Hidupnya Anak Haram

Hidupnya Anak Haram
14. Khawatir


__ADS_3

Berjalan dengan tergesah-gesah, diikuti oleh Rima, Zidan dan bahkan Feri, juga mengikuti sang sahabat yang dilanda rasa khawatir.


Sampai di ruang UKS, Arseno membaringkan Jojo dengan hati-hati di atas tempat tidur.


Didalam ruang UKS ternyata sudah ada petugas medis darurat untuk memeriksa keadaan Jojo.


Selesai memeriksa keadaan Jojo membuat Zidan dan juga Rima tambah Khawatir.


"Sepertinya ia hanya kelelahan dan kurang istirahat saja"ucap petugas kesehatan itu saat selesai memeriksa keadaan Jojo.


"Kau baik-baik saja!"ucap Rima dengan nada khawatir.


Sedangkan Zidan sudah keluar dari dalam ruangan itu, untuk mengambil beberapa obat yang selalu ia bawa di dalam bagasi motornya.


"Jojo, kamu jangan sakit lagi"ucap Rima sambil memandang wajah Jojo yang semakin memucat.


Tidak berselang lama, Zidan masuk dengan terburu-buru dengan membawa sekotak obat di tangannya.


"Kenapa lama sekali?"tanya Rima.


"Aku harus mengecek dosisnya terlebih dahulu dan menambahkan beberapa obat lagi"Ucap Zidan yang takkalah khawatir dengan keadaan Jojo.


Sedangkan Arseno dan Feri menatap bingung pada mereka berdua, bukannya tadi sudah diperiksa bahwa Jojo hanya perlu istirahat saja, kenapa mereka sangat khawatir, pikir Arseno dan juga Feri.


"Maaf apa boleh saya meminta bantuannya?"tanya Zidan kepada kedua polisi yang ikut membantu membawa Jojo.


"Katakan!"ucap Arseno cepat.


"Tolong dudukkan dia dan anda pegang kakinya"ucap Zidan dan langsung dituruti keduanya tanpa membantah.


Rima duduk di pinggiran ranjang sambil memeluk Jojo dari depan, sedangkan Arseno menahan tubuh Jojo dari bagian belakang, agar bersandar pada Rima, sedangkan Feri memegang kedua lutut Jojo.


"Lakukan!"perintah Jojo dengan yakin.


"Apa kau yakin"tanya Zidan.


"jika tidak, biar aku saja yang memeluknya"ucap Zidan lagi.


"Lakukan saja!"ucap Rima dengan tegas.


Zidan mulai menyuntikkan suatu cairan di lengan kanan Jojo. Belum ada reaksi yang ditunjukkan oleh Jojo.


Di menit kedua tubuh Jojo mulai bergerak gelisah dalam dekapan Rima.


"Tahan dan jangan sampai lepas"seru Zidan dan ikut menahan tubuh Jojo.


Mereka berempat menahan tubuh Jojo yang membrontak kasar, tidak puas membrontak, Jojo menggigit pundak sebelah kiri Rima dengan kuat.


Tangisan dan suara kesakitan terdengar jelas dari mulut Jojo, membuat mereka menatap iba kepada Jojo.


Arseno yang melihat pundak Rima digigit dan berusaha menahan sakit, membuat ia mengambil alih tubuh Jojo dan meletakkan Jojo dalam dekapannya dengan kuat. Hanya suara tangisan yang memilukan mereka dengar dari dalam mulut Jojo.


Rasa sakit yang semakin menjadi membuat Jojo semakin bersuara kencang, sedangkan yang lainnya berusaha menahan bagian tubuh Jojo yang lain, agar tidak lepas kendali dan itu bisa menyakiti dirinya sendiri.


Cukup lama akhirnya rasa sakit yang di alami Jojo mulai mereda, dan ia mengendurkan pelukannya ke tubuh Arseno. Melihat itu mereka bernafas lega karna Jojo mulai merasa baikkan.


Melihat Jojo tidur dalam dekapan Arseno membuat Zidan bersuara,


"Tidurkan saja dia, dan terima kasih sudah membantu!"ucap Zidan yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa"sahut Arseno cepat dan mulai membaringkan Jojo kembali di tempat tidur.

__ADS_1


"Rima buka bajumu, aku akan obati memarnya"ucap Zidan, yang yakin bahu rima pasti memar karena terkena gigitan Jojo.


Rima hanya menurut tanpa bersuara dengan pandangan masih ke wajah Jojo.


"Sebaiklah bapak polisi kembali saja dan terima kasih sudah membantu dan maaf merepotkan"ucap Zidan yang telah selesai mengobati Rima.


"Iya benar apa kata teman saya, Terima kasih bapak,"ucap Rima yanh terpotong karena tidak mengetahui nama kedua polisi itu.


"Arseno dan dia Feri"ucap Arseno mengenalkan nama mereka berdua.


"Ah, terima kasih pak Seno dan Pak Feri"ucap Rima.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu"ucap Arseno. Sebelum meninggalkan tenpat itu, Arseno mengusap rambut Jojo dengan lembut. Feri yang melihat sang sahabat melakukan seseorang dengan lembut, membuat ia penasaran.


Keluar dari ruangan diikuti oleh Feri dibelakangnya, sampai di depan pintu yang akan ia buka, Arseno kembali menoleh ke arah Jojo yang sedang terbaring di atas tempat tidur.


"Apa kau mengenalnya?"tanya Feri yang penasaran, saat keduanya sudah keluar dari ruang UKS.


