I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
19. Dukungan Penuh


__ADS_3

Menolak tantangan Clare sama saja bunuh diri. Sebab, kompetisi di antara kedua calon kandidat ratu bukanlah ide Clare, melainkan firman Dewa yang turun kepada salah satu pendeta di kuil.


Di mana, firman Dewa harus turun hanya kepada pendeta saja. Dan setiap pendeta akan bersumpah pada Dewa untuk membuktikan keaslian firman tersebut.


Jadi, aku tidak memiliki pilihan lain selain memungut sarung tangan di lantai marmer dan meremasnya kuat. Ekspresi wajahku yang awalnya lembut, berubah menjadi dingin.


Ini akan merepotkan. Aku bisa mengetahuinya.


Aku tidak bisa meremehkan Clare. Dia bukanlah lawan yang bisa dianggap mudah.


Semenjak dulu, tidak, bahkan di sepanjang cerita novel [Luka Serethy], Clare selalu rakus akan posisi ratu, yaiti posisi tertinggi kedua di Kerajaan, dan akan melakukan segalanya untuk mencapai tujuannya. Bahkan dengan menyiksa atau membunuh. Clare selalu berambisi untuk mengisi posisi itu.


Clare sudah dipersiapkan menjadi ratu bahkan ketika dia masih remaja, sebelum Viten ditetapkan untuk naik tahta. Karena Duke Cyrill sangat yakin, bahwa putrinya akan menjadi ratu di kemudian hari hanya dengan mendukung setiap pergerakan Viten.


Akan tetapi, ada satu variabel di mana Clare merasa posisinya terancam akan diambil alih.


Itu ketika Serethy datang dan mulai menarik seluruh atensi Viten. Meski Viten memberikan atensinya pada Serethy dengan cara yang salah, Clare tahu bahwa Viten terobsesi pada seorang tawanan perang. Lalu, bisa saja posisi yang diidamkan Clare malah diberikan secara cuma-cuma pada tawanan perang yang rendahan.


Clare bukanlah seseorang yang pantas untuk diremehkan. Dia memiliki wawasan dan pengalaman yang luas. Jadi, aku tidak tahu apa berkompetisi dengannya benar-benar pilihan yang tepat atau salah.


"Tuan Putri." Clare tersenyum, tangannya terulur ke samping, dan seorang pelayan secara alami langsung menyerahkan gulungan kertas di atas nampan perak. "Ini adalah firman yang ditulis oleh pendeta. Saya bisa menjamin keasliannya karena saya mengundang pendeta yang diturunkan firman Dewa kepadanya untuk datang ke pesta ini sebagai ucapan terima kasih saya. Pendeta itu berada di ruangan privat jika Tuan Putri ingin menemuinya."


Aku hanya menatap Clare dengan tatapan tajam.


Clare lalu membuka gulungan kertas, seakan tidak memedulikan sorot yang menusuknya.


"Di sini tertulis bahwa kompetisi calon kandidat ratu akan dibagi menjadi tiga bagian. Bagi kandidat yang telah memenangkan dua bagian, dialah pemenangnya dan pantas menjadi ratu Asher."


Clare memberikan jeda sambil mengobservasi reaksiku.


Untung saja aku tidak memberikan reaksi berarti, sebab jika aku menunjukkan ketidaksukaanku, Clare pasti akan merasa puas dan menang.


"Kompetisi yang pertama akan diadakan pada akhir bulan Mei."


Bisik-bisik para bangsawan langsung terdengar di seluruh ruang pesta.


Ada apa ini?


Aku melirik Sir Derick.


"Di bulan akhir Mei nanti, akan ada kompetisi berburu yang dilaksanakan setiap tahunnya," ujar Sir Derick tanpa perlu kutanya.


Sir Derick menjawab dengan baik, tetapi sorot matanya yang tajam masih belum meninggalkan Clare.


"Berburu. Apa Dewa menghendaki kedua kandidat untuk berburu?"


Aku bisa mendengar Arley berbisik pada Gracelynn. Rupanya mereka berdua belum benar-benar meninggalkan aku, tetapi hanya sedikit menepi.

