![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Ketika aku menginjakkan kaki di penjara bawah tanah, aku merasakan perasaan nostalgia. Perasaan ketika aku pernah bermalam di tempat ini benar-benar memberikan memori yang berkesan. Itu adalah hari pertama aku tiba di dunia novel, tentu saja hal itu akan sangat berkesan buatku.
Itu juga adalah hari pertama ketika kehidupanku berubah 180 derajat dari seorang budak perusahaan menjadi seorang tawanan perang. Aku mencoba mati-matian untuk menerima kenyataan bahwa aku akan tinggal di penjara bawah tanah selama masa hidupku ketika esoknya aku malah diangkat menjadi seorang Tuan Putri.
Menjadi Tuan Putri memberikanku privilege yang besar. Aku bersyukur pada Viten bahwa dia telah mengangkat status sosialku menjadi seorang Tuan Putri yang bermartabat.
Di luar sana, mungkin para bangsawan tengah berada di kereta kuda masing-masing untuk kembali ke kediaman mereka. Pesta telah berakhir ketika purnama mencapai puncaknya, dan akhirnya aku bisa memiliki kesempatan untuk datang kemari setelah menahan diri di lantai pesta.
Suara yang dihasilkan sepatu tinggiku bergema di dalam lorong penjara bawah tanah, lilin yang berpijar di setiap sudut penjara setidaknya dapat menambah kemampuan mataku untuk memperluas jarak pandang.
"Tuan Putri," panggil Sir Derick. Pria itu berjalan di belakangku.
"Aku tahu, Sir Derick." Aku tersenyum kecil. "Di tempat inilah kita bertemu untuk yang pertama kalinya, bukan?"
Aku mendengar tawa kecil lolos dari bibir Sir Derick.
"Itu benar, Tuan Putri. Saya memaksa Anda untuk mengisi perut Anda saat itu."
"Dan memaksaku untuk makan ketika aku tidak mau."
"Itu betul."
"Tapi aku penasaran, Sir Derick."
Kalimatku membuat Sir Derick akhirnya menatapku langsung di mataku.
"Apa yang membuat Anda penasaran?" tanya Sir Derick dengan tenang.
"Mengapa kamu peduli padaku saat itu? Aku hanyalah seorang tawanan perang yang rendahan dan kamu adalah komandan ksatria yang bermartabat. Mengapa kamu memedulikan aku yang rendahan itu?"
Apa yang kulihat dari manik cream itu hanyalah kelembutan dan bibirnya yang merona membentuk kurva secara alami.
"Jangan katakan bahwa Anda berlebihan. Dan apakah Anda akan percaya jika saya mengatakan bahwa Anda saat itu sangat mirip dengan seseorang yang saya kenal?"
Aku mengerjap. "Siapa?"
"Wanita yang saya cintai."
Untuk sesaat, senyuman di bibirku luruh dan aku mengalihkan pandanganku agar kita tidak saling menatap lagi. Jantungku berdetak dengan cepat dan aku mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin. Ini benar-benar aneh. Aku tidak tahu kenapa, tetapi dadaku rasanya cukup sesak. Rasanya sakit sekali, tetapi aku tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.
Aku ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai wanita yang dicintai Sir Derick, tetapi tanpa terasa, aku telah tiba di depan jeruji Clare.
Berdeham singkat, aku berusaha untuk mengusir pemikiran mengenai wanita beruntung yang dicintai Sir Derick. Fokusku kali ini adalah pada Clare.
Clare, yang duduk di sudut jeruji kecil berukuran dua kali dua meter terlihat kacau. Gaun pestanya yang mewah terlihat lusuh dan rambutnya berantakan mirip dengan surai singa.
Dan ketika kedua pasang mata bertemu, Clare memberikanku tatapan yang tajam. Apabila tatapan bisa membunuh, mungkin aku sudah tercincang habis. Akan tetapi, tatapan tidak bisa membunuh.
"Pelacur, perebut, bajingan," maki Clare dengan vokal yang dingin.
Sir Derick hampir mengeluarkan pedangnya jika aku tidak menahannya.
"Serahkan padaku, Sir Derick. Aku kesal karena wanita ini pernah merendahkan harga diriku dulu."
Aku menyebutkan soal kali pertama kami bertemu dan dia sudah membuatku babak belur, serta bagaimana dia menipuku dalam sebuah kompetisi gadungan hasil karangannya.
Sir Derick memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung dan berdiri di belakangku selayaknya ksatria penjaga pada umumnya.
Aku kembali memberikan atensi penuh pada Clare.
"Nona Clare," panggilku.
Clare akhirnya menegakkan tubuhnya dan menghampiriku, jemarinya menggenggam erat jeruji besi dengan amarah. Wajahnya terlihat begitu menyedihkan dan menyimpan beberapa perasaan pelik. Namun, amarah. Amarah mendominasi.
Aku tersenyum puas.
"Kamu seharusnya bersyukur karena Yang Mulia langsung memberikan hukuman mati tanpa menyiksamu terlebih dahulu. Bukankah hal itu termasuk salah satu kepedulian Yang Mulia terhadap mantan tunangannya?"
