![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Bajingan gila itu!
Aku sangat ingin mencolok mata emas Axel dengan jariku yang gatal. Aku ingin membunuh bajingan gila itu sebelum faksinya yang membunuh mentalku lebih dulu!
Ah! Menyebalkan!
Dan lihatlah apa yang dia lakukan setelah membuatku kalang kabut! Dia tertawa dengan puas!
"Tenanglah, Tuan Putri." Axel tertawa puas untuk kesekian kalinya. "Anda seharusnya senang karena mendapat dukungan penuh dari calon Marquis di masa depan."
Aku sangat ingin menjambak rambut Axel sekarang juga! Dan menjambak rambutnya sekarang cukup aman dari publik, karena di balkon hanya ada aku, Axel, dan Sir Derick.
Aku tidak akan dituntut karena telah melakukan kekerasan terhadap putra Marquis, kecuali Axel yang melaporkannya sendiri.
Aku hanya mengembuskan napas berat, lalu memejamkan mata untuk menikmati semilir angin yang berderu di balkon. Aku melakukan ini untuk menenangkan hatiku yang panas.
Balkon ini cukup luas untuk menampung dua kali dari jumlah kami sekarang, membuat kami tidak kesulitan untuk bergerak secara leluasa.
"Tuan Putri," panggil Axel.
Meski kesal pada Axel, aku tetap mengalihkan pandangku untuk menatapnya dengan mata yang menyipit, masih kesal.
"Apa itu?"
"Anda belum lama tinggal di Kerajaan Asher, bukan?"
Aku menatap Axel dengan aneh. Kenapa dia menanyakan hal yang sudah pasti? Aku baru saja bertransmigrasi kurang lebih satu bulan yang lalu, maka tentu saja itu bukan waktu yang lama.
"Tuan Muda Axel, jika Anda mengatakan omong kosong pada Tuan Putri, maka saya akan membawa Tuan Putri dari sini," ucap Sir Derick dengan tegas. Dia bahkan mengambil tempat di antara aku dan Axel.
Axel hanya menggeleng kecil sambil menyeringai. Dia lalu menyandarkan tangannya di pagar balkon, lalu menatap lurus, ke langit siang yang cerah. Di pemandangan indah wilayah Cyrill.
"Kau terlalu protektif pada Tuan Putri, Sir Derick," balas Axel sambil tertawa kecil. "Tapi kalau Sir Derick, pasti kau tahu, kan?"
Aku menatap Axel dengan tanda tanya besar di wajahku. Tahu? Lalu, aku beralih menatap Sir Derick yang ekspresinya masih tetap lembut, tetapi kini sedikit mengerutkan dahi.
"Soal apa, Tuan Muda Axel?"
"Hmm, soal apa, ya." Aku melirik tangan Axel yang mengerat melingkari pagar balkon. "Sorena, Sorena Krone."
"Sorena Krone?" Aku mengernyit. Nama itu asing bagiku. Di dalam novel, tidak pernah sekalipun nama itu disebutkan. Jadi, aku sama sekali tidak tahu mengenai hal tersebut.
"Saya hanya mendengar banyak rumor," balas Sir Derick.
"Sayangnya, itu bukan hanya sekadar rumor, Sir Derick," balas Axel dengan senyum pedih di wajahnya.
Aku bingung. Aku ingin bertanya pada Axel siapa Sorena Krone ini, tetapi aku memutuskan untuk tutup mulut setelah melihat ekspresi Axel yang berbeda dari biasanya.
Axel kemudian menatapku lekat. "Tuan Putri, apa Anda tahu bagaimana impresi saya ketika saya pertama kali melihat Anda di bar?"
__ADS_1
Aku menggeleng perlahan. "Aku tidak tahu."
Axel mengangguk kecil. Tangannya perlahan naik, hendak menyentuh ujung rambutku, sebelum Sir Derick menahan Axel.
Axel mengabaikan Sir Derick, tetapi berhenti untuk mencoba mengambil helai rambutku.
"Anda memiliki rambut merah muda yang sayangnya sangat familier di mata saya. Saya marah pada Anda karena ini."
Marah? Aku mengerjap. Aku penasaran dengan kelanjutannya, tetapi Axel malah memberi jeda pada kalimatnya dengan lama dan malah menelisik wajahku.
"Anda sangat identik dengan Sorena, adik perempuan saya. Saya marah karena Anda mencuri figur adik saya. Adik saya benar-benar mirip dengan Anda, Tuan Putri. Dengan rambut merah mudanya, mata violetnya, kulit putihnya, dan bagaimana Tuan Putri dan Sorena sama-sama menyorot sesuatu, itu lembut tapi di saat yang sama sangatlah dingin. Itu persis. Mirip sekali. Dan saya marah, Anda mencuri Sorena."
