![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Oke, ini sama sekali tidak lucu.
Cahaya aneh yang menguar dari tubuhku memang sudah menumbangkan orang-orang berjubah itu, tetapi tidak ada jaminannya bahwa aku tetap selamat. Siapa yang menjamin kalau mereka bangun dan mendapati tubuhku yang kehilangan kesadaran, lalu membawa tubuhku.
Kini, hanya ada dua opsi yang tersisa. Pertama, dijebloskan ke dalam jeruji oleh orang-orang berjubah. Kedua, lebih dulu dibunuh oleh mereka dan aku ada di neraka. Namun, bisa saja terdapat opsi ketiga, yaitu diselamatkan Viten.
"Serethy."
Kemudian aku mendengar sebuah suara yang memanggilku dengan lembut. Melodi itu terdengar indah sekali, saking indahnya aku merasa bahwa seluruh kulitku bergetar. Aku merinding.
"Serethy, bangunlah."
Aku merasakan kepalaku dielus dengan lembut. Itu adalah buaian yang manis hingga aku sangat terlena.
Lalu, aku membuka mata setelah mendengar namaku kembali dipanggil.
Ketika membuka mata, hal yang pertama kali kulihat adalah langit-langit yang terbuat dari awan. Itu terlihat lembut, aku tidak bohong. Namun, lampu gantung mewah menempel erat di awan-awan itu, seolah kelembutan awan sama sekali bukan absolut di sini.
Dekorasi dan ukiran klasik yang khas seperti istana kerajaan pun menempel di dinding berwarna putih dan emas. Potret, lukisan, dan vas yang juga dibaluri oleh emas begitu menyilaukan. Sepertinya emas-emas itu asli.
Kemudian, aku terbaring di tempat tidur berukuran besar yang empuk. Lalu ketika menolehkan kepalaku, aku sepertinya melihat seorang bidadari. Oke, siapa pun wanita itu, dia terlihat sangat cantik.
"Serethy," panggilnya.
"Ini—?" Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, aku merasakan kepalaku berdenyut nyeri. Perih sekali. "Ukh!"
"Minumlah ini, Serethy. Ini obat."
Entah kepercayaan apa yang kuberikan pada wanita itu, aku meraih mangkuk mungil berwarna emas dan meneguk isinya dalam sekali teguk. Itu rasanya manis. Tidak terlalu buruk.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya wanita itu. Dia mengelus pundakku dengan penuh sayang.
"Siapa Anda?" tanyaku, menggunakan nada formal. Itu karena aku tidak tahu siapa dia dan di mana aku. Untuk jaga-jaga, jadi aku menggunakannya. Apa dia dokter kerajaan? Tapi ditilik dari tempatku berada, aku tidak berada di istana. Melainkan tempat lain yang mirip dengan istana.
"Aku Angelina." Dia tersenyum. Namun, seolah senyumannya benar-benar menyilaukan, cahaya di belakangnya bersinar takjub.
"Maaf, Serethy. Aku seharusnya tidak mengintervensimu tadi. Namun, aku tidak yakin bagaimana harus menyelematkanmu."
"Apa maksud Anda?"
Jemari lentik Angelina akhirnya mengelus kepalaku dengan lembut. Aku tidak tahu kenapa wanita ini sangat suka mengelus anggota tubuhku, tapi itu bukan hal yang besar. Sebab, setiap sentuhannya terasa oleh indraku, maka aku merasakan ketenangan yang mendalam di dalam diriku.
"Bajingan itu akan membunuhmu, Serethy. Jadi, aku tanpa sadar mengintervensi lewat dirimu. Aku mengancam mereka lewat bibirmu."
Angeline menyentuh bibirku, lalu tersenyum manis.
"Tunggu, saya memang merasakan Anda di dalam diri saya. Emosi Anda. Segalanya. Namun, bagaimana Anda bisa melakukannya? Siapa Anda sebenarnya?"
Jemarinya menyelipkan anak rambut merah mudaku ke belakang telinga. "Itu mudah untukku melakukannya, Serethy. Tapi sayangnya, tubuhmu tidak bisa mengatasinya. Untuk mengintervensi manusia oleh kekuatanmu terlalu berat sehingga kamu kehilangan kesadaranmu."
