I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
39. Peri


__ADS_3

Malam itu, teriakan bergema di sudut terlarang Istana Kebahagiaan. Kini, tak lagi sewajarnya bagi nama yang tersemat di balik nama istana menjadi sebuah kenyataan, di bangunan megah tersebut hanya ada duka yang mengudara.


Cioten, dengan perasaan putus asa yang menusuk dadanya, berteriak tak keruan hingga tenggorokannya mati rasa.


Prang!


Seluruh dekorasi dan pernak-pernik di kamarnya pecah dan berantakan.


Vas, guci, patung telah kehilangan harga diri mereka sebagai pemanis pandang. Pakaian dan berlian berserakan di lantai yang dingin. Lukisan dan potret mahal kini pecah dan hancur. Meja, sofa, dan ranjang kini telah hancur tak berbentuk.


Ruang kamar Cioten yang awalnya terlihat megah, kini tak pantas lagi menyandang gelar sebagai kamar.


"Brengsek, brengsek, brengsek! Dewa Kematian brengsek! Aku tidak akan pernah rela! Dasar bajingan!"


Teriakan yang sama bergema di dalam ruangan, terulang, bagaikan mengucap mantra.


"Uhuk!"


Teriakan Cioten terhenti ketika dia memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Sebagai gantinya, dia terbatuk hebat hingga dadanya terasa panas dan perih. Tenggorokannya mati rasa dan matanya berkaca-kaca.


"Sakit," gumamnya, lantas meluruhkan segalanya. Tangis yang membludak pecah selayaknya kaca terombang-ambing, isakan yang ditahan telah lolos mengisi melodi kosong dalam not nada berupa hening, serta guncangan tubuh menjadi pertanda bahwa ia tengah berduka; menangisi derita yang mendera.


"Sakit, Ibu." Dengan gumaman terakhir, Cioten menyembunyikan wajahnya di kedua lutut. Tak memedulikan darah yang membentuk genangan mungil, darah yang mengotori pakaiannya, dan darah yang masih menetes dari sudut bibirnya.


Tubuh Cioten bergetar tak terkendali.


...***...


Dua anak laki-laki berusia enam tahun itu memiliki sorot mata yang sama kala melihat sesuatu. Di wajahnya yang polos, masih belum terlihat tanda-tanda bahwa ianya telah mengerti arti kehidupan.


Apa itu arti kehidupan yang sesungguhnya? Apa itu duka yang dapat mendera? Apa itu topeng di muka? Apa itu derita di dada? Apa itu luka yang tersayat?


Keduanya masih belum mengetahuinya. Keduanya masih menjadi anak polos yang masih memikirkan apa yang harus mereka mainkan selanjutnya. Apakah itu petak umpet? Atau kucing-kucingan?


Namun, menjadi Putra Raja bukanlah gelar yang mengenakkan. Menjadi Putra Raja artinya tidak mendapatkan kebebasan dengan semestinya. Apalagi jika keduanya adalah putra langsung dari Raja dan Ratu. Maka, tanggung jawab yang diemban oleh keduanya lebih besar dari yang bisa dibayangkan oleh pikiran polos mereka.


"Kakak."


"Hm?"


Kedua pasang jemari saling bertautan, dibawa menari di udara.


Suara khas rerumputan yang dipijak menjadi melodi pengantar dua bocah yang tengah menjejaki taman istana. Berehat dari kelas-kelas etiket dan studi alam serta sosial yang melelahkan.


"Kita benar-benar tidak bisa bertemu dengan Ibu lagi, ya?" tanya Cioten.


Viten mengangguk kecil. "Katanya, iya. Aku sih tidak terlalu mengerti. Lagipula tidak ada bedanya. Ibu, kan, tidak pernah menemui kita."


Cioten mengangguk. "Benar juga. Kata Kakak pelayan, kita diabaikan oleh Ibu. Kakak, diabaikan itu artinya apa?"


"Aku tidak tahu. Nanti tanya Kakak Pelayan saja."


