I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
12. Pangeran


__ADS_3

Sesuai perkataan Jelena mengenai betapa cerahnya siang ini, aku menggelar tea time di taman Istana Kebahagiaan.


Aku duduk di gazebo megah berwarna putih yang luas dan klasik, sehingga cahaya matahari tidak benar-benar dapat menembus kulitku. Di sekelilingku juga dipenuhi flora hijau dan berbagai tanaman bunga yang memiliki berbagai macam warna. Di sudut mataku, aku bisa melihat kolam air mancur yang suaranya membuatku sedikit rileks, dan dapat melupakan kalau aku masuk ke dalam novel gila.


Lalu ketika aku mendongak, aku bisa melihat langit biru yang ditemani beberapa awan dan matahari. Itu sangat cerah. Bahkan burung-burung yang terbang sambil berkicau tampak gembira.


Ini menyegarkan.


Kecuali apa yang membuat tea time ini menjadi menyeramkan adalah kehadiran pria itu.


Aku sangat-sangat ingin memukulnya dengan piring kue, bagaimana mungkin seorang raja menikmati tea time dengan santai selama satu jam terakhir dan mengabaikan segala pekerjaan mendesaknya? Lalu, duduk diam di seberangku dengan tampang seolah mengajak singa untuk berkelahi.


Bahkan aku sangat simpatik pada ajudan raja yang bergerak resah di samping gazebo, sambil membawa papan kayu dan berkas yang tampaknya cukup penting karena si ajudan telah mengekori rajanya lama.


Sementara itu, Sir Derick dan tiga pelayan pribadiku diusir dari gazebo sehingga hanya menyisakan kami di dalam gazebo.


"Yang Mulia," panggilku.


Viten hanya menaikkan sebelah alis sambil tangannya memegang cangkir teh Earl Grey. Dia sangat menyukai teh itu.


"Apa itu?" tanya Viten pada akhirnya.


"Apakah Anda—"


"Cukup," potong Viten. "Jangan bicara formal lagi padaku ketika hanya ada kita berdua."


Aku nyaris tertawa, tetapi menahannya setelah menyadari betapa menyedihkannya dia.


Aku yakin jika Viten hanya menginginkan seseorang yang bisa diajak bersantai bersama, bicara apa adanya tanpa nada formal, tanpa perlu menjilat dan meraup keuntungan satu sama lain, atau bicara dengan nada bijaksana yang membuat orang lain terpukau.


Karena itu semua bukan Viten.


Viten adalah orang yang menginginkan kasih sayang di kehidupannya. Hanya itu. Namun, sayang sekali, menjadi keluarga kerajaan, terlebih putra mahkota yang telah diagungkan seluruh orang sangat menekannya.


Sehingga Viten harus membuang jauh-jauh seluruh mimpi mengenai bagaimana rasanya dipeluk dengan hangat oleh keluarganya.


"Baik, baik. Yang Mulia, apa kamu tidak bekerja?" tanyaku dengan patuh, menghilangkan kata-kata formal di dalam kalimatku.


"Apa maksudmu? Apa kau pikir raja bisa liburan?" Viten meletakkan cangkir teh di atas tatakan hingga berbunyi nyaring, tak. "Tapi jika kau ingin liburan, aku bisa mengambil cuti."


Aku merinding atas pernyataan terakhir Viten. Tetap saja, meski sudah menghindari bendera kematian Viten, aku masih merasa sedikit takut padanya. Sebab, bayang-bayang kematian dan siksaan Viten yang ditujukan pada Serethy di novel terus menghantuiku. Dan membayangkan semua itu terjadi padaku, akan sangat menyeramkan hingga aku merinding hebat.


Aku masih belum boleh lengah. Tidak ada yang tahu kapan Viten akan berubah pikiran dan malah menyiksaku seperti di alur novel.


"Tidak, maksudku adalah, ajudanmu sudah menunggumu semenjak, um ... satu jam yang lalu? Sepertinya Yang Mulia sangat sibuk hingga ajudanmu terlihat resah?"


Ajudan yang aku sebutkan memiliki ekspresi cerah ketika aku menyebutkannya pada Viten.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti," kata Viten, lalu mengambil sepiring camilan less sugar. Viten tidak terlalu menyukai makanan manis.


Aku menghela napas pada Viten, lalu menatap simpati pada ajudan itu. Sorotku seolah mengatakan aku-tidak-bisa-membantumu-karena-Viten-tidak-bisa-dibujuk.


Ajudan itu tampak kecewa dan berbalik meninggalkan gazebo dengan punggung luyu.


"Aku memiliki banyak ajudan, aku tidak perlu terus hadir di ruang kerja untuk bekerja jika memiliki puluhan ajudan."


Hei, itu namanya perbudakan.


Aku nyaris ingin membalas Viten sebelum sebuah suara menginterupsi.


