I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
15. Rexanne


__ADS_3

Kereta kuda dengan lambang Kerajaan Asher berhenti di hadapan sebuah kuil terbesar di Ibu Kota Celion.


Tak lama kemudian, pintu kereta yang terlihat megah itu dibuka oleh seorang kusir dengan etiket yang baik.


Setelah pintu itu terbuka, turunlah anggota keluarga kerajaan dengan urutan pertama adalah Viten, kedua adalah Cioten, dan terakhir adalah aku.


Semua orang yang mengunjungi Kuil Dewa Matahari otomatis menepi dan membiarkan kami berjalan di tengah-tengah mereka.


Aku lalu langsung bisa mendengarkan bisik-bisik yang jelas dari pengunjung kuil.


"Apa beliau adalah Tuan Putri? Aku baru pertama kalinya melihat wajah Tuan Putri."


"Tuan Putri rupanya sangat cantik."


"Lebih tepatnya, Tuan Putri seperti malaikat dari surga yang turun ke bumi."


"Tuan Putri katanya tidak tertarik pada tahta, ya?"


"Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Pangeran sudah menyumpah Tuan Putri sebagai adik mereka."


"Apakah hari ini adalah hari untuk Upacara Pemberian Nama Tengah bagi Tuan Putri?"


"Aku tidak tahu kalau Tuan Putri akan melakukan upacara itu hari ini. Tidak, lebih tepatnya, tidak ada yang mengetahui hal itu."


Aku hanya menarik kedua sudut bibirku agar membentuk senyuman yang lembut dan ramah di setiap mata para rakyat Asher. Ini adalah salah satu caraku untuk menarik hati para rakyat. Setidaknya, terlihat ramah meskipun aku tidak menginginkannya adalah hal yang perlu kulakukan untuk menarik hati rakyat Asher yang masih belum seratus persen memberikan kepercayaan mereka padaku.


Rumor juga telah menyebar dengan sempurna.


Tujuan kami untuk datang ke Kuil Dewa Matahari tanpa pemberitahuan lebih dulu ke rakyat Asher adalah kesengajaan. Itu karena kami berencana untuk membuat rakyat makin menyebarkan rumor demi rumor yang mereka ketahui.


Dari apa yang aku pelajari, orang-orang justru akan berbisik-bisik mengenai rumor yang mereka tahu ketika orang yang dirumorkan ada di hadapan mereka.


Berbeda ketika kami mengumumkan pemberitahuan untuk upacaraku, maka Kuil Dewa Matahari otomatis akan dikosongkan sebagai tempat pribadi hingga kami masuk ke ruang upacara khusus. Hal itu akan membuat rencana penyebaran rumor menjadi gagal total dan bisa saja rumor yang tersebar tidak bisa kami kontrol atau prediksi. Lebih buruknya, rumor itu malah akan berbalik menyerangku.


Semakin langkah kami mendekati pintu kuil, semakin jelas pula bisik-bisik dari rakyat Asher yang terdengar di indra pendengaranku.


Mata-mata penuh penghakiman itu menatapku dengan nyalang dan menelisik. Benar-benar mengganggu. Apa mereka sebegitu hausnya soal penilaian dan kekuasaan hingga menatapku sebegitu rupa?


Sementara itu, aku melihat ke arah Viten yang berjalan dengan senyuman politik yang tegas. Sedangkan Cioten tersenyum humoris sambil melambaikan tangannya pada seluruh rakyatnya.


Benar-benar saudara yang sama. Mengenakan topeng di balik sifat psikopat mereka.

__ADS_1


"Bersinarlah Matahari Asher."


Seorang pendeta menundukkan kepalanya dalam pada kami setelah kami berdiri di luar pintu kuil. Pendeta itu lalu mengatakan bahwa dia akan memandu kami menuju ruang upacara.


Kami lalu melewati ruang doa yang luas dan megah. Setiap sudut tempat yang dapat digapai kedua mataku, ada banyak orang yang berdoa dengan khusyuk di sini. Tiang demi tiang raksasa pun berjejer rapi dan elegan. Tidak lupa, ada beberapa lampu gantung mewah yang menempel erat di plafon. Kuil yang didominasi warna putih dan emas ini menambah kesan keagungan yang nyata.


Setelah melewati ruang doa, kami lalu memasuki sebuah pintu di dalam ruang doa.


Pintu itu mengarah langsung ke lorong yang sepi dan luas. Saking luasnya, lima orang berorot dijajarkan berdampingan saja masih tetap menyisakan ruang.


Ditambah, karpet merah bersulam emas yang kami injak rupanya begitu lembut. Bahkan meskipun aku mengenakan sepatu hak tinggi, aku masih bisa merasakan kelembutan di kakiku ketika menginjak karpet sulaman ini.


Setelah melewati lorong panjang, yang bisa kusimpulkan sebagai lorong yang tidak bisa dilewati oleh sembarang orang, kami tiba di sebuah ruangan seluas sepuluh kali sepuluh sentimeter.


Di dalam ruangan itu, sudah berdiri seorang Pendeta Agung yang tersenyum di belakang sebuah kolam mungil bertahta. Ukurannya sepinggang orang dewasa, berbentuk bundar. Itu berwarna perak. Di dalamnya, terdapat air yang bersinar sembari mengeluarkan aura suci.


Ketika aku melihat ke sisi kiri dan kanan ruangan, banyak prajurit dan ksatria yang ditempatkan untuk menjaga kami. Penjagaan untuk keluarga kerajaan memang seketat ini, jadi aku perlu terbiasa dengan hal ini cepat atau lambat.


