I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
43. Insomnia


__ADS_3

Sesi konsultasi dan penyembuhan dengan kekuatan suci selalu berakhir pukul lima sore. Itu final setelah Viten memerintahkanku untuk tidak terlalu banyak menggunakan kekuatan suci. Katakan saja dia paranoid, katanya dia takut aku akan sekarat kalau terlalu banyak menggunakan kekuatan suci.


Mana mungkin aku sekarat karena menyembuhkan orang, kan? Dia berlebihan sekali.


Untuk masalah Cioten, aku sudah mempelajari beberapa jurnal yang diberikan oleh Arcelio. Namun, tentu saja membutuhkan banyak proses untuk mempelajari puluhan jurnal sebagai referensi penyembuhan kutukan. Sehingga apa yang kulakukan setiap hari adalah melalui sorot penuh kedinginan, misteri, dan perasaan takut untuk menenangkan kutukan yang membludak di tubuhnya.


Kemudian masalah Etrill dan Kallistar, aku sudah menyerahkan surat permintaan pada Viten untuk meringankan hukuman mereka sehingga keduanya kini sudah keluar dari penjara bawah tanah setelah menerima masing-masing seratus kali cambukan. Dan syukurlah sekarang keduanya sedang memulihkan diri dari hukuman cambuk. Artinya, aku tidak usah berurusan dengan mereka saat ini. Aku juga masih kesal karena mereka benar-benar tiba di waktu yang tidak tepat.


Kemudian, aku juga sudah lama tidak melihat Axel. Anak itu seolah menghilangkan jejaknya setelah aku menghukum Clare dengan mengirimnya ke alam baka. Namun, satu surat dari Krone mampu menenangkan kekhawatiranku. Itu adalah undangan pesta ulang tahun Tuan Muda Krone di usianya yang kedua puluh.


Aku jadi ingat bagaimana pertama kali kami bertemu dan mendengarkan rumor mengenai Axel. Saat itu usianya sembilan belas, sama seperti Serethy, tetapi dia malah mendahuluiku dan akan berusia dua puluh dalam beberapa hari lagi.


Kini, tuan muda pembuat onar bahkan memiliki pengaruhnya sendiri sebagai Marquis masa depan karena tidak lagi berbuat onar. Aku bangga padanya.


Aku baru mau membalas surat Axel ketika kamarku dibuka secara paksa pada pukul delapan malam. Aku mencoba maklum atas perbuatan bajingan tidak tahu malu itu.


"Ada apa, Yang Mulia? Mengapa kamu datang secara tiba-"


Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku karena Viten langsung menyerbuku dan memelukku dengan erat.


Aku hampir kesulitan bernapas jika Viten tidak mengendurkan pelukannya.


Namun, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah Viten memelukku dengan tubuh bergetar, merupakan pengalaman baru bagiku yang terus melihat Viten dalam kondisi yang teguh.


Viten selalu kelihatan tangguh dan psikopat di mataku, tetapi rupanya baik adik dan kakak sama-sama menyimpan sisi rapuh di sudut hati terdalam. Enggan menguliknya, seolah memamerkan sepotong luka merupakan sebuah tabu.


Aku mengelus punggungnya secara perlahan. Pada akhirnya, aku membiarkan Viten menangis di bahuku dengan tubuhnya yang bergetar hebat.


"Tidak apa-apa, Yang Mulia."


Aku tidak menyuruh pria besar ini berhenti menangis karena menangis adalah hal yang manusiawi. Menangis adalah salah satu cara untuk memanusiakan manusia, satu-satunya cara mengekspresikan luka mendera yang tak tahu pelipur laranya, satu-satunya cara untuk lari dari lingkaran derita tanpa sudut. Itu hal yang normal. Tidak masalah apabila yang menangis merupakan dewasa atau balita, keduanya sama-sama seorang manusia, rapuh, perlu pelukan.


"Takut."


Kini, dia merengek padaku selayaknya seorang bayi.