"Kau!" Clare mengeluarkan lengannya dari sela-sela jeruji dan hendak mencakar kulitku, tetapi aku dengan mudah melangkah mundur dan menghindari tangannya. "Kau merebut segalanya, dasar pelacur tidak tahu malu!"
"Merebut?" Aku mengangkat sebelah alisku dengan ekspresi heran. "Sebenarnya apa yang aku rebut darimu ketika seharusnya segala hal tersebut aslinya adalah milikku?"
Clare berteriak frustrasi, suaranya bergema di dalam penjara bawah tanah.
Aku tidak melihat Alverro di sini, mungkin pria itu tidak dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah, melainkan penjara biasa. Di mana penjara bawah tanah di Kerajaan Asher merupakan penjara bagi orang-orang yang telah melakukan perbuatan dosa yang besar.
"Kau tidak tahu betapa aku mencintai Yang Mulia!" teriak Clare lagi. "Aku sudah menjadi tunangannya bahkan ketika kami masih kecil! Aku menjadi teman belajarnya, mengajarinya aritmatika, menghabiskan waktu berdua di perpustakaan, dan aku memberikan seluruh waktuku hanya untuk Yang Mulia! Aku memberikan Yang Mulia segalanya! Segalanya! Lalu kenapa Yang Mulia memilih para pelacur sepertimu dan gadis lacur dari Krone itu!"
Aku mengernyit kecil. Clare pasti membicarakan mengenai Sorena Krone.
"Ada yang ingin kutanyakan, Nona Clare."
"Aku mencintai Yang Mulia dari kami kecil!"
"Syukurlah untukmu. Jadi, apakah kamu yang membunuh Nona Sorena Krone?" tanyaku.
Tawa yang terdengar sangat puas keluar dari bibir Clare. "Ya! Aku membunuh pelacur itu! Dia merebut hati Yang Mulia! Itu tidak bisa dimaafkan! Satu-satunya yang bisa memiliki hati Yang Mulia adalah aku, Clare Cyrill seorang saja.
"Sama halnya denganmu, Serethy Matria. Kau merebut Yang Mulia dan hatinya, kau membuat Yang Mulia membenciku, kau membuat Yang Mulia berpaling dariku. Mengapa ... Mengapa Yang Mulia menjadikanmu seorang Tuan Putri dan memasukkanmu ke dalam silsilah keluarga dengan sangat cepat dibandingkan aku? Dibandingkan tunangannya yang telah menantikan pernikahan selama bertahun-tahun?"
Aku tidak salah dengar ketika mendengar suara Clare mulai bergetar. Getaran dalam nada suaranya perlahan mulai berubah menjadi isakan yang menyedihkan, lalu dia menangis. Dia menangis dalam diam, tanpa suara, hanya air mata yang mengalir.
"Kau baru saja datang beberapa bulan yang lalu," lanjut Clare. Kedua bola matanya yang hitam menggelap dan akhirnya terlihat hampa. "Namun, mudah sekali bagimu untuk menjadi seorang ratu. Aku melakukan segalanya. Benar-benar segalanya untuk menjadi ratu, tapi aku tidak bisa mencapainya."
"Bahkan dengan cara yang curang?" dengusku.
"Ya, bahkan dengan cara yang curang. Seperti membayar pendeta miskin dan menyebarkan firman palsu itu. Seperti menggunakan kata kompetisi untuk memudahkanku dalam membunuhmu. Jika aku membunuhmu, maka hanya tersisa aku sebagai kandidat ratu, dan akulah yang akan langsung diangkat menjadi ratu."
Suara Clare kini benar-benar datar dan kosong ketika menjelaskan seluruh kesalahannya. Seolah dia telah putus asa atas segalanya. Seolah dia telah memasrahkan takdirnya atas segala hal buruk yang telah dia lakukan.
"Nona Clare, mengapa kamu begitu ingin menjadi seorang ratu?" tanyaku dengan simpatik.
Clare terobsesi untuk menjadi ratu. Aku bisa tahu itu adalah obsesi semata. Padahal aslinya, posisi untuk menjadi ratu tidaklah benar-benar keren untukku. Tidak bermaksud menghina seluruh ratu di dunia, tapi menjadi ratu itu tidak keren hanya untukku. Akan ada banyak pekerjaan yang menantimu sebagai seorang ratu dan jika kamu salah langkah, maka rakyat akan menurunkanmu dari tahta.
Menjadi ratu tidak mudah.
Jadi, apa yang sebenarnya diinginkan Clare? Kekuasaan yang paling absolut di dalam kerajaan untuk mengatur segalanya? Memberikan rakyat benang-benang marionette untuk mengendalikan langkah mereka? Atau hanya benar-benar karena Clare mencintai Viten?
"Bukankah menjadi ratu akhirnya mendapatkan kasih sayang?"
Jeda.
"Menjadi ratu adalah satu-satunya cara agar aku disayangi. Oleh Yang Mulia, oleh bangsawan, oleh rakyat, oleh semuanya, dan ayah."
Mata Clare yang hitam menatapku, tetesan air mata masih mengalir dari pelupuknya.
