Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
45. Merendahkan


__ADS_3

Sudah tiga hari lebih kepulangan Jojo dari kampung pesisir, karena kesibukan terhadap sekolah dan pekerjaannya Jojo sampai lupa jika ia ada janji akan bberkunjung ke Desa Rumbai.


Desa Rumbai merepakan Desa pinggiran yang mana desa ini banyak di pandang sebelah mata. Selain akses jalannya yang kurang memadai menuju kesana, pemerintah juga sepertinya menutup mata akan nasib penduduk sana yang masih cukup jauh di katakan perkampungan yang maju dan berkembang.


Jojo, Rima dan Zidan ketiga hari ini sepakat tidak sekolah dan mereka sedang menikmati masa tenang atas kejadian yang menimpa Jojo tempo hari.


Mereka bertiga menghabiskan waktu dengan jalan-jalan serta mengelilingi pusat perbelanjaan untuk berbelanja kebutuhan mereka sehari-hari.


Sebuah taksi berhenti tepat di depan bangunan yang megah, dimana didalam bangunan itu terdapat banyak otomotif-otomotif yang sangat menyilaukan mata mereka bertiga.


Ketiganya berencana membeli motor trail saat mereka mendapat kabar jika motor trail keluaran terbaru dengan kualitas mesin yang tidak bisa di ragukan lagi.


........................


Ketiganya masuk kedalam showroom dengan santai, ketiganya seperti anak jalanan jika di lihat sekilas. Hal tersebut di karenakan ketiganya hanya memakai kaos polos hitam dan celana jeans yang sobek-sobek.


Masuk kedalam dan langsung di sambut baik oleh seorang pegawai lelaki yang bertugas untuk menyambut para tamu ataupun pelanggan yang ingin membeli ataupun hanya sekedar melihat-lihat saja.


"Selamat datang di showroom kami" sambut pegawai lelaki itu dengan ramah.


"Ada yang bisa saya bantu adek-adek?" tanya dia yang yakin kalau ketiga mempunyai umur di bawahnya.


"Kami mau lihat-lihat motor yang keluaran terbaru Mas" jawab Zidan dengan ramah.


"Apa Masnya bisa mengantarkan kami?" tanya Rima dengan suara genit.


"Mari silakan ikuti saya" ucap pegawai lelaki itu dan lengsung menuntuk ketiga calon pelanggannya.


Mereka bertiga mengikuti pegawai lelaki itu sambil melihat-lihat kendaraan lainnya. Sebenarnya ketiganya sudah beberapa kali membeli kendaraan mobil ataupun motor di sana. Hal itu di karenakan showroom tersebut adalah showroom pusat yang ada di negara tersebut.


Setelah mengikuti pegawai lelaki yang menuntun mereka ke arah tempat motor trail yang berbaris rapi, melihat itu membuat ketiga berdecak kagum.


"Ini motor trailnya adek-adek dan ini keluaran terbaru dan tentunya kualitas bahan serta kualitas mesinnya sangat tidak di ragukan lagi" jelas pegawai itu dengan baik.


"Apa ini terbaru semuanya?" tanya Jojo sambil mengamati beberapa motor yang berbaris rapi di dekatnya.


"Masih ada beberapa, tetapi ini adalah motor trail yang sangat di rekomendasikan oleh showroom kami" jawabnya dengan santai.


Ketiga hanya menganggukkan kepala sebagai tanda kalau ketiga mengerti apa yang sudah di jelaskan oleh pegawai tersebut. Sebenarnya tanpa di jelaskan ketiganya yang sudah paham dalam dunia mesin tentu saja tidak meragukan kualitas mesin serta perlengkapan yang melengkapi penampilan dari motor tersebut.


"Kalau warnanya?" tanya Zidan yang mulai berimajinasi untuk memodifkan di bengkel Jojo.


"Kalau untuk warnanya, warna taupun corak yang terdapat pada motor ini adalah warna standar. Tapi kalau ingin tampilannya lebih bagus lagi lebih baik di modif saja dan tentunya akan memakan biaya tambahan jika ingin mengganti dengan model yang diinginkan" saran pegawai itu dengan semangat.


"Dika" panggil salah satu pegawai perempuan yang menghampiri mereka berempat.


"Iya ada apa Lun" jawab Dika atau pegawai lelaki yang menuntun Jojo dan kedua temannya.


"Lebih baik kamu urusi pelanggan yang baru datang itu saja, dari pada melayani mereka yang belum tentu membeli" ujar Luna dengan sinis melihat tampilan mereka seperti anak jalanan.


"Kamu saja Lun," tolak Dika yang merasa tidak enak kepada calon pelanggannya yang mendengar ucapan Luna.


"Sudahlah, melihat belum tentu membeli jugakan?" tanya Luna dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Maaf ya adek-adek, teman saya memang begitu. Suka ngasal kalau ngomongnya" ujar Dika yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Mas" jawab Jojo yang memaklumi hal itu.


"Tunggu apalagi kamu Dika! kamu mau saya adukan kepada bos agar kamu di pecat" ancam Luna yang merasa dirinya lebih senior di banding Dika yang baru bekerja beberapa bulan.


"Tapi," ucap Dika yang merasa tidak enak hati untuk meninggalkan calon pelanggannya.


"Sudah mas kami akan melihat-lihat saja dulu. Masnya turuti saja apa yang mbak ini ucapkan" ucap Rima dengan lembut.


"Maaf ya saya tinggal sebentar setelah itu saya balik lagi" ujar Dika yang merasa tidak enak.


"Santai saja" ucap ketiganya kompak.