Aku mengukir senyum. Ketika dia seperti ini, Viten tidak seperti seorang psikopat yang menyiksa Serethy di dalam novel, melainkan pria rapuh yang memerlukan pelukan untuk menenangkannya.


"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Aku ada di sini, tidak perlu takut lagi."


Viten akhirnya menarik diri dariku. Dan betapa kacaunya wajah tampan itu saat ini. Viten memiliki kantung mata tebal yang hitam, seolah dia tidak pernah bisa terlelap. Kemudian air mata menetes melewati pipi dan rahang yang tegas. Lalu, rambut hitamnya kini mencuat ke mana-mana. Wah, mau dilihat dari sisi mana pun, Viten super kacau.


Aku mengulurkan jemariku, membenarkan beberapa rambut yang mencuat dari kepalanya.


"Apakah Yang Mulia berkenan untuk menceritakannya padaku?" tanyaku dengan lembut, senyuman di bibir untuk menenangkan, kemudian sorot hangat yang menunjukkan bahwa aku tidak akan menilainya dengan setengah hati selayaknya kebanyakan orang yang mengelilingi seorang Raja.


Viten perlahan mengangguk. Dia tidak beranjak dari tempatnya, tetapi malah meletakkan kepalanya di pahaku.


Aku mengembuskan napasku perlahan, lalu membelai rambutnya yang hitam. Secara mengejutkan, helaian rambut itu terasa begitu lembut, nyaris seperti sutra. Sehingga malah memberikan kenyamanan tersendiri bagiku untuk membelainya.


"Jadi, Yang Mulia. Apakah kamu mau bicara sekarang? Aku akan menunggu hingga kamu siap untuk bicara."


Aku merasakan gelengan kepala Viten di pahaku.


"Aku tidak bisa tidur selama dua minggu terakhir," timpal Viten dengan suara pelan, nyaris seolah ia berbisik pada angin.


"Apa kamu sudah mengeceknya ke dokter?"


"Ya, katanya aku insomnia."


Oh? Aku juga menderita hal yang sama sebelum aku menjadi Serethy. Itulah gunanya obat tidur yang selalu berada di nakas mejaku. Jadi, aku kurang lebih bisa mengerti kondisi dan situasi Viten. Kondisi di mana aku tidak bisa tidur setiap malamnya, tetapi tubuhku menjerit dan menyuruhku untuk terlelap. Itu menyiksa, sungguh.


Jemariku tak berhenti untuk membelai helaian rambutnya, seolah-olah belain tersebut bisa saja membuat Viten bisa merasa sedikit tenang.


"Sepertinya, Yang Mulia terganggu oleh sesuatu? Apa aku benar?"


"Benar."


"Apa kamu berkenan untuk membicarakannya padaku?"

__ADS_1


"Itu terjadi dua minggu yang lalu." Viten menarik napasnya. "Aku bermimpi."


Jeda.


"Itu mimpi yang menyeramkan." Remasan tangannya di gaun tidurku menguat, tetapi tak berniat untuk menyakiti. "Sangat menyeramkan sampai aku takut untuk terlelap. Aku ketakutan setengah mati. Aku takut jika aku tidur, maka apa yang kulalui hanyalah neraka itu lagi.


"Itu mimpi, tetapi terasa sangat nyata. Di mimpi itu, ada aku yang lain, lalu ada kau yang lain. Viten di mimpiku, menyiksa Serethy di mimpiku. Mimpi yang sama terulang puluhan kali hingga aku muak. Aku muak dengan darah Serethy, aku muak dengan percakapan sampah di mimpi, aku muak dengan segala siksaan yang Viten berikan pada Serethy, aku muak mendengar Serethy menjerit kesakitan."


Aku menegang. Itu ... adegan di dalam novel? Mau bagaimanapun, Viten di hadapanku tidak pernah menyiksaku barang sekali-mengecualikan siksaan secara mental. Sehingga, hal yang tersisa di benakku kala mendengar bahwa Viten di mimpi menyiksa Serethy adalah cuplikan adegan di novel asli.