"Serethy Matria, begitu beruntungnya kau menjadi seorang ratu Asher. Kau hanyalah tawanan perang rendahan, tetapi karena Yang Mulia mencintaimu, kehidupan dan status sosialmu berubah secara drastis. Betapa beruntungnya kau, dicintai semua orang."
Kedua kaki Clare akhirnya tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri. Clare akhirnya jatuh terduduk dengan kepalanya yang mendongak, masih menatapku.
"Beruntung sekali. Beruntung sekali. Betapa aku membencimu, Serethy Matria. Aku mengharapkan kehidupanmu ke depannya semakin menderita."
"Terima kasih, tapi aku akan memastikan hal itu tidak akan terjadi." Aku menghela napas. "Kalau begitu, tolong tunggu hingga waktu untuk mengeksekusimu dilaksanakan. Selamat malam."
Suara sepatu yang beradu dengan lantai bata menggema di penjara bawah tanah ketika aku berjalan di lorongnya yang sunyi.
...***...
Aku baru mendudukkan diriku di atas sofa yang empuk ketika Jelena, pelayanku, mengatakan sesuatu yang membuatku kesal.
"Yang Mulia ingin menemui Anda, Tuan Putri," kata Jelena dengan hormat.
"Sekarang?" tanyaku retoris. "Maksudku, malam-malam begini? Ini sudah pukul sepuluh, bukankah waktunya untukku beristirahat?"
"Maafkan saya, Tuan Putri. Namun, rupanya Yang Mulia ingin membicarakan sesuatu dengan Anda."
Aku menghela napas, kembali bangkit dari sofa empuk yang aku gunakan untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah.
Untung saja aku belum mengganti gaun pestaku menjadi pakaian tidur, sehingga aku tidak perlu repot-repot lagi untuk mengganti pakaian. Karena jelas saja, menemui raja Kerajaan Asher itu sendiri tidak mungkin mengenakan pakaian tidur, bukan?
"Sir Derick, ayo—"
"Yang Mulia bilang agar Tuan Putri menemui beliau sendirian," potong Jelena.
Aku mengerutkan dahi. Tidak biasanya Viten ingin aku sendirian. Biasanya, dia akan marah kalau aku berkeliling sendirian.
Seharusnya juga, Sir Derick tidak boleh meninggalkan sisiku kecuali ada hal darurat ketika dia perlu menggunakan perannya sebagai komandan ksatria. Atau ketika dia harus tidur dan istirahat.
Dan seharusnya pula, aku ditemani Sir Derick untuk menemui Yang Mulia seperti biasanya.
Aku menghela napas. "Baiklah. Sir Derick, kamu bisa beristirahat sekarang," kataku pada Sir Derick.
Pria itu mengangguk dengan santun. "Baiklah, Tuan Putri. Hati-hati di jalan."
"Bukannya aku akan keluar dari istana ini."
Sir Derick hanya membalas dengan senyuman, tetapi ada yang aneh dengan senyumannya. Itu bukan senyuman lembut, tetapi sedikit sendu.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku mengabaikannya.
Aku keluar dari kamarku dan melewati beberapa lorong untuk tiba di kamar Viten. Terakhir kali aku datang ke kamarnya adalah ketika aku masih menjadi tawanan perang, selebihnya tidak pernah dan aku menghindarinya. Jadi, aku sedikit gugup dengan kemungkinan-kemungkinan tidak pasti mengenai mengapa Viten memanggilku.
Aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu terdengar suara Viten dari dalam yang menyuruhku untuk masuk.
Tidak ada yang menjaga pintu kamar Viten sehingga aku harus membukanya sendiri.
"Yang Mulia, kudengar kamu memanggilku."
Viten Darren Asher, duduk di sofa single yang berada di tengah kamarnya, dengan pakaian tidak sopan.
Aku bahkan sedikit tersentak ketika melihat pria itu hanya mengenakan celana dan kemeja pestanya yang belum diganti. Kemeja berwarna putih itu bahkan tidak dikancingkan, catat, sama sekali tidak dikancingkan sehingga memperlihatkan otot-otot perut dan dadanya.
Sial, aku bisa mimisan karena tubuhnya sangat bagus. Oke, lupakan itu!
Aku berusaha untuk tidak fokus pada otot-ototnya, tetapi pada wajahnya untuk mendapatkan jawaban yang kuinginkan mengenai mengapa dia memanggilku larut malam. Akan tetapi, melihat wajahnya juga bukan pilihan yang bagus.
Sejak kapan Viten terlihat sangat tampan? Tidak, dia memang tampan, tapi kali ini benar-benar lebih tampan dari biasanya.
__ADS_1
Wajah pria itu disinari oleh dua lilin yang berpijar di atas meja, sementara itu cahaya luna juga mengambil alih sebagian besar wajah Viten untuk mendapatkan sinarnya
"Duduklah, Serethy."
Aku menurut. Lalu duduk di sisi kiri sofa panjang.
