Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
19. Perasaan


__ADS_3

Masuk kedalam ruangan dan masih menggendong Jojo, dengan pelan Arseno meletakkan tubuh Jojo di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Tunggu disini, aku akan ambil minum dulu"ucap Arseno lembut sambil beranjak meninggalkan Jojo yang duduk di sofa.


"Ini minunlah"ucap Arseno sambil memberikan segelas air putih.


"Terima kasih"ucap Jojo yang sudah meminum air yang di bawakan oleh Arseno.


"Sakit?"tanya Arseno sambil mengelus pipi Jojo dengan lembut dan meniup-niup pelan di sudut bibir Jojo.


"Tidak lagi"ucap Jojo dengan tersenyum manis ke arah Arseno.


"Kau ini"ucap Arseno gemas melihat Jojo.


"Tuhkan berantakan"kesal Jojo sambil merapikan rambutnya yang di acak-acak oleh Arseno.


Keduanya hening tidak bersuara lagi, saling menatap lekat satu sama lainnya, membuat Arseno secara tidak sadar memiringkan wajahnya dan kedua bibir mereka bertemu dan hanya menempel saja.


Sadar apa yang ia lakukan membuat Arseno menjauhkan wajahnya dari wajah Jojo.


"Maaf"ucap Arseno dengan rasa bersalah dan memeluk Jojo dengan lembut.


"Untuk?"tanya Jojo yang membalas pelukan Arseno.


"Menciummu tanpa izin"ucap Arseno.


"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf"ucap Jojo yang masih dalam pelukan Arseno.


"Untuk?"heran Arseno dan mulai nerenggangkan pelukannya.


"Aku mengaku sebagai kekasih mu tadi"ucap Jojo sambil memandang lekat kedua mata Arseno.


"Aku menyukaimu makanya aku mengatakan hal itu"ucap Jojo dengan


kekehan kecil.


Mendengar ucapan Jojo, membuat Arseno membeku, sebenarnya ia merasa bahagia, karena Jojo menyukainya tapi disisi lain ia ragu apakah Jojo akan menerima statusnya yang duda beranak satu.


"Sudah tidak perlu di pikirkan anggap saja aku tidak pernah mengatakannya"ucap Jojo yang terlihat santai.


Melihat Arseno termenung membuat Jojo mengalihkan pembicaraan.


"Mana ponsel ku?"tanya Jojo


"Sebentar"ucap Arseno sambil berdiri, mengambil ponsel Jojo yang berada di laci meja dan menyerahkan kepada Jojo.


"Baiklah aku pergi dulu"ucap Jojo kepada Arseno.


"Ungkapan perasaan ku tadi jangan dii anggap serius ya"ucap Jojo sambil tersenyum manis.


Keluar dari ruangan Arseno membuat perasaan Jojo campur aduk, rasa sesak sedih itu menjadi satu tapi ia tipikal orang yang bisa menyembunyikan ekspresi, jadi tidak ada yang tau hal itu.


"Mau pulang?"tanya Hendra yang kebetulan melintas.

__ADS_1


"Iya, mau kemana?"tanya Jojo kepada Hendra.


"Mau kentin ngopi"jawab Hendra.


"Boleh aku ikut?"tanya Jojo


"Tentu saja disana juga ada Feri"ucap Hendra dengan senang hati mengajak Jojo mengobrol bersama.


Keduanya berjalan berdampingan menuju kantin, sampai di kantin mereka berjalan menuju Feri yang sudah meminum kopi.


"Mau ngopi juga Jo?"tanya Feri yang heran melihat Jojo.


"Susu hangat ada gak ya?"tanya Jojo


"Ada, sekalian aku pesankan ya"tawar Hendra dan berlalu menuju tempat penjual.


"Gimana tu muka, masih sakit ya?"tanya Hendra yang sudah kembali dari memesan minuman mereka.


"Biasa saja"ucap Jojo santai.


"Itu baru anak hebat"ucap Feri dengan ancungan jempol ke arah Jojo.


"Disini boleh ngerokok enggak?"tanya Jojo sambil menatap mereka bergantian.


"Silahkan saja"ucap Hendra.


Jojo mengeluarkan rokoknya dari dalam tas ransel kecilnya dan mulai membakar sedikit bagian ujungnya.


"Iya Jo, apalagi kamu kan perempuan nanti banyak resiko yang akan datang"sahut Hendra.


"Aku hanya merokok saat pikiran ku lagi kacau"ucap Jojo yang menatap kosong.