"Tunggu, Anda mengatakan bahwa Anda adalah Angelina? Orang yang bicara lewat bibirku sebelumnya?"
Angelina mengangguk dengan elegan. Baru kusadari kalau auranya begitu anggun dan bermartabat. Wanita ini bukan hanya sekadar cantik, tetapi merupakan seseorang yang pantas untuk menjadi seorang penguasa.
"Tapi yang bicara lewat bibirku adalah Dewi Matahari?"
"Itu aku." Angelina tersenyum lembut. Namun, senyuman lembut itu tentu tidak bisa mengatasi perasaan syok yang menguasaiku.
"A-Anda adalah Dewi Matahari?! Istri dari Dewa Matahari?!"
"Um, Serethy, sepertinya ada kesalahpahaman. Aku sebenarnya adalah Dewi Matahari, tetapi karena manusia menganggap matahari sebagai maskulin, orang-orang mulai memanggilku Dewa Matahari. Dan aku membiarkan hal ini terjadi karena sulit untuk mengendalikan penyebaran nama itu."
Kedua mataku yang berwarna violet melebar. Sungguhan, aku tidak menyangka bahwa harapanku akan terkabul secepat ini.
Pantas saja setiap sentuhan Angelina terasa menenangkan di atas kulitku, suaranya juga terdengar agung, dan auranya terlihat sangat bermartabat. Alasannya adalah karena dia adalah Dewi Matahari, Angelina.
__ADS_1
"De-Dewi! Saya memiliki banyak pertanyaan untuk diajukan!" ujarku dengan gugup. Mataku menyorotkan harap-harap cemas.
Angelina kemudian menyentuh ujung hidungku dengan lembut. "Kita memiliki banyak waktu untuk bicara, lebih tepatnya satu minggu. Kita tidak bisa bicara lebih dari satu minggu, Serethy Sayang. Jadi, kamu bisa tinggal di sini selama itu."
"Mengapa itu, Dewi?"
Angelina meraih kedua tanganku, menggenggamnya dengan erat. Itu hangat dan menenangkan, membuat perasaan berkabut di hatiku menyurut.
"Bukankah satu minggu adalah saat di mana manusia bisa bertahan tanpa mengonsumsi apa pun?"
Aku mengerjapkan kedua mataku. Itu benar, tetapi seolah aku tidak akan diberikan apa pun untuk dimakan dan diminum?
"Sepertinya kamu belum tahu pasti, Serethy."
"Maaf, Dewi, saya belum tahu apa?"
"Ini, bahwa jemari dan tubuhmu yang kusentuh ini bukanlah wujud fisikmu. Tubuh fisikmu ada di Bumi, aman di samping Viten, Cioten, Sir Derick, dan Axel, serta ketiga pelayanmu. Namun, apa yang ada di hadapanku ini hanyalah jiwamu, jiwamu yang berada di ambang batas hidup dan mati.
"Aku memanggil jiwamu kemari untuk menuntaskan segala perasaan pelik di dadamu, Serethy Sayang. Dan jiwa tentunya tidak bisa mengonsumsi nutrisi sehingga hanya memerlukan satu minggu hingga jiwa akhirnya memudar dan mati. Lalu, tubuhmu juga akan langsung berhenti bernapas."
Aku tersentak kecil. Aku akan mati jika tetap berada di sini lebih dari satu minggu. Itu terdengar begitu mengerikan di telingaku sekarang.
Dan Angelina mengatakannya dengan senyuman yang terlihat tenang.
"Saya mengerti, Dewi. Jadi, ada di mana saya sebenarnya?"
"Nebula, tempat tinggal dewa dan dewi," balas Angelina, aku tidak tahu apakah aku bisa tetap memanggilnya Angelina setelah mengetahui identitasnya atau tidak, tetapi dia melanjutkan, "Aku mengintervensimu di Bumi sebelumnya. Karena sudah telanjur menggunakan kekuatanku padamu, mengapa tidak sekalian memanggilmu kemari?"
"Ah." Aku mengangguk mengerti. Jika kamu sudah telanjur basah di danau, mengapa tidak sekalian berenang?
"Jadi, mungkin aku akan membayar harganya nanti, tapi lupakan soal itu." Suara Angelina mengecil sehingga aku tidak bisa mendengarnya. Kini, Angelina menatapku dengan senyuman teduhnya. "Kamu mau berbincang sambil melihat-lihat?"