"Aku tidak bisa bereaksi lebih banyak karena saat itu kita berdua ada di pesta dan ada di hadapan banyak orang. Sebagai Raja, aku perlu pandai-pandai menyembunyikan emosiku," ucap Viten, memulai pembicaraan untuk yang pertama kalinya.
"Bereaksi lebih, Yang Mulia?"
Viten hanya mengangguk, tetapi sesaat kemudian, dia menyeringai lebar.
"Itu adalah pernyataan yang berani, Serethy."
"Y-Ya?" Melihat seringaian bajingan gila itu membuatku gugup.
"Pernyataan bahwa kau menyatakan dirimu sendiri sebagai Ratu Asher."
Ah. Kuakui, itu memang pernyataan yang cukup berani. Namun, aku mengatakan pernyataan tersebut karena ini adalah permintaan Angelina. Angelina memintaku untuk menjadi Ratu dan itu adalah mutlak.
"Kamu tidak suka, Yang Mulia?" tanyaku, menggoda. Sedikit menggodanya mungkin tidak apa-apa.
"Bagaimana mungkin aku tidak suka? Apakah kau ingat bahwa aku telah melamarmu sebanyak dua kali?"
Aku tersentak pada pertanyaan Viten.
"Heh, kurasa kau ingat segalanya, bukan, Serethy? Tuan Putri yang manis ini pasti memiliki memori yang bagus, bukan?"
"Apa tujuan Yang Mulia memanggilku kemari di larut malam?" tanyaku, berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak ada alasan."
"Ya?"
"Aku hanya ingin bicara berdua dengan calon istriku."
Sial. Calon istri. Itu terdengar begitu menyeramkan bagiku yang telah mendapatkan rasionalitasnya kembali. Bahwa aku akan menikahi bajingan gila dan psikopat itu?
Oke, tenang, Serethy.
"Bukankah ini terlalu larut untuk berbincang?"
"Jika terlalu larut, kamu bisa tinggal."
"Tinggal? Apa maksudmu, Yang Mulia?"
"Bermalam di sini."
"Saya menolak."
"Dasar berhati dingin. Kau seharusnya membiarkan calon suamimu senang."
"Kamu adalah calon suamiku, bukan suamiku." Aku tersenyum dengan paksa.
Haduh, ini benar-benar melelahkan. Aku ingin segera kembali ke kamarku untuk istirahat. Apalagi pemandangan pria itu sama sekali tidak biasa, menggoda imanku sekali.
Viten menghela napasnya. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan kotak beludru dari saku celananya. Ketika tutup beludru dibuka, cincin dengan berlian megah berwarna ungu terpampang di sana.
"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Viten dengan santai. Seolah apa yang dia katakan adalah ajakan anak-anak untuk bermain rumah-rumahan.
Aku tersenyum kecil. "Kamu benar-benar tidak sopan, Yang Mulia. Melamar seorang lady dengan pakaian yang tidak pantas dan suasana yang sama sekali tidak romantis."
"Jadi, kamu menginginkan suasana yang romantis?"
"Tidak juga. Itu akan merepotkan." Aku kembali melirik cincin berlian itu. Cincin perak itu begitu cantik, dengan berlian ungu yang memantulkan cahaya rembulan di udara, membuatnya tampak lebih bersinar. "Dan ya, Yang Mulia, aku akan menikah denganmu."
Viten tersenyum puas. Dia mengulurkan tangannya dan aku langsung memberikan jemariku padanya secara alami.
Viten menyelipkan cincin berlian di jari manisku dan aku terlihat cocok dengan warna ungu yang kontras di kulitku yang putih.
Oke, ini keren.
Pernikahan. Oke, aku bisa melakukannya. Aku pasti bisa melakukannya.
Aku kemudian mengalihkan pandanganku kembali pada Viten.
"Apa hanya ini saja yang ingin kamu lakukan, Yang Mulia? Kalau begitu, aku akan pergi."
Aku menegakkan tubuhku, hampir meninggalkan pria itu jika saja tangannya yang besar tidak memegang pergelangan tanganku yang mungil. Lalu, hal yang membuatku syok adalah pria itu memaksaku duduk di sofa yang baru saja didudukinya. Kedua tangannya menekan bahuku di sandaran sofa, aku bisa merasakan tekanan yang berat dari pria itu.
Aku tersenyum kaku. "Yang Mulia?"
Aku bisa melihat senyuman Viten di bibirnya terlihat begitu menyeramkan. Dengan cahaya rembulan di balik jendela yang menyinari wajahnya, itu terlihat menawan, tetapi aku mendengar sirine yang keras berbunyi di kepalaku.
"Kenapa kau buru-buru? Apakah kau memiliki sesuatu untuk dilakukan?"
"Apakah kamu sungguhan menanyakan hal itu, Yang Mulia? Ini sudah larut, tentunya aku harus memiliki istirahat yang cukup. Sebagai seorang lady dan calon ratu, tentunya aku harus memiliki waktu istirahat yang cukup untuk memenuhi ekspetasi rakyat, bukan?"
Viten berdesis kecil. "Kau berisik," katanya sebelum mendekatkan wajah kami berdua.
