Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
38. Goresan Peringatan


__ADS_3

Zidan kembali ke tenda tempat Jojo sedang di rawat.


Dengan santai Zidan memberikan dua suntikan kedalam cairan infus Jojo.


"Apa yang kau masukkan?" tanya Arseno yang sengaja menemani Jojo yang masih memejamkan matanya.


"Obat" jawab Zidan santai.


"Tenang saja, itu hanya obat agar Jojo merasa lebih baik" ucap Rima yang mengerti rasa khawatir Arseno kepada Jojo.


"Saya keluar dulu" pamit Rima dan sekilas ia menatap ke arah mata Zidan.


Melihat tatapan Rima Zidan yakin jika Rima akan berbuat sesuatu.


Melihat Rima yang sudah keluar tenda, Zidan melanjutkan untuk memeriksa keadaan Jojo dengan teliti.


Para anggota black shadow memang di haruskan bisa menguasai bidang medis, hal itu sebagai persiapan jika mereka dalam keadaan bertugas dan terkena tembakan, jadi mereka bisa melakukan pertolongan pertama tanpa menunggu tim medis sampai.


"Bagaimana?" tanya Arseno yang tidak bisa menutupi rasa cemasnya.


"Sudah lebih baik" jawab Zidan.


"Arseno, tunggulah sebentar disini!, aku akan melihat teman ku yang sedang menepuk nyamuk" ucap Zidan santai.


"Tidak sopan! jelas-jelas aku lebih tua dari mu" ucap Arseno.


"Jangan terlalu berharap sebuah panggilan untukmu dari ku. Karena aku memanggil seseorang dari sudut kemampuannya" ucap Zidan santai.


"Maksudmu kamu lebih hebat dari ku?" tanya Arseno tidak percaya kepada bocah didepannya ini.


"Bisa dibilang begitu" ucap Zidan santai dan langsung meninggalkan Arseno bermuka masam.


Melihat kepergian Zidan membuat Seno menatap kesal dan ia teringat jika tadi Zidan katakan bahwa temannya sedang menepuk nyamuk!.


Arseno mulai mencerna dan seketika pikirannya mengarah kepada Ayu atas kejadian tadi. Dengan langkah cepat Arseno meninggalkan Jojo kepada seorang perawat yang ia perintahkan untuk menjaga Jojo.


.......................

__ADS_1


Benar saja, sampai di sana Arseno melihat orang-orang yang sedang berkumpul di salah satu tenda.


"Jika bukan kerena Jojo mengahalangi ku, sudah ku pastikan kau akan tinggal nama pulang dari sini" ancam Rima yang sudah memberikan dua tamparan sekaligus kepada Ayu.


Dengan emosi yang masih menguasai, Rima semakin mendekat ke arah Ayu yang tengah menatap benci kepad Rima yang sudah berani-beraninya menampar dirinya.


"Kau tidak terima?" tanya Rima dengan sinis.


Dengan santai Rima meletakkan ujung pistol di kepala Ayu.


Melihat Rima mengeluarkan pistol membuat mata mereka melotot dan bertanya-tanya tentang keaslian benda tersebut.


Di dalam tenda khusus polisi tersebut masih berlanjut suasana ketegangan. Melihat salah satu rekannya ditodonngkan pistol membuat satu rekan kerja Ayu mengacung pistol juga kepada Rima.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Arseno yang melihat mereka saling mengacungkan pistol.


"Apa tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik?" tanya Arseno yang berusaha menjadi komandan yang bijak.


"Kenapa harus mengeluarkan benda itu?, ingat kita tidak bisa sembarangan mengeluarkannya!" ujar Araseno yang merasa peraturan dan sumpah-sumpah yang mereka ucapkan seakan tidak berguna.


"Dia sudah berani menantang petugas negara" ucap Shinta dengan tersenyum miring.


"Wah-wah ada pahlawan rupanya" ucap Zidan yang ikut maju mendekati Rima.


"Jangan mentang-mentang anda seorang polisi bisa seenaknya menodongkan pistol itu" ucap Zidan sambil menekan ujung pistol Shinta yang mengarah kekepala Rima.


"Dia yang mulai duluan" ucap Shinta geram.


"Turunkan pistol kalian" ucap Zidan sedikit meninggi.


Mau tidak mau baik Rima maupun Shinta saling menyimpan pistol mereka masing-masing.


"Masih belum tenang?" tanya Zidan yang melihat pancaran emosi yang tertahan dalam diri Rima.


"Belum!" ketus Rima.


"Kalau begitu beri dia sedikit goresan" ucap Zidan santai.

__ADS_1


Dengan senang hati, Rima mengeluarkan pisau lipatnya dan mendekati Ayu yang mulai merasa terancam.


"Apa mau mu?" tanya Ayu yang sedikit memundurkan tubuhnya.


"Kau mau apa memangnya?" tanya Rima dengan sinis.


"Lakukam dengan cepat dan kau hanya punya waktu 5 detik" ucap Zidan agar Rima langsung melakukan tindakan.


Srettttttt


Goresan yang Rima berikan mulai dari pundak sampai lengan, membuat Ayu berteriak kesakitan.


"Akhhh sakit!" teriak Ayu sambil memegang pundaknyanya.


"Itu belum seberapa nona" ucap Zidan santai.


"Apa nona juga mau?" tanya Zidan kepada Shinta yang menatap tak percaya.


"Jika tidak, jangan ikut campur!" seru Zidan dengan datar.


"Aku akan menuntut kalian!" ujar Ayu dengan marah.


"kami tunggu!" ucap Zidan Rima bersamaan.


Tanpa rasa bersalah, Rima dan Zidan meninggalkan tenda itu dan menuju tempat Jojo yang sedang terbaring.


Mereka tidak pernah mau beranjak dari sisi Jojo, karena mereka takut akan Jojo tiba-tiba histeris dan tak terkendali.


Menunggu beberapa jam akhirnya Jojo bangun dari tidurnya.


......................


Merasa kondisinya lebih baik, Jojo mulai keluar dari dalam tenda dan diikuti oleh keduanya.


Mereka mulai beraktivitas kembali dan tanpa membuang waktu lagi. Mereka hari berencana akan meninggalkan Kampung Pesisir di keesokan harinya.


Keesokan harinya, di sore hari beberapa anggota sudah mulai membereskan tenda dan barang-barang pribadi mereka.

__ADS_1


Mereka yang sudah selesai berkemas juga membantu rekan mereka yang lainnya. Mengingat jarak tempuh dari kampung pesisir sampai ke Kota cukup jauh, membuat mereka secepat mungkin agar menyelesaikannya.


Setelah berpamitan dengan warga Kampung Pesisir, mereka mulai melajukan kendaraaan mereka masing-masing untuk meninggalkan tempat itu.


__ADS_2