Namun, mengapa tiba-tiba sekali? Mengapa Viten tiba-tiba memimpikan adegan di novel yang tak seharusnya terjadi? Apakah takdir Serethy yang sesungguhnya adalah harus dianiaya layaknya kalimat di lembaran novel?


"Meski aku bisa merasakan apa yang kulakukan di mimpi," sambung Viten dengan suara tercekat. "Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Seakan ada sesuatu yang mengoyakku, menjebakku, menahanku agar aku tidak mengacaukan jalan mimpi. Seolah ingin aku tersiksa dengan suara kesakitanmu yang memohon agar aku berhenti."


Tanpa kusadari, tubuhku ikut bergetar. Jemariku yang membelai rambutnya terhenti seperempat jalan.


Brengsek. Aku ketakutan.


Tidak, tenang, Serethy. Mana mungkin takdir yang sudah susah payah kurubah tidak bisa diterima oleh guratan yang kuasa. Tidak mungkin.


Bukankah tidak akan adil apabila Serethy memang ditakdirkan hanya untuk dianiaya dan mati? Itu takdir yang buruk sehingga aku tentu saja ingin mengubahnya. Lantas, untuk tujuan apa mimpi tersebut datang dan menghantui Viten? Seolah-olah aku tak pantas untuk menjalani kehidupan yang damai.


"Yang Mulia," panggilku, mati-matian menahan getaran dalam vokalku yang halus. "Tidak apa-apa."


Ya, tidak apa-apa. Itu cuma mimpi. Bukannya sebuah pertanda bahwa takdir benar-benar menentang segala yang kuperbuat. Tidak apa-apa.


"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Ada aku. Aku di sini, sehat dan bahagia. Dan itu semua karenamu. Mimpi hanya sekadar mimpi. Mereka tak bisa ikut campur dalam kehidupan nyata, maka dari itu, tenangkan pikiranmu."


Viten pasti merasa tersiksa selama dua minggu terakhir. Dia memimpikan hal-hal yang tidak dia perbuat, kemudian di saat yang sama pula ibu yang dikasihinya meninggalkannya, pun Cioten yang belum baik-baik saja dari kutukannya. Mental Viten pasti terguncang hebat.


Namun, aku salut padanya. Dia benar-benar bisa berjuang untuk tetap hidup walau digempur derita tak terbendung. Dia tetap hidup tanpa mengeluhkan segalanya, walau di dasar hatinya meneriakkan siksaan yang menyesakkan. Pria ini benar-benar menakjubkan.


Aku kembali membelai helaian rambutnya.


"Yang Mulia pasti kesulitan tidur selama ini. Yang Mulia juga pasti merasa sangat tersiksa. Namun, Yang Mulia telah berjuang dengan sangat hebat. Yang Mulia telah bertahan dan itu sudah sangat menakjubkan." Aku mengulas senyum di bibirku walau Viten yang masih membaringkan kepalanya di pahaku tidak dapat melihatnya. "Yang Mulia pasti lelah. Silakan beristirahat."


"Dewi Matahari, berikan ketenangan di jiwa pada putramu yang malang," gumamku sambil menutup mataku. "Lantas, terima jiwaku di relung agungmu."


...***...


Kala aku membuka mataku, aku berada di tempat yang sudah lama sekali tidak kupijaki.


Nebula, tempat tinggal para dewa dan dewi. Lebih tepatnya di Kastil Matahari, tepat tinggal Angelina.


Aku mengucapkan permintaan pada Angelina untuk mengunjungi tempatnya barusan.


"Serethy."


Aku bersitatap dengan manik emas Angelina. Gaunnya yang berwarna putih masih terlihat elegan, hiasan selayaknya mahkota di kepalanya masih menunjukkan martabat dewi, serta bagaimana cara Angelina tersenyum membuat hati terasa tentram.


"Duduklah." Angelina mempersilakan aku untuk duduk di sofa di hadapannya.


Aku menurut dan duduk di hadapannya, hanya dibatasi oleh meja bundar yang mungil. Di atas meja, disediakan dua buah cangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis.