Pernyataan aneh dari seorang putra Marquis. Bagaimana mungkin pola pikir kekanakan itu diterapkan pada otaknya? Apa dia hanya berpikir bahwa tidak akan ada yang mirip dengan Sorena Krone?
Dan itu menjelaskan sesuatu di novel. Mengenai alasan mengapa Axel menganiaya Serethy ketika mereka pertama kali bertemu di taman istana. Ketika pesta perjamuan digelar dengan Axel dalam keadaan mabuk, dia bertemu dengan Serethy yang tersesat di taman, menabrak tubuh Axel tanpa sengaja.
Melihat figur Serethy yang rupanya begitu mirip dengan Sorena Krone membuat Axel marah. Axel beranggapan bahwa Serethy telah mencuri figur adiknya dan berakhir menyiksa Serethy untuk memuaskan hasrat dendamnya. Begitu? Itulah yang bisa aku simpulkan dari cerita singkat Axel.
"Tuan Putri adalah Tuan Putri. Tuan Putri tidak mencuri figur siapa pun, Tuan Muda Axel," jawab Sir Derik dengan kerutan di dahi.
Axel mengibaskan tangannya di udara. "Aku tahu itu, Sir Derick."
"Lalu, apa yang terjadi dengan adikmu?" tanyaku, penasaran. Meski aku sudah tahu ke mana gadis itu. Dia pasti sudah meninggal.
"Dibunuh."
Aku sedikit terkesiap pada jawaban Axel yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
"Tuan Muda Axel, tapi saya yakin kalau itu hanyalah rumor," ucap sir Derick.
"Kau tidak tahu kebenarannya, Sir Derick."
Puk, puk.
Axel menepuk bahu Sir Derick dua kali.
"Apa yang kau tahu adalah Sorena mati karena sakit parah, tetapi apa yang aku tahu adalah Sorena mati karena dibunuh oleh Clare."
"Bukankah itu pernyataan tak berdasar?"
"Tuan Putri." Axel mengabaikan Sir Derick. "Dulunya saya dan Yang Mulia adalah teman baik. Kami sangat dekat sehingga orang lain tidak akan keheranan jika melihat saya terus berada di sisi Yang Mulia."
Apa Axel mau menceritakan masa lalunya yang masih misteri buatku? Sebagai pembaca novel [Luka Serethy], aku benar-benar penasaran mengapa Axel dan Viten bisa menjadi mantan teman baik. Penulis menuliskan banyak cliffhanger yang menyenangkan di novel itu.
Aku menatap Axel untuk mendengarkan ceritanya lebih lanjut. Kedua manik emasnya tampak menyimpan sesuatu yang benar-benar ingin aku raih sedari dulu. Dulu, sebelum aku menjadi Serethy.
"Karena saya dan Yang Mulia berteman baik, Yang Mulia jadi dapat mengenal Sorena. Usia Yang Mulia adalah tujuh belas, sementara saya sepuluh, dan adik saya sembilan. Adik saya sangat mengagumi Yang Mulia dan Yang Mulia selalu memberikan atensi dan kasih sayang pada adik saya. Hal ini tentu mengundang kecemburuan Clare sehingga Clare menyiksa adik saya perlahan-lahan dan membunuhnya di paviliunnya sendiri."
Jeda. Lama. Seolah Axel tengah mencari kekuatan untuk melanjutkan kisahnya yang begitu menyedihkan.
__ADS_1
Entah mengapa, Axel yang kulihat di hadapanku bukanlah Axel yang menyiksa Serethy di novel, tetapi Axel yang kehilangan adik kesayangannya.
Tanpa sadar aku maju, lalu menggenggam tangannya.
Axel tampak kaget pada perlakuanku, mata emasnya membulat. Aku tidak kalah kagetnya dengan Axel atau Sir Derick yang sudah memelotot. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku malah menggenggam sebelah tangannya, meremasnya perlahan untuk memberikan kekuatan. Hal yang kulakukan barusan hanyalah refleks semata.
Mungkin karena kami memiliki kesamaan emosional. Aku pernah kehilangan orang tuaku di depan mataku, sehingga aku bisa tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang begitu berharga di dalam kehidupan.
"Tidak usah dipaksakan, Tuan Muda Axel." Jemariku mengusap punggung tangannya dengan perlahan. Aku lalu melirik wajahnya, yang entah mengapa malah memerah. Ini masuk akal, kami ada di balkon dengan cahaya matahari yang menyinari kami dengan suhu yang tinggi.
"Tuan Putri, tolong pegang tangan saya seperti ini hingga saya selesai menceritakan segalanya," pinta Axel, dia balas menggenggam tanganku.
"Baiklah, Tuan Muda Axel. Aku tidak akan ke mana-mana."
Axel tersenyum lembut. Itu benar-benar lembut hingga dia rasanya tidak pernah menjadi putra Marquis yang pembuat onar dan alkoholik.
