I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
22. Kompetisi Perburuan I


__ADS_3

Aku banyak berlatih panahan dengan Sir Derick, Viten, dan Axel secara bergantian.


Ketiganya adalah guru yang baik, minus Viten yang terasa makin menyebalkan. Mereka juga dengan serempak mengatakan bahwa aku berbakat dalam panahan, sehingga membuatku bersemangat untuk pergi ke arena latihan.


Hingga tanpa terasa, waktu benar-benar berjalan dengan sangat cepat dan kompetisi perburuan digelar juga.


Kompetisi itu digelar di sebuah hutan di bagian utara Kerajaan Asher. Di sana, medannya tidak terlalu terjal dan pohonnya tidak terlalu lebat. Sehingga memudahkan kami untuk memburu hewan buruan.


Kompetisi akan dimulai pukul sembilan pagi. Lebih tepatnya kompetisi hanya untukku dan Clare. Sementara itu, kompetisi perburuan untuk bangsawan lainnya akan dimulai pukul sepuluh dan berakhir pukul lima sore.


Aku turun dari kereta kuda yang aku naiki bersama dengan Viten, berdua saja.


Dasar, dia bahkan bersikeras untuk datang bersamaku lebih awal pukul delapan pagi. Padahal aku yakin bahwa dia juga memiliki setumpuk tugas administrasi politik dan militer lain yang menunggunya. Sementara itu, Viten jugalah yang bertanggung-jawab atas ketidakhadiran Sir Derick di sisiku. Viten memerintahkan Sir Derick untuk datang dengan kereta terpisah sehingga kami tidak tiba di waktu yang sama.


Kehadiran Viten lebih awal di lokasi perburuan, tempat yang tidak jauh dari hutan dan sudah dipastikan keamanannya, membuat banyak bangsawan terkejut.


"Yang Mulia datang kemari?"


"Tidak mungkin. Yang Mulia biasanya tidak tertarik untuk menghadiri kompetisi seperti ini."


"Yang Mulia sangat menyayangi Tuan Putri sehingga memiliki keinginan untuk menghadiri kompetisi ini."


"Pantas saja ada kursi tahta di atas podium. Kukira Pangeran Cioten yang akan datang, tetapi rupanya Yang Mulia Viten."


Meski bisik-bisik mengudara, seluruh bangsawan di sana tetap menunduk hormat ketika kami berjalan melewati mereka.


"Tuan Putri."


Seorang wanita bangsawan menghalangi jalan kami. Dandanannya begitu mewah. Dia mengenakan gaun yang sangat merepotkan dan mengembang dengan sempurna, serta rambutnya digulung dengan apik tanpa menampilkan sehelai rambut pun yang mencuat. Garis penuaan di wajahnya kini terlihat jelas, tetapi dia tetap tersenyum ramah.


Ih, aneh? Kami keluarga kerajaan dan kamu menghalangi kami?


Aki melirik Viten di sampingku, tetapi ekspresi wajahnya masih menampilkan senyuman politik palsu andalannya ketika dia tampil di depan publik. Dasar muka dua.


Meski merasa bahwa kasus ini aneh, aku tetap mamamerkan senyumanku. "Halo."


"Maaf tidak menyapa Anda berdua, sebelumnya bersinarlah matahari dan bintang Kerajaan Asher." Wanita tua itu menunduk dengan etiket yang sempurna. Dia tampak anggun dan elegan, membuatku merinding karena kesempurnaan yang tercipta.


"Berdirilah, Madam Kricia," ucap Viten.


Aku memelotot. Ini dia Madam Kricia. Orang di balik koran gosip Madam Kricia yang Panas! Dia yang mengatakan banyak pro dan kontra mengenaiku dan tengah gencar-gencarnya untuk menguliti informasi tentang kehidupanku. Selama ini juga, koran gosip tentang Serethy Asher yang ditulis oleh Madam Kricia selalu menjadi koran gosip yang panas dan menduduki peringkat pertama yang paling laris. Intinya, rakyat Kerajaan Asher sangat ingin tahu soal diriku, dan orang di hadapanku inilah yang merupakan pemicunya.


Aku harus hati-hati. Dia terlihat berbahaya. Yah, dari dulu juga, jurnalis sangatlah berbahaya.


Madam Kricia kembali berdiri tegak dan memamerkan senyumannya dengan lebar.


"Tuan Putri, saya yakin bahwa ini adalah pertama kalinya kita bertemu, bukan?"


Aku membalasnya dengan senyuman. "Ya, itu benar."


"Perkenalkan diri saya terlebih dahulu, Tuan Putri. Saya adalah Kricia Voleyald, Countess Voleyald."