Tidak lupa, ada juga Sir Derick yang sudah lebih dulu mengambil tempat di samping pintu ukir elegan dan mengirimkan estetika yang kuat.


Sementara itu, Viten dan Cioten diarahkan pada sebuah podium dan duduk di atas kursi beludru yang mahal dengan dikawal oleh beberapa ksatria. Menjaga raja mereka untuk tetap aman dari marabahaya.


"Halo, Tuan Putri. Ini pertemuan pertama kami, bukan? Perkenalkan, nama saya adalah Troite Alinskie, Pendeta Agung di Kuil Dewa Matahari."


"Hohoho. Saya tahu itu, Tuan Putri. Dan tidak usah bersikap formal pada saya. Saya hanyalah Pendeta Agung, bukanlah Kardinal yang setara dengan Anda, Tuan Putri."


"Kalau begitu, aku akan melakukannya."


"Saya mengharapkan hal tersebut, Tuan Putri. Kalau begitu, bisakah kita memulai upacara yang suci ini?"


Aku mengangguk mantap, membuat Troite tersenyum lembut.


Dia lalu membaca atau merapalkan sesuatu seperti mantra dalam bahasa yang tidak aku ketahui dalam waktu yang cukup lama. Tangannya bergerak di udara dan seberkas cahaya menyala di ujung telunjuknya, lalu dia meletakkan cahaya itu di air suci. Cahaya emas mengambang di air suci, bercampur sejenak, lalu menetap seperti minyak di dalam air.


"Tuan Putri, tolong berikan darah Anda kepada Kolam Suci."


Seorang pendeta lalu menyerahkan jarum emas kepadaku di atas nampan perak. Aku menerima jarum itu dan menusukkannya ke ujung jari telunjukku. Terakhir, aku meneteskan beberapa tetes darah ke dalam Kolam Suci.


"Tuan Putri, tolong ulangi kalimat saya," ucap Troite.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Dewa Matahari yang Agung, tolong terima persembahan saya dan berikanlah saya berkat-Mu yang suci."


Aku mengulangi kalimat itu dan sring!


Cahaya emas di Kolam Suci semakin bersinar terang. Cahayanya bahkan memenuhi ruangan yang membuat visi menjadi buram. Membutakan pandangan sejenak.


"I-Ini ...!"


Aku bisa mendengar suara Troite yang nampak terkejut dan bergetar.


Sesaat kemudian, cahaya emas meredup lalu jaringan huruf kuno di dalam Kolam Suci kini terlihat jelas. Aku tidak bisa membaca huruf itu. Itu bukan bahasa Kerajaan Asher atau Matria yang bisa kupahami karena ini adalah tubuh Serethy yang menyimpan banyak ingatan. Artinya, itu adalah bahasa lain yang tidak pernah Serethy pelajari sebelumnya.


"Tidak mungkin!" teriak Troite tidak percaya.


"Pendeta Agung." Suara Viten menggema di dalam ruangan. Suara itu dingin dan telah mengantisipasi sesuatu yang buruk. "Katakan apa itu."


"B-Baik, Yang Mulia!" Tubuh Troite bergetar sejenak, matanya lalu melirikku dan mengalihkan pandangannya dengan cepat. Seolah dia tidak benar-benar berani untuk menatap kedua bola mataku. "Na-Nama tengah Tuan Putri adalah Rexanne. Kini, Anda adalah Serethy Rexanne Asher. Rexanne yang berarti ... ratu."


Seluruh orang di dalam ruangan langsung terkesiap. Bisik-bisik kemudian memenuhi udara di dalam ruangan. Sementara aku hanya bisa kebingungan.


Rexanne yang berarti ratu. Bukankah nama itu keren? Mungkin nama ini akan menjadi tren masyarakat di kemudian hari. Aku malah bisa membayangkan banyak anak-anak yang mendapatkan nama Rexanne karena nama ini sungguhan keren.


Hanya saja, pola pikir orang lain dan pola pikir aku bertolak belakang. Ini bisa dibuktikan dengan berisiknya para prajurit dan pendeta yang saling berbisik.


"Jangan biarkan nama ini tersebar sampai aku menyuruh kalian untuk menyebarkannya!" Viten berdiri dari kursinya dan berteriak pada seluruh orang di dalam ruangan.


Ruangan ini langsung hening begitu Viten angkat bicara.


"Jangan biarkan orang-orang tahu mengenai hal ini. Hanya kalian saja. Aku memberikan hak istimewa bagi kalian untuk tahu." Viten lalu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri, kode agar seluruh orang di dalam ruangan menutup mulut.


Viten lalu perlahan menghampiriku. "Kau ...."


Tapi dia tampaknya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.


Viten meringis pelan, lalu menghela napas frustrasi.


Aku melirik Cioten yang masih duduk di kursi beludru, wajahnya tampak mengatakan bahwa ini adalah drama yang seru. Jika di abad ini ada popcorn, mungkin saja Cioten sudah memintanya kepada pelayan untuk membawakannya.


"Serethy."


Aku menatap Viten. "Ya, Yang Mulia? Katakan itu."

__ADS_1


"Apa kau serius tidak ingin menikah denganku?"


Aku mengerjap dan menganga lebar. Melupakan martabat dan etiket sebagai Tuan Putri. Pokoknya, aku sangat kaget. Apa-apaan ini? Dia melamarku, lagi?!


__ADS_2