![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Selama di pesta, aku tidak banyak bicara karena hanya Viten yang bicara dengan para bangsawan. Kebanyakan membahas hal-hal politik yang tidak ingin aku pahami.
Kami juga telah berdansa satu kali di awal pesta. Terima kasih pada tubuh Serethy, tubuh ini dengan jelas mengingat setiap gerakan dansa yang tidak pernah aku pelajari.
Ketika aku selesai berdansa, banyak nona-nona bangsawan yang memujiku. Katanya, aku terlihat seperti kupu-kupu yang indah. Metafora aneh itu kuanggap sebagai pujian dan membalas mereka dengan senyuman dan terima kasih.
Lalu, beberapa nona bangsawan berteriak senang dan memegang tanganku. Mengatakan bahwa mereka ingin akrab denganku. Aku sama sekali tidak masalah, justru akan semakin dekat untuk mengumpulkan pengaruhku di antara para bangsawan, bukan?
"Apa kau lapar?" tanya Viten setelah selesai membahas tambang permata atau apa lah itu dengan seorang Count.
Aku mengangguk tanpa malu. Itu benar. Aku lapar. Bajingan gila ini mengobrol sambil menyeretku untuk memperkenalkanku ke seluruh kepala keluarga agar aku mendapat pengaruh pribadi sekaligus membicarakan mengenai bisnis, dan itu sudah berlangsung kurang lebih satu setengah jam!
Aku belum makan apa pun selain minum segelas wine setelah datang ke pesta. Bahkan aku sempat iri dengan orang lain yang memakan camilan manis mahal dan mewah sementara aku harus tersenyum lembut pada setiap kepala keluarga bangsawan atas perintah Viten.
Viten terus membisikkan, "Senyum, Serethy." Setiap kali kami akan menemui kepala keluarga berikutnya. Dan itu membuatku jengah.
"Ayo istirahat sebentar," ujar Viten sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku menghela napas singkat sebelum meraih tangannya dan kami berjalan menuju meja yang penuh camilan.
Mataku yang violet berbinar, membuat Viten diam-diam mengalihkan pandang dengan telinga merah.
Namun, peduli setan dengan wajahnya yang memerah, aku lapar!
Aku meraih camilan terdekatku sambil meneguk air liur.
Sial. Ini benar-benar mewah.
Di kehidupanku yang sebelumnya, hanyalah sekadar mimpi bagiku untuk hanya menyentuh makanan seperti ini.
Dan sekarang aku bisa memakannya setiap hari? Jelas aku akan meminta Jelena untuk membawakanku camilan mahal setiap hari! Tujuan baruku setelah memastikan bahwa Viten tidak akan pernah menyiksaku adalah menguras uangnya!
Aku meraih sendok dan sebelum makanan itu mampir ke mulutku, aku mendengar namaku dipanggil secara bersamaan.
"Tuan Putri!"
"Hei, Tuan Putri."
Dua pria saling melirik dan memutuskan untuk menunduk singkat sambil menghampiriku.
Aku tersenyum tipis dan memakan camilan di tanganku.
"Halo, Sir Derick. Rupanya kamu mengunjungi pesta ini juga?" ujarku dengan lembut sambil menahan kurva bibirku naik dengan lebar.
Jujur saja, pria ini sangat tampan dengan balutan pakaian formal pestanya! Kalau aku bisa berteriak dengan bebas, aku akan naik ke balkon dan mengumumkan ke semua orang mengenai betapa mengagumkannya Sir Derick!
Senyuman Sir Derick makin memesona. "Itu benar, Tuan Putri. Saya hanya sedikit telat karena saya harus mengunjungi county dan menjemput adik saya. Saya dan adik saya datang sebagai pasangan."
"Sir Derick rupanya sangat menyayangi adiknya, ya?"
"Itu benar, Tuan Putri. Saya—"
"Biarkan Serethy makan," potong seseorang yang ingin kucolok matanya dengan garpu.
Siapa lagi kalau bukan Viten.
Dia sangat kurang ajar dengan menghentikan pembicaraanku yang berharga dengan Malaikat Jatuh.