"Aku tahu tujuan kedatanganmu," ujar Angelina sambil mengangkat cangkir teh, kemudian menyesapnya perlahan.


"Ya, Dewi. Saya datang perihal mimpi Yang Mulia."


Angelina mengulas senyum tipis di bibirnya kala kami lagi-lagi bertukar pandang. "Kamu wanita yang baik, wanita yang tepat untuk dinikahi Viten."


Aku tersenyum kaku. Mengapa dia membawa-bawa soal menikah di hadapanku?


"Viten memimpikan masa lalu," sambung Angelina.


"Masa lalu, Dewi?"


Masa lalu? Bukankah mimpi itu adalah adegan di dalam novel? Tidak, apakah Angelina bahkan tahu bahwa dunia ini tercipta dari lembaran novel?


Angelina menganggukkan kepalanya. "Serethy, ini adalah rahasia besar, tetapi aku akan mengutarakannya sebagian. Sejujurnya, waktu telah terulang ketika kamu menjadi Serethy."

__ADS_1


"Ya?"


Apa ini? Ini informasi yang benar-benar baru bagiku. Aku sama sekali tidak tahu apa maksudnya, tetapi berusaha untuk mendengarkan.


"Sebenarnya, Serethy yang asli telah melalui kehidupannya di Kerajaan Asher sebagai tawanan perang dan budak siksaan Viten serta Clare sebelum kamu tiba. Pada saat Serethy mati, waktu terulang dan akhirnya kamu menempati tubuh Serethy. Kemudian, kamu mampu merubah takdir malang Serethy."


"Jadi, Dewi, sebenarnya Serethy yang asli pernah tinggal di tubuh ini dan mendapatkan siksaan dari Yang Mulia?"


Angelina menganggukkan kepalanya. "Itu benar. Hanya saja, ketika waktu terulang, tentu saja memori semua orang akan dihapus. Namun, kasus spesial bagi Viten yang mendapatkan kembali memorinya lewat mimpi."


Aku menggigit bibir.


Jadi seperti itu. Alasan mengapa Viten tidak bisa mengendalikan tubuhnya kala dia menyiksa Serethy, kala dia tergabung dalam percakapan yang dianggap sampah, kala dia mendengar Serethy menjerit. Semuanya adalah masa lalu Viten. Hal-hal yang telah dilalui Viten sebelum waktu terulang. Dan semua itu tidak bisa diubah.


"Siapa yang memutar waktu? Apakah Serethy yang melakukannya?"


Angelina tampak ragu untuk menjawab, "Aku tidak bisa bilang. Namun, kekuatan para dewa dan dewi yang membuat waktu terulang, Serethy."


Aku mengembuskan napas. Setidaknya dengan melihat keraguan Angelina ketika menjawab, aku bisa tahu bahwa itu Serethy yang asli yang telah memutar waktu.


Namun, setelah waktu terulang, seharusnya dia bisa memulai kembali dan menulis takdir yang baru. Lantas, mengapa dia malah menyerahkan tubuhnya padaku?


"Ah, ya, Dewi. Jika Yang Mulia mendapatkan memorinya kembali, mengapa yang lain tidak?"


Memori yang dimiliki Sir Derick dan Axel tentu saja berpengaruh banyak di dalam cerita aslinya, sehingga aku cukup keheranan mengapa mereka tidak kedapatan mengingat memori masa lalu mereka. Namun apa sebenarnya semua ini masih bisa dikatakan sebagai sekadar novel lagi? Alur jelas-jelas telah melenceng jauh sehingga aku tidak menggunakan alur di dalam novel sebagai patokan sama sekali.


Angelina mengukir senyum menenangkan di bibirnya. "Bukankah sudah kukatakan? Kasus Viten cukup spesial. Namun, aku punya beberapa dugaan mengapa Viten mendapatkan memorinya kembali, Serethy."


"Saya mohon, katakan pada saya, Dewi."