Mendengar hal itu membuat keduanya diam, karena mereka tidak pernah tau permasalahan orang lain, sedangkan masalah mereka sendiri saja mereka merasa masih kurang dewasa dalam mengambil sikap.


"Apa yang membuat pikiranmu kacau Jo?"tanya Hendra dengan penuh perhatian.


"Jika aku ceritakan itu tidak akan selesai dalam beberapa hari"ucap Jojo dengan tertawa kecil.


"Dasar"umpat kesal Hendra menatap Jojo.


"Boleh nggak aku panggil kalian kakak?"tanya Jojo dengan tatapan serius.


"Tentu saja"ucap Keduanya.


"Terima kasih"ucap tulus Jojo.


Ketiganya hening dan hanya terdengar suara mereka menyeruput minuman mereka.


"Apa Arseno punya kekasih?"tanya Jojo dengan menerawang.


"Apa kau menyukainya?"tanya Feri balik.


"Iya, bahkan aku sudah lama menyukainya"ucap jujur Jojo.

__ADS_1


"Kenapa kau menyukainya"tanya Hendra serius.


"Aku yakin dia yang akan bisa melindungi ku"ucap Jojo dengan tenang tapi mereka berdua menatap Jojo dengan banyak pertanyaan saat melihat mata Jojo yang memancarkan kesedihan, ketakutan dan berusaha untuk kuat.


"Sejauh ini dia belum memiliki kekasih, dan apa kau sudah tau tentang status Arseno?"tanya Hendra lagi.


"Ya aku tau, dia memiliki anak kan?"tanya Jojo kepada kedua teman Arseno.


"Ya kau benar dan saran ku jika kau sulit mendekati Arseno kenapa kau tidak mencoba mendekati anaknya saja"ucap Feri mencoba memberikan usul. Walaupun ia yakin Arseno pasti sudah menaruh hati kepada Jojo, tetapi ia belum menyadari hal itu.


"Tidak"ucap Jojo tegas.


"Kenapa?"tanya keduanya heran.


"Karna jika aku sudah mencoba tetapi gagal, berarti itu tandanya aku harus menyerah bukan?"ucap Jojo dengan tersenyum.


"Kami akan selalu memberikan semangat apapun itu menjadi keputusanmu"ucap Feri bijak.


"Terima kasih"ucap Jojo dengan tulus.


"Kurasa kita belum berkenalan secara resmi"ucap Jojo dengan kekehan kecil.


"Namaku Jojo R, ibu ku sudah meninggal karena kecelakaan saat aku berumur 10 tahun dan aku tidak punya ayah dan aku sangat bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang tulus terhadap ku"ucap Jojo dengan raut wajah tersenyum tapu matanya berkaca-kaca.


"Tenanglah kau masih punya kedua kakak lelaki"ucap Feri sambil menunjuk dirinya dan Hendra.


"Terima kasih sudah mau menerima ku menjadi adik kalian"ucap Jojo yang menghapus sudut matanya yang basah.


"Wah, gak kerasa sudah sore"ucap Jojo sambil melihat jam tangannya.


"Aku pulang duluan ya, dan jangan lupa minumnya di bayar"ucap Jojo dengan senyum tanpa dosa memandang bergantian kedua kakak barunya.


"Hais, dasar kau ini"umpat Hendra kesal.


"Kan sudah menjadi kewajiban seorang kakak menteraktir adiknya"ucap Jojo dengan muka sedih.


"Iya-iya adik ku sayang, tenang saja kakak mu ini akan membayarnya"ucap Hendra bangga.


"Nah gitu baru namanya kakak yang baik"ucap Jojo dengan ancungan jempol.


"Ya sudah pulang sana!"usir Feri.


"Iya nanti terlalu sore sampai kosannya"tambah Hendra.


"Baiklah bay-bay kakak-kakak ku sayang"ucap Jojo sambil melambaikan tangannya kepada Feri dan Hendra.


Dari kejauhan Arseno mendengar percakapan antara Jojo dengan kedua temannya. Mendengar hal itu membuat dadanya terasa sesak.


Arseno tidak pernah menyangka, Jojo yang hanya anak SMA tetapi ia sudah banyak memikul beban kehidupan yang sangat berat dan itu di tanggung seorang diri.


"Aku akan membahagiakan mu, dengan cara ku Jo"gumam lirih Arseno menatap Jojo yang duduk membelakangi dirinya.


Sungguh dirinya tidak bermaksud melukai perasaan Jojo, hanya saja ia bingung mengungkapkan identitasnya kepada Jojo yang masih muda sedangkan dirinya sudah bisa di katakan lelaki dewasa.

__ADS_1


__ADS_2