![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
"Serethy."
Ketika aku kembali ke lantai pesta, Viten sudah menatapku dengan tajam di balik iris merahnya.
Viten lalu memelototi Sir Derick yang berjalan di sampingku dengan ringan. Sir Derick membungkuk singkat pada Viten.
"Aku mencarimu ke mana-mana," kata Viten dengan kesal.
"Saya pikir Tuan Putri diculik!" Lalu seseorang mengambil panggungnya setelah muncul di belakang Viten. "Dan benar saja Tuan Putri telah diculik oleh Sir Derick," cibir Axel.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan, Tuan Muda Axel." Sir Derick tersenyum dengan polos seolah tidak pernah mengambil alih diriku ke balkon selama setengah jam.
Viten menghela napas. "Kupikir kau dikerjai oleh nona-nona bangsawan dan akan diracuni."
Hei, hei. Bukankah pikiran itu terlalu liar? Apa karena peperangan dengan Matria, Raja Asher itu kehilangan salah satu baut di kepalanya?
"Mana mungkin hal seperti itu terjadi, Yang Mulia," kataku dengan senyuman yang membuat Viten mengernyit. "Tidak akan ada yang berani melakukan hal itu pada Tuan Putri, kan?"
"Hah." Viten mendengus geli. "Lakukan apa yang kau mau hari ini."
"Wah, tentu saja saya akan melakukannya."
Viten hanya menghela napas dan pergi setelah mengatakan bahwa ada urusan bisnis di ruang privat. Sehingga hanya menyisakan Sir Derick dan Axel di kedua sisiku.
Bagi Viten, mungkin pesta ini adalah pertemuan bisnis yang menyebalkan. Aku sedikit simpati padanya tapi berakhir dengan tidak memedulikannya.
Aku lalu berjalan menuju meja penuh camilan, diikuti Sir Derick yang patuh dan Axel yang entah mengapa mengekori.
"Tuan Putri, bagaimana kalau jalan-jalan ke taman? Bukankah di dalam sini sangat menyesakkan?" tanya Axel lalu mengambil gelas wine dari nampan yang ditawarkan pelayan.
Aku mengernyit.
Taman.
Mendengarnya dari mulut Axel membuatku merinding karena aku langsung membayangkan adegan penyiksaan Axel pada Serethy untuk pertama kalinya memiliki tempat yang sama, yaitu di taman.
"Aku sudah pergi bersama Sir Derick sebelumnya, jadi meninggalkan pesta lagi akan tidak sopan," kataku membuat senyuman Sir Derick melebar.
Axel menghela napas, lalu menyesap wine dengan perlahan. "Tapi itu kan bersama Sir Derick, saya ingin Tuan Putri pergi bersama saya."
"Dengarkan aku, Tuan Muda Axel. Aku tidak suka pria pemaksa."
Axel tampak cemberut. "Anda awalnya tidak suka pembuat onar dan alkoholik, lalu pemaksa? Saya sudah mengurangi intensi saya terhadap alkohol, lho, Tuan Putri."
Aku mengernyit pada pernyataan Axel. "Lalu apa hubungannya denganku?"
"Bukankah Tuan Putri membenci pribadi barbar seperti saya? Makanya saya ingin berubah."
Sungguhan. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa si pembuat onar ini rela mau melakukan hal itu. Padahal jelas-jelas di novel, dia tidak bisa hidup tanpa alkohol. Akan tetapi, kini dia mengurangi intensi untuk minum alkohol untukku? Rasanya sulit dipercaya.
Aku memaksakan senyum pada Axel. "Aku menghargai niatmu, Tuan Muda Axel. Tapi lakukan perubahan itu untuk dirimu sendiri, jangan lakukan itu untuk orang lain."
"Tuan Putri memang baik hati," gumam Sir Derick yang membuatku makin mengernyit.
Aku memutuskan untuk mengabaikan dua pria yang ada di belakangku, sementara aku sibuk dengan camilan. Meski aku sedikit terganggu dengan pandangan kosong Axel dan gumaman Sir Derick secara terus-menerus.
"Lihat itu, Tuan Putri dikelilingi orang-orang hebat."
Aku langsung menajamkan indra pendengaranku ketika seorang nona muda memulai sesi gosip dengan teman sosialitanya.
"Benar! Bukankah Tuan Putri jadi terlihat murahan?"
"Iya, Nona Julia benar. Itu sama dengan rumor ketika Tuan Putri menawarkan tubuhnya sendiri untuk menarik orang-orang ke sisinya."