"Apakah kamu tahu situasi di Nebula saat ini?" Angelina menaikkan sebelah alisnya yang sewarna kemilau emas. "Kami sedang membuat strategi untuk melawan Dewa Kematian."


Dewa Kematian lagi.


"Sejujurnya, aku sudah menyegel Dewa Kematian ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi, seseorang membuka segel Dewa Kematian. Itu Calmaria, membuat segel melemah. Lantas, setelah Calmaria, banyak orang yang berupaya untuk membuka segel dengan mengirimkan persembahan berupa kematian kepada Dewa Kematian. Perang, penyiksaan, aniaya, pembunuhan. Semuanya dipersembahkan kepada Dewa Kematian. Oleh karena itu, Nebula sibuk. Kami berupaya untuk mencari cara agar segel Dewa Kematian kembali pulih.


"Sebab, rencana Dewa Kematian yang sebenarnya adalah dengan mengirim duka di bumi, menjadikan bumi sebagai tanah kematian yang tidak akan dijejaki siapa pun, membuat mereka tunduk pada kuasa kematian. Oleh karena itu, setelah mendapatkan beberapa persembahan, kekuatan Dewa Kematian akhirnya sedikit demi sedikit kembali. Nebula tentu tidak akan tinggal diam. Dengan membiarkan Dewa Kematian menjalankan rencananya, maka para dewa dan dewi kalah. Itu merupakan hal yang memalukan bagi kami.


"Dan bayangankan apabila kekuatan kematian diberikan pada Keluarga Kerajaan, Serethy. Pertama, mengutuk Cioten. Kedua, menyiksa Viten."


Aku mengepalkan kedua tanganku. Bajingan. Baru kali ini aku mendengar ada dewa yang brengsek.


"Apabila Dewa Kematian berhasil menguasai kuasa inti dari suatu kerajaan, maka Dewa Kematian sudah bisa dikatakan sebagai pemenang," lanjut Angelina. "Namun, Serethy, tenang saja. Kami akan mengusahakan perihal masalah dewa. Kamu hanya perlu memikirkan perihal Ratu dan bagaimana kamu harus terus berada di samping Viten untuk menenangkannya, dia pasti cukup tersiksa."


"Jadi, saya tidak perlu khawatir dengan keadaan di Nebula?" tanyaku, memastikan.


Angelina menganggukkan kepalanya sebagai balasan. "Ya, Serethy Sayang. Urusan di Nebula biar para dewa dan dewi yang mengurusnya. Kamu hanya perlu melakukan peran penting sebagai saintess dan calon Ratu. Serta, bukankah masalahmu bertambah juga, Serethy? Kehadiran Etrill dan Kallistar."


Aku mengembuskan napasku dengan kesal. "Anda benar, Dewi. Etrill dan Kallistar, saya tidak tahu apa tujuan mereka yang sebenarnya."


"Kamu harus hati-hati. Keduanya bukan lawan yang mudah, terlebih mereka adalah orang yang mengabaikan Serethy di istana karena mengira bahwa Serethy adalah anak haram."


Aku mengangguk. "Baiklah, Dewi. Terima kasih atas pencerahan dan jawabannya."


"Ya, Serethy Sayang. Kembalilah menuju tempatmu bersama Viten. Dia membutuhkanmu."


Angelina melambaikan tangannya. Sekilas, cahaya emas memenuhi visiku dan ketika aku membuka mata, aku berada di kamarku lagi.


Viten masih terbaring dengan pahaku sebagai bantalannya. Perlahan, aku membelai rambut lembutnya.


"Sedikit lagi," gumamku. Sedikit lagi proses untukku menjadi Ratu, lantas semuanya akan berjalan dengan baik.


...***...


Apa bener begitu? HAHAHAH.


Ini adegan yang udah aku harapkan bakalan kejadian bahkan ketika aku nulis chapter satu, yaitu Viten yang naro kepalanya di paha Serethy! Aaaaaak! Nggak nyangka bakalan bisa melewati adegan ini yang rupanya cukup memakan waktu yang lama.


18 Desember 2022

__ADS_1


__ADS_2