I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
32. Sebagai Putri Duke


__ADS_3

Apa yang Clare Cyrill ingat dalam reka fotografi kehidupannya merupakan penderitaan.


Clare terlahir untuk menjadi boneka marionette. Di seluruh tubuhnya, terikat benang-benang untuk mengekang Clare.


Kehidupan Clare didikte oleh keluarga Duke Cyrill. Clare dituntut untuk menjadi seorang ratu, bahkan sebelum usianya memasuki lima. Sebelum dia memahami apa itu kehidupan sebenarnya. Akan tetapi, Clare di usianya yang kelima telah diberikan pengetahuan untuk menjadi penguasa.


Cyrill adalah keluarga penghasil ratu. Keturunan wanita dari Cyrill, pasti akan menjadi ratu. Entah itu lewat pernikahan politik atau murni dari sebuah perasaan yang saling terhubung. Sebab itulah, Clare, sebagai putri tunggal dari Keluarga Duke Cyrill, dituntut bahkan sebelum dia mengerti apa pun.


Mata Clare yang hitam menatap sosok ibunya yang berbaring tak berdaya di atas ranjang.


Para pelayan berjajar di dekat pintu dengan kepala tertunduk dalam, enggan mengeluarkan suara walau sekecil apa pun.


Ekspresi wajah Clare terlihat seperti ingin menangis, tetapi menahan segalanya karena Eleanor tengah menatap Clare dengan mata yang sayu.


"Clare," panggil Eleanor.


Clare menggenggam jemari Eleanor yang terasa kurus dan kehilangan esensinya.


"Ibu, aku di sini," jawab Clare dengan suara yang tercekat.


"Cyrill mendapatkan apa pun yang mereka mau, tanpa terkecuali."


Clare menggigit bibirnya.


"Cyrill perlu mendapatkannya, bahkan jika mereka harus melakukan hal yang kotor sekalipun." Eleanor memberikan jeda di dalam kalimatnya untuk menarik napas sebanyak-banyaknya. Berbicara membuatnya lelah dan tenggorokannya makin terasa kering.


"Ibu, sudahlah, jangan bicara."


"Dengarkan aku, Clare," potong Eleanor. Eleanor menggenggam balik jemari Clare dengan erat, walau Clare tidak merasakan apa pun lewat genggaman tersebut. "Satu-satunya cara menarik hati ayahmu adalah dengan menjadi ratu."


"Ibu, aku tidak mau jadi ratu."


"Jangan merengek. Cyrill adalah keluarga penghasil ratu. Itu adalah absolut. Maka dari itu, kamu harus menjadi ratu. Itu satu-satunya cara. Hanya itu, Clare."


Clare menggeleng singkat. "Aku—"


"Kamu cuma kehadiran yang lemah di sini, Clare."


Clare kembali menatap Eleanor dengan saksama. Akan tetapi, visinya mulai memburam kala air mata menetes.


"Kamu akan langsung mati jika ini adalah kompetisi. Mengapa? Karena seluruh orang di kediaman ini berpihak pada Duke. Dan kamu berhasil bertahan hidup, karena aku ada di sini untuk melindungimu. Tapi, aku tidak bisa lagi melindungimu, Clare. Satu-satunya cara untuk membendung kekuatan, untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini, adalah dengan menarik hati ayahmu dan menjadi ratu. Itu ... satu-satunya cara untuk ...."


Clare tidak bisa mendengarkan kelanjutannya lagi karena lengan Eleanor di genggamn Clare terasa berat. Kemudian, ketika Clare menatap mata ibunya, kelopak mata telah menutupi manik hitam tersebut.


"I-Ibu?! Ibu! Bangunlah!"


Clare berteriak.


Apa yang Clare tahu bahwa dirinya telah berteriak hingga suarnya nyaris habis.


Eleanor akhirnya meninggal karena sakit parah di usia Clare yang kedelapan.


Semenjak itu pula, Clare bertahan hidup.


Selama Eleanor hidup, rupanya Clare dilindungi oleh perisai Eleanor. Sehingga ketika perisai itu hancur, tombak dan pedang langsung terarah pada Clare.


