![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Warning: Ada adegan pembunuhan brutal di sini. Jika kamu ngeri dengan pembunuhan seperti ini, kamu bisa skip dan baca ringkasan di writer's note, ya!
Aku udah peringatin lho, jangan ngeyel, ya.
...***...
Siang hari sudah berlalu ketika Cioten tiba ke gazebo dan muntah banyak darah. Sekarang adalah malam di mana bulan purnama bersinar dengan terang, bahkan cahayanya menyisipi kisi-kisi jendela di kamar mewahku. Bukannya mau sombong, tapi si Viten itu benar-benar memberikanku kamar yang megah.
Berbagai dokter juga sudah dipanggil Viten ke sebuah kamar di Istana Kebahagiaan hingga aku bisa dengan mudah mengakses banyak informasi karena aku tinggal di istana yang sama.
Cioten memiliki masalah dengan organ internalnya, seolah mereka semua tidak bekerja dengan baik. Rumor mengatakan bahwa Cioten tidak diberkati Dewa Matahari sehingga dia sakit parah dan tidak memiliki penawar untuk obatnya. Dikatakan bahwa seiring waktu berjalan, tubuh Cioten digerogoti oleh penyakit yang akan membuatnya mati cepat atau lambat.
Aku sangat simpatik pada pernyataan mengenai bagaimana Cioten sakit parah.
Sementara permintaan Cioten sendiri adalah berkeliaran dan mengelola wilayah asal Matria. Alasannya sederhana, katanya dia ingin menikmati hidup sebelum malaikat kematian menjemputnya.
Aku tidak tahu harus simpatik padanya atau menganggapnya bodoh. Sudah jelas tubuhnya sekarat, dan dia ingin menekan dirinya sendiri seperti itu? Bukankah dengan itu, keadaan tubuhnya akan semakin memburuk?
Namun, tetap saja, ketika aku memikirkan betapa banyaknya darah yang dimuntahkan Cioten saat di gazebo, aku merinding dan takut.
Daripada disebut sebagai muntah darah, bukankah itu disebut sebagai pendarahan parah? Jika aku tidak berlebihan, mungkin ada sekitar satu sampai dua liter darah yang dimuntahkan.
Aku merinding lagi hanya dengan memikirkannya.
Aku lalu bersandar di kepala ranjang. Ketiga pelayanku sudah meninggalkan aku satu jam yang lalu setelah beranggapan aku tertidur.
Sir Derick seharusnya berjaga di depan pintuku, tetapi aku sudah mengusirnya dengan halus supaya dia juga mendapatkan waktu tidur yang cukup. Meski menjadi ksatria pribadi keluarga kerajaan, bukan berarti Sir Derick harus menyiksa dirinya sendiri dengan terjaga selama 24 jam penuh. Bukankah itu sama saja dengan penyiksaan?
Namun, aku yakin jika di depan kamarku terdapat bawahan Sir Derick yang menjagaku sepanjang malam. Dia benar-benar waspada.
Well, aku hanya melihat bahwa dia tengah berlaku manis, sih. Dia khawatir padaku. Khawatir.
Aku terkikik membayangkan wajah memerah Sir Derick.
Entah mengapa, aku merasakan bahwa Sir Derick mulai jatuh cinta pada Serethy. Iya, Serethy. Tubuh yang aku masuki oleh jiwa wanita kantoran yang tidak beruntung. Bukankah Sir Derick akan
jatuh pada wajah Serethy cepat atau lambat?
Mau bagaimanapun, Serethy adalah gadis yang sangat cantik. Bahkan seharusnya bisa menampar wajah YJH ribuan kali karena begitu cantiknya wajah Serethy. Aku tidak berlebihan ketika menyebut bahwa Serethy adalah gadis tercantik di seluruh Kerajaan Asher, wanita-wanita lain pasti akan dianggap sebagai kentang.
Hihi. Ya ampun, dasar aku.
Memikirkan banyak hal di malam hari adalah rutinitas harianku, bahkan sebelum aku bertransmigrasi ke novel [Luka Serethy]. Meski terkadang malah membuatku frustrasi sendiri dan imsomnia akut.
Inilah yang sedang aku alami sekarang.
Tubuh Serethy sangat mengantuk, tapi jiwaku masih terjaga.
Aku kesulitan tidur.
Menghela napas, aku memutuskan untuk menuruni ranjang empuk yang sangat nyaman.
Mengubek-ubek lemari, aku menemukan selendang berwarna ungu yang cantik. Sederhana, tetapi tampak elegan. Bahan selendang itu adalah sutra yang mahal. Dan kudengar, fragmen warna ungu di abad ini dikatakan sangat mahal.