"Ya ampun, perbuatan itu, kan, sangat tercela."
Abaikan saja. Abaikan.
Aku sibuk makan camilan manis yang mewah ini daripada perlu sibuk mendengarkan omong kosong mereka.
"Tuan Putri, bagaimana jika pergi ke balkon lagi?" tanya Sir Derick.
Aku tersenyum internal. Sir Derick selalu memperhatikan perasaanku ketika gosip mengenaiku menyebar.
"Nona-nona itu sangat tidak sopan. Apa mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Nona Clare?" kata Axel dengan acuh tak acuh.
"Jika Tuan Putri terganggu-"
"Tidak apa-apa, Sir Derick, Tuan Muda Axel." Aku mengangkat tanganku untuk mencegah dua pria itu untuk bicara. "Aku yang akan menghadapi mereka."
"Tapi Tuan Putri, saya tidak bisa membiarkan Tuan Putri disakiti lagi."
Aku mengangkat sebelah alis ketika melihat sorot bersalah Sir Derick di kedua matanya. Apa pria itu memikirkan mengenai insiden aku dan Nona Clare saat itu di mana Sir Derick tidak bisa melakukan apa-apa?
__ADS_1
Betapa lembutnya.
"Aku tidak apa-apa, Sir Derick," kataku dengan lembut. "Saat itu aku hanya sedang kebingungan, jadi aku tidak bisa merespon Nona Clare dengan jelas. Tapi kali ini berbeda. Jangan khawatir dan lihat aku dari sini, Sir Derick. Kamu mau, kan?"
"Saya mau, Tuan Putri."
Aku nyaris memutar bola mata atas jawaban Axel yang tiba-tiba, tetapi menahan diri.
Sir Derick juga tampak kesal terhadap Axel, tetapi menghadapku dengan tegas. "Saya akan berada di sini, Tuan Putri."
"Itu bagus." Aku melayangkan senyuman. "Perkenalkan aku dengan adikmu nanti, ya, Sir Derick."
Ekspresi wajah Sir Derick makin cerah. "Tentu, Tuan Putri!"
Aku lalu menghampiri sekelompok nona muda yang saling berbisik ketika aku menghampiri mereka. Dan demi Dewa Matahari di novel ini, bisikan mereka terdengar jelas hingga rasanya tidak ada gunanya untuk saling berbisik.
Ketika aku tepat berada di hadapan mereka, mereka melakukan salam padaku dengan sopan.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Putri," kata salah satu dari orang yang berada di kelompok itu, kemudian diikuti oleh ketiga temannya.
"Senang bertemu dengan kalian juga," kataku sambil tersenyum, tetapi mataku dingin.
"Maaf karena belum memperkenalkan diri saya, Tuan Putri." Nona muda dengan rambut berwarna emas itu tampak bersinar di balik tiga antek-anteknya yang terlihat seperti remahan kue. "Nama saya Lucette Mirele, putri kedua dari Count Mirele."
Lalu tiga orang lainnya memperkenalkan diri.
Aku nyaris mendengus ketika mendengar nama Lucette Mirele. Bagaimana mungkin aku tidak mengenal nama itu?
Itu adalah nama yang sama dengan orang yang selalu menuangkan anggur ke gelas Clare setiap kali melihat Serethy dicambuk. Mereka berdua lalu menikmati anggur sambil mendengarkan jeritan Serethy.
Bisa dibilang, Lucette adalah orang yang selalu mengikuti Clare di belakang. Meski Clare sendiri hanya menatap Lucette sebagai alat pribadinya yang rela melakukan apa pun untuk Clare.
"Senang bertemu dengan kalian," kataku dengan sopan. "Aku yakin, aku tidak perlu memperkenalkan diriku karena rumor mengenaiku sudah menyebar dengan cepat, bukan?"
Lucette tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan kipas lipat. "Tuan Putri benar. Bagaimana mungkin tidak ada yang tidak mengenal Tuan Putri? Jika pun ada, bagaimana mungkin mereka menyebut diri mereka sebagai rakyat Asher?"
Ho, mata merendahkan yang sangat ingin kutusuk.
"Itu benar, Nona Lucette."
"Ah, saya juga mendengar rumor mengenai betapa baiknya Tuan Putri hingga melepaskan Nona Clare dari segala hukuman?"
