Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
25. Cemburu


__ADS_3

Sepulang sekolah, Jojo, Rima dan Zidan tidak langsung pulang. Mereka berencana untuk kumpul dan berbincang di kafe milik Rima.


"Jadikan kita kesana?" tanya Rima kepada mereka berdua, sambil memasukkan barang-barang kedalam tas sekolahnya.


"Jadilah" ucap keduanya mantap.


"Eh, kalian mau kemana?"tanya Danu yang mendengar ucapan mereka ingin pergi kesuatu tempat.


"Mau kumpul-kumpul saja di kafe yang tidak jauh dari sini" jawab Rima.


"Kita boleh ikut?" tanya Chandra.


"Ikut saja"ucap tiga serangkai dengan kompak.


"Ajak Anggel sekalian" ucap Jojo.


"Oke" ucap Danu yang langsung menghubungi Anggel melalui pesan.


"Ayo berangkat" ajak Jojo yang jalan lebih dulu.


Mereka berangkat menggunakan kendaraan masing-masing menuju kafe milik Rima.


.....................


Sampai di kafe milik Rima, mereka masuk dengan santai. Rima yang sudah memberikan pesan ke grup pegawainya, bahwa ia akan datang tapi ia meminta para pegawai disana bersikap layaknya sebagai pengunjung biasa.


Tanpa banyak bertanya mereka langsung menuruti permintaan bos mereka dengan patuh.


"Wah ramai sekali"ucap Chandra yang mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat itu yang sudah ramai.


"Apa kita dapat tempat?"tanya Chandra yang melihat bahwa kursi disana sudah terisi.


"Tenang saja, aku sudah memesan tempat untuk kita!" ujar Rima.


"Nah itu baru mantap" ucap Chandra sambil mengangkat jempolnya ke arah Rima.


Mereka menuju ke lantai dua dimana tempat biasanya Jojo, Rima dan Zidan menghabiskan waktu di kafe milik Rima.


"Pantas saja rame ternyata pemandangannya juga bagus"ucap Chandra dengan kagum.


"Iya kau benar" ucap Danu yang ikut merasa kagum.


Sedangkan mereka hanya menatap kagum akan pemandangan yang ada didepan mata mereka.


"Silahkan dipesan nona tuan"ucap salah satu pegawai kepada mereka yang sudah duduk di kursi masing-masing.


"Seperti biasa" ucap Jojo.


"Kalian sudah sering makan disini?" tanya Danu yang melihat cara mereka biasa saja.


"Tidak terlalu sering, hanya saat punya waktu luang saja" ujar Rima yang berkilah.


"Aku sama seperti mereka"ucap Edward yang sedari tadi diam.


"Kita jugalah, kalau gitu mbak"putus Danu dan langsung diangguki oleh Chandra.


"Baik, ditunggu ya" ucap pegawai itu ramah.


...........................


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kantor polisi tempat Arseno bekerja, ia tengah duduk di ruangannya sambil berpikir, bagaimana caranya ia bisa melupakan Jojo, sedangkan Jojo selalu memenuhi pikirannya.


"Kenapa kamu?"tanya Feri yang saat itu langsung masuk dan melihat Arseno tengah berpikir.


"Tentang Jojo?"tanya Feri lagi.


"Sok tau"ucap Arseno ketus.


"Sudahlah seno, mengaku sajalah. Kalau kamu menyukainya, apalagi orangnya baik, dan aku juga yakin orang tua kamu, bahkan anak ku akan menerima Jojo sebagai ibu sambungnya"jelas Feri dengan panjang lebar.


"Bisanya cuma mengomentari" ucap Arseno dengan kesal


"Jangan terlalu lama berpikir nanti dia di ambil orang baru tau rasa kamu" ucap Feri sambil menyerahkan sebuah map keatas meja Arseno.

__ADS_1


Mendengar ucapan Feri, bahwa Jojo akan dimiliki oleh orang lain. Membuat Arseno berpikir tidak rela.