Itu dikarenakan, hanya untuk menghasilkan satu gram warna ungu, dibutuhkan sembilan sampai sepuluh ribu siput laut Bolinus Blandaris yang hanya bisa didapatkan di laut Mediterania, di wilayah Tyre. Itu terbilang sangat mahal. Namun, kerajaan memiliki banyak uang untuk melakukan transaksi yang membuat perutku melilit. Jadi, melihat warna ungu ada di lemariku membuatku merasa lebih baik setelah membayangkan betapa terkurasnya uang Viten setelah membeli ini.
Tanpa pikir panjang, aku mengenakan selendang itu dan membuka pintu kamarku.
Aku langsung meringis ketika menyadari bahwa benar-benar terdapat satu ksatria, yang tampaknya ksatria tingkat tinggi sedang berjaga di depan kamarku.
__ADS_1
"Tuan Putri hendak ke mana?" tanya ksatria berambut merah itu. Aku menganggapnya sebagai Figuran A.
Wajahnya sangat datar dan tanpa ekspresi, khas Figuran A.
"Aku tidak bisa tidur dan memutuskan untuk jalan-jalan."
"Tidak bisa, Tuan Putri. Ini sudah larut," jawab Figuran A tanpa menaikkan atau menurunkan vokal suaranya.
Aku mendengus kesal. "Aku adalah Tuan Putri, turuti saja apa yang aku mau. Atau aku akan memberi tahu Yang Mulia atau Sir Derick bahwa kamu tidak melakukan tugasmu dengan baik," kataku, lalu melewati tubuh si ksatria yang mematung.
Aku terkikik dalam hati. Dia mudah sekali dibujuk dengan kekuasaan. Aku hanya menunjukkan bahwa aku adalah Tuan Putri dan dia langsung mengikutiku di belakang dengan patuh.
Pasti perintah yang diberikan Sir Derick pada Figuran A hanyalah sebatas "menjaga Tuan Putri", sehingga aku bisa memerintahkan sisanya asalkan dia menjagaku dengan baik.
Aku lalu berjalan-jalan di lorong lebar yang klasik secara perlahan. Menikmati momen ini. Momen yang aneh, tetapi nyata.
Mau berapa kalipun dilihat, lorong-lorong besar ini sangat indah dan megah. Ini sungguhan mencuci mata. Membuat suasana hatiku membaik.
Ukiran-ukiran rumit di dinding membuatku bertanya-tanya apakah diukir secara manual atau terdapat teknologi tersendiri di abad pertengahan ini?
Jika diukir secara manual, bukankah siapa pun orang itu sangatlah berbakat? Dan jika diukir menggunakan teknologi, orang yang menciptakannya juga sangatlah berbakat.
Juga banyak lukisan-lukisan yang tidak mau kutebak berapa harganya, karena jika aku tahu, aku pasti akan pingsan. Ada juga patung dengan berbagai ukuran, guci dan vas kosong, seolah hanga untuk pajangan. Kemudian kursi-kursi beludru yang diletakkan di setiap sudut lorong. Aku bertanya-tanya siapa yang mau duduk di sana dengan santai?
Langkah kakiku tanpa sadar membawaku lebih jauh menuju Istana Kebahagiaan. Bahkan aku mulai memasuki tempat di mana aku belum mengunjunginya karena saking luasnya istana ini.
Tentu aku menghindari jalan menuju ruang kerja dan kamar Viten, itu adalah cara agar aku tidak tertangkap masalah.
"Ho, dasar bajingan liar."
Aku tersentak ketika mendengar suara dingin yang menusuk.
Aku tiba-tiba bergetar karena hawa dingin menguar dari salah satu ruangan di mana pintunya tidak tertutup rapat. Cahaya lilin berpendar dan menembus sela-sela pintu.
Namun, entah apa yang membuat kakiku malah melangkah menuju ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka itu.
Aku nyaris memberi penghargaan pada diriku sendiri sebagai orang paling tolol sedunia.
Aku ingin berteriak pada diriku sendiri agar menghentikan kakiku yang melangkah dengan sendirinya.
"Berlutut, dasar bajingan tidak berguna."
Aku memelotot pada pemandangan di dalam ruangan.
Itu penuh ... darah. Aku hampir muntah jika aku tidak menahannya.
Namun, aku takut. Sial, ini sangat sial.
Di sana, orang yang ada di balik pintu, itu adalah seseorang yang aku tahu.
Pria berambut hitam itu menginjak kepala siapa pun itu yang bersujud di lantai hingga terdengar bunyi krak! Apa tulang tengkoraknya retak?
Ditambah, seluruh pakaiannya sudah bermandikan luka dan darah masih mengalir dari setiap luka yang tampaknya bersumber dari goresan pisau atau belati.