Cioten menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa dia setuju. Namun, belum sempat menjawab, matanya yang sewarna darah telah lebih dulu bertemu pandang dengan seorang wanita yang menawan.


Cioten melepaskan tautan jemarinya dan berlari. Viten sedikit panik, tetapi mengikuti langkah adiknya dengan langkah yang stabil.


Kini, Viten dan Cioten berdiri tepat di hadapan seorang wanita dengan perut buncit. Wanita itu sedang mengandung. Di belakangnya, selusin pelayan mengekori.


"Apakah kamu adalah seorang peri?" Binaran dan pertanyaan Cioten yang tiba-tiba pada wanita itu membuatnya tertawa kecil.


Wanita itu ingin berlutut, tetapi perutnya yang telah membesar membuatnya sedikit kesulitan. Namun, wanita itu berhasil menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan kedua bocah berusia enam tahun.


"Izinkan saya untuk menjawab pertanyaan Anda, Pangeran. Maaf, tapi saya bukan seorang peri," jawab wanita itu dengan kekehan kecil.


"Lalu, kamu siapa? Kamu cantik sekali!" ujar Cioten dengan antusias yang membara.


Wanita itu lagi-lagi tertawa. "Namaku Calmaria Cyrill. Selir dari Yang Mulia Raja dan bukan seorang peri, mohon dicatat, ya, Pangeran."


"Tidak masuk akal! Kakak Pelayan yang selalu membacakan dongeng mengatakan bahwa peri itu sangat memesona dan menawan! Jadi, kamu pasti peri yang sedang menyamar!"


Calmaria tidak bisa menahan tawanya. "Pangeran sangat manis sekali!"


"Selir itu apa?" Pertanyaan yang Viten secara spontan pertanyakan membuat Calmaria menolehkan kepalanya.


"Pangeran Viten, selir adalah istri Raja," balasnya dengan sabar dan tenang.


"Sama seperti ibuku?"


Calmaria terdiam untuk sesaat. "Ya, sama seperti mendiang Yang Mulia Ratu. Namun, saya sedikit berbeda."


"Apanya yang berbeda?"


Calmaria kesulitan menahan pekikan kegemasan kala dua bola mata yang identik sama-sama menunjukkan sorot dan binaran yang sama. Kepolosan dan rasa ingin tahu.


"Pangeran berdua akan mengerti jika tubuh kalian sudah setinggi saya."


"Ah, itu mudah!" sahut Cioten. Viten diam-diam mengangguk. "Aku akan cepat tumbuh besar dan setinggimu, Peri!"


"Saya suka antusiasme Pangeran, tapi mohon panggil saya Calmaria saja. Saya bukan peri."


"Baiklah, Calmaria? Kakak Calmaria?"


Calmaria sekali lagi memekik gemas. "Pangeran imut sekali! Saya jadi ingin memangsa pipi Pangeran!"

__ADS_1


"Nona Calmaria."


Pelayan di belakang Calmaria akhirnya maju setelah menyaksikan bagaimana Calmaria menjadi penggemar dadakan dua bocah berusia enam tahun.


"Anda sudah berlutut cukup lama. Bisa-bisa kaki Anda sakit. Jika Pangeran sekalian ingin berbincang dengan Nona Calmaria, Anda berdua bisa mengunjungi Istana Permata."


"Chloe," panggil Calmaria, memeringati.


"Tapi Anda sedang mengandung. Saya ingin Anda tidak lupa bahwa Anda harus menjaga kesehatan Anda karena ini tidak hanya menyangkut soal Anda saja."


Calmaria menghela napas dan menegakkan tubuhnya, dibantu oleh Chloe.


Viten dan Cioten saling berpandangan dan mulai berbisik dengan volume suara yang hanya bisa didengar oleh keduanya.


"Apa kelas selanjutnya?"


"Sejarah Kuno."


"Tidak mengikutinya untuk sekali mungkin tidak apa-apa."


"Benar. Ayo ke Istana Permata."


"Iya, iya. Aku ingin tahu kenapa perut Kakak Calmaria besar sekali."


"Betul. Ayo."