"Itu tidak akan terjadi" ucap Arseno dengan tegas.


"Kenapa tidak, orangnya cantik, baik dan juga sopan. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan dia, apalagi ia masih muda pasti banyak yang menyukainya" ucap Feri yang sengaja memancing emosi Arseno.


"Dari pada kamu bersikap tidak jelas seperti ini, ayo ikut karna ada yang mau traktir kita makan"ajak Feri yang ingat tujuan awalnya datang keruangan Arseno.


"Dalam rangka apa?" tanya Arseno heran yang merasa tidak mengerti akan ajakan Feri.


"Istrinya Benikan baru melahirkan, dia mau mentraktir kita, karena anaknya beserta istri dalam keadaan baik-baik saja" jelas Feri yang mengingatkan Arseno.


"Astaga aku lupa" ucap Arseno.


"Mangkanya jangan kepikiran Jojo terus, fokus!" ujar Feri dengan nada kesal.


Mereka berdua keluar dari ruangan Arseno dan sampai di halaman kantor, ternyata yang lain sudah berkumpul menunggu kedatangan Arseno dan Feri.


Berjumlah 8 orang, mereka menuju ketempat yang sudah di pesan oleh Beni untuk mentraktir orang terdekatnya di anggota kepolisian.


Sampai disana mereka turun dari kendaraan masing-masing dan menuju pintu masuk kafe.


Mereka berjalan menuju lantai dua, kerena disana adalah tempat yang sudah di pesan Beni. Mengingat Rating kafe itu cukup bagus maka, mereka tidak heran jika banyak pengunjung yang memenuhi di setiap sudut tempat itu.


.........................


Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka berbincang-bincang tentang pekerjaan maupun yang berhubungan dengan pribadi sekalipun.


Hendra yang masih meneliti setiap sudut kafe, dan tidak sengaja ia melihat Jojo yang masih mengenakan seragam sekolah bersama teman-temannya di bagian pojok.


"Fer, itu Jojokan?"tanya Hendra sambil menyenggol lengan Feri yang duduk di sebelahnya.


"Mana?"tanya Feri yang mengedarkan pandangannya.


"Arah jam 1"tunjuk Hendra melalui matanya.


"Kalian kenapa?"tanya Arseno heran melihat kedua temannya lagi berbisik-bisik didepannya.


"Saingan kamu berat juga ternyata"tambah Feri yang ikut memojokkan temannya dengan sengaja.


"Kalian kenapa?"tanya Arseno lagi dengan raut wajah heran.


"Itu, Jojo lagi makan sama temannya, mana pada tampan-tampan juga"ucap Hendra mengejek Arseno.


"Mana?"tanya Arseno penasaran dan mulai melihat kearah yang ditunjuk oleh lirikan mata Hendra dan Feri.


Arseno membalikkan tubuhnya, karena ia duduk membelakangi bagian meja yang diduduki oleh Jojo dan kawan-kawannya.


Saat Arseno melihat kearah Jojo, dan secara kebetulan juga Edward dan Jojo saling menatap dan itu membuat Arseno kesal.


"Dasar kucing liar"gumam Arseno kesal.


"Kayaknya ada yang lagi terbakar api cemburu" ejek Hendra.


"Diam!"ucap Arseno kesal, dan masih memandang Jojo dengan mata memerah.


....................


Di meja Jojo dan kawan-kawannya,


"Sudah ini kalian mau kemana lagi?" tanya Danu.


"Langsung pulang kayaknya" ucap Rima.


"Sama" ujar Zidan Jojo serentak.


"Aku juga mau pulang, mau ngerjain tugas soalnya" ucap Anggel.


"Jadi langsung pulang semua?"tanya Chandra.


"Iya"jawab mereka serentak.


"Jo, kayaknya ada yang memperhatikan kamu"ujar Rima melalui batinnya.

__ADS_1


"Ternyata polisi itu beneran suka sama kamu Jo"sahut Zidan.


