
Sesuai dengan apa yang Jojo ucapkan kemarin, dirinya akan menginap di hotel miliknya dan pagi ini ia berangkat lebih awal menuju sekolah. Mengendarai mobil Jojo melajukan menuju sekolahnya, yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya menginap.
Berangkat cukup pagi, Jojo melewati jalanan yang mulai ramai. Jojo melintasi area sekolahan, ada beberapa polisi yang mengatur lalu lintas disana.
Mata Jojo melihat Hendra yang sedang berdiri di pinggir jalan, tanpa membuang waktu Jojo menghentikan mobilnya untuk menghampiri Hendra.
Turun dari dalam mobilnya, Jojo berjalan menghampiri Hendra sambil membawa air minum dan bekal yang disiapkan pihak hotel padanya.
"Kak Hendra"teriak Jojo sambil melambai-lambaikan tangannya.
Mendengar namanya di panggil, membuat Hendra mencari pemilik suara, dan melihat Jojo tengah berjalan cepat ke arahnya.
"Ada apa?"tanya Hendra yang berjalan mendekat ke arah Jojo.
"Kak Feri mana?"tanya Jojo.
"Oh, dia lagi bertugas dikantor"ucap Hendra.
"Kamu bawa apa itu?"tanya Hendra yang melihat ke arah tangan Jojo.
"Oh ini, tadinya ini untuk kakak sama kak Feri, berhubung kak Feri tidak ada aku kasih sama kakak saja"ucap Jojo sambil memberikan air minum beserta kotak makan kepada Hendra.
"Enak kayaknya, kamu buat sendiri?"tanya Hendra senang.
"Hehehe tentu saja tidak"ucap Jojo sambil tersenyum.
"Dasar"ucap Hendra.
"Kenapa gak kasih sama Seno saja?"tanya Hendra.
"Kak aku duluan ya, soalnya takut telat nanti"ucap Jojo yang mengalihkan pembicaraan.
"Ya sudah berangkat sana nanti terlambat"ucap Hendra yang melihat jam di tangannya.
Melihat Jojo sudah menjauh dengan mobilnya, Hendra membalikkan badannya menuju ketempat istirahat.
Tidak jauh dari mereka mengobrol, ada sepasang mata yang menatap marah kearah mereka berdua.
Arseno melangkah dengan cepat menghampiri Hendra yang tengah istirahat sambil meminum-minuman yang di berikan Jojo untuknya.
Dengan kasar Arseno merebut minuman yang masih di tangan Hendra dan itu membuat Hendra kaget bukan kepalang.
"Kenapa kamu?"tanya Hendra heran melihat wajah Arseno yang lagi menahan amarah.
"Eh, itu punya ku. Jojo yang berikan"ucap Hendra yang berusaha merebut kembali pemberian Jojo untuknya.
"Ini pasti untuk ku"ucap Arseno dengan kesal.
"Enak saja, tadi aku sudah tanya dengan Jojo kenapa dia tidak memberikannya untuk mu. Tapi dia tidak menjawab, dan hanya bilang bahwa itu untukku"jelas Hendra.
Mendengar ucapan Hendra, membuat Arseno terdiam. Sebenarnya mata mereka tadi sempat bertemu tetapi Jojo langsung mengalihkan pandangannya.
"Makanya Seno, kalau punya perasaan itu harus di ucapkan, jangan banyak alasan. Pada akhirnya dia menjauhkan, dan kamu juga yang kesal"nasihat Hendra yang paham akan perasaan sahabatnya.
__ADS_1
"Sepertinya dia mulai berusaha menjauhi ku"ucap Arseno dengan perasaan gusar.
"Kamu yang harusnya berusaha untuk mendekatinya. Ajak jalan, makan bersama atau kau hubungi lewat pesan atau telpon"saran Hendra.
"Ya kau benar, aku akan mendekatinya jika dirinya berusaha menjauhi ku. Terima atau tidaknya dia statusku itu urusan belakangan"ucap Arseno mantap.
"Nah itu baru namanya Arseno. Sini kembalikan makanan ku!"ucap Hendra yang menggapai makanan yang di berikan Jojo dari tangan Arseno.
"Untuk kali ini, aku izinkan kau memakannya tapi lain kali jangan harap"ucap Arseno dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu yang kesal, yang ngasih aja biasa saja tuh"ucap Hendra dengan pelan dan mulai menyimpan pemberian Jojo takut nanti diambil lagi sama Arseno.
.......................
Disekolahan Jojo, Rima dan zidan tengah bersiap untuk pergi ke perusahaan BAS Crop.
"Sudah selesai semua?"tanya Jojo melihat Rima tengah memeriksa berkas penggalangan dana.
"Sudah semua kayaknya ini"jawab Rima yang menyusun berkas.
"Kita berangkatnya pakai mobilkan?"tanya Zidan.
"Pakai mobil ku saja"jawab Jojo cepat.
" Ayolah gas kita"ucap Zidan dan berjalan menuju parkiran.
Keduanya menyusul langkah Zidan yang sudah terlebih dahulu menuju parkiran.