__ADS_1


"Bagaimana jika syarat kemenangannya adalah berburu beruang?"


"Itu sangat berbahaya! Bahkan babi hutan saja sudah dianggap sebagai bahaya level satu! Mau dianggap apa beruang yang merupakan hewan paling buas di Kerajaan ini?"


Aku lalu mendengar Clare terkekeh kecil. "Tenang saja, Tuan Putri."


Aku kembali memberikan Clare atensi.


"Perburuan ini tidak akan membuat kami berdua meregang nyawa. Itu karena, apa yang Dewa kehendaki adalah berburu kelinci."


Lalu para bangsawan di ruang pesta menyuarakan keheranan mereka.


"Itu benar, Tuan Putri," lanjut Clare. "Kelinci. Barang siapa yang lebih dulu memburu tiga kelinci dalam tiga puluh menit, maka dialah yang memenangkan bagian pertama kompetisi."


"Hanya itu saja?"


Bisik-bisik kembali mendominasi lagi, seakan menilai, menjadi juri, dan melihat siapa yang lebih pantas.


"Bukankah kompetisi itu terlalu sederhana?"


"Jika hanya memburu tiga kelinci dalam tiga puluh menit, wanita bangsawan mana saja pun bisa melakukannya."


"Apakah ini benar-benar kompetisi bagi kedua calon kandidat ratu?"


"Ini terlalu mudah! Apa yang sebenarnya Dewa Matahari rencanakan?"


Tiga kelinci dalam tiga puluh menit. Kasus ini bisa dikatakan sebagai kasus yang mudah, terlebih bagi kedua calon kandidat ratu.


Seharusnya, kompetisi yang diberikan pada wanita yang akan menjadi ratu di masa depan haruslah menjadi kompetisi yang sulit.


Apa yang Dewa Matahari rencanakan? Semenjak aku tiba di sini, aku yakin bahwa satu-satunya yang dapat membuatku bertransmigrasi ke dunia ini adalah Dewa Matahari. Itu karena hanya Dewa Matahari yang memiliki kuasa di dunia ini. Jadi, apa yang sebenarnya Dewa Matahari cari dariku? Dan apa tujuan Dewa Matahari untuk mentransmigrasikan aku ke dunia novel ini? Aku penasaran. Sangat. Apa aku adalah orang terpilih untuk melakukan sesuatu atau menjadi tumbal agar terlaksana sesuatu?


"Bagaimana, Tuan Putri? Apa Anda menerimanya?"


Aku mengerutkan dahiku pada seringaian Clare.


Aku harus menerima kompetisi ini meski aku tidak menginginkannya. Sebab, mungkin saja aku ingin berinteraksi dengan Dewa Matahari lewat kompetisi ini dan bertanya pada Dewa Matahari mengenai mengapa aku ada di sini dan apa tujuanku berada di sini? Jadi, aku akan menerima kompetisi ini. Kompetisi di mana Dewa Matahari-lah yang memprakarsainya.


"Aku meneri—"


"Maaf menginstrupsi perbincangan kalian, Tuan Putri dan Nona Clare."


Aku kemudian menaruh atensi pada seorang pria berambut perak yang memotong pembicaraan kami. Ruang pesta juga menjadi hening, dan seluruh perhatian hanya tertuju pada putra Marquis itu.


Axel maju dan mendekati kami dengan langkah yang santai. Dia bahkan menyempatkan diri untuk menunjukkan senyumannya yang tenang.


Axel mengedipkan sebelah matanya padaku—yang membuatku bergidik, lalu mengarahkan atensinya secara langsung pada Clare.

__ADS_1


Aku tidak tahu apakah aku salah lihat, tetapi mata emas Axel tampak menyimpan kebencian ketika sepasang manik itu menyorot nona berambut zamrud. Namun, itu hanya sekilas. Hanya sesaat sehingga tidak akan ada yang dapat memperhatikan hal sekecil itu kecuali aku yang berada di dekatnya.


Aku tidak tahu apakah Sir Derick di belakangku juga melihat detail itu, karena dia masih sibuk memelototi Clare.


"Maaf menyela, Nona Clare," ujar Axel. "Akan tetapi, apa saya tidak salah dengar?"


