasaran. Sama dengan Sherly, Leo dan juga Pak Haris juga mempunyai rasa penasaran yang sama.
"Tidak ada yang spesial, hanya sedikit nasihat"ucap Jojo dengan singkat. Tentu saja ketiga orang yang masih dilanda rasa penasaran tidak percaya akan jawaban yang diberikan oleh Jojo.
Ketiganya menuju Hotel tempat nereka menginap untuk beristirahat.
__ADS_1
..............
Malam harinya di lobi Hotel, Yudi tengah menunggu kedatangan Jojo. Tidak berselang lama Jojo yang sudah berjalan menuju karahnya dengan diikuti oleh Leo dan Sherly.
Leo dan juga Sherly memaksa ingin ikut Jojo, untuk melihat apa yang akan Jojo lakukan.
"Jika kalian mau ikut, jangan pernah seperti anak kecil yang mau pulang secara tiba tiba"ucap Jojo saat keduanya tetap memaksa mau mengikuti Jojo.
Mereka berempat sudah dalam perjalanan menuju tempat yang dituju, kali ini Jojo sendiri yang mengemudikan mobil. Walaupun Leo sudah beberapa kali menawarkan diri untuk mengemudi, tetap saja Jojo menolak dengan alasan lagi ingin berkendara.
Menempuh perjalanan selama satu jam setengah dari pusat Kota, Mereka sampai didepan sebuah rumah yang cukup mewah yang dikelilingi oleh banyak pepohonan.
"Ayo, kita masuk. Sepertinya kita sudah disambut baik oleh yang punya rumah!"ujar Jojo sambil keluar dari dalam mobil. Melihat Jojo yang sudah keluar terlebih dahulu, membuat mereka ikut keluar dari dalam mobil.
Salah satu penjaga yang melihat kedatangan Jojo, langsung membuka pintu utama. Masuk kedalam dengan santai tanpa tau apa yang akan terjadi didalamnya. Jojo yang memimpin jalan mereka, mulai meneliti setiap penjuru ruangan.
Sampai di ruang tamu, ternyata kedatangan mereka sudah di sambut oleh yang punya rumah.
"Wow, apa kalian mau menghabiskan waktu di ranjang milikku?"tanya lelaki yang sudah berumur, namun masih terlihat berumur matang.
"Tentu saja itu hanya ada dalam mimpimu tuan!"ucap Jojo dengan santai sambil duduk di sofa yang ada di hadapan lelaki itu.
"Bagaimana kalau kau saja nona?"tanyanya kepada Sherly. Sherly yang melihat tatapan nakal lelaki tua itu, mulai merinding dan merapatkan tubuhnya kesisi Leo.
"Ternyata kalian sangat jual mahal!"ucapnya dengan kecewa melihat penolakkan dari Jojo dan juga Sherly.
"Bagaimana dengan tawaran saya tuan?"tanya Jojo dengan wajah serius.
"Sepertinya kamu sangat tidak sabaran sekali ya!"ujarnya sambil tertawa.
Menghembuskan asap rokok ke udara lelaki itu menatap tajam kearah Jojo sedangkan yang ditatap terlihat biasa saja.
"Kalau saya tidak mau bagaimana?"tanya lelaki itu dengan tersenyum sinis.
"Tentu saja saya akan menggunakan kekerasan!"ujar Jojo yang mulai mengeluarkan rokoknya di saku jaketnya.
Mendengar ucapan Jojo, membuat para pengawal lelaki tua itu bersiap siaga menodongkan pistol ke arah mereka.
"Apa kau sudah terbiasa merokok nona?"tanya lelaki itu. Melihat Jojo sangat ahli dalam menghembuskan asap rokok ke udara.
"Saya tidak merokok saat ini tuan"
"Tapi saya sedang membakar dupa kematian untuk anda!"sambung Jojo lagi dengan tatapan tajamnya.
Mendengar ucapan Jojo, lelaki yang ada dihadapannya itu mulai tersulut emosi dan mengepalkan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang putung rokok.
"Itu tidak akan terjadi"balas lelaki itu yang takkalah tajam menatap Jojo.
"Tidak ada yang tidak mungkin tuan, jika saya menginginkan itu!"ucap Jojo yang terlihat biasa saja.
"Kau!"Geram lelaki itu dengan marah.
"Kenapa?"tanya Jojo dengan santai.
Melihat suasana yang semakin panas membuat ketiga orang yang berada di belakang Jojo mulai merinding. Sungguh mereka tidak pernah menyangka akan menyaksikan kekejaman nona mereka secara langsung di depan mata mereka.
__ADS_1