Itu begitu mengerikan dengan para pelayan yang seenaknya terhadap Clare.


Clare mendapatkan perlakuan yang buruk ketika dia tinggal di paviliun di kediaman Cyrill.


...***...


Sebagaimana putri yang menginginkan kasih sayang ayahnya, Clare juga merasakan hal yang sama.


Bahkan semenjak ibunya masih menjadi perisai untuk Clare dan melindungi Clare dari terpaan benda tajam, Clare tetap mengintip diam-diam dari perisai tersebut untuk melihat figur ayahnya.


Di mata Clare yang kelam, tercetak rasa kagum kala dia merekam Eladio Cyrill di dalam otaknya.


Clare mencintai ayahnya, akan tetapi Eladio membenci putrinya.


“Berani sekali anak haram itu mengganggu waktu rapat.”


“Ibu yang mendidiknya telah tiada, maka maklum saja jika putrinya tumbuh menjadi gadis yang seperti itu.”


“Mirip sekali dengan mantan penari itu. Baik ibu dan anak sama-sama tidak memiliki kesopanan sesuai etika.”


Clare mengabaikan segala bentuk bisik-bisik yang mengarah padanya. Satu-satunya tujuan Clare memasuki ruangan rapat adalah untuk menemui Duke Cyrill.


Clare hanya pernah berpapasan dengan ayahnya sebanyak lima atau enam kali semasa Clare hidup selama delapan tahun. Itu pun, Duke Cyrill akan melihat Clare sebagai hama yang mengganggu dan mengabaikannya.


Melihat Duke Cyrill untuk pertama kalinya tanpa Eleanor di sisinya membuat nyali Clare sedikit menciut.


Pria itu memiliki beberapa kali ukuran tubuh yang besar jika dibandingkan tubuh Clare berusia tujuh tahun yang mungil. Pria itu memiliki warna rambut zamrud sepertinya dan iris mata hitam yang identik. Baik pria itu, Eladio Cyrill, dan putrinya, Clare Cyrill, bisa dikatakan sebagai replika sempurna yang absolut. Semua orang juga mengatakan bahwa keduanya pasti terlibat hubungan darah dengan keidentikan di postur wajah. Namun, andai saja nasib Clare sedikit lebih baik, pasti dia akan diperlakukan selayaknya putri Duke.


“Apa yang kau mau?” tanya Eladio dengan nada suara yang dingin. Di matanya, hanya tercetak danau kelam yang mampu menenggelamkan, membuat kulit dan punggung Clare terasa dingin dan berkeringat.


“Tuan Duke.” Clare menegakkan tubuhnya dan memaksakan dirinya untuk menatap langsung pada ayahnya. Mau bagaimanapun, Clare tetap menyukai ayahnya. Apa yang Clare cari adalah kasih sayang dalam bola mata tersebut.


“Katakan.”


“Saya adalah bagian dari Cyrill.”


Eladio hanya mengangkat alisnya.


“Saya ingin mendapat perlakuan yang semestinya sebagai putri dari Duke. Saya ingin diperlakukan dengan pantas sebagai putri Duke. Maka dari itu, Tuan Duke, izinkan saya untuk tinggal di kediaman utama alih-alih paviliun saya.”


Orang-orang yang masih duduk di kursi rapat langsung saling berbisik. Membicarakan topik yang sama seolah-olah hal ini merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi mereka. Seolah-olah hal ini merupakan sebuah pertunjukan seru yang baru saja dimulai dan mereka berlomba-lomba mencari kesenangan di dalamnya.


“Kenapa aku harus menurutimu?”


Clare tersenyum dengan penuh percaya diri. “Karena saya adalah Cyrill. Cyrill mendapatkan apa pun yang mereka mau.”


Eladio hanya menatap Clare dengan tatapan yang pelik, tetapi bibirnya langsung bergerak untuk memanggil pelayan.


“Tempatkan anak ini di kediaman utama,” perintah Eladio pada pelayan.


Pelayan tersebut hanya menunduk sopan. “Ikuti saya, Nona Muda.”


“Ikuti?” Clare membiarkan nada suaranya terdengar sedingin mungkin. “Kenapa aku harus mengikuti punggungmu? Kau yang harus mengikuti punggungku."