Melihat-lihat? Meski kebingungan, aku tetap mengangguk untuk menerima ajakan Angelina.
***
"Ini adalah Kastil Matahari, Serethy," ujar Angelina. Dewi Matahari berjalan di sampingku.
Aku mengangguk pada kalimat Angelina. Ini adalah Kastil yang mewah sekali. Semunya dibaluri oleh emas dan berkilauan. Setiap pernak-pernik di sini lebih mewah bahkan dari Istana Kebahagiaan. Namun, aku paling suka dengan langit-langit kastil yang merupakan awan lembut. Itu adalah awan sungguhan. Hal itu membuat Kastil tampak kelihatan makin keren.
"Ini Kastil yang sangat indah. Saya bisa tinggal di sini dengan betah."
Angelina tertawa. "Jika kita tinggal bersama, sepertinya akan menyenangkan."
"Saya suka ide itu."
Mengetahui fakta bahwa yang ada di sampingku adalah Dewi membuatku sedikit tertekan, walaupun aura yang berada di sekitar Angelina tidak berkata demikian.
Alih-alih perasaan mengerikan yang
menguasaiku, Angelina selalu penuh dengan energi positif. Angelina terus tersenyum dengan tenang, wajahnya ramah dan tidak sekalipun menunjukkan emosi negatif, ekspresi yang santai juga membuatku bisa meredakan tekanan di dadaku.
Angelina mengenakan gaun putih berenda yang berbahan jatuh. Itu tidak mengembang seperti kebanyakan gaun-gaunku, tetapi mampu untuk mengikuti lekuk tubuh Angelina sehingga terlihat cantik. Angelina juga mengenakan perhiasan emas yang tidak berlebihan. Namun, aku menyukai aksesori di kepalanya. Itu terlihat begitu elegan dan agung, menunjukkan bahwa beliau adalah Dewi Matahari, penguasa semesta ini.
Aku nyaris lupa bahwa dunia ini adalah novel dari [Luka Serethy]. Aku begitu terlena dan menganggap diriku sendiri sebagai 'Serethy' yang asli.
Di sini, aku juga mengenakan gaun putih yang nyaris mirip dengan Angelina dan sepatu tinggi berwarna putih.
"Jadi, Serethy. Hal apa yang ingin kamu ketahui? Kamu bebas bertanya segalanya, tetapi mungkin aku tidak bisa menjawab semuanya."
Aku bisa bertanya apa pun, tetapi Angelina tidak akan menjawabnya jika dia tidak bisa atau tidak mau.
Aku mengembuskan napasku. "Apa Anda benar-benar meyakini bahwa saya adalah Serethy?"
Angelina tersenyum, tetapi terlihat misterius sekarang.
__ADS_1
Kami tetap berjalan di lorong-lorong kastil yang mewah, sehingga setidaknya setiap emas di dinding bisa menenangkan diriku yang tegang.
"Tentu tidak. Kamu bukanlah Serethy," jawab Angelina tenang.
"Apa Anda yang membawa saya kemari?"
"Itu benar."
"Kalau begitu, mengapa Anda membawa saya kemari?"
"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa bilang." Angelina menggelengkan kepalanya. "Aku sudah berjanji, jadi aku tidak bisa mengatakannya. Sebagai Dewi, tentunya aku tidak bisa mengingkari janji yang kubuat."
Sudah kuduga. Pasti pertanyaanku terlalu spontan dan tergesa-gesa.
"Kalau begitu, Dewi, apakah pilihan yang benar dengan menjadikan saya sebagai Serethy?"
Kali ini, manik Angelina yang berwarna emas menatapku dengan sorot lembut. Jemarinya naik dan mengelus rambut merah mudaku.
"Bagaimana mungkin ini adalah pilihan yang salah ketika kamu telah melakukannya dengan baik? Oh, Sayangku, lihatlah apa yang sudah kamu capai dengan kedua tanganmu ini." Angelina beralih pada kedua tanganku, mengelusnya perlahan.
"Tapi saya merasa tertekan, Dewi. Setiap orang di dunia ini membuat saya harus terus mewaspadai mereka. Mereka bukanlah tipe orang yang bisa saya tandingi. Bagaimana jika mereka berakhir akan membunuh dan menyakiti saya?"