"Rumor itu benar. Aku mencabut segala hukuman bagi Nona Clare karena Yang Mulia menghukum Nona Clare secara berlebihan."
"Tidak, tidak. Nona Clare hanya termakan oleh emosi sehingga melukaiku."
Lucette menutup mulutnya. "Maksud Tuan Putri adalah Nona Clare menyakiti Tuan Putri? Bagaimana mungkin! Hal selancang itu!"
"Tidak apa-apa, Nona Lucette. Aku baik-baik saja."
"Tuan Putri pasti sangat terpukul." Lucette menghela napas sedih. Lalu ketiga antek langsung mengatakan hal-hal buruk mengenai Clare.
Aku mendengus. Mereka memiliki dua muka yang tebal.
"Saya punya ide, Tuan Putri. Bagaimana jika Tuan Putri dan saya menjadi teman?" tukas Lucette.
Aku mengangkat sebelah alis lalu tersenyum. "Ide yang bagus."
"Wah, terima kasih banyak, Tuan Putri!Untuk merayakannya, bagaimana jika kita bersulang?" Lucette lalu memanggil pelayan menggunakan jemarinya, kemudian pelayan datang dan menyajikan gelas anggur.
Lucette mengambil dua gelas anggur dan memberikan salah satunya padaku. Aku menerimanya dengan senang hati.
Klang.
Dua gelas anggur bersulang, menimbulkan bunyi nyaring sebelum diteguk sedikit.
"Nona Lucette, aku merasa senang bisa menjadi temanmu. Kamu adalah teman pertamaku."
Lucette menyeringai keji, dia lalu mendekatiku dengan gelas anggur. Perlahan, tangannya memiringkan gelas anggur dan menumpahkan isinya di atas gaunku. Kami terlalu dekat hingga tidak akan ada yang tahu pihak mana yang menumpahkan gelas anggur. "Itu benar, Tuan Putri. Saya sangat merasa terhormat bisa menjadi teman pertama Tuan Putri. Namun, sayangnya, gaun Anda rusak, Tuan Putri."
Aku lalu bisa mendengar kekehan Lucette dan tiga anteknya.
Yah, aku sudah menduga ini.
Prang.
Gelas anggur di tanganku jatuh ke lantai ketika di saat bersamaan, aku menampar pipi Lucette.
Lucette jatuh terduduk dengan pipi kirinya yang memerah. Wajahnya tampak kosong dan bingung.
"Bagaimana mungkin?" Suaraku menggema di lantai aula yang menjadi hening hanya dalam beberapa saat. "Nona Muda dari keluarga Count sangat kurang ajar pada Tuan Putri?"
Aku lalu menunduk untuk meraih dagu Lucette dan mencengkeramnya erat.
__ADS_1
Lucette meringis atas cengkeramanku, lalu memelototiku.
"Nona Muda Lucette," panggilku dengan dingin. "Aku adalah Tuan Putri Asher. Apa yang telah kamu lakukan sebelumnya adalah penghinaan terhadap Keluarga Kerajaan. Normalnya, orang yang menghina keluarga kerajaan akan langsung dipenggal."
Bisik-bisik lalu memenuhi ruang aula dengan intens. Sementara Lucette dan antek-anteknya tampak membelalak.
"Itu bohong!" teriak salah satu antek Lucette. "Tuan Putri hanya berlebihan. Nona Muda Lucette hanya ingin menjadi teman Tuan Putri, tapi Tuan Putri-"
"Bahwa aku bertindak tidak sopan?" Aku menatap wanita bernama Julia dengan tajam. "Itu yang ingin kamu katakan, bukan, Nona Julia? Ah, bagaimana mungkin seorang nona muda bangsawan yang terhormat mengatakan omong kosong di hadapan publik?"
"Tapi bukannya sudah jelas jika Tuan Putri telah berlaku tidak sopan pada Nona Muda Lucette!"
"Apa kamu mengatakan kalau akulah yang bersalah di sini? Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan mengenai gaunku?"
"Bukankah Tuan Putri yang menumpahkan anggur ke gaun Tuan Putri sendiri?"
"Wah, mana mungkin aku melakukannya terhadap gaun yang merupakan pakaian pasangan dengan Yang Mulia?" tanyaku. "Ah, jika kamu mau jawabannya langsung, kenapa kamu tidak bertanya langsung pada pelakunya?"
Tanganku naik, lalu menarik rambut emas Lucette. "Nona Muda Lucette, kamu kan yang menumpahkan anggur ke gaunku?"
