![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Kedua tanganku dirantai dan diseret oleh prajurit.
Sir Derick ditinggalkan di penjara bawah tanah ketika aku diseret kemari. Tentu aku tidak memerlukan ksatria sebagai tawanan perang yang kehilangan harga dirinya.
Aku berjalan dengan lemah di lorong-lorong panjang dan lebar. Jujur saja, ini sangat klasik.
Aku tidak pernah merasakan panorama ini sebelumnya. Benar-benar indah ditambah langit malam di balik kaca jendela yang megah dan historik sangat memukau.
Berbeda dengan kota tempatku tinggal. Ketika malam hari, sama ributnya dengan siang hari.
Tapi aku tidak memiliki kesempatan untuk menikmati hal-hal ini! Aku akan disiksa, lho. Aku dalam perjalanan ke kamar bajingan gila secara sukarela untuk disiksa!
Aku harus memikirkan rencana. Cepat, sebelum terlambat.
Namun, sebelum aku memikirkan sebuah rencana. Aku sudah tiba di kamar bajingan gila.
Dan itu dia, si bajingan gila! Dia duduk di atas sofa dengan elegan dan menunjukkan martabat seorang raja.
Aku lalu ditinggalkan berdua dengan bajingan gila di kamar bajingan gila itu! Ah, sialaaan!
"Kau tampak menyedihkan."
Terima kasih atas pujiannya.
Aku mempertahankan ekspresi wajahku dengan sorot yang tajam pada pria itu.
"Bagaimana hari pertamamu di kamar yang tidak sesuai dengan selera Tuan Putri?"
Aku tidak menjawab.
"Apa kau bisu?"
Masih belum menjawab.
"Hei, Tuan Putri yang arogan. Kau menunjukkan hal yang sangat tidak sopan pada penguasa Asher."
Yah, aku tidak peduli. Dan jangan bicara, dasar bajingan gila! Aku sedang berpikir.
Aku mengingat-ingat adegan di dalam novel ketika Serethy bertemu dengan raja muda itu di kamar bajingan gila.
Saat itu, dialog apa saja, ya?
"Kau tampak menyedihkan," kata bajingan gila di dalam novel.
"Di mana ayah dan kakakku?!" tanya Serethy dengan ekspresi ganas.
Bajingan gila hanya mendengus geli. "Kenapa mengkhawatirkan anggota keluargamu ketika kau sendiri sedang dalam bahaya sekarang?"
Tubuh Serethy bergetar hebat oleh amarah yang tampak jelas di wajahnya. "Mereka satu-satunya keluargaku! Kau membuatku kehilangan mereka!"
Sorot bajingan gila berubah. "Keluarga? Menyedihkan. Kau masih berpikir mereka adalah keluargamu ketika mereka melarikan diri sementara kau menjadi tawanan?"
"Aku tidak menyedihkan!"
"Kau, apa kau menyayangi keluargamu?"
"Pertanyaan yang sangat bodoh!"
"Jadi, begitu. Kau menyayangi mereka? Apa jika aku menjadi keluargamu, kau akan menyayangiku juga?"
Ah, begitu!
Hahaha! Aku ingat.
Hal yang membuat bajingan gila itu terobsesi pada Serethy adalah karena satu kata ini, yaitu keluarga.
Bajingan gila itu menjadi bajingan menyedihkan karena dia tidak memiliki keluarga yang menyayanginya.
Dasar menyedihkan.
Dia cuma ingin disayangi? Lalu kenapa tidak dengan jalan normal?! Kenapa harus menyiksa Serethy, dasar bajingan gila!
Jika jalan ceritanya adalah bajingan gila itu bisa menyayangi Serethy sepenuh hati, aku juga akan menerima kasih sayang itu cuma-cuma.
__ADS_1
Ditambah, bisa jadi aku tidak perlu tinggal di jeruji besi, kan?
Intinya, alasan yang membuat bajingan gila menyiksa Serethy adalah karena dia tidak pernah mendapat kasih sayang. Kata 'keluarga' seolah menjadi trigger dan membuat jalan cerita mengalir.