Aku tidak bereaksi, lebih tepatnya tidak bisa. Mendapatkan ciuman seperti ini adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi dalam kehidupanku. Maka, aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membalasnya.
Ciuman itu berlangsung singkat dan ketika Viten akhirnya menarik diri, aku masih bisa merasakan perasaan menggelitik ketika bibirnya menyentuh bibirku.
"Merona hanya karena ciuman singkat?" ejek Viten dengan seringaian menyebalkan di bibirnya.
Di bibirnya yang kini terlihat begitu ... aneh? Mengapa aku merasakan perbedaan yang signifikan setelah ciuman singkat itu terjadi?
Tapi itu benar-benar ciuman singkat yang lembut. Oke, berhenti membicarakan ciuman. Tapi tetap saja, ketika dia menempelkan bibirnya padaku, aku merasakan beberapa perasaan asing. Ada ribuan kupu-kupu di perutku, dadaku sesak tetapi tak nyeri, kepalaku kosong tetapi tidak benar-benar kosong. Aku juga menyukai sensasi menggelitik di seluruh kulitku. Itu aneh. Aku ingin merasakannya lagi.
Tunggu, Serethy Rexanne Asher! Apa yang kamu pikirkan?!
Aku meloloskan tawa kecil, berusaha agar tidak terlihat terlalu memikirkan ciuman tadi. Aku kemudian menyeringai balik. "Tidak kusangka bahwa Yang Mulia akan berani melakukan itu padaku."
"Mengapa? Kau tidak suka?" Viten makin menekan bahuku di sandaran sofa dan wajahnya kembali mendekat. Aku bisa merasakan deru napasnya di kulitku, hangat, menggelitik.
Mengabaikan bagaimana jantungku berdetak kencang, aku tersenyum. "Bagaimana mungkin aku tidak suka? Semua nona bangsawan pasti menyukai ciuman jika itu dari Yang Mulia."
"Ini bukan soal nona bangsawan yang lain. Jujur saja, kau jadi menyebalkan." Viten menarik diri dan kembali berdiri tegak.
Aku meloloskan napas lega.
"Tidurlah," kata Viten.
Aku mengangguk pelan. "Kalau begitu, selamat malam, Yang Mulia." Aku menunduk singkat padanya dan hendak berbalik untuk meninggalkan kamarnya.
"Kau mau ke mana?"
Aku menghentikan langkahku. "Kamu menyuruhku tidur, bukan, Yang Mulia?"
"Tidur di sini." Suaranya terdengar tidak mau dibantah.
Aku kembali berbalik untuk menatapnya. "Mengapa itu, Yang Mulia? Aku punya kamarku sendiri."
"Aku tidak mengatakan bahwa kau tidak punya kamar."
"Ya, lalu kenapa aku harus tidur di sini?"
"Memangnya kenapa? Aku adalah calon suamimu."
"Justru karena itu, aku harus pergi dan tidur di kamarku sendiri."
"Kau makin menyebalkan. Kau harus jauh-jauh dari Axel mulai sekarang."
Apa hubungannya dengan Axel? Dasar pria aneh.
"Axel memberikanmu pengaruh yang buruk. Dia menyebalkan dan kau jadi ikut menyebalkan," lanjut Viten.
"Wanita menyebalkan ini adalah wanita yang akan kamu nikahi, Yang Mulia."
Viten tidak membalas kalimatku lagi. Sebagai gantinya, dia menarik tanganku dan memanduku ke kasurnya.
"Tidur."
"Tapi aku bahkan belum mengganti gaunku."
"Tidur," tekan Viten.
Aku menghela napas. Memang sulit bicara pada bajingan keras kepala.
Aku memilih untuk mengalah dan naik ke tempat tidurnya. Masih mengenakan gaun pesta yang rumit dan berat, aku mencoba untuk menutup mataku dan melewati alam mimpi.
Aku mendengar gesekan kain dan ketika aku menyadarinya, selimut tebal sudah menutupi tubuhku.
Yah, aku tidak bilang kalau kasur yang digunakan raja tidak nyaman. Kasur ini begitu lembut dan empuk di saat yang bersamaan, membuatku merasa sangat nyaman. Jadi, tidak ada yang salah dengan tidur di sini.
Aku lalu merasakan bagian sisi kasurku diduduki seseorang dan rambutku mulai dimainkan.
Aku ingin protes, tetapi aku mulai mengibarkan bendera putih pada kesadaranku.
Aku menganggap bahwa aku benar-benar telah terhindar dari bendera kematian sehingga aku bisa tidur dengan lelap di kamar seorang psikopat.
...***...
Suara langkah kaki yang bergema di penjara bawah tanah membuat Clare mendongakkan kepalanya.
Ketika seseorang memasuki visinya, kedua matanya yang kosong dan gelap mulai disinari oleh secercah harapan.
"Yang Mulia!" Clare menegakkan tubuhnya dan mencengkeram jeruji besi dengan haru. "Yang Mulia, apa Anda di sini untuk saya? Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih."
Kedua mata Viten terlihat dingin walau dia melihat sosok wanita yang menyedihkan di depannya.