"Tidak usah terlalu lama menyentuhnya nanti lecet" ujar Luna yang memperhatikan ketiganya dengan tatapan merendah.


"Kan tidak ada larangan untuk menyentuh mbak" ucap Rima yang ikutan sinis.


"Dasar miskin!. Sok-sokan lihat-lihat bilang saja kalau tidak mampu beli" cibir Luna sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kamu bisa membelinya tidak?" tanya Jojo dengan ekspresi datar.


"Tentu saja bisa" jawabnya dengan bangga.


"Walaupun menabung bertahun-tahun" sambung Luna dalam hati.


Mendengar ucapan Luna membuat ketiga tersenyum sinis.


"Hati-hati atas ucapan anda nanti bisa keselek batu" ucap Rima dengan kekehan kecil.


"Tidak akan, memang kenyataannya begitu" ucap Luna dengan cepat.


"Ada apa Luna?" tanya seorang lelaki yang bertubuh tegap dan tinggi menghampiri mereka.


"Tidak ada kak, ini saya hanya menjelaskan apa yang di tanyakan pelanggan kita" ucap Luna dengan tersenyum manis sambil menatap kepada wakil manajernya.


"Apa itu benar?" tanya manajer itu kepada calon pelanggannya.


"Mungkin" jawab Rima acuh.


"Kalau beli akan sampai berapa hari?" tanya Jojo.


"Paling lama satu minggu sudah di antar ke alamat nona" ujarnya dengan santun.


"Alah sok-sokan mau beli palingan juga kredit!" cibir Luna dengan pelan, tetapi mereka mendengar apa yang di ucapkan oleh Luna.


"Apa kalian tertarik dengan motor trail ini?" tanya manajer itu dengan tersenyum simpul.


"Bisa di bilang begitu" ucap Jojo.


"Kami akan membeli motor ini dengan uang cash tapi ada syaratnya" ucap Jojo dengan ekpresi datar.


"Kalau begitu lebih baik kita duduk di sofa saja" ajak manajer itu dengan sopan karena ia merasa sedikit ada tekanan dari aura yang di keluarkan Jojo.

__ADS_1


Mereka duduk di sofa dengan santai, tapi beda halnya dengan Luna yang merasa sedikit cemas karena sudah merendahkan ketiga orang itu.


"Jadi bagaimana?" tanya manajer itu agar perbincangan di antara mereka.


"Kami ingin membeli tiga buah motor trail itu dengan uang cash" ucap Jojo santai sambil melipat kedua tangannya dan kaki yang ia silangkan.


"Baik akan kami proses surat-suratnya" ucap manajer itu dengan senang.


"Luna kau urus surat jual beli dan surat kendaraannya" ujar manajer itu kepada Luna yang masih belum siap dengan apa yang ia dengar.


Satu motor saja harganya bukan kaleng-kaleng apalagi tiga. Bisa-bisa dengan uang sebanyak itu ia mungkin tidak perlu bekerja di dengan orang lain lagi.


"Luna kau dengan tidak" ucap manajer itu sambil menyenggol lengan Luna.


"Ah, baik kak" ucap Luna dengan gugup sambil berdiri.


"Tapi saya tidak ingin dia mengurusnya" ucap Jojo dengan cepat.


"Maksudnya?" tanya manajer itu dengan bingung.


"Kami mau pegawai lelaki yang bernama Dika itu mengurus semuanya" tunjuk Jojo kepada Dika yang sedang menjelaskan beberapa hal dengan beberapa pelanggan yang bertanya kepadanya.


"Itu syarat yang pertama" sambung Jojo.


"Apa ada lagi?" tanya manajer itu yang merasa ucapan orang yang didepannya ini bukan main-main.


"Tentu saja" jawab Jojo dengan santai.


"Dalam waktu tiga hari motor itu sudah sampai alamat" ujar Zidan yang ikut bersuara.


"Dan kami mau di pecat!" ucap Rima dengan penuh penekanan sambil menatap tajam Luna yang semakin terkejut.


"Apa bisa di penuhi?" tanya Jojo sambil tersenyum sinis sambil menatap Luna yang sudah bermuka pucat.


"Maaf sebelumnya, sebelum saya mengambil keputusan saya ingin tahu apa yang membuat kalian ingin saya memecat pegawai kami?" tanya manajer itu dengan serius.


"Dia meremehkan kami" ucap Rima dengan tatapan tajam.


"Merendahkan" ujar Zidan.


"Mencaci" ucap Jojo dengan tersenyum yang semakin sinis.


Mendengar pengakuan pelanggannya, membuat manajer itu menghela nafas kasar sambil menatap ke arah Luna.


"Kak, ini tidak seperti yang mereka bicarakan" ucap Luna dengan wajah memelas menatap sang atasannya.


"Aku sebenarnya sudah memberimu kesempatan Luna, ternyata setiap kesempatan yang saya berikan ternyata kamu abaikan" ucap manajer dengan nada kecewa dan bagaimanapun Luna sudah lama bekerja di sana.


"Nona-nona tuan, saya mohon maaf karena sudah berbicara seperti itu sama kalian. Tolong jangan buat saya kehilangan pekerjaan saya" ucap Luna yang sudah bersimpuh di hadapan mereka.


"Terlambat, mana ucapan yang kamu keluarkan tadi?" tanya Rima dengan sinis.


"Sudahlah Luna lebih baik kamu kemasi barang-barang kamu. Gaji kamu akan saya tranfer ke rekening mu" ucap manajer itu dengan rasa kecewa akan sikap Luna yang selalu merendahkan seseorang dari pebampilannya saja.

__ADS_1


__ADS_2