I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
8. Undangan Pesta


__ADS_3

Wow, aku sangat kagum pada tubuh Serethy.


Serethy sangat cantik dengan rambut merah muda bagaikan bunga sakura, lalu manik mata violet lembut yang menenangkan, kemudian dia dikenal sebagai wanita terhormat yang sangat ramah.


Dia bahkan sempurna dalam etiket!


Aku masuk ke dalam tubuh Serethy, tetapi tidak mewarisi ingatannya. Namun, bukan berarti tidak ada yang kudapatkan dari Serethy yang asli. Justru aku mendapatkan tubuhnya. Tubuh yang mengingat seluruh ilmu etika dan norma, khususnya bagi putri kerajaan.


Hal ini merupakan satu-satunya hal yang baik di dalam novel.


Maka, di sinilah aku, menggunakan ilmu etiket untuk minum teh. Jujur saja ini merepotkan untuk melakukan gerakan yang terbaik hanya untuk minum teh, untungnya tubuh Serethy yang mengingat etiket sangat membantuku.


"Maaf atas kunjungan kami yang tiba-tiba, Tuan Putri." Marquis Agara Krone meletakkan cangkir teh di atas tatakan, matanya yang berwarna emas menatapku dengan tatapan yang dingin. Dia juga memanggilku Tuan Putri dengan nada yang aneh.


Di sampingnya, Axel Krone tersenyum, nyaris menyeringai sambil melihatku.


Jika dilihat baik-baik, Marquis Agara dan Axel adalah replika sempurna dan identik. Yang berbeda hanyalah kepribadian mereka.


Axel mungkin pribadi yang kurang ajar dibandingkan ayahnya.


"Tidak apa-apa, Tuan Marquis," kataku dengan wajah datar yang sedikit lembut.


Aku tidak ingin dinilai dengan gampangan, maka aku akan mempertahankan sorot ini.


Sir Derick berdiri di belakang kursiku seolah penjaga, Jelena juga berdiri di dekat pintu untuk menyemangatiku.


"Tidak, Tuan Putri. Saya yakin ini adalah ketidaksopanan yang telah dilakukan oleh Keluarga Marquis terhadap Keluarga Kerajaan," kata Marquis Agara lagi.


Aku kesal dan siku-siku imajiner terbentuk di dahiku. Jika dia tidak ingin menjadi tidak sopan, lalu kenapa dia datang? Tidak usah datang sekalian, maka harga diri Marquis kalian yang berharga tidak akan ternodai!

__ADS_1


Aku lalu tersenyum tipis. Mungkin karena wajahku yang datar membuat Marquis salah paham terhadap reaksiku.


"Tidak apa-apa, Tuan Marquis. Aku sama sekali tidak keberatan."


Wajah Marquis semakin santai setelah aku mengucapkan kalimatku, tetapi sorot tegasnya masih tersisa.


"Saya datang sebagai perwakilan istri saya."


Aku nyaris tertawa. Bukankah itu adalah paksaan dari istrimu, Tuan Marquis, hei?


Marquis lalu mengeluarkan amplop dengan lambang elang, simbol Marquis Krone, dalam amplop familier.


Tidak, tidak, aku harus tetap positive thinking. Mungkin saja amplop yang telah lima kali dibakar memiliki corak amplop yang sama dengan yang baru saja diberikan karena sama-sama berasal dari Krone.


"Ini adalah undangan pesta, Tuan Putri," kata Marquis. "Saya sudah mengirim undangan sebelumnya, tetapi saya tidak mendapatkan jawaban yang pasti, jadi saya mengirim empat undangan lagi setiap hari."


Hahaha. Ya ampun. Kupikir itu Axel yang berulah. Brengsek. Aku dalam masalah.


Tangan Marquis mendarat di bahu Axel yang masih menyeringai senang.


"Dan putra saya mengusulkan untuk mengunjungi Tuan Putri hari ini karena kami, Keluarga Marquis Krone, memiliki hak untuk keluar dan masuk istana dengan bebas."


"Jadi, Tuan Putri. Setelah menemui Yang Mulia Raja, kami memutuskan untuk mampir menemui Anda," sambung Axel sengan senyuman lebar di bibirnya.