"Aku lihat kau sangat mencemaskannya tadi!"


"Apa dia orangnya, yang membuatmu uring-uringan tempo hari?"tanya Feri beruntun.


"Entahlah"ucap Arseno yang bingung akan perasaannya.


................


Sedangkan didalam UKS tempat Jojo istirahat,


"Sepertinya polisi tadi menyukai nona kita!"ucap Zidan yang sejak tadi sesekali memperhatikan perlakuan hangat Arseno kepada Jojo.


"Semoga saja dia bisa melindungi nona kita"timpal Rima yang juga merasakan hal yang sama.


"Semoga saja"gumam Zidan.


"Jika semua rasa bisa di alihkan, kami siap menanggung setiap beban engkau pikul nona"ucap keduanya dalam hati yang merasa tidak tega melihat Jojo seperti ini.


"Apa kita bawa kerumah saja"tawar Rima.


"Jangan, kita bawa kekosan saja!"ucap cepat Zidan.


"Jika bawa kerumah yang ada, bi Ami sama mang Udin akan khawatir"jelas Zidan.


"Iya, kau benar juga"ucap Rima lesu.


Tidak berselang lama Jojo sudah bangun dari tidurnya, Rima yang melihat itu mulai berseru girang.


"Kau sudah sadar?"


"Apa masih sakit?" Tanya Rima berulang kali kepada Jojo yang sudah duduk bersandar di ranjang.


"Sudah lebih baik"ucap Jojo sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


"Antarkan aku kekosan!"ucap Jojo.


................


Didalam ruangan serba guna, masih dalam acara sosialisasi, saat Arseno dan Feri masuk, keduanya hanya diam dikursi yang sudah disediakan.


Arseno menatap kosong dan hanya memikirkan wajah Jojo yang saat merasakan kesakitan yang luar biasa dan saat ia meninggalkan ruangan itu, wajah Jojo juga terlihat sangat pucat.


Tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya, sedari tadi Feri memperhatikan Arseno yang bergerak gelisah dengan raut wajah kahwatir.

__ADS_1


"Pergilah, biar kami yang menyelesaikan ini semua"ucap Feri sambil menepuk pundak Arseno.


"Tidak"ucap Arseno.


"Jangan membohongi perasaanmu, aku tau kamu khawatir tentang kondisinya kan?"tanya Feri.


"Pergilah!"lanjut Feri lagi.


Tanpa membuang waktu Arseno pergi dari dalam ruangan itu tanpa berpamitan dengan yang lainnya.


Feri yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.


"Kamu tidak bisa membohongi wajah khawatirmu itu Seno"gumam Feri.


Berjalan tergesah-gesah, Arseno menuju ruang UKS, sampai disana ternyata ruangan tersebut sudah kosong.


Dengan sedikit berlari, Arseno menyusul ke arah parkiran dan berharap Jojo belum pergi.


Dari kejauhan Arseno melihat Jojo tengah diapit oleh kedua temannya agar Jojo tidak terjatuh. Melihat hal itu Arseno bergegas menyusul mereka.


Sampai di belakang ketiganya, Arseno melihat Jojo hampir kehilangan keseimbangan dan dengan cepat ia menahan badan Jojo.


"Pegang yang benar dong Rima"ucap Zidan karna Jojo hampir saja terjatuh.


"Maaf, kan dia berat"ucap Rima sambil tersenyum.


"Biar aku saja"ucap Arseno.


Mendengar suara seseorang dibelakang mereka, membuat ketiganya menoleh kebelakang dan melihat Arseno tengah memeluk pinggang Jojo.


"Kau!"ucap Jojo.


"Ya, ini aku Arseno"ucap Arseno santai dan tanpa basah-basi ia menggendong Jojo.


"Eh"kaget Jojo dan mengalungkan lengannya keleher Arseno agar tidak terjatuh.


Zidan dan Rima hanya mengedipkan beberapa kali mata mereka dan tidak percaya akan tindakan Arseno. Fisarat mereka semakin kuat jika Arseno menyukai Jojo.


"Ayo jalan tunggu apalagi"ucap Arseno menyadarkan kedua teman Jojo.


"Ah, iya-iya"ucap keduanya gugup.


Berjalan menuju parkiran, sebuah mobil berwarna putih sudah menunggu kedatangan mereka.


Masih dalam keadaan menggendong Jojo, Arseno masuk di bangku bagian belakang dan meletakkan Jojo diatas pangkuannya. Sedangkan Zidan dan Rima duduk di bangku bagian depan dengan Zidan mengemudi.


"Maaf!"ucap Arseno lembut sambil memeluk Jojo.


Mendengar ucapan Arseno membuat Jojo bingung dan menatap Arseno yang tengah menatap kearahnya.


"Untuk apa?"tanya Jojo bingung.


"Waktu itu, karna sudah salah menilai mu"ucap Araeno dengan rasa bersalah.


"Lupakan saja"ucap Jojo sambil memeluk erat tubuh Arseno.


Merasa lega kerena Jojo tidak menanggapi atas ucapannya tempo hari.


Mencium beberapa kali puncak kepala Jojo, membuat Jojo tersenyum dalam dekapan pria idamnnya.


Sedangkan kedua orang yang duduk di bagian depan juga merasa bahagia, melihat Jojo nyaman dipelukan seorang lelaki.

__ADS_1


Karena selama ini Jojo tidak pernah mau memeluk sembarangan orang.


__ADS_2