Viten tidak membalas kalimat Clare, tetapi dia membuka kunci gembok di jeruji besi.
Binaran penuh harap di kedua mata Clare terlihat begitu kentara. Dan dia kini seolah melihat Viten sebagai seseorang yang pantas disembah.
"Yang Mulia—akh!"
__ADS_1
Viten mengeluarkan Clare dari jeruji, tetapi dengan menarik helaian rambut Clare secara kasar.
"Jangan banyak bicara," ujar Viten dengan dingin.
Jemari Viten kini terus menyeret Clare melalui helaian rambutnya. Viten tidak peduli walau Clare berteriak kesakitan dan menangis keras.
Viten membawa Clare memasuki penjara bawah tanah lebih dalam lagi. Lalu memasuki sebuah ruangan yang Clare tahu jelas apa ruangan itu.
Ketika pintu besi yang setengah berkarat dibuka, seseorang di dalam sana tersenyum lebar.
"Kakak, aku sudah menyiapkan segalanya," ujar Cioten.
"Ambil ini." Viten mendorong tubuh Clare pada Cioten, yang dengan sigap langsung menangkap tubuh Clare.
"Jangan berisik, ya. Aku benci jika kau berteriak terlalu keras," kata Cioten. Pria itu lalu memaksa Clare untuk duduk di kursi besi dan mengikat tubuhnya dengan seutas tali.
"Yang Mulia! Apa yang mau kalian berdua lakukan pada saya?" tanya Clare dengan nada suara yang menyedihkan. Bahkan terdengar getaran samar di dalam vokalnya.
"Kenapa kau bertanya jika kau tahu pasti apa jawabannya?" tanya Viten. Dia mengulurkan tangannya pada Cioten, adik kembarnya langsung memberikan Viten sebilah pisau yang refleksinya menampilkan cahaya lilin yang berpendar.
"Yang Mulia." Wajah Clare mulai kaku. "Anda tidak mungkin menyiksa saya, bukan? Anda tidak mungkin melupakan memori yang kita bagi selama bertahun-tahun, bukan? Anda tidak mungkin melakukan itu, bukan, Yang Mulia? Tolong jawab saya!"
"Kau berisik," kata Viten dengan kesal. "Kau memiliki banyak pertanyaan, tapi tidak apa, aku akan menjawabnya."
Warning! Di bawah adalah penyiksaan, kalau kamu nggak kuat, bisa skip.
"AAAHHH!" Clare menjerit kencang ketika sebilah pisau yang dipegang Viten menusuk bahu wanita itu dengan dalam. Darah berwarna pekat langsung mengalir deras ketika pisau ditarik dengan kasar.
Clare terengah-engah, mati-matian menahan erangan kesakitan yang hendak keluar dari bibirnya. Wajahnya mulai memucat dan bulir keringat dingin memenuhi wajahnya.
"Y-Yang Mulia."
"Kau pantas mendapatkan ini." Viten menusuk perut Clare, tidak terlalu dalam, tetapi meninggalkan luka, dan mengalirkan darah segar. Membasahi gaun pesta yang kini terlihat lusuh.
"Kau hampir membuat Serethy mati." Viten menggores lengan Clare.
"Kau menipu semua orang dengan menjadikan dirimu sendiri sebagai kandidat ratu kedua." Viten menyayat kulit di pipi Clare.
"Kau mempermainkan semua orang." Viten menggores kulit leher Clare.
"Kau membunuh Sorena Krone." Viten menusuk paha Clare. Di matanya yang merah, itu penuh oleh amarah yang membara. Begitu membara hingga rasanya pelik dan perih.
"Aku diam saja karena Duke Cyrill memintaku untuk diam. Padahal kau membunuh gadis itu. Clare Cyrill! Apa yang kau pikir kau lakukan dengan membunuh gadis berusia sembilan tahun?!"
Viten membuat goresan lebih banyak di lengan Clare. Sementara Clare menjerit lebih keras ketika perasaan perih karena luka menyiksanya lebih jauh.
"Aku berusaha untuk menerima kau menjadi tunanganku karena Duke Cyrill mendudukkanku di atas tahta. Aku mencoba untuk sabar denganmu, dengan seluruh tipu muslihatmu. Aku mencoba untuk menolerir segala perilakumu sebagai balas budi atas apa yang dilakukan oleh Duke Cyrill padaku."
Clare berteriak dengan begitu menyedihkan ketika pisau Viten memberikan goresan di kulit Clare yang telah lebih dulu tersayat. Lukanya membesar dan mengalirkan darah dengan cepat.
Plak! "Jangan pingsan. Dengarkan aku hingga selesai, wanita bajingan."
"Y-Yang Mulia—"
"Kau tahu kenapa aku tidak pernah menikahimu meski kita telah bertunangan selama bertahun-tahun?"
"Yang Mulia, maaf—"
"Itu karena kau adalah pembunuh yang merampas kebahagiaan orang lain, Clare. Aku adalah raja. Aku tidak sudi memberikan tahta ratu untuk bajingan sepertimu. Hei, kenapa kau terlihat begitu menyedihkan sekarang? Kau terlihat sangat menyedihkan hingga aku hampir memberikanmu rasa simpatiku. Apakah kau kini merasakan apa yang Sorena rasakan? Apakah kini kau tahu betapa sakit dan menderitanya Sorena? Hei, bajingan. Jangan pingsan."