Viten dan Cioten yang saling berbisik akhirnya menegakkan tubuh mereka.


"Kami akan mengunjungi Istana Permata sekarang!" ujar Cioten.


"Tapi bukankah Anda berdua memiliki kelas Sejarah Kuno dengan Tuan Conrad selanjutnya?"


Viten dan Cioten berjengit.


"Bagaimana kamu tahu?"


Calmaria terkekeh kecil. "Seluruh orang di istana ini tentu saja tahu mengenai jadwal Anda berdua."


"Apa benar begitu?"


"Benar, Pangeran. Hal ini untuk mencegah kalian berdua membolos atau tidak menghadiri kelas."


Viten menelan ludah karena sudah tertangkap basah berniat untuk bolos, sementara Cioten kelihatan kecewa.


Yah, menjadi pangeran yang merupakan keturunan langsung dari dua penguasa utama bukanlah perkara mudah. Keduanya tentu saja mendapatkan pendidikan yang lebih ketat untuk dipersiapkan menjadi penguasa negara di masa depan.


"Chloe," panggil Calmaria. "Tolong antar Pangeran menuju kelasnya."


"Baik, Nona—"


"Itu merupakan sebuah kehormatan bagi saya, Pangeran. Namun, Anda berdua perlu mengikuti kelas." Jawaban Calmaria membuat di kembar terlihat makin kecewa. "Namun, bagaimana jika Anda berdua mengunjungi Istana Permata ketika jadwal Anda kosong?"


"Ide yang bagus!" sahut Cioten dengan antusias, melupakan sorot kecewa yang dipasang di wajahnya sebelumnya. "Kami akan melihat jadwal kami dan datang ke Istana Permata saat jadwal kosong!"


Sayangnya, jadwal keduanya kosong setelah satu minggu berlalu.


...***...


"Peri! Peri! Eh, Kakak Calmaria!"


"Cioten, jangan lari!" Peringatan Viten dianggap lalu ketika Cioten malah melemparkan dirinya ke dalam pelukan Calmaria. Cioten kemudian menyamankan dirinya dalam pelukan Calmaria. Seolah tak asing dengan rengkuh hangat yang tentu saja tidak familier di permukaan kulitnya.


Viten mendekat dengan kesal. Bibirnya sedikit mengerucut dengan lucu karena perasaan iri yang tiba-tiba membara.


Aku juga ingin dipeluk, gumamnya.


Calmaria terkekeh kecil. "Ya ampun, Pangeran. Sudah satu minggu kita tidak bertemu, bukan? Apakah Pangeran sekalian merindukan saya? Saya sampai kesulitan tidur karena memikirkan kalian berdua, terutama pipi Anda berdua yang menggemaskan!"


Calmaria ingin sekali mencubit pipi gembul si kembar, tetapi menahan diri karena tahu itu tidak akan disukai si kembar.


Cioten akhirnya melepaskan diri dari pelukan Calmaria. Sebagai gantinya, Calmaria menarik Viten ke dalam pelukannya.


Viten sedikit terkejut tetapi menerima pelukan dengan senang hati.


Kemudian, entah mengapa bagi anak yang masih berusia enam tahun itu, dia merasakan perasaan asing yang membuncah di dadanya. Viten menyukai bagaimana tubuhnya direngkuh dalam pelukan hangat yang tak pernah ia rasakan, lantas mengenai betapa nyamannya mengistirahatkan kepala di pundak sebagai tempat sandaran yang layak.


Bagi anak-anak berusia enam tahun untuk mendapatkan tekanan menjadi seorang penguasa di masa depan tidaklah berdampak baik bagi keduanya.


"Karena Anda berdua sudah di sini. Bagaimana jika kita melanjutkan obrolan kita yang tertunda sebelumnya?" usul Calmaria dengan senyum cerah di bibir, membuat pipi merona mesra lantaran betapa lebarnya senyum yang dipasang.


...***...


Gazebo yang berada di taman Istana Permata terlihat megah meskipun status sosial yang dimiliki Calmaria hanyalah sebatas selir.