Di saat itu pula, Clare berhasil memasuki kediaman utama Cyrill.


...***...


Clare Cyrill lahir dari hubungan tanpa pernikahan. Eleanor adalah seorang penari di sebuah bar malam dan Eleanor jatuh cinta pada Eladio. Keduanya terlibat dalam hubungan satu malam dan akhirnya Eleanor mengandung.

__ADS_1


Eleanor dibawa ke kediaman Duke dan diberikan paviliun di sana. Akan tetapi, Eladio langsung mengabaikan Eleanor dan hanya memberikan dana untuk ibu dan anak itu yang cukup untuk bertahan hidup.


Eleanor sendiri tidak memaksa Eladio untuk menikahinya. Sebab, menikahi Eladio adalah menjadi seorang duchess. Dan mau dilihat dari sisi mana pun, bagi seorang penari rendahan untuk menjadi seorang duchess adalah hal yang mustahil.


Semua orang berikap baik pada Eleanor karena semua orang tahu bahwa wanita itulah yang telah menarik hati Duke, dan tidak ada jaminan bahwa jika mereka bersikap kasar pada Eleanor, Duke akan mengampuni nyawa mereka.


Ketika Clare terlahir, dia menjadi seorang nona muda yang malang. Nona muda yang tidak mengetahui dalam situasi apa dia hidup. Clare dilayani oleh para pelayan yang menodongkan pisau padanya, maka Clare hanya bisa memiliki Eleanor sebagai perisainya. Berlindung.


...***...


Clare tidak lagi asing dengan pemandangan ini.


Clare bahkan sudah terbiasa.


Clare sudah tidak muntah lagi ketika mencium bau darah yang pekat. Clare tidak mual lagi ketika melihat potongan daging manusia yang dicincang habis. Clare tidak lagi bereaksi berlebihan ketika kepala seseorang dipenggal dengan begitu mudahnya. Bisa dikatakan, ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa bagi Clare.


Darah merah mengalir di lantai marmer yang dingin dan sebagian cairan pekat itu terciprat di gaun Clare.


“Apakah menyenangkan, Ayah?” tanya Clare dengan tenang. Dia tetap menyesap tehnya walaupun Eladio telah memenggal seorang pelayan dengan brutal.


Wajah pucat Eladio dilapisi oleh darah dan matanya yang hampa menilik Clare. “Menyenangkan,” balasnya. “Seolah kau menjadi lebih hidup.”


Di sanalah Clare memulai hari-harinya dengan para psikopat di dalam kediaman Cyrill. Kematian dengan cara yang sadis merupakan hal yang biasa bagi Clare. Penyiksaan, pemenggalan, pembunuhan. Semuanya adalah konsumsi yang normal bagi Cyrill. Itulah mengapa, hanya ada sedikit pekerja yang bertahan di dalam Cyrill. Itu karena Cyrill adalah keluarga yang sangat erat kaitannya dengan darah.


Dewa Kematian. Cyrill melakukan semuanya sebagai persembahan untuk Dewa Kematian.


“Kau sudah memanggil para pelayan ke paviliun?” tanya Clare pada pelayan pribadinya.


Pelayan itu mengangguk santun. “Ya, Nona Clare. Semua yang bersalah telah dikumpulkan.”


Clare tersenyum puas. Dia lalu menyusuri sebuah jalan menuju sebuah paviliun yang jauh dari kediaman utama.


Itu adalah hari yang gelap dan ketika hujan deras turun, Clare menikmati hal ini ketika dirinya sendiri tengah mencambuk para pelayan yang melakukan kesalahan di dalam pekerjaan mereka. Teriakan para pelayan pecah, perih, dan terdengar begitu menyayat. Akan tetapi, segala macam nada suara tersamarkan di balik derasnya hujan.


...***...


“Kau ingin dicintai olehku, Clare?” tanya Eladio ketika keduanya sedang berada di meja makan, memakan makanan mereka.


“Putri mana yang tidak menginginkan ayahnya untuk mencintainya?” tanya balik Clare dengan retoris. Jemarinya dengan tangkas memotong steak menjadi beberapa bagian. Darah di dalam daging mengalir, itu merah.