"Saya bisa tahu kalau itu Clare," lanjut Axel. "Clare sudah menyukai Yang Mulia bahkan ketika dia masih kecil. Clare mencintai Yang Mulia. Namun, Yang Mulia memberikan kasih sayangnya pada adik saya. Perbedaan usia Yang Mulia dan adik saya yang terlampau jauh membuat hubungan di antara keduanya perlu ditunda. Maka, Clare mengambil kesempatan. Dia mulai menyiksa Sorena secara perlahan, mempermalukan Sorena di depan publik, dan melukai harga dirinya.
"Akan tetapi, Yang Mulia selalu membela Sorena. Hal ini membuat Clare makin cemburu. Akhirnya, pada malam itu, Sorena pergi ke kediaman Cyrill. Aku seharusnya menahan Sorena karena dia tampak sangat ketakutan hanya untuk menemui Clare. Kemudian, Sorena menghilang keesokan harinya. Satu minggu kemudian, dia masih belum ditemukan. Lalu tepat setelah satu bulan, Sorena di sana—"
Suara Axel tercekat. Aku makin meremas tangannya. Itu pasti berat. Aku yakin anak berusia sepuluh tahun itu memiliki luka dan trauma di hati mungilnya.
"Di danau dekat hutan. Kelompok pencarian untuk Sorena menemukan Sorena di sana. Tubuhnya mengambang dengan banyak luka sayatan dan cambukan. Sayangnya, Sorena sudah mati. Diperkirakan, kematiannya adalah dua hari sebelumnya. 28 hari dalam tiga puluh hari, Sorena disiksa. Dan aku tidak mampu melakukan apa pun untuk mencegah kematian Sorena."
Axel menatapku setelah mengembuskan napasnya yang berat. "Tuan Putri, mungkin saya lancang. Tapi, bisakah saya memeluk Anda?"
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan. Tentu karena pelukan adalah salah satu cara bagi seseorang untuk menenangkan diri. Aku bisa tahu itu.
Maka, Axel kemudian menyembunyikan wajahnya di bahuku, tangannya melingkari pinggangku dengan erat. Aku bisa mendengar detak jantung Axel yang bertalu-talu dengan napasnya yang makin berat.
Aku mungkin terlalu dekat dengan Axel sehingga bisa mendengar suara pedang yang dikeluarkan dari sarungnya, lalu dimasukkan kembali, lalu ditarik lagi, dan terus hingga aku merinding dan mengalihkan pandang untuk tidak menatap individu yang bersangkutan.
"Sorena mati karena Clare. Itu sudah jelas. Bagaimana mungkin tidak ada yang mempercayai hal itu? Jikapun ada, pengaruh Duke Cyrill sangat kuat sehingga setiap rumor mengenai Sorena akan dibunuh habis. Saya marah, Tuan Putri. Saya kesal. Lalu, entah mengapa, ketika usia saya sudah legal untuk minum, saya tidak bisa berhenti kecanduan. Setelah Sorena mati, rumor buruk malah menyerang Krone. Rumor tidak berdasar itu tersebar dan saya marah. Lalu, saya menjadi pembuat onar untuk menutupi rumor sampah itu."
Aku mendengar tawanya yang teredam.
"Lalu Anda mengatakan bahwa Anda tidak menyukai alkoholik. Ketika Anda mengatakannya, saya seolah melihat Sorena yang mengomel pada saya jika dia masih hidup saat ini. Saya tahu ini salah, Tuan Putri. Menganggap Anda sebagai Sorena. Namun, saya benar-benar merindukan adik saya.
"Saya tidak lagi marah pada Anda karena Anda sangat mirip dengan adik kecil saya. Saya hanya marah pada diri saya sendiri karena tidak mampu menjadi kakak yang baik. Saya mengatakan bahwa Anda dan Sorena sangat identik, tetapi saya salah. Semakin saya mengetahui soal Anda, saya makin sadar kalau Tuan Putri dan Sorena adalah dua orang yang berbeda. Namun, saya tidak dapat menahan perasaan di dada saya ini, Tuan Putri. Maka dari itu, Tuan Putri, tolong izinkan saya untuk menyayangi Anda."
Kalimat Axel sangat ambigu sehingga aku dan Sir Derick sama-sama kaget.
Namun, keterkejutan Sir Derick jauh lebih besar sehingga tubuhnya mematung dengan tangan kanannya mengerat di gagang pedang.
"Tuan Muda Axel?"
Axel menyejajarkan wajahnya denganku, dia menarik tanganku, dan mengecup punggung tanganku.
"Izinkan saya untuk menyayangi Anda, Tuan Putri."
__ADS_1
Aku tersenyum kaku. Sungguhan, nih? Aku menghindari bendera kematian lainnya?