"Hei, Kakak!"

__ADS_1


Aku dan Viten menoleh secara bersamaan, lalu aku bisa melihat rambut hitam dan mata merah lainnya.


Aku memelotot, itu mirip. Pria yang sedang berlari heboh ke sini sangat mirip dengan Viten yang duduk di seberangku. Seolah-olah ada dua Viten di saat yang sama.


Brak!


Pria yang mirip dengan Viten memukul meja setelah tiba di gazebo, membuatku tersentak.


Sungguhan! Kenapa mereka sangat mirip? Sangat-sangat mirip hingga aku tidak bisa membedakannya!


"Cioten." Viten mendesah frustrasi. "Apa yang kau lakukan di sini?"


Pria yang dipanggil Cioten hanya menyengir lebar dan menyandarkan kepalanya pada kedua tangan yang memeluk tengkuknya sendiri. Ekspresinya cerah, berbanding terbalik dengan Viten yang mengutamakan sorot psikopat dan dingin.


"Aku mendengar rumor bahwa terdapat Putri baru di sini, aku hanya ingin melihat siapa perempuan itu," kata pria yang dipanggil Cioten sambil memperhatikanku dengan senyum cerah.


Matanya yang berwarna merah sangat mirip dengan Viten, tetapi cukup berbeda dalam bagaimana caranya menyorot sesuatu.


"Dan meninggalkan wilayah asal Matria?" dengus Viten. "Aku memberikanmu tugas untuk mengelola wilayah itu, dan kau kemari tanpa pikir panjang dan tidak ada surat pemberitahuan sama sekali?"


"Boo, Kakak tidak asik," ujar Cioten sambil cemberut. Lalu dia mendekati wajahku. Aku refleks menjauh hingga tubuhku bersandar di kursi.


"Jadi kamu, ya, Tuan Putri yang baru itu? Siapa namamu itu? Sereal? Serena? Tunggu, bukan itu."


"Serethy," potong Viten membuat Cioten menjentikkan jari.


"Itu dia! Halo, Tuan Putri Serethy." Cioten membungkukkan tubuhnya padaku sesuai etiket, lalu tangan kanannya terulur padaku. "Perkenalkan, aku adalah Cioten Marilion Asher, pangeran Kerajaan Asher. Senang bertemu denganmu."


Aku ragu-ragu memberikan punggung tanganku untuk dikecup.


Ekspresi Cioten langsung cerah.


Jujur saja, aku tidak tahu siapa pria ini. Dia tidak dijelaskan di dalam novel kecuali ada narasi mengenai Viten yang memiliki adik kembar yang dipisahkan darinya semenjak kecil oleh Ibu Suri, Mantan Permaisuri. Hal ini menjadi peraturan bagi seluruh istana mengenai jangan menyatukan dua putra kembar itu.


Namun, Ibu Suri sangat licik sehingga tidak membiarkan anak kembar itu untuk berjumpa hingga Viten naik tahta. Setelah itu, barulah Cioten bebas berkeliaran.


Omong-omong, jika aku ingat lagi, Ibu Suri bukanlah ibu kandung di kembar, melainkan ibu kandung dari seorang tuan putri yang sudah menghilang.


Rumor mengatakan jika tuan putri itu dijual di pasar gelap atau menjadi budak. Alasan inilah yang membuat Ibu Suri menekan Viten dan menjauhkannya dari Cioten.


Ibu Suri adalah orang yang pendendam. Jika dia kehilangan putrinya, maka Viten harus kehilangan adiknya juga.


Tuh, kan. Novel ini sangat brengsek.


Sekarang, Ibu Suri terbaring tidak berdaya di ranjangnya hanya untuk menyambut malaikat kematian.


Narasi ini dideskripsikan di novel ketika memasuki adegan masa lalu Viten yang menyedihkan. Mengingatnya membuatku simpatik pada raja muda itu. Usianya 27 tahun sekarang kalau aku tidak salah?


"Halo, Pangeran Cioten." Aku berdiri dari kursiku dan melakukan salam. "Perkenalkan, namaku Serethy Asher, Tuan Putri di Kerajaan Asher. Senang bertemu denganmu, Pangeran."


"Kau belum mendapatkan nama tengah?" tanya Cioten langsung, sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Nama tengah?"


"Kau tidak tahu? Hanya Keluarga Kerajaan saja yang boleh memiliki nama tengah di Asher. Dan kau adalah keluarga kerajaan juga, bukan? Kau harus segera mendapatkan nama tengahmu," kata Cioten lalu melirik Viten.


Viten sendiri hanya menghela napas, tetapi aku bisa melihat wajahnya sedikit melembut.


Mau bagaimanapun, dia adalah kakak yang sayang adik.


"Ah, aku akan segera mendapatkannya." Meski aku tidak tahu caranya, lanjutku dalam hati.