“Maka dari itu, tunjukkan padaku mengapa kau pantas dicintai olehku.”


Clare melirik Duke Eladio, tidak, ayahnya. Di kedua bola mata berwarna hitam itu, Clare tak dapat menemukan apa pun selain misteri. Namun, Clare tidak bisa berhenti kagum.


Bohong apabila Clare tidak haus akan kasih sayang Eladio. Semenjak Clare masih kecil, dia hanya tinggal berdua dengan Eleanor. Mungkin Eleanor sendiri merasa bosan ketika Clare terus-menerus bertanya di mana figur ayahnya selama ini? Apakah ayahnya akan mengunjungi Clare hari ini atau besok? Apakah ayahnya akan memeluk dan mengecup kepala Clare seperti di dalam dongeng anak-anak pada umumnya?


Jadi, bagi Clare, untuk mendapatkan kasih sayang Eladio merupakan mimpinya. Harapannya. Secercah cahaya yang menjadikan Clare memiliki sebuah tujuan untuk terus hidup. Di mana dia bisa menumpukan nyawanya di sana.


“Bagaimana caranya, Ayah?” tanya Clare dengan tenang.


“Jadilah ratu.”


Eladio adalah eksistensi yang sama seperti halnya bangsawan lainnya. Dia serakah akan posisi yang lebih tinggi dan tak terbantahkan. Dia rakus akan kemungkinan-kemungkinan bahwa dia akhirnya akan menjejaki anak tangga menuju puncaknya.


Dan satu-satunya cara adalah dengan menjadikan Clare sebagai seorang ratu. Maka, posisi Eladio pun tak akan tergoyahkan.


Maka dari itu, Eladio mendukung setiap pergerakan Viten. Eladio yang paling tahu bahwa Viten-lah yang akan menjadi raja di masa depan. Itu karena Ibu Suri adalah kakak perempuannya.


...***...


“Yang Mulia Pangeran.”


Kali itu juga merupakan waktu pertama kalinya Clare melihat Viten Darren Asher.  Yang kata Eladio, merupakan calon tunangannya.


“Tuan Duke,” balas Viten dengan senyuman palsu di bibirnya.


“Silakan nikmati makanannya, Yang Mulia Pangeran.”


“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak akan menikmatinya jika yang menjadi tuan rumah adalah Tuan Duke Cyrill sendiri?”


Wajah pucat Eladio mengeluarkan reaksi lain selain dingin atau hampa, dia tertawa kecil. “Anda selalu berhasil membuat saya merasa terhibur. Silakan dinikmati jamuan kami, Yang Mulia Pangeran.”


Clare memakan makanannya dalam diam. Sesekali melirik Viten dengan sudut matanya.


Setelah makan siang berakhir, Clare menyusuri jalanan untuk mengunjungi paviliun di mana dia selalu menyiksa para pelayan.


Clare memiliki waktu yang menyenangkan ketika dia mencambuk pelayan pribadinya dengan sekeras mungkin. Melihat orang menderita membuat Clare bersemangat. Melihat mereka menjerit keras karena kesakitan membuat Clare terasa lebih hidup.


Clare tidak bisa menyalahkan intuisinya dengan mencari kesenangan di dalam sebuah penderitaan orang lain. Clare telah lebih dulu menderita, ketika Eleanor mati, dan Clare diperlakukan semena-mena oleh para pekerja di kediaman. Clare telah mendapatkan penderitaan yang cukup. Sudah waktunya bagi Clare untuk mengembalikan penderitaan yang dia alami pada orang yang tepat.


Ketika Clare merasa bahwa pelayannya mulai kehilangan kesadaran, dia menyerahkan cambuk pada pelayan lain, dan membawa dirinya sendiri keluar dari paviliun.


“Apa yang membuatmu berpikir bahwa menyiksa orang adalah sebuah kesenangan?”


Clare tersentak kala dia mendengarkan suara ketika Clare telah sepenuhnya keluar dari paviliun. Clare menoleh dan mendapati Viten bersandar pada pilar besar dengan santai.