"Biar aku yang menyetir"pinta Zidan yang menadahkan tangab agar Jojo memberikan kunci mobil.
...................
Sampai didepan gedung Perusahaan BAS Crop, ketiganya masuk berdampingan menuju meja resepsionis untuk bertanya.
"Selamat pagi!, ada yang bisa kami bantu"ucap kedua resepsionia itu dengan ramah.
"Pagi juga mbak"jawab Rima dan Zidan sedangkan Jojo hanya diam saja.
Ini pertama kalinya bagi mereka ke perusahaan BAS Crop. Walaupun Jojo sudah beberapa kali datang kesana, tapi itu saat ia menggunakan identitas Ramkes bukan Jojo.
"Apa tuan Elejarnya ada?"tanya Rima sopan.
"Sepertinya sudah datang, apa adik-adik ini sudah membuat janji?"tanya resepsionis itu ramah.
"Belum mbak"jawab Rima yang merasa bahwa mereka belum membuat janji temu.
"Untuk sebelumnya kami mintak maaf, sesuai prosedur, jika tidak memiliki janji dengan tuan Elejar, maka tidak bisa menemuinya sembarangan adik"jelas resepsionis itu sopan.
"Apa tidak bisa di hubungi mbak?"pinta Rima dengan memelas.
"Akan saya coba dulu ya, atas nama siapa yang punya keperluan?"tanyanya.
"Jojo"ucap Jojo cepat.
__ADS_1
Dengan cepat resepsionis itu menghubungi Leo sang asisten tuan Elejar.
Panggilan terhubung dengan Leo,
"Maaf mengganggu pak, ini ada tamu yang mencari tuan Elejar dan mereka belum memiliki janji"ucap resepsionis dengan sambungan telpon.
"Siapa?"tanya Leo melalui sambungan telpon.
"Atas nama Jojo pak"ucap resepsionis.
"Antarkan mereka keatas"ucap Leo tegas dan langsung mematikan sambungan telpon.
"Mari adek-adek, saya antar keruangan tuan Elejar"ucap resepsionis itu dengan ramah.
Mereka mengikuti resepsionis itu dari belakang menuju lantai paling atas tempat dimana ruangan Elejar berada.
Saat akan memasuki lift seorang wanita datang menghampiri mereka berempat.
"Siapa mereka"tanya wanita itu dengan sinis.
"Mereka ingin bertemu dengan tuan Elejar nona Sesil"jawab resepsionis itu dengan menunduk takut.
"Kecil-kecil sudah menjadi ****** rupanya"tuduh Sesil yang meneliti penampilan mereka bertiga yang masih mengenakan baju sekolah.
"Maaf nona mereka bukan,"ucapn resepsionis itu terpotong oleh suara Rima.
"Apa anda tidak salah bertanya nona?"tanya Rima dengan sinis yang menilai penampilan Sesil yang terkesan terbuka.
"Tentu saja tidak, pasti kalian ingin menggoda para petinggi yang ada diperusahaan ini kan?"tanya Sesil dengan keras dan itu membuat perhatian para karyawan menatap ke arah mereka.
"Sudahlah tidak perlu meladeni ****** yang teriak ****** itu"ucap Jojo yang langsung masuk kedalam lift dan di ikuti oleh ketiganya.
"Kau!, awas saja jika ketemu lagi"ucap Sesil yang menatap benci ke arah mereka bertiga.
Didalam lift tidak ada yang berbicara, Rima yang masih kesal, tentu saja tatapan kesalnya sangat terlihat jelas.
"Maaf kelakuan nona Sesil tadi nona"ucap resepsionis yang merasa tidak enak hati atas perlakuan Sesil kepada tamu tuannya.
"Sudah tidak apa-apa"ucap Jojo yang menenangkan suasana.
"Apa dia selalu bertindak seperti itu?"tanya Rima yang masih dalam perasaan kesalnya.
"Kami tidak berhak mengomentarinya nona, hal itu di karenakan nona Sesil adalah adik ipar tuan Elejar. Jadi bagi kami yang karyawan biasa, sangat menjauhi masalah jika berhubungan dengan nona Sesil"ucap resepsionis itu dengan panjang lebar.
Mendengar ucapan resepsionis itu, membuat ketiganya terdiam dan sibuk pemikiran mereka masing-masing.
Pintu lift terbuka mereka berempat keluar, di luar lift resepsionis itu pamit kepada Jojo dan kedua temannya untuk lanjut bekerja.
"Nanti kalian tinggal lurus saja, disana akan ada meja sekretaris tuan Elejar dan maaf atas ketidaksopanan karyawan kami"ucap resepsionis itu dengan wajah memelas.
"Tidak apa-apa kami mengerti"ucap Jojo bijak.
"Baiklah, saya pemisi dulu ya"ucap resepsionis itu dan langsung berlalu.
__ADS_1
"Spertinya wanita tadi sangat memanfaatkan status dirinya sebagai ipar Elejar"ucap Rima dan keduanya punya pendapat yang sama.