__ADS_1


Mendengar balasanki, Cioten tersenyum cerah lalu kembali melirik Viten.


"Oh, ya, Kak." Cioten mengambil camilan less sugar di piring Viten.


Viten tidak protes dan hanya meminum tehnya.


"Wilayah asal Matria sangat heboh."


"Kenapa mengatakan hal yang sudah pasti?" tanya Viten dengan tenang. "Mereka adalah rakyat Matria. Ketika kerajaan itu runtuh, tentu akan terjadi kehebohan. Itulah gunamu di sana, Cioten. Hentikan para revolusioner yang mengganggu itu. Mereka harus tutup mulut dan mulai sadar jika Matria sudah hilang dari peta dunia. Mereka adalah bagian dari Asher sekarang."


Aku lalu kembali duduk di kursiku dan meminum tehku dengan santai, meski sesekali Viten mencuri tatap padaku. Apa dia khawatir karena membicarakan Kerajaan Matria yang telah runtuh di hadapanku? Well, kamu salah mengkhawatirkan orang. Aku adalah wanita kantoran berusia 25 tahun, bukan bagian keluarga kerajaan Matria, jadi aku sama sekali tidak memiliki perasaan sedih dan marah terhadap hilangnya kerajaan itu dari peta dunia.


"Itu benar, Kak. Tapi aku datang karena rumor mengenai Tuan Putri sudah sampai ke wilayah asal Matria. Mereka bertanya-tanya mengenai apakah Tuan Putri pada akhirnya mengkhianati Matria dan kepercayaan mereka terhadap Tuan Putri? Apa sekarang Tuan Putri malah memihak Asher sepenuhnya?"


Cioten menarik teko, lalu menuangkan tehnya sendiri ke dalam cangkir teh yang kosong. Dia tampak andal melakukannya, seolah-olah sudah sering melakukan hal yang sama berulang kali.


"Cioten," panggil Viten. "Sebarkan rumor ini."


"Apa itu, Kak?"


Cioten meneguk tehnya tanpa memedulikan etiket keluarga kerajaan yang ketat. Dia tampak santai dan ... bebas. Dia tidak perlu terkekang oleh segala hal yang tidak dia sukai.


Tidak seperti Viten yang memiliki rantai di mana-mana untuk membelit tubuhnya, membuat pria itu kesulitan bergerak dan bebas.


Cioten adalah bentuk yang berbanding terbalik dengan Viten. Keduanya saling bertolak belakang. Jika Viten adalah matahari, maka Cioten adalah bayangannya. Tidak ada yang memedulikan bayangan, sementara semakin cerah cahaya, akan semakin gelap pula bayangannya.


Seluruh perhatian dan harapan akan tertuju pada apa pun yang orang lihat sebagai hal yang menarik. Harapan-harapan tak kasat mata dari orang lain akan terus menekan Viten dan membebani kedua pundaknya yang rapuh.


Apa Viten bisa iri pada adiknya, Cioten? Bukankah kehidupan seperti Cioten adalah apa yang Viten inginkan?


"Tuan Putri Serethy Asher tidak memihak Asher. Alasan Serethy menjadi Tuan Putri adalah untuk mempertahankan rakyat asal Matria sehingga mereka bisa mendapatkan pemimpin yang mereka percayai."


Aku mengernyit mendengar itu. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Itu karena tidak ada yang salah dengan rumor yang perlu disebarkan Cioten, karena itu akan membuat pengaruhku naik semakin pesat.


Well, kadang Viten juga akan sangat berguna bagi kelangsungan hidupku.


"Aku mengerti, Kak," balas Cioten sambil menyengir. Lalu kemudian, uhuk!


Tes, tes.


Darah menetes dari sudut mulut Cioten, membuatku menganga.


Viten sendiri langsung mengeluarkan saputangan di saku kemejanya dan menyeka darah, seolah sudah terbiasa.


"Aku akan pergi lebih awal, kau senang?" tanya Viten dengan senyum miring padaku.


Aku mengerjap. Senang apanya? Aku lebih khawatir pada Cioten yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya. Apa dia akan baik-baik saja? Memangnya seberapa sakit-sakitan tubuhnya hingga mengeluarkan darah sebanyak itu?


"A-Aku—"


"Ketika Upacara Pemberian Nama Tengah dilangsungkan, tolong undang aku, ya," kata Cioten dengan suara yang tidak jelas karena darah di mulutnya.


Viten hanya menghela napas dan mengalungkan lengan Cioten di bahunya, lalu membawanya keluar dari gazebo.


"Memikirkan nama tengah ketika kau sedang sekarat."


Samar, aku bisa mendengar nada sendu di balik kalimat Viten.


...***...


Petunjuk!

__ADS_1


Cara baca nama Cioten adalah Sioten, okey? Jadi bukan Kioten, karena bakalan weird banget, kan?


__ADS_2