Viten memberikan tamparan di pipi Clare sekali lagi agar kesadaran Clare tidak memudar.
"Kau menyiksa Sorena sebulan penuh dan menenggelamkan Sorena di danau pada hari ke 29. Apa yang hatimu rasakan saat itu? Kepuasan? Kepuasan karena telah membunuh seseorang? Kepuasan karena telah merenggut hak orang lain untuk hidup?"
"Yang Mulia, kamu tidak mengerti. Aku melakukannya karena aku mencintaimu," balas Clare dengan nada lemah dan mengabaikan nada bicara formal. Kedua matanya menyipit, ia hendak menutup matanya yang berwarna hitam karena dia tidak lagi kuat menerima seluruh siksaan ini.
"Mencintaiku? Omong kosong, Clare. Itu hanyalah obsesi."
"Lalu, apa bedanya dengan Serethy? B-Bukankah kamu juga terobsesi pada Serethy?"
Viten menggeram. "Aku tidak begitu."
Clare meloloskan tawa dengan susah payah. "Kamu terobsesi pada Serethy karena Serethy sangat mirip dengan Sorena, bukan?"
Plak! Viten memberikan tamparan di pipi berdarah Clare.
"Aku tidak begitu, Clare." Viten melempar sebilah pisau yang penuh darah ke sudut ruangan dan Cioten di belakangnya secara alami memberikan bilah pisau yang baru.
"Kamu terobsesi pada Serethy. Kamu mencoba untuk mencari ganti figur Sorena di kehidupanmu."
"Diam. Jangan sebut dua nama itu di mulut kotormu." Viten menekan ujung bilah pisau di lutut Clare.
"Yang Mulia, akui saja. Kamu tidak mencintai Serethy, kamu hanya terobsesi padanya."
"Aku mencintainya," tekan Viten.
"Kamu tidak, Yang Mulia."
"Diam." Viten menggores kulit Clare lagi dengan bilah pisau, membuat Clare menegang, dan kembali terengah-engah karena rasa sakit mendominasi.
"Sorena Krone merebutmu, Yang Mulia. Aku hanya mencoba untuk mendapatkan kembali hak milikku sendiri."
Viten mendengus. "Kau benar-benar menyedihkan. Clare, kenapa kau tidak membuka matamu lebar-lebar dan melihat apa yang ada di dekatmu?
"Alverro Cadeearo mencintaimu, Clare. Kenapa kau begitu menginginkan cintaku sehingga kau tidak bisa melihat Alverro di sampingmu? Alverro mau melakukan apa pun untukmu dan kau tidak meliriknya sama sekali? Apa kau gila?"
"Tapi aku hanya mencintaimu, Yang Mulia," balas Clare dengan lemah. "Bagi anak berusia sembilan tahun itu, dia melihatmu sebagai penyelamatnya."
Viten terkekeh kecil. "Konyol sekali."
"Begitulah apa yang aku rasakan padamu, Yang Mulia."
"Aku menghargai perasaanmu, tapi aku tidak bisa memaafkanmu. Kau selalu melakukan segala hal untuk membunuh orang yang kukasihi. Sorena Krone adalah gadis kecil yang polos, tetapi kau membunuhnya. Serethy Rexanne Asher adalah wanita yang tangguh, tetapi kau menipunya dan hampir membunuhnya. Apakah membunuh adalah jalan satu-satunya bagimu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan?"
Jeda sejenak, Viten menggunakannya untuk menarik napasnya. Mengumpulkan sisa-sisa kesabaran untuknya agar bisa lanjut berbicara.
"Clare, jika kau mencintaiku, maka kau akan membiarkanku bahagia dengan pilihanku. Kau tidak tahu apa yang kau lakukan dan pikirkan ketika membunuh Sorena. Kau cuma anak-anak saat itu dan kau sudah berani membunuh orang yang polos. Clare, ketika Sorena mati, kau tidak tahu betapa aku—"
Suara Viten tercekat. Betapa aku begitu menderita, lanjut Viten di dalam hatinya. Dia menelan kepedihan di ujung lidahnya.
Viten melemparkan bilah pisau di tangannya ke sudut ruangan dan mulai berbalik meninggalkan Clare.
"Lakukan apa pun yang kau mau, tapi jangan membunuhnya," ucap Viten pada Cioten. "Kita memerlukan eksekusinya satu minggu lagi."
Cioten telah menonton sebuah pertunjukan yang mendebarkan di balik punggung Viten. Setelah melihat penyiksaan secara langsung, hal itu membuat Cioten entah mengapa makin bersemangat.
"Baik, Kak!" Cioten menjawab dengan antusias dan dia mulai mendekati tubuh Clare.
"Bagus, kau belum kehilangan kesadaran." Cioten mengambil pisau baru di balik kemejanya. "Mari bermain sebentar denganku. Terlebih kau mau membunuh adikku, Serethy, bukan? Tidak bisa dimaafkan. Aku akan sedikit kasar, jadi jangan mati, ya, wanita malang."