Lucette menyeringai kecil. "Tidak, Tuan Putri. Saya tidak menumpahkan anggur ke gaun Tuan Putri."
Bisik-bisik para bangsawan mengudara lagi.
Aku berdecak. "Berbohong pada keluarga kerajaan akan dikenakan hukuman yang sangat berat, Nona Muda Lucette."
"Tapi bukankah Tuan Putri yang menghina harga diri saya di sini? Mengapa Tuan Putri berkata seolah Anda merupakan korbannya?"
Aku menghela napas sedih, lalu melepaskan Lucette. "Bagaimana mungkin Nona Lucette mengatakan hal seperti itu? Itu menyakitiku, Nona Lucette. Padahal aku hanya ingin Nona Lucette menjadi temanku. Namun, Nona Lucette tidak ingin dekat dengan mantan tawanan perang.
"Aku juga sadar jika aku hanyalah mantan tawanan perang, tapi aku juga awalnya merupakan keluarga kerajaan dari Kerajaan Matria. Mana mungkin aku berani mencoreng harga diri seorang nona muda bangsawan di Kerajaan Asher ketika aku saja tidak mengenal Nona Lucette pada awalnya? Ah, aku sangat sedih karena kebohongan Nona Lucette."
Aku berpura-pura menyeka sudut mataku yang memerah. Sementara itu, bisik-bisik bangsawan mulai mengudara.
"Itu benar, Tuan Putri kan tidak mengenal siapa pun di pesta ini, jadi untuk tujuan apa Tuan Putri menyakiti harga diri Nona Lucette?"
"Bukankah Nona Lucette adalah satu-satunya orang yang menyakiti harga diri Tuan Putri?"
"Saya mendengar jika Nona Lucette marah karena teman baiknya, Nona Clare diberikan hukuman berat oleh Yang Mulia."
"Meskipun Tuan Putri adalah mantan tawanan perang, Tuan Putri adalah Tuan Putri di Kerajaan Matria. Jadi kemungkinan Tuan Putri untuk berlaku tidak sopan nyaris nol."
"Ini adalah kesalahan Nona Lucette yang mengusik Tuan Putri, kan?"
"Nona Lucette sangat tidak sopan."
"Bisa dikatakan jika Nona Lucette hanyalah pencari perhatian."
"Bukankah rumor yang menyebar di county juga adalah Nona Lucette yang tidak pernah mendapat perhatian keluarganya?"
"Ah, jadi itulah sebabnya Nona Lucette mencari perhatian sekarang."
Aku diam-diam menyeringai. Setiap keburukan yang seharusnya ditujukan padaku, kini berbalik pada Lucette.
Lucette yang masih terduduk dengan penampilan yang berantakan mulai memelototiku dengan ganas.
"Sir Derick," panggilku.
Sir Derick yang berada di sudut mataku langsung menghampiriku. "Bagaimana jika Tuan Putri kembali ke istana terlebih dahulu? Tuan Putri kelihatan kacau."
"Itu benar." Aku lalu mendekati Marchioness Elysa yang ikut memperhatikan drama seru kami. "Marchioness."
"Y-Ya, Tuan Putri?"
Entah untuk alasan apa, Marchioness tampak gugup.
"Ini adalah pesta yang menakjubkan, terima kasih sudah mengundangku ke sini. Aku mendapat banyak kesenangan yang bisa diperoleh dari pestamu."
"Saya merasa terhormat untuk mendengarkan pujian Anda mengenai pesta saya, Tuan Putri."
"Tapi sayang sekali, aku harus meninggalkan pesta lebih awal. Aku tahu aku tidak sopan, tapi ...."
"Tidak apa-apa, Tuan Putri! Tolong kembalilah ke istana karena penampilan Anda sangat kacau." Marchioness lalu membungkuk. "Terima kasih sudah menghadiri pesta saya, Tuan Putri."
"Sama-sama, Marchioness." Aku tersenyum pada Marchioness sebelum melewati wanita itu.
Ketika aku berjalan, bangsawan yang ada di hadapanku otomatis menepi dan sedikit membungkuk padaku.
Aku merasa senang bisa memberi Lucette sedikit pelajaran, juga sekaligus bisa membuat opini para bangsawan terhadapku naik.
"Anda sudah melakukan yang terbaik, Tuan Putri," puji Sir Derick di belakangku.
"Tentu saja, Sir Derick. Aku adalah Tuan Putri."
__ADS_1