"Tidak salah dengar, Tuan Muda Axel?"


Axel mengangguk ringan. "Tentu saja, Nona Clare. Kalian berdua adalah calon kandidat ratu. Wanita yang paling terhormat di seluruh kerajaan, wanita yang paling berkuasa di seluruh kerajaan, dan wanita yang akan memerintah negeri ini. Akan tetapi, jika kompetisi untuk menjadi ratu akan semudah itu, bukankah wanita bangsawan mana pun bisa melakukannya?"


Axel mengatakan hal yang masuk akal. Semenjak Clare menyatakan bahwa kompetisi pertama akan terjadi pada kompetisi perburuan tahunan, yang menyatakan bahwa kedua kandidat ratu harus berburu tiga kelinci dalam tiga puluh menit, kejanggalan sudah terjadi. Apakah proses menjadi ratu akan semudah itu?


"Apa Anda meragukan firman Dewa Matahari, Tuan Muda Axel?"


"Hm? Mana mungkin saya meragukan firman tersebut, Nona Clare. Hanya saja, saya meragukan Anda."


Clare tertawa tidak percaya. "Saya?"


"Ya, apa yang Anda rencanakan, Nona Clare?"


Clare menghela napasnya. "Saya dengan tegas menyatakan bahwa saya tidak merencanakan apa pun, Tuan Muda Axel."


"Bagaimana Anda akan membuktikannya?"


"Pendeta yang menjadi perantara firman ini ada di ruang privat. Jika Anda ingin menemuinya, saya akan mengantar Anda secara langsung." Clare tersenyum anggun dan tenang. "Dan perlu saya ingatkan kembali, Tuan Muda Axel. Jika Anda meragukan firman ini, maka Anda juga telah meragukan kata-kata dari Dewa. Itu adalah dosa yang amat besar, Tuan Muda. Terlebih, bagi keluarga Krone yang sangat taat kepada Dewa Matahari. Apa kata orang apabila keturunan masa depan Krone telah meragukan kepercayaannya sendiri?"


Axel hanya tertawa. Tawa kesal.


Kata 'meragukan' yang Clare katakan membuat Axel murka. Axel tentu tidak bisa meragukan firman Dewa ketika keluarga Krone begitu mengagungkan Dewa Matahari.


"Anda menang, Nona Clare. Saya tidak berani untuk berurusan dengan Dewa Matahari yang sangat saya cintai." Axel menggedikan kedua bahunya dengan santai.


Hening untuk beberapa saat sebelum sorot tajam dan dingin milik Axel menyapu aula pesta.


"Akan tetapi, saya menyatakan secara tegas kepada seluruh bangsawan yang hadir di pesta ini bahwa Axel Krone, Marquis masa depan, telah menyatakan dukungan penuh terhadap Tuan Putri Serethy Rexanne Asher untuk menjadi ratu masa depan di Kerajaan Asher. Segala bentuk dukungan yang dibutuhkan Tuan Putri akan saya tanggapi dan lakukan. Maka, bagi siapa pun yang menentang keputusan saya, siapa pun orang itu akan mendapatkan hukuman yang membuat kalian jera."


Aku memelotot.


HEH! Kenapa dia mengatakan hal yang sangat mengerikan di hadapan seluruh bangsawan di sini?! Kurang ajar! Bajingan! Sialan!


Menyatakan dukungan penuh pantatmu! Lihatlah apa yang sudah kau perbuat, Axel!


Dukungan penuh dari putra Marquis, calon Marquis di masa depan, bukanlah dukungan yang main-main.


Di Kerajaan Asher, hanya terdapat dua keluarga Marquis, dan Marquis Krone adalah keluarga bangsawan yang memiliki pengaruh yang sangat besar, bahkan hampir menyaingi keluarga Duke. Apabila aku mendapatkan dukungan penuh dari Krone, maka banyak faksi juga yang akan mendukung aku untuk menjadi ratu.


Sial. Apa Axel akan membuatku bekerja rodi untuk menjadi ratu di masa depan?

__ADS_1


Aku menatap Axel dengan sorot kecewa.


__ADS_2