Orang yang bersujud itu adalah satu-satunya korban yang masih hidup di tengah-tengah orang mati. Benar. Ada banyak mayat di sekitar dua orang yang sedang aku perhatikan saat ini.
Mereka semua sepertinya sudah mati. Dilihat dari betapa banyaknya luka goresan yang dalam, sepertinya mereka mati karena disiksa terlebih dahulu hingga darah mereka terkuras dari tubuh. Mereka mati secara mengenaskan.
Apa Serethy juga mati seperti ini di dalam novel?
__ADS_1
Aku bisa melihat semua adegan di dalam ruangan itu dengan jelas karena tidak hanya satu atau dua lilin yang menyala, melainkan ada banyak lilin yang berpijar di berbagai sudut ruangan sehingga ruangan itu terlihat jelas.
"Ma-Maafkan saya, Yang M-Mulia," lirih siapa pun itu yang kepalanya masih diinjak.
Pria berambut hitam hanya menggumam kecil tidak puas, lalu makin menekan kakinya lebih dalam di kepala siapa pun itu.
"Akh!" Erangan mulai terdengar, sementara dahinya mulai mengeluarkan darah karena tekanan dari belakang kepalanya. "M-Maafkan saya, Yang Mulia! Saya bersalah! Maafkan saya! Saya sangat bodoh! Maafkan kebodohan saya, Yang Mulia! Biarkan saya hidup!"
Pria berambut hitam hanya menghela napas bosan.
"Kau membosankan, ya. Kalimatmu tidak ada yang lain? Kalimat itu sama-sama dikatakan oleh puluhan orang di belakangmu."
Pria itu mengeluarkan belati dari saku kemejanya, yang tampaknya dia mengoleksi banyak belati di balik kemejanya.
Belati itu berpendar dan membayangkan wajah si pelaku akibat cahaya lilin, sebelum belati itu menusuk leher orang yang bersujud.
"Akhhh!" Dengan satu teriakan, siapa pun orang itu tampaknya sudah mati. Terbukti dari bagaimana pria berambut hitam terus menikam kepalanya sampai hancur, tapi pria yang ditikam tidak memberikan reaksi berarti. Dia mati. Begitu saja.
Darah segar langsung keluar dari kepala yang hancur, sebagian besar terciprat kepada pelaku utama di wajah dan pakaiannya.
"Hahaha. Ya ampun, kau mudah sekali mati."
Prang.
Belati yang penuh darah itu dilemparkan ke tumpukan belati lain di sudut ruangan.
Tubuhku bergetar. Ini adalah insting bertahan hidup. Aku harus mundur jika aku ingin hidup. Aku harus lari sejauh mungkin dari ruang psikopat ini agar aku bisa hidup besok. Aku harus menghindari pria itu agar aku bisa bernapas lega.
"Tu-Tuan Putri."
Bruk.
Aku mundur dan tanpa sengaja menabrak dada Figuran A.
Seharusnya, suara tubrukan itu terdengar samar, tetapi malam hari adalah di mana suara terdengar lebih keras daripada yang seharusnya.
"Siapa di sana?"
Aku bisa mendengarkan langkah kaki dari dalam ruangan.
Tubuhku bergetar hebat, Figuran A juga mencoba untuk mengangkat tubuhku sehingga kami bisa kabur.
Namun, sebelum kami bisa kabur dan tubuhku diangkat oleh Figuran A, pintu dari ruang psikopat itu terbuka dan menampilkan iris merah darah yang menyeramkan.
Seluruh wajahnya tertutup darah merah yang menetes ke lantai, apalagi kemeja hitamnya yang kini telah berubah warna menjadi lebih pekat.
Tes.
"Oh, aku punya tamu?" Pria berambut hitam itu tersenyum lebar. "Selamat datang di ruangan pribadiku, Tuan Putri. Aku tidak menyangka kamu akan berkunjung sehingga pakaianku seperti ini. Bukankah sangat tidak sopan untuk menemui seseorang dengan penampilan yang buruk?"
Ketika mendengar pria itu bicara, rasanya jiwaku berkurang seribu tahun.
...***...
Ringkasan:
Serethy kesulitan tidur dan memutuskan untuk jalan-jalan di Istana Kebahagiaan, ditemani selendang ungu, dan Figuran A yang merupakan pengganti sementara Sir Derick yang disuruh Serethy untuk mendapat istirahatnya setelah 24 jam menjaga.
Di perjalanan, Serethy mendapati seorang pria berambut hitam tengah membunuh orang di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi mayat.
__ADS_1
...***...
ada yang ngeyel meski udah diperingati? well? well? itu risiko kalian sih .... aku udah peringati dan kalian yang ambil. cape ya? semangat. sampai jumpa di chapter selanjutnya, ya! wait, aku baru sadar kalau ini benar-benar cliffhanger! HAHAHA.