Dia cemburu karena Serethy mendapatkan kasih sayang keluarga. Hal ini lah yang membuat bajingan gila juga menginginkannya, dari Serethy. Namun, Serethy tidak memberikan kasih sayang keluarga itu dan membuat bajingan gila terpancing emosi hingga mulai menyiksa Serethy.
Yah, aku akan menghindari bendera kematian, jadi aku akan menghindari kata setan itu di hadapan bajingan gila.
"Semua orang akan berlutut bahkan jika aku bicara," kata bajingan gila. "Mereka akan bergetar ketakutan atau menjilatku. Dan kau ... tawanan yang tidak sopan."
Tunggu. Aku mendapat ide. Apa aku perlu membuatnya menyayangiku hingga aku perlu menghindari siksaan?
Itu rencana yang bagus. Ditambah, jujur saja pria ini sangat tampan.
Ahem. Maksudku, aku bisa menghindari siksaan jika menyayangi dia sebagai keluarga, kan?
Masalahnya adalah harga diri mantan Tuan Putri.
Mantan Tuan Putri ini memiliki harga diri yang tinggi (maksudnya aku) setelah memikirkan sebuah klausal.
Penyebab aku menjadi tawanan adalah bajingan gila ini menangkapku ketika aku dan keluargaku dalam pelarian. Hal ini berakibat padaku dengan mendapatkan siksaan, seharusnya, tapi aku akan menghindarinya.
Jadi, apa yang harus kulakukan?
Menyayangi bajingan gila dan menjadi keluarganya, atau memberikan penolakan dan mendpat siksaan?
"Kau tidak bergetar ketika melihatku, tidak juga takut."
Dia tertawa. Apa bajingan ini benar-benar sudah gila sekarang?
"Kau sangat aneh. Harusnya kau takut. Harusnya kau takut karena menjadi tawanan perang sudah menjadi alasan yang cocok bagimu untuk bergetar ketakutan."
"Dan berlarian di atas telapak tangan Anda?" Aku mendengus. "Tidak, terima kasih."
"Ha!" Dia lalu tertawa terbahak-bahak. Lagi-lagi melupakan etiket dan martabat raja. "Dasar wanita aneh. Kau tidak takut?"
"Kenapa saya harus takut?"
Bajingan gila menyeringai. "Apa yang kau ketahui tentangku?"
"Matria adalah tempat tinggalmu."
"Benar. Itu adalah rumah saya."
"Dan kau tidak memiliki rumahmu sekarang, dasar wanita aneh."
Aku tidak menjawab. Rasanya, semakin aku menjawab, aku semakin dekat dengan bendera kematian.
Tidak, berhenti bicara dasar mulutku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku asal bicara.
Bisa saja dia menarik pedangnya dan memenggalku langsung sekarang? Atau menyiksaku pelan-pelan seperti di dalam novel.
"Jadi, kau berani padaku?"
Berani, katanya? Aku sangat takut padanya sekarang! Memikirkan bagaimana dia menyiksa Serethy kebanyakan dengan pisau buah atau gunting membuatku merinding.
"Kau bisa menganggap Asher sebagai rumahmu jika kau mau."
Apa yang bajingan gila ini bicarakan?
"Asher tidak keberatan dengan menambahkan satu penduduk."
Hah? Apa, sih?
"Bicaralah, kau bisu?"
"Dengan segala hormat, saya menolak."
Pria itu tertawa. "Kenapa?"
"Saya pikir Anda cukup cerdas dengan memikirkan alasannya. Saya adalah tawanan perang, tidak sepantasnya saya mendapatkan perhatian Anda yang mulia ini."
Alias, buat apa memperhatikanku? Lebih baik jauhi aku dan biarkan aku hidup dengan damai.
__ADS_1
"Kau cukup menarik perhatianku." Pria itu akhirnya berdiri dari sofa, lalu menghampiriku. "Kau tidak memiliki ekspresi apa pun di wajah cantik ini."
Tangannya yang kasar dan kapalan mengelus pipiku.
Aku merinding. Hei, bajingan gila! Lepaskan tanganmu yang menakutkan itu!
"Kau nyaris ... kosong," katanya. "Mata ini." Dia mengelus sudut mataku. "Mata violet permata yang merupakan ciri khas keluarga kerajaan Matria, tajam sekali, tapi kosong di saat yang bersamaan."