Wow, oke. Jadi, pemilik perusahaan koran gosip adalah Countess.


"Saya juga pernah menjadi ibu asuh Yang Mulia dulu, Tuan Putri."


"Yah, sebelum kau meninggalkanku untuk mendirikan perusahaan koran gosip?" potong Viten.

__ADS_1


Madam Kricia terkekeh kecil. "Itu sudah sepuluh tahun yang lalu, Yang Mulia. Saya sudah mengasuh Anda selama tujuh belas tahun, jadi saya harap Anda mau memaafkan saya karena saya hanya berusaha untuk mewujudkan cita-cita saya."


"Terserah, itu cerita masa lalu."


Madam Kricia hanya terkekeh kecil, lalu melirikku. "Jadi, Yang Mulia sudah mendapatkan apa yang Anda mau sekarang, ya?"


"Apa maksudmu, Madam. Serethy adalah adikku yang disumpah, dia adik angkatku."


"Tapi, tentu saja pernikahan di antara kalian bukanlah terlarang."


"Madam ...."


"Baik, baik, Yang Mulia. Jangan menatapku dengan pandangan dingin seperti itu." Madam Kricia kini benar-benar beralih padaku. "Tuan Putri, apa saya bisa meminta waktu Anda setelah kompetisi Anda berakhir? Saya ingin mewawancarai Anda."


Ancaman itu mendekat. Aku tidak tahu apakah Madam Kricia akan menerbitkan gosip yang sesuai dengan apa yang kukatakan atau dia akan merekanya lagi menjadi sebuah drama jika aku menerima wawancara Madam Kricia. Sebab, di koran-koran sebelumnya, banyak gosip mengenaiku yang terkesan dilebih-lebihkan.


"Tuan Putri tidak bisa."


Satu kalimat itu mampu membuat kami bertiga menoleh.


"Cioten," panggil Viten dengan tenang. "Aku sudah menduga kau akan datang."


Cioten mendekati kami dengan langkah yang ringan, tidak lupa senyuman manis di wajahnya yang menimbulkan efek ramah.


"Halo, Kakak. Halo, Tuan Putri. Dan halo, Madam Kricia," sapa Cioten satu-persatu, lalu dia menatap Madam Kricia. "Maaf saja, ya, Madam Kricia. Tuan Putri tidak bisa meluangkan waktunya untukmu karena Tuan Putri dan aku akan bicara dan menghabiskan waktu bersama. Aku merindukan adikku, jadi ini adalah hal yang normal."


Madam Kricia tersenyum kaku. Dia hanya pernah mengurus Cioten dari bayi sampai anak-anak sebelum Cioten dikirim ke paviliun yang jauh dari istana, maka Madam Kricia merasa canggung dengan kehadiran Cioten.


"Sejak kapan aku berjan—"


"Bukankah itu benar, Kakak?" Cioten memotong kalimatku. Aku menatapnya dengan sorot tidak terkesan. Menghabiskan waktu dengan psikopat? Jiwaku akan berkurang puluhan tahun hanya dengan memikirkannya. "Kita bertiga akan menghabiskan waktu bersama. Lagipula, Kakak dan Serethy pasti merindukan aku, bukan?"


"Kan?" Cioten menatap Madam Kricia, lalu perlahan mendekatinya. "Jadi, Madam Kricia, jangan ganggu waktu berharga kami. Aku sedikit sensitif hari ini ...."


Kalimat terakhir tidak bisa kudengar karena Cioten membisikkannya di telinga Madam Kricia.


Akan tetapi, aku bisa melihat Madam Kricia sedikit bergetar karena takut. Namun, dia tetap merasionalkan gerakannya dan tetap berdiri tegap.


"Maafkan saya sudah lancang, Yang Mulia sekalian." Madam Kricia membungkuk. "Kalau begitu, saya pamit undur diri."


Madam Kricia lalu berlari meninggalkan kami dengan langkah yang cepat. Dia tampak sangat ketakutan. Aku jadi tidak mau mengetahui apa yang diucapkan Cioten pada Madam Kricia.


Prok! Cioten menepuk tangannya sekali, lalu kembali tersenyum lebar padaku. "Serethy, Kakak ada di sini. Apa kamu merindukanku?"


Aku sedikit kaget ketika Cioten benar-benar membuka kedua tangannya untuk memelukku. Dan pelukan itu sedikit erat dan hangat. Aku tidak bohong kalau ini nyaman.


"Apa yang Pangeran maksud? Mana mungkin aku tidak merindukan Pangeran," balasku, yang tentu saja hanya bohongan. Mana mungkin aku merindukan bajingan psikopat ini. Aku nyaris bersyukur ketika tidak melihat dia ada di sini, tapi kini dia ada di hadapanku. Keberuntungan memang tidak berpihak padaku.