“Yang Mulia Pangeran.” Clare menunduk santun dan memberikan salam dengan sempurna pada Viten.


Viten hanya mendengus kecil dan mendekati Clare. “Kau sering melakukan ini? Menyiksa semua pelayanmu?”


Clare merasa heran mengapa Viten bertanya, tetapi dia mengangguk. “Ya, Yang Mulia. Mereka telah melakukan kesalahan dan mereka pantas untuk mendapatkan hukuman.”


“Dasar gila.”


Clare mengerutkan dahi atas kalimat Viten. “Apa saya mendengar hinaan dari Anda, Yang Mulia Pangeran?”


“Sama-sama. Dan ya, kau sangat gila. Apakah kau tidak punya hati nurani?”


“Ya?”


“Di mana hati nuranimu, Nona Clare? Apakah kau tidak merasa simpatik pada perbuatanmu sendiri?”


“Dengan segala hormat, saya akan mengatakan bahwa hal ini bukanlah urusan Anda.”


Viten mendengus. “Tidak, ini urusanku. Apakah begini caramu memperlakukan semua orang yang bersalah? Apakah kau melakukan semuanya dengan jalan penyiksaan dan pembunuhan?”


“Bukankah dunia memang bekerja dengan cara yang sama, Yang Mulia? Dialah yang kuat yang akan mendominasi segalanya.”


“Nona Clare. Ini adalah Kerajaan Asher, bukan hutan. Kerajaan Asher memang memiliki aturan tersendiri, tetapi kami tidak mengambil aturan hutan rimba. Kerajaan Asher berdiri karena aliansi, bukan penyiksaan.”


“Anda salah. Kerajaan Asher berdiri karena peperangan. Dan peperangan telah merenggut banyak nyawa.”


“Setidaknya itu adalah apa yang Asher lakukan untuk bertahan hidup. Lalu bagaimana dengan kau yang merenggut hak orang lain untuk hidup karena mereka melakukan satu-dua kesalahan?”


“Yang Mulia, saya ingin menanyakan suatu hal. Apakah memberikan hukuman itu perbuatan yang salah?”

__ADS_1


“Tidak salah sama sekali.”


“Maka, dari itu. Biarkan saya melakukan apa pun yang saya mau. Karena saya adalah Cyrill. Cyrill akan mendapatkan apa pun yang mereka mau.”


“Cyrill memiliki moto hidup yang keren. Tapi, bukan itu masalahnya. Aku mengatakan hal ini karena aku peduli padamu.”


Clare merasakan hatinya berhenti berdegup. Peduli? Itu adalah kata yang begitu asing di dalam agenda Clare. Kepedulian. Peduli. Tidak ada yan memedulikan Clare selain ibunya yang telah meninggal dua tahun yang lalu, sehingga Clare tenggelam dalam sebuah kotak Pandora. Di dalam sana, tidak ada afeksi, tidak ada kasih, tidak ada kepedulian.


“Berapa usiamu? Sembilan, bukan?” tanya Viten. “Dan itu bukanlah hal yang normal bagi anak-anak berusia sembilan tahun untuk menyiksa orang lain dalam mencari kesenangan. Bukanlah hal yang normal bagimu terlibat dalam kematian lebih banyak daripada yang orang dewasa alami. Kau seharusnya bermain dengan anak seusiamu, bukan menyiksa para pelayan karena mereka melakukan kesalahan.”


Kedua mata Clare yang hitam terpaku pada sosok itu. Sosok seorang pangeran yang tiba-tiba mengunjungi kediamannya dan malah mengatur kehidupan Clare. Di mata Clare yang penuh oleh kegelapan, kini seakan disinari oleh sebuah lilin yang berpijar.


“Kesalahan adalah hal yang manusiawi. Kau tidak bisa menjadi manusia jika kau tidak bisa menolerir perilaku manusia. Aku mengatakan ini semua karena kau terlihat begitu mati. Setidaknya, dengan menolerir perilaku manusia, kau akan jadi lebih hidup,” sambung Viten. “Jadi, berhentilah menyiksa orang-orang di usiamu yang kesembilan, bermain saja, dan hamburkan uang Duke. Dia pasti akan baik-baik saja kehilangan beberapa uang.”