Akan tetapi, perlu diingat bahwa selir yang berasal dari keluarga Cyrill bukanlah selir yang bisa dianggap sepele. Cyrill menghasilkan banyak keturunan ratu dalam sejarah keluarga Cyrill dengan bangganya, membuat status sosial Calmaria berakhir lebih tinggi daripada selir-selir lainnya.


Di atas meja bundar pula telah dipenuhi oleh kudapan manis dan susu untuk si kembar. Teruntuk Calmaria, dia cukup hanya dengan secangkir teh favoritnya, Earl Grey.


Melihat kedua Pangeran makan kudapan manis dengan antusias membuat Calmaria ingin mencubit pipi gembil keduanya.


"Kakak Calmaria," panggil Cioten, dia menelan kue stroberi terlebih dahulu sebelum membuka bibirnya. "Aku sudah bertanya pada Kakak Pelayan, katanya Kakak Calmaria sebenarnya adalah ibu kami?"


Viten memakan kue kering dengan etiket yang lebih baik daripada Cioten yang tidak memikirkan bagaimana dia bertindak dan terus berperilaku secara bebas.

__ADS_1


Calmaria tersenyum lembut. "Lebih tepatnya adalah calon ibu kalian berdua."


"Mengapa?"


"Saya akan dinobatkan menjadi Ratu setelah saya melahirkan. Jadi, Anda berdua akan menjadi putra tiri saya."


"Intinya, Kakak Calmaria adalah ibu kami, begitu?" tanya Cioten, mengambil kesimpulan.


Calmaria mengangguk. "Bisa dikatakan seperti itu."


"Boleh aku bertanya?"


Calmaria melirik Viten yang baru saja membuka suaranya setelah bungkam untuk beberapa saat. "Ya, Pangeran. Silakan bertanya."


"Sebenarnya, apa peran ibu untuk anaknya? Apakah peran ibu itu berguna untuk kelangsungan hidup kami berdua?"


Calmaria tampak terkejut ketika mendengar pertanyaan tak biasa dari bocah berusia enam tahun.


Calmaria tentu mengetahui bagaimana mantan Ratu telah mengabaikan dua putranya dan hanya fokus untuk memenuhi tugas administrasi. Oleh karena itu, masuk akal apabila kedua putranya tak dapat memahami apa sebenarnya peran ibu bagi anaknya. Bahkan sebelum keduanya memahami secara jelas apa peran seorang ibu, Ratu telah lebih dulu mati karena diracuni.


Calmaria tetap mempertahankan senyumannya, meski berakhir dengan senyuman aneh.


"Tentu, ada banyak sekali peran ibu untuk kehidupan anaknya, Pangeran. Anda berdua mau mendengarnya?"


Viten dan Cioten mengangguk secara bersamaan.


"Peran ibu adalah untuk mengawasi pertumbuhan anak-anaknya, memberikan kasih dan cinta dengan semestinya, dan mendidik anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang baik dan hebat."


Memberikan validasi terhadap pencapaian anak-anaknya, memberikan pelukan dan kecupan kasih untuk menyatakan bahwa mereka pantas untuk dicintai, untuk tidak meninggalkan sisi anak mereka apa pun yang terjadi, untuk membantu segala kesulitan yang dihadapi oleh mereka, merawat mereka tanpa melukai fisik dan mental mereka, lantas merasa bangga akan eksistensi mereka yang berharga.


Calmaria ingin menjawab lebih akan pertanyaan Viten, tetapi takut jika kedua anak berusia enam tahun itu akan sulit mengartikan jawabannya.


"Tapi ibu kami tidak begitu!" seru Cioten dengan kerutan di dahi. "Aku bahkan tidak kenal ibuku sendiri. Menyebalkan."


"Itu benar," sambung Viten. "Aku tidak tahu apa saja peran ibu bagiku. Jadi, jika memang peran ibu itu berguna untukku, aku akan mempertimbangkannya."


"Karena meski ada ibu atau tidak, orang yang merawat kami cuma Madam Kricia dan Kakak Pelayan!"