__ADS_1
Kalau kau mau tahu, Viten, dibanding dengan memilihmu, aku akan memilih Sir Derick. Sir Derick adalah tipe pria yang kusuka.
Dia lembut, tampan, manis, tidak kasar, penyayang, tidak pernah mengumpat, tidak sombong, baik hati, ramah, sopan. Tidak seperti individu yang kukenal yang ada di sampingku.
"Maafkan atas kelalaian saya, Yang Mulia. Tapi saya sangat senang bisa bertemu dengan Tuan Putri di pesta," kata Sir Derick setelah melakukan salam kepada keluarga kerajaan. "Saya sebenarnya ingin mendekati Tuan Putri lebih cepat, tapi sepertinya Tuan Putri sedang membangun pengaruhnya. Saya tidak bisa mengganggu."
Aku terharu! Sir Derick sangat memikirkan aku, bagaimana mungkin pria ini akan mati dipenggal di akhir cerita?!
"Aku—"
"Tuan Putri. Tolong jangan abaikan saya."
Lalu ada satu manusia lagi yang kuabaikan sejak tadi.
Aku hanya menawarkan senyum dingin padanya setelah memotong pembicaraanku.
Setelah melihat senyumanku, pria dengan mata emas itu hanya tertawa.
"Tuan Putri sungguh menarik," kata Axel. "Bagaimana bisa Tuan Putri sangat memesona seperti ini?"
Aku mengernyit. Apa yang bajingan gila ini katakan?
Dan tunggu, kenapa dia tidak mabuk saat ini? Bukankah pria ini adalah alkoholik? Dia tidak bisa hidup tanpa alkohol! Dan pesta dipenuhi alkohol. Jadi pergilah dari sini dan minum alkohol sepuasmu.
Tangan Axel lalu meraih helaian rambutku yang jatuh. "Sangat lembut."
Tangan Axel ingin naik sebelum tepisan mendarat di tangan Axel.
Axel tertawa lalu menatap pria yang ada di sampingku. Dia baru saja menepis tangan Axel dengan kasar.
"Siapa lagi kalau bukan Yang Mulia Viten kami yang berharga," kata Axel dengan tawa kesal.
"Ya, senang bertemu denganmu, Tuan Muda Axel."
Meski rupanya mereka saling menyapa, nada suara mereka tetap disisipi kedinginan yang membuatku menggigil.
"Saya masih tidak menyangka jika Yang Mulia akan datang ke pesta saya seperti ini."
"Yah, aku hanya datang sebagai pasangan Tuan Putri. Tentu aku tidak bisa membiarkan Tuan Putri sendirian ketika dia belum memiliki pengaruh, bukan?"
"Hahaha. Anda benar, Yang Mulia. Saya nyaris menawarkan diri saya sebagai pasangan Tuan Putri dulu."
"Sayangnya, Tuan Putri sudah berpasangan denganku."
Lalu benang-benang permusuhan kembali memanjang.
Sementara mereka beradu argumen, aku beralih ke Sir Derick yang masih dengan senyuman manisnya.
"Tuan Putri, bagaimana kalau Anda pergi ke balkon? Bukankah suasana di sini sedikit menyesakkan?" tanya Sir Derick dengan lembut.
"Lalu Yang Mulia?" Aku melirik Viten yang masih beradu argumen dengan Axel. Aku sedikit heran ke mana martabat rajanya jika dia berdebat dengan Axel seperti itu.
"Yang Mulia sangat sibuk sekarang." Sir Derick melayangkan senyuman lagi.
Aku menelan ludah karena senyuman itu dan tanpa pikir panjang langsung menyetujui usulan Sir Derick, lalu kami meninggalkan Viten serta Axel yang tampaknya tidak menyadari kepergian kami.
Segera setelah angin malam yang sejuk menerpa wajahku di balkon yang luas, baru kusadari kalau sedari tadi aku merasa tegang.
__ADS_1
Untung saja Sir Derick mengusulkan untuk datang kemari, setidaknya aku bisa bersantai setelah tersenyum seperti robot pada setiap kepala keluarga yang kami temui.