Viten berbalik dengan santai, hampir meninggalkan tempatnya jika Clare tidak memanggil.


“Yang Mulia, apakah Anda benar-benar peduli pada saya?”


“Kau adalah calon tunanganku, aku harusnya peduli padamu, kan?”


Setelah itu Viten tidak lagi berbalik dan terus melanjutkan langkahnya dengan santai.


Di sisi sebelah sini, apa yang Clare rasakan adalah perasaan menggebu. Di mana setelah sekian lama dia kembali hidup, ada juga individu yang tetap memedulikan satu eksistensi yang diharapkan kematiannya oleh banyak orang.


...***...


Clare Cyrill secara resmi menjadi tunangan Viten beberapa minggu kemudian.


Sebagai putri Duke, Clare melakukan apa pun untuk mempertahankan duchy. Dan juga, Clare merupakan anak tunggal Cyrill yang membuat gadis itu menjadi harapan satu-satunya Cyrill. Clare juga mencari kasih sayang dari Eladio sehingga dia berusaha sekeras mungkin untuk menjalani pendidikan untuk menjadi seorang ratu.


Eladio mendukung segala pergerakan Viten. Eladio benar-benar bersungguh-sungguh untuk menjadikan Viten seorang raja dan Clare sebagai ratu.


Viten juga telah memberikan beberapa perhatian yang tidak pernah Clare dapatkan sebelumnya. Viten memberikan sebuah perasaan bahwa kehadiran Clare yang tetap merenggut oksigen secara rakus adalah hal yang alami.


Akan tetapi, insiden Sorena Krone membuat Eladio tidak lagi berharap pada putrinya untuk menjadi ratu. Tidak menjadi ratu artinya tidak mendapatkan kasih sayang yang didambakan oleh Clare.


Eladio menganggap bahwa cinta adalah hal yang alami dan tak dapat dipaksakan. Sama halnya dengan Eladio yang mencintai Eleanor yang notabene hanya penari rendahan. Maka, ketika mendengar rumor bahwa Viten memberikan sisi lembut terhadap nona muda Krone, Eladio tak lagi mengharapkan putrinya menjadi seorang ratu. Hal yang tidak Eladio harapkan adalah bahwa tanpa sepengetahuannya, Clare membawa nona muda Krone ke paviliun khusus yang selalu digunakan Clare untuk menyiksa pelayan. Clare menyiksa Sorena selama 28 hari dan pada hari ke-29, Sorena ditenggelamkan di danau.


Eladio menghabiskan banyak uang untuk menutupi rumor tersebut. Di dalam secercah harapannya, Eladio tetap mengharapkan Clare untuk menjadi ratu. Itu karena menjadikan Clare sebagai ratu adalah tujuan Eladio menjadi pewaris Cyrill.


“Kenapa kau membunuh Nona Muda Krone?” tanya Eladio di satu malam ketika dia telah menghabiskan banyak uang sebagai tutup mulut pada keluarga Krone.


“Sorena telah merebut apa yang menjadi milik saya, Ayah,” balas Clare dengan ringan. “Sorena merebut hati Yang Mulia. Padahal seluruh orang di Kerajaan tahu bahwa hati Yang Mulia hanyalah milikku.”


“Apa yang kau rasakan terhadap Yang Mulia bukanlah cinta, Clare. Itu adalah obsesi.”


“Ayah, saya mencintai Yang Mulia Pangeran. Hanya Yang Mulia sajalah yang saya cintai.”


“Yang Mulia hanya mengatakan beberapa patah kata padamu dan kau menganggap bahwa kalimat Yang Mulia adalah cahaya sehingga kau terus menyusuri jalan itu.”


“Cyrill mendapatkan apa pun yang mereka mau.”


“Aku tahu bahwa itu adalah moto kami, tapi Clare, kau tidak bisa membunuh orang yang Yang Mulia cintai.”


“Mengapa tidak? Saya hanya merebut kembali hak saya.”


“Clare.” Eladio menghela napasnya. “Kenapa kau tumbuh seperti ini? Eleanor tidak mendidikmu seperti ini.”