"Biarkan saja"ucap Jojo seolah tidak perduli sambil memainkan ponselnya.


Ketiga orang itu sering melakukan komunikasi melalui batinnya, jika obrolan mereka tidak mau diketahui banyak orang.


"Ayo pulang"ajak Jojo yang masih memainkan ponselnya.


Mereka serentak berdiri dan akan meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan Arseno melihat setiap gerak-gerik Jojo.


Mereka melewati meja, yang di duduki oleh para polisi itu dan tidak memperdulikan hal itu.


Jojo yang tengah fokus berjalan sambil memainkan ponselnya dan tidak sengaja ia tersandung oleh kaki salah satu pengunjung disana.


Secara reflek, Edward menarik lengan Jojo cukup kuat agar Jojo tidak terjatuh.


Arseno yang melihat, lelaki yang seumuran dengan Jojo tengah memeluk Jojo jika dilihat di arah samping.


Melihat hal itu, Arseno langsung berdiri dan menarik lengan Jojo secara kasar dan membuat pegangan Edward terlepas.


"Lepas!"ucap Arseno dengan tegas.


"Jo, kamu tidak apa-apakan?"tanya Rima dan Zidan serentak kepada Jojo yang didekap erat oleh Arseno.


"Apa ada yang sakit?"tanya Arseno lembut sambil menatap mata Jojo.


"Tidak ada"ucap Jojo dan berusaha melepas tangan Arseno yang berada di pinggangnya.


"Dan kau!"tunjuk Arseno kesal kepada Edward.


"Jaga tikah laku mu"ucap Arseno sambil memandang tajam Edward.


"Aku hanya membantu saja"ucap Edward yang seakan tidak perduli akan tatapan tajam Arseno kearahnya.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa" ucap Jojo yang tau kalau Arseno merasa kesal kepada Edward.


"Baguslah" ucap Arseno sambil merapikan rambut Jojo dengan lembut tanpa memperhatikan tatapan teman-teman Jojo dan rekan kerjanya.


"Mau pulang?"tanya Arseno kepada Jojo.


"Iya"jawab singkat Jojo.


"Ya sudah hati-hati kalau gitu"ucap Arseno dan mencium kening Jojo dengan lembut.


"Ayo kita pulang, bisa-bisa mata suci aku ini terlalu banyak noda"ucap Anggel.


"Benar sekali itu, membuat orang iri saja"sahut Chandra dan langsung turun dan diikuti oleh yang lainnya kecuali Jojo.


"Awas, aku mau pulang"ucap Jojo yang ingin menyusul teman-temannya.


"Ya sudah hati-hati, ingat jangan dekat-dekat dengan cowok itu lagi"ucap Arseno menatap tajam Jojo.


"Kenapa memangnya?"tanya Jojo yang berpura-pura tidak tau.


"Biasa ada yang cemburu"ucap Hendra yang sudah berdiri didekat mereka.


"Mana ada yang cemburu"tanya Jojo dengan polos.


"Itu si duda"ucap Feri yang keceplosan mengatkan status Arseno yang duda.


"Duda?"tanya Jojo sambil menatap Arseno heran.


"Sudah-sudah katanya mau pulang"ucap Arseno yang sengaja mengalihkan pembicaraan, karena ia belum siap memberitahukan statusnya sebagai duda.


"Ya sudah, aku pulang duluan kalau gitu"ucap Jojo cuek dan langsung meninggalkan mereka.


Setelah kepergian Jojo, Arseno, Feri dan Hendra kembali ke meja bersama rekan mereka.


"Ternyata komandan sangat pencemburu juga ya?" tanya Beni dan kepada yang lainnya.


"Sepertinya gitu, kalian lihatkan muka Seno tadi sangat kelihatan cemburuan sekali"timpal Feri yang ikut membicarakan Seno.


"Sudahlah, ayo cepat makan sudah itu langsung kerja lagi"ucap Arseno dengan tegas yang tidak mau mendengar ocehan rekannya.

__ADS_1


__ADS_2