Angelina menggelengkan kepalanya perlahan. "Itu tidak mungkin, Serethy. Kamu tidak tahu sihir apa yang sudah kamu berikan pada mereka. Kamu tidak perlu khawatir jika mereka ingin membunuhmu atau menyiksamu. Karena itu bukanlah hal yang mungkin terjadi."
"Mengapa itu, Dewi?"
"Kamu tidak menyadarinya?"
"Ya?"
Angelina terkekeh geli. "Sudahlah, aku tidak akan memberitahumu. Biarkan kamu mencari tahu sendiri. Dan poin yang harus kamu garisi di sini adalah bahwa mereka tidak akan membunuh atau menyiksamu, camkan itu, Serethy. Longgarkan kewaspadaanmu di sekitar mereka dan kamu akan tetap baik-baik saja. Aku janji."
Angelina berjanji. Berarti itu mungkin. Mungkin bahwa aku memang harus melonggarkan kewaspadaanku pada orang-orang di sekitarku. Mungkin jika aku memercayai, maka aku tidak akan disakiti seperti ketakutanku. Mungkin bahwa aku ... bisa memiliki tempat di sini untuk bertahan hidup. Karena demi tuhan, aku sangat ingin hidup.
"Dewi, mengapa Anda memilih saya?"
"Bukankah kamu sebelumnya meminum obat tidur dalam dosis yang tinggi?"
Aku tersentak pada kalimat Angelina.
"Kamu kehilangan harapan di sana, Serethy, maka aku memberimu kesempatan di sini."
Itu nyata. Aku kehilangan harapan.
Aku sudah berencana untuk mengonsumsi obat tidur dengan dosis yang sangat tinggi, yang langsung bisa menyebabkan kematian padaku. Sebelum mengonsumsinya, aku membaca novel [Luka Serethy] dan setelah menyelesaikan novel, aku melemparkan novel itu keluar jendela, lalu aku tidur dengan berbekal butiran obat tidur di perutku.
Aku seharusnya mati saat itu. Ironi ketika aku malah menyadari bahwa aku kembali membuka mataku di kereta kuda yang tengah bergerak, menjadi seorang tawanan perang, dan dijebloskan ke dalam penjara.
Namun, aku sangat ingin hidup. Aku ingin hidup. Kematian begitu menakutkan hingga rasanya sesak. Kematian begitu mengerikan hingga aku lebih memilih untuk tinggal bersama dengan dua orang pria psikopat daripada direngkuh akhir hayat.
Jemari Angelina naik dan mengelus pipiku, tidak, menyeka air mataku yang mengalir entah sejak kapan. Aku bahkan tidak menyadarinya.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Sayang. Kamu berada di sini adalah hal yang sangat baik. Kamu menjalani segalanya dengan teguh. Kamu bisa menjalaninya dan itu sangat menakjubkan. Aku bangga padamu."
Angelina lalu membawaku ke dalam pelukan. Itu pelukan yang sangat nyaman, seperti pelukan ibu—meski aku tidak pernah merasa pelukan ibu.
Ini adalah pelukan untuk menenangkanku, tetapi air mataku malah keluar semakin deras. Seolah-olah ini adalah waktunya untuk meluruhkan setiap perasaan yang menumpuk hingga membuatku nyeri.
Kenyataan bahwa aku mencoba untuk membunuh diriku sebelumnya membuat hatiku sesak. Aku sangat bodoh. Bagaimana bisa aku memilih opsi itu ketika aku seharusnya masih bisa membuka mataku di kemudian hari? Menjadi sosok yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih baik, dan menjadi tipe orang yang positif.
Aku bersyukur bahwa aku tidak mati. Aku bersyukur bahwa Dewi Matahari membawaku ke dalam novel [Luka Serethy]. Aku bersyukur telah diberikan kesempatan untuk memperbaiki diriku yang hancur.
Sebab, mimpiku adalah untuk bertahan hidup.
...***...
__ADS_1
Menurut hallodoc manusia bisa mati kalo ga makan dan minum selama 46 jam sampai 70 hari. Idk, tapi anggap aja di sini Serethy bisa mati kalau lebih dari seminggu belum balik ke bumi.