Cioten melepaskan pelukannya beberapa saat kemudian dan mengajakku berbicara mengenai banyak hal. Itu hal-hal acak, tapi dia kini terlihat seperti seorang kakak daripada seorang psikopat.


"Cioten. Jangan bicara sambil berdiri," kata Viten, dia memegang tengan Cioten. "Tubuhmu masih lemah."


"Kakak, aku tidak selemah itu." Cioten memutar matanya.


"Aku setuju pada Yang Mulia," kataku. "Pangeran harus beristirahat, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti jika kamu kelelahan."


Cioten menghela napasnya, tetapi menuruti perkataanku.

__ADS_1


Viten dan Cioten akhirnya meninggalkanku, lalu berjalan menuju podium. Mereka akhirnya duduk di kursi khusus masing-masing dan mengobrol ringan.


Aku menghela napas lega setelah menjauhkan Cioten dariku. Bagaimanapun juga, pembunuhan yang dilakukan oleh Cioten saat itu masih meninggalkan trauma yang membekas.


"Salam kepada bintang Kerajaan Asher."


Aku menghela napas kecil.


Aku tidak ingin mendengarkan apa pun yang pria itu bicarakan saat ini. Itu karena dia akan menempel padaku seperti lem! Itu terjadi beberapa kali, tidak, lusinan kali ketika kami berlatih panahan. Dia enggan meninggalkan sisiku dan terus mengekoriku seperti anak ayam pada induknya.


Axel tersenyum lebar meski sudah melihat ekspresi wajahku. Tapi aku mengakuinya kalau dia sangat menakjubkan dalam pakaian yang kontras dengan warna mata dan rambutnya.


"Ini, terimalah." Axel menyerahkan kotak mungil berwarna aegean dengan pita yang elegan padaku.


"Apa ini, Tuan Muda Axel?" tanyaku, tetapi tetap menerima kotak itu.


Axel mendesis kecil, dia lalu mengalihkan pandang dengan wajahnya yang memerah.


Ini masih pagi, tapi dia sudah kepanasan? Terserahlah.


"Buka saja, Tuan Putri."


Aku mengangguk kecil, lalu membuka pita dan penutup kotak itu. Di dalamnya adalah saputangan dengan rajutan merah muda dan sulaman nama, itu adalah namaku.


Serethy Rexanne Asher, Tuan Putri Kerajaan Asher.


Itu nama yang panjang, tetapi disulam di sudut saputangan dengan sempurna oleh benang merah muda.


Aku mendongak untuk menatap Axel.


Axel tersentak ketika kami melakukan kontak mata dan langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah yang tambah memerah.


"Saputangan?" ujarku pelan.


Axel menggosok belakang lehernya. "B-Biasanya hanya wanita saja yang memberikan ini pada pria yang akan mengikuti kompetisi berburu. Tapi, saya secara pribadi mematahkan tradisi itu dan malah memberikannya pada Tuan Putri karena Tuan Putri yang akan mengikuti kompetisi ini terlebih dahulu."


Oh? Jadi, biasanya hanya wanita yang memberikan saputangan pada pria yang dia suka di kompetisi perburuan. Tapi, kini berbalik, malah pria yang memberikannya pada wanita?


"Saputangan adalah simbol kasih bagi wanita yang memberikan saputangan itu pada pria yang disuka," lanjut Axel. "Dikatakan bahwa dengan memberikan saputangan itu, wanita itu mengharapkan kepada si pria agar tetap aman dan kembali tanpa luka, serta  sebagai simbol ... cinta dan kasih."


Axel berdesis kecil lalu menutup matanya erat. Wajahnya makin mirip kepiting rebus. Merah sekali.


Aku tersenyum lebar. Ini sangat menyenangkan. Aku tidak pernah mendapatkan hadiah sebelumnya. Ini sangat manis. Hatiku meleleh.


Aku menatap saputangan itu dengan sorot sayang. Lalu melirik Axel yang masih memerah, tetapi Axel memaksakan untuk membuat kontak mata denganku.


Violet dan emas bertemu, saling mengunci.


Aku mengeluarkan saputangan dari kotak lalu menekannya ke dadaku.


"Terima kasih banyak, Tuan Muda Axel. Ini sangat berharga bagiku, aku akan menjaganya sepenuh hati."


Wajah Axel makin terbakar. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Saya senang jika Tuan Putri menyukainya."


"Aku juga menyukainya!"

__ADS_1


Menyenangkan untuk memiliki teman di mana mereka akan memberikanmu sesuatu padamu.


__ADS_2