“Saya belajar dari Ayah.”


Eladio bungkam.


Di hari-harinya, Eladio mempertemukan dirinya sendiri dengan kematian dengan cara membunuh. Maka, tidak heran apabila putrinya mengikuti jejak yang dilakukan Eladio.


“Cukup, Clare. Kau membuatku kecewa.", Eladio mengurut dahinya. "Kemungkinanmu untuk menjadi ratu kini hanya lima persen. Kau tahu apa artinya itu?”


"Artinya adalah saya tidak bisa menjadi ratu?"


"Keluarga Cyrill adalah keluarga penghasil ratu. Apa kata orang jika keturunan Cyrill kali ini adalah sampah?"


"Ayah, Cyrill mendapatkan apa pun yang mereka mau. Dan saya akan memastikan hal tersebut. Saya akan menjadi ratu."


"Pegang kalimatmu, Clare." Eladio mendekat dan berbisik di telinga Clare, "Sebab, jika bukan jadi ratu, maka tidak ada alasan bagimu untuk terus hidup."


Eladio menjauh. "Kembali ke kamarmu."


"Baik, Ayah. Selamat malam."


Clare menunduk singkat dan berbalik untuk meninggalkan ruangan Eladio.


Beberapa tahun berlalu, Clare tidak pernah dilamar secara resmi oleh Viten yang kini merupakan seorang Raja. Clare seolah tidak dipedulikan lagi oleh Viten setelah insiden dengan nona muda Krone. Clare diasingkan. Akan tetapi, Clare tidak menyerah. Clare berusaha untuk menarik perhatian Viten agar pria itu tidak berpaling dan akhirnya berniat untuk menikahinya.


Clare membayangkan mahkota ratu di kepalanya dan dia memerintah Kerajaan Asher. Clare memberikan Viten seorang Putra Mahkota untuk kelangsungan Kerajaan Asher. Lalu, pada akhirnya, Eladio akan memberikan kasih sayangnya pada Clare. Memeluk putrinya dengan sayang dan mengecup rambutnya sambil mengatakan bahwa Eladio sangat bangga telah memiliki putri seperti Clare.


Itu adalah mimpi yang indah hingga Clare tidak menyadari bahwa satu minggu kemudian, dia akan dieksekusi di alun-alun ibu kota sebagai pelajaran bagi seluruh orang jika mereka hampir menghancurkan keberlangsungan Kerajaan Asher.


Sebagai putri Duke, Clare telah gagal untuk memenuhi tugasnya.


Clare telah menghancurkan tradisi Cyrill, Clare telah menghancurkan reputasi Cyrill, Clare telah menghancurkan kehidupannya sendiri.


"Apa kau puas sekarang?"


Clare mendongak dan menatap wajah pucat Eladio dari balik jeruji besi.


"Ayah! A-Ayah!" Clare buru-buru berdiri dengan tubuhnya yang lemas, dia lalu mengeratkan pegangannya pada jeruji. "Ayah, selamatkan aku! Selamatkan aku, kumohon!"


"Lalu selanjutnya apa jika kau kuselamatkan, Clare?"


Kalimat Eladio yang dingin membuat Clare tersentak dan menatap Eladio dengan tatapan pelik.


"Kau akan menjadi apa setelah kukeluarkan dari sini? Menjadi sampah Cyrill dan makin menghancurkan reputasi Cyrill?"


"Ayah—"


"Belum puas mengenai Krone, kau akhirnya memasukkan dirimu sendiri ke dalam penjara?"


"Ayah! Kumohon! Selamatkan aku, aku tidak mau mati!"


"Kau mirip sekali dengan ibumu. Memohon seperti wanita murahan agar aku menerimamu sebagai bagian dari keluarga Cyrill."


Eladio menghela napasnya.


"Tapi, lupakan saja. Cyrill tidak membutuhkan apa pun yang menghambat mereka."


Kemudian Eladio berbalik dan meninggalkan Clare sendirian. Meninggalkan putrinya di balik jeruji yang sempit dan dingin hanya untuk menunggu ajalnya.

__ADS_1


__ADS_2