Hei, tujuan pria ini apa, sih?
Tangannya lalu turun dan mengelus bibirku yang pucat.
"Kau mendapat perlakuan yang buruk? Bahkan jika bibirmu mengering seperti ini, kau tetap sangat cantik."
Aku benar-benar merinding sekarang. Ibu, tolong selamatkan aku!
Aku benar-benar tidak tahu apa pun mengenai dewa yang berkuasa di dunia ini, tapi tolong selamatkan aku dari apa pun yang pria gila ini lakukan padaku!
"Sayang sekali, anting tidak menghiasi telingamu." Dia kini mengelus telingaku yang bertindik tapi kosong.
"Tolong hentikan," kataku dengan dingin.
Bajingan gila itu tertawa. "Benar, benar. Aku harus berhenti sekarang karena tubuhmu tidak bereaksi pada sentuhanku."
"Ya?" Memang dia berharap apa, sialan?
"Biasanya, wanita yang kusentuh akan sangat salah tingkah dan hal itu menjijikkan. Tapi, kau berbeda. Kau tidak bereaksi pada sentuhanku. Kau benar-benar tidak takut padaku, padahal nyawamu ada di dalam genggamanku."
Aku menatapnya makin tajam. "Apa tujuan Anda?"
Dia lalu mendekatiku dan berbisik tepat di telingaku. "Aku mengharapkanmu untuk takut. Ketakutan manusia membuatku senang."
Wah, dia benar-benar bajingan yang gila. Gelarku tidak salah.
"Dan kau tidak takut? Tidak bergetar? Tidak menimbulkan reaksi apa pun? Kau seperti kertas putih yang kosong. Kau sangat menarik. Baiklah, aku sudah memutuskan."
Memutuskan apa?!
"Jadi selirku."
Hah?
Apa yang bajingan gila ini katakan? Aku berniat menjauhinya, meski sebelumnya aku berniat untuk menyayanginya sebagai keluarga, tapi tetap saja! Menjadi selir? Gila!
"Dengan segala kehormatan, saya menolak tawaran Anda," kataku.
Siapa yang mau jadi selir bajingan gila? Kau mau menyiksaku, ya? Menyiksa mental dan fisikku?
Bajingan gila itu tertawa. "Sudah kuduga. Kau pasti menolak. Kau memang menarik. Ya sudah, lah, sana pergi."
Sungguh, apa yang diinginkan bajingan gila itu, sih?
Tapi, syukurlah, aku tidak disiksa sekarang. Pertemuan ini seharusnya pertemuan yang membuat bajingan gila langsung menyiksa Serethy. Tidak seperti di dalam novel, Serethy tidak mendapatkan lamaran seperti barusan, melainkan siksaan berupa mengiris kulit Serethy dengan pisau buah.
Meski Serethy berteriak untuk berhenti dan mencoba melepaskan diri, bajingan gila tetap melanjutkannya dengan senyum psikopat di bibirnya.
Aku membungkuk singkat lalu berbalik untuk meninggalkan kamar bajingan gila.
Aku benar-benar ingin pergi karena dia melatih kesabaran dan mentalku secara bersamaan.
"Tunggu."
Apa yang dia mau? Aku meringis memikirkan bayangan-bayangan menyeramkan yang terlintas di benakku.
Aku berbalik.
"Kau tahu namaku, tidak?" tanya bajingan gila dengan senyum miring. "Kau mendapat kehormatan karena raja memperkenalkan dirinya sendiri padamu yang bukan siapa-siapa. Namaku Viten Darren Asher, raja Kerajaan Asher."
"Senang (tidak) bertemu dengan Anda." Aku tersenyum. "Saya Serethy Matria, mantan Tuan Putri."
Pria itu tersentak lalu tertawa.
Aku meninggalkan ruangan di mana bajingan gila sedang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
...***...
Apa kamu terganggu dengan panggilan bajingan gila secara terus-menerus? Well, aku udah memeringati kamu dengan warn! harsh words di deskripsi novel, tapi selanjutnya aku akan meminimalisir penggunaan kalimat ini.