Viten tidak mendengarkan kalimat gila adiknya lebih jauh lagi.
Kali pertama ketika Viten menyadari bahwa adiknya psikopat adalah ketika Viten mengunjungi adiknya. Usianya dua puluh dan Viten menginjakkan kakinya di paviliun lusuh yang jauh dari istana. Cioten tidak membunuh sembarangan orang, jadi Viten membiarkan hal tersebut.
Tapi, lupakan soal itu.
Beberapa tahun yang lalu, ketika Viten mendapati berita bahwa Sorena Krone mati karena tenggelam di danau, Viten mendapati dirinya pecah, berkeping.
Sesuatu di dalam dirinya bergejolak dengan begitu hebat. Setiap emosi di kepalanya meledak dan Viten merasakan hatinya hancur.
Sorena Krone adalah cinta pertama Viten. Akan tetapi, rupanya kehidupan cinta pertamanya begitu singkat. Viten belum sempat melakukan banyak hal dengan cinta pertamanya.
Hari pertama Viten menjalani kehidupan tanpa Sorena adalah neraka.
Viten tidak bisa makan dengan baik, dia selalu memuntahkan segalanya di akhir. Viten tidak bisa tidur dengan lelap, insomnia menghantuinya. Viten tidak bisa bekerja sebagai putra mahkota dengan benar, di mana pun dia bekerja, Viten selalu mengacau.
Viten tidak yakin lagi apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Viten menderita.
Tidak ada yang menyangka apabila luka di dalam sebuah perasaan abstrak akan menjadi begitu menyakitkan. Tidak ada yang menyangka apabila kehilangan sebuah cinta bisa berakhir sangat mengerikan.
Tidak jarang bagi Viten, sosok imaji Sorena Krone selalu terbayang dan tercampur dengan kehidupan aslinya.
Satu hari, Viten melihat Sorena di sampingnya ketika dia bekerja sebagai putra mahkota. Lalu, Viten melihat Sorena di setiap sela-sela aktivitasnya, menghantui, menghukumnya. Seolah menghukumnya karena tidak dapat menyelamatkan gadis itu dari sebuah neraka. Menghukumnya ketika Viten tidak bisa berada di samping gadis itu di masa terberatnya. Menghukumnya ketika Viten tidak bisa melindunginya.
Itu menyakitkan ketika Viten sama sekali tidak memiliki siapa pun di sampingnya kala titik terberat Viten dalam menghadapi fakta kehidupan. Fakta di mana Viten merasa bahwa kehidupannya berada di ambang kehancuran.
Mimpi buruk. Kehidupannya berubah menjadi mimpi buruk dalam waktu yang singkat.
Merasa bahwa harapannya telah luruh, Viten mencoba untuk mengakhiri kehidupannya. Berharap Sorena Krone akan mengampuninya apabila Viten mengambil langkah tersebut.
Akan tetapi, dia hidup. Dia hidup karena Duke Cyrill mengatakan sesuatu seperti: "Jika Anda memiliki keberanian untuk menusuk diri Anda sendiri, gunakan keberanian itu untuk menjadi seorang Raja."
Duke Cyrill telah mendukung Viten bahkan ketika dia masih kecil dan terus memberikan dukungan berarti hingga Viten menjadi seorang raja.
Dengan keberanian yang tersisa, Viten tumbuh menjadi seorang raja yang keras kepala dan kejam. Dia benar-benar tidak bisa memberikan simpati pada sesamanya lagi. Viten lebih mudah menusuk orang untuk membunuhnya daripada melindungi seseorang.
Viten membunuh, merenggut nyawa manusia layaknya seekor semut yang diinjak.
Viten berpartisipasi dalam peperangan, membunuh jiwa, lagi dan lagi.
Viten menjadi raja. Dan dia jatuh cinta lagi.
Seorang wanita dengan rambut merah muda yang berani. Di mata Serethy, tidak tercetak ketakutan sama sekali. Sebagai gantinya, itu penuh kepercayaan diri.
Viten penasaran, lalu dia jatuh cinta.
Kemudian, hatinya seakan berhenti berdetak kala melihat tubuh Serethy yang kehilangan pancarannya. Wajah yang memucat itu benar-benar mencekik leher Viten dengan kuat.
Selama satu minggu tanpa kehadiran Serethy, Viten menderita. Dia benar-benar menderita.
Viten kesulitan tidur. Viten kesulitan makan dengan benar. Viten tidak bisa fokus dalam rapat bersama para ajudan. Viten tidak bisa menghilangkan sosok Serethy yang menghantuinya.
Viten diserbu oleh sebuah ketakutan. Di mana rasa takut itu begitu mendominasi kehidupannya.
Pikiran kalut dan pemikiran negatif menghantui. Takut, resah, takut, resah. Satu minggu yang dijalani terus dihantui perasaan yang sama.
Dan Viten tidak tahu bagaimana harus melewatkan neraka barunya jika Serethy akan berakhir seperti cinta pertamanya.
__ADS_1