"Tuan Putri, tolong lihatlah, ini adalah Kerajaan Asher."
Aku melihat ke arah yang sama dengan apa yang Sir Derick lihat.
Ini malam di mana bulan bersembunyi di balik awan, tetapi seluruh kota terang oleh lentera yang menyala. Membuat titik-titik kecil bagaikan bintang yang berkilauan.
Itu indah.
Membuat hatiku tenang seketika karena panorama itu jelas-jelas mengambil atensiku.
"Itu sangat cantik, bukan, Tuan Putri?"
Aku melirik Sir Derick setelah menganggukan kepala atas pertanyaannya.
Namun, apa yang Sir Derick lihat sekarang bukanlah lentera-lentera yang menerangi kota di wilayah Krone, tetapi aku. Dia bahkan menghadapku dengan lurus.
Di matanya yang berwarna cream, dalam sorotannya yang membuat hatiku bergetar, aku melihat teka-teki di sana. Puzzle. Level tertinggi yang sulit dipecahkan. Kasus mustahil.
Aku meneguk ludah.
"Ada apa, Sir Derick? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Sir Derick tidak menjawab, dia hanya tersenyum dengan pesona malaikatnya, tetapi lebih lembut dan lebih memesona.
Tangannya naik, meraih helaian rambut merah mudaku yang melewati bahu. Lalu, dia mendekat dan mengecup ujung rambutku.
Aku bergetar ketika melihat sorot wajahnya saat dia menjauh dariku.
"Sir ... Derick?"
Itu sorot yang anehnya sedih atau sendu? Meskipun senyuman di bibirnya masih tertera, aku bisa menyebutkan kalau ekspresi itu pecah.
"Kenapa, Sir Derick? Apa kamu mengingat hal yang menyedihkan?"
Melihat ekspresi wajah putus asa itu benar-benar menyakitiku. Katakan padaku, Malaikat Jatuh, ada apa? Aku sangat ingin tahu. Aku ingin membantu.
Tanganku naik, lalu mengelus pipinya tanpa aku sadari. Ketika aku menyadarinya, dia sudah menyandarkan pipinya pada telapak tanganku yang sudah dia genggam. Itu ... hangat.
Deg, deg, deg.
Detak jantungku memburu, kehangatan itu adalah apa yang aku inginkan.
"Tuan Putri benar," katanya. "Saya mengingat hal-hal yang menyedihkan saat ini."
"Benarkah? Kalau begitu, semoga kesedihan yang ada di hati Sir Derick segera pergi dan jangan terus menetap. Aku sedih jika Sir Derick juga sedih."
Mata cream itu membulat terkejut sebelum dia kembali tersenyum lembut.
"Terima kasih, Tuan Putri. Saya sangat beruntung telah bertemu dengan Tuan Putri."
Aku balas tersenyum dengan lembut.
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada Sir Derick dan apa yang telah menyerang mentalnya. Sir Derick yang lembut tampak rapuh hanya sekilas, tetapi kilasan itu sulit untuk aku lupakan.
Apa dia mengingat rekan-rekan ksatrianya yang mati karena peperangan? Kehilangan teman-teman yang berharga memang meninggalkan bekas luka di hati yang sewaktu-waktu bisa kembali terbuka. Di dalam novel pernah dikatakan melalui Serethy bahwa Sir Derick terkadang berlarut-larut dalam kesedihannya karena kehilangan rekan-rekannya yang berharga. Lalu, di sana Serethy akan menemani Sir Derick. Serethy tidak perlu mengucapkan apa pun, hanya dengan berada di samping Sir Derick saja, itu sudah cukup bagi ksatria itu.
__ADS_1
Ini adalah kasus yang sama. Jangan sedih, Malaikat Jatuh-ku, aku akan memastikan bahwa kepalamu tidak akan pernah terpenggal seperti di dalam novel. Dan aku tidak akan membiarkan diriku terbunuh juga.
Aku akan menghindari bendera kematian bagi kita berdua.