Calmaria tersenyum kaku pada jawaban menyedihkan dari bocah berusia enam tahun. Simpatik di hatinya disalurkan pada kedua anak yang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Diam-diam menjanjikan cinta dan bahagia pada keduanya setelah resmi dijadikan ibu tiri mereka.


"Tidak apa-apa, Pangeran. Sebagai gantinya, saya pasti akan memainkan peran seorang ibu yang baik terhadap kedua putranya. Saya akan menjadi seorang ibu untuk kalian."


Baik Viten dan Cioten mengulas senyum di bibir mereka yang semerah ceri. Menyetujui ide yang diutarakan Calmaria.


Si kembar akhirnya membicarakan banyak hal hingga kudapan di atas meja hampir habis dan sang surya hampir tenggelam.


"Kalau begitu, Ibu Calmaria. Kenapa perut Ibu Calmaria besar sekali?" Cioten memeragakan kalimatnya dengan membentuk bundaran sebesar tubuhnya yang mungil oleh kedua lengannya. Cioten pula telah menyematkan panggilan Ibu setelah percakapan mengenai ibu berakhir.


Calmaria terkekeh kecil dengan perilaku Cioten.


Cioten adalah pribadi ekspresif yang terus mengungkapkan segalanya dengan bebas tanpa peduli rantai yang menyergapnya. Berbeda dengan Viten yang lebih banyak diam dan menilai situasi sebelum bertindak.


Meski keduanya sama-sama masih memiliki pikiran yang polos, Viten tetap memiliki potensi untuk lebih bertingkah dewasa daripada Cioten.


"Jika saya adalah ibu kalian, maka di perut saya ini adalah calon adik kalian."


Viten dan Cioten bertukar pandang. "Adik?"


...***...


"Kudengar kau dekat dengan putraku akhir-akhir ini?"


Roth Valentino Asher menyamankan dirinya di sofa kamar Calmaria. Calmaria yang duduk di samping Roth mengangguk kecil.


"Benar, Yang Mulia. Putra Anda sangat manis sehingga saya tidak bisa menahan diri untuk tidak dekat dengan mereka."


"Baguslah." Roth mengangguk. "Lagipula kau adalah ibu mereka. Sebagai ibu, kau harus akrab dengan keduanya."


"Tentu, Yang Mulia."


Jeda sejenak.


"Kapan waktu persalinannya?"


"Kurang dari sepekan, Yang Mulia."


"Si kembar pasti senang akan punya adik baru. Terutama Cioten, dia tidak akan menjadi si bungsu lagi."


Roth mengalunkan tawa, begitu pula Calmaria.


...***...


Calmaria telah hidup dengan kebohongan yang tercetak di pikirannya bahwa Millia Asher, putrinya yang berusia delapan tahun, masih hidup.


Bahwa Millia Asher hanya menghilang dari rengkuhan Calmaria, sehingga Calmaria mengupayakan segala macam cara untuk mencari putrinya.


Baik Viten dan Cioten, yang telah menjadi bagian kehidupan Millia Asher selama delapan tahun pun turut merasakan duka yang mendalam di hati. Ditambah, melihat kondisi menyedihkan Calmaria yang tak mau menerima fakta akan kematian putrinya membuat si kembar digempur perasaan perih di relung dada.


Berkali-kali Viten dan Cioten meyakinkan Calmaria bahwa Millia Asher telah direnggut oleh Dewa Kematian, sehingga mau membalikkan satu benua untuk mencari Millia pun tidak akan bisa ditemukan. Kecuali mereka menggali kembali lubang kuburan Millia.


Akan tetapi, mau sebanyak apa pun si kembar meyakinkan Calmaria, Calmaria tetap tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Tidak, lebih tepatnya tidak ingin menerima kenyataan pahit tersebut.


...***...

__ADS_1


Viten suka teh apa? Hint di chapter 12. Silakan vote dan komentar yang banyak ya, jangan lupa ajak temen kalian untuk ikut baca perjalanan Serethy dan kawan-kawan.


13 Desember 2022


__ADS_2