Sialan. Dia menikmati melihatku begini, ya? Dasar Bajingan Gila B!


"Seperti yang dikatakan putra saya, kedatangan kami kemari untuk mengirimkan undangan pesta pada Anda. Dan, bukankah pesta ini yang merupakan pesta besar sangat cocok untuk debut Anda yang pertama kali, Tuan Putri?"


Bukankah itu akan menjadi debut, matamu. Katakan saja jika kau bersiap untuk menyerangku karena posisiku yang naik secara tiba-tiba dengan drastis.

__ADS_1


"Benar, Tuan Putri. Ini adalah kesempatan yang baik," lanjut Axel. "Kami selalu mengadakan pesta selama enam bulan sekali untuk mempertahankan hubungan satu sama lain. Dan pesta yang kami gelar adalah pesta jangka besar sehingga hampir seluruh bangsawan menghadiri pesta ini."


Ini memang kesempatan yang baik. Ditambah, aku memang harus mencari pengaruh sebagai tuan putri Asher yang baru.


Bukannya tanpa alasan, aku harus mencari pengaruh di sekitar bangsawan agar aku terlindungi. Benar.


Jika tidak ada orang yang mendukungku, maka aku akan disiksa oleh beberapa bangsawan lain yang memang muncul di novel. Jelas, aku tidak menginginkan hal ini. Maka, aku akan mencari pengaruh agar aku bisa dilindungi orang lain. Dan tidak ada jaminan jika Viten akan merubah pikirannya sehingga dia bisa saja menyiksaku kapan pun dia mau.


Aku melayangkan senyuman bisnis pada dua orang di hadapanku.


"Terima kasih atas perhatian kalian. Aku akan datang ke pesta."


Axel tertawa kecil sambil menggumam 'yes' beberapa kali yang membuatku merinding. Mau bagaimanapun dia awalnya adalah kandidat orang yang menyiksa Serethy di novel. Tidak ada yang tahu jalan pikirannya di masa depan. Aku harus berhati-hati di pesta nanti.


"Kalau begitu, saya senang mendengarnya, Tuan Putri Serethy. Pesta akan digelar hanya tiga minggu lagi karena pesta telah direncanakan jauh sebelum Anda tiba."


Maksudnya menyindir aku, ya, Pria Tua? Dia menyindirku karena aku langsung jadi Tuan Putri begitu saja?


Aku tertawa dengan elegan. Bersyukurlah pada tubuh Serethy yang mengingat segalanya mengenai etiket, bahkan aku terdengar anggun hanya karena tertawa.


"Tidak apa-apa, Tuan Marquis. Aku sama sekali tidak keberatan."


"Oh, ya, Tuan Putri," Axel angkat bicara. "Jika Anda belum tahu, Anda harus membawa pasangan Anda ke pesta. Namun, saya tidak memaksa Anda untuk membawa pasangan ke pesta karena ada juga yang tidak membawa pasangan mereka. Ini adalah opsional. Akan tetapi, kebanyakan bangsawan yang hadir akan membawa pasangan mereka."


Kenapa dia menekankan kata pasangan setiap kali dia bicara?


Aku tahu kalau aku adalah Tuan Putri baru tanpa penobatan dan *****-bengek, Viten hanya memasukanku ke dalam daftar keluarga kerajaan. Melakukan itu seharusnya sulit, tetapi tidak akan ada yang mengalahkan kekeraskepalaan Viten yang jika menginginkan A harus dituruti A. Dan itu baru berlangsung selama satu minggu, jadi aku sama sekali tidak tahu keluarga bangsawan yang akan menjadi pendampingku nanti di pesta. Karena aku tidak mengenal keluarga bangsawan mana pun.


Aku hanya tersenyum ramah. "Aku akan mengingatnya, Tuan Muda Axel."

__ADS_1


"Kalau begitu, saya menantikan Anda di pesta kami, Tuan Putri."


"Sampai jumpa lagi, Tuan Putri." Axel mengedipkan sebelah matanya yang membuat punggungku menggigil karena dingin.


__ADS_2