I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
30. Tirai Pertunjukan


__ADS_3

Aula pesta di Istana Keceriaan didekorasi dengan begitu menawan dan mewah.


Itu adalah ruangan pesta yang dindingnya bahkan diukir dengan emas di setiap sudutnya, memiliki banyak lukisan yang kuno dan langka, vas dan guci yang tampaknya sangat mahal, dan ukiran-ukiran yang menunjukkan ketelatenan si pengukir.


Intinya, Istana Keceriaan benar-benar menunjukkan identitasnya sebagai istana dan kekayaan kerajaan Asher.


Di lantai pesta, bangsawan berkumpul di mana-mana. Mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra mahal dan perhiasan mewah yang berkilauan.


Nona-nona bangsawan saling bergosip, membicarakan hal-hal tidak berguna demi kesenangan mereka pribadi.


"Katanya Tuan Putri menggelar pesta karena ingin menunjukkan kekuatan sucinya?"


"Tuan Putri tidak disangka adalah seorang saintess."


"Siapa pria beruntung yang akan menikahi Tuan Putri, ya?"


"Tidak perlu bingung, bukankah di sekeliling Tuan Putri sudah banyak pria yang menanti?"


Tuan-tuan bangsawan membicarakan bisnis yang rumit, mencoba untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah dibangun dengan keringat dan darah, mencoba untuk naik ke posisi yang lebih tinggi lagi dari apa yang mereka miliki saat ini.


"Wilayah utara memang dikelilingi oleh pepohonan, tetapi bukankah itu tempat yang cocok untuk dijadikan penginapan?"


"Di wilayah kami ini memang memiliki pemandangan yang menakjubkan, bahkan tidak heran apabila wilayah kami tidak pernah sepi oleh para pengunjung."


"Membangun sebuah cabang penginapan di sana bukanlah ide yang buruk."


"Wilayah utara selalu ramai oleh orang-orang yang berlibur, menjadikan pembangunan sebuah penginapan adalah hal yang tepat."


Ini adalah suasana pesta yang biasa.


Serethy melihat semuanya dari balkon yang ditutupi oleh tirai merah di lantai dua.


Serethy belum menampakkan dirinya di pesta karena targetnya belum tiba dan pesta juga belum secara resmi dibuka.


Tepat beberapa saat setelah itu, muncullah seorang wanita berambut zamrud yang diiringi oleh seorang pria berambut emas.


Keduanya merupakan sebuah harmoni menjadi cantik, membuat bisik-bisik mengenai keduanya mengudara, disertai pujian dan antusiasme.


"Seperti biasa, Nona Clare dan Tuan Duke Alverro sangat cocok!"


"Tuan Duke Alverro memang memiliki sisi yang lembut terhadap Nona Clare. Seluruh orang juga tahu bahwa Tuan Alverro mencintai Nona Clare."


"Sayangnya, Nona Clare adalah kandidat Ratu Asher. Kemungkinannya kecil untuk perasaan Tuan Duke Alverro dibalas Nona Clare."


"Benar. Dan bukankah Nona Clare mencintai Yang Mulia semenjak mereka masih kecil?"


Tirai merah di lantai dua ditutup, Serethy menyeringai singkat. Waktunya panggung untuk pertunjukan yang dinanti untuk dibuka.


...***...


Sepatu tinggiku yang berwarna putih menggema ketika aku menuruni anak tangga dari lantai dua. Gaunku yang berwarna merah muda, mengembang dengan sempurna, dan memiliki aksesori rumit di dalamnya. Namun, aku suka gaun pesta ini. Elegan dan estetikanya menyatu, cocok dengan seleraku. Rambutku yang panjang dibiarkan seperti itu, hanya saja terdapat pita berwarna violet yang disematkan di beberapa sisi.


Ketika suara sepatuku menggema di ruang pesta, itu berhasil menarik atensi dari seluruh bangsawan.


Aku lalu berdiri di balik pagar pembatas yang menghubungkan dua lantai pesta. Di belakangku, berdiri Sir Derick dan Arcelio.


"Terima kasih untuk seluruh bangsawan yang menghadiri pesta yang kugelar hari ini," ucapku dengan senyuman formal di bibirku.


Aula pesta benar-benar hening, seluruh orang di dalamnya memberikan atensinya padaku.


"Pertama-tama, aku harus berterima kasih pada Yang Mulia Raja Viten, karena telah membantu segala persiapan pesta." Aku menatap Viten yang duduk di kursi tahtanya, Cioten ada di panggung yang sama, tetapi duduk di kursi yang lebih rendah dari raja.


Segera saja, bisik-bisik mengudara.


"Yang Mulia membantu persiapan pesta?"


"Apa ini candaan?"


"Yang Mulia tidak pernah tertarik pada hal seperti ini."


"Bukankah Yang Mulia sangat mencintai Tuan Putri kalau begini jadinya?"


"Lalu bagaimana dengan tunangannya, Nona Clare?"


"Apa kamu bercanda? Seharusnya pertunangan itu dibatalkan dengan adanya kompetisi antara kedua kandidat ratu."


"Cukup." Satu kata dariku mampu menelan ratusan kalimat yang mengudara di langit-langit pesta.


"Hormati aku yang berada di atas sini, jangan berbisik-bisik sendiri," lanjutku dengan tenang.


Hal ini membuat para bangsawan akhirnya sama sekali tidak mengeluarkan suara mereka. Keheningan mendekap ruangan, membuatku tersenyum puas.


"Kalian semua pasti bertanya-tanya mengapa aku menggelar pesta ketika satu minggu yang lalu, aku diserang oleh sekelompok orang di dalam sebuah organisasi atau faksi, lalu jatuh koma. Seharusnya aku mengurung diriku sendiri di istana karena trauma dan mengisolasi diri dari semua orang.


"Namun, tidak. Aku bukanlah tipe wanita yang seperti itu. Aku berdiri di sini sebagai calon Ratu Asher untuk menyapa calon rakyatku sekalian."

__ADS_1


Ruang pesta kembali heboh. Itu karena aku mengatakan diriku sendiri sebagai calon ratu, alih-alih sebagai salah satu kandidat calon ratu Asher.


"Itulah mengapa, aku membawa Tuan Kardinal dari Kuil Dewa Matahari di sampingku."


Aku menoleh, tersenyum kecil sebagai tanda agar Arcelio maju dan berdiri di sampingku.


Helaan napas tak percaya para bangsawan mulai saling beradu. Jujur saja mereka sangat dramatis. Sedikit-sedikit terkejut, sedikit-sedikit lagsung gosip. Namun, mereka semua adalah calon rakyatku, jadi aku harus bersikap sabar dengan mereka.


"Tenanglah."


Lagi, satu kata itu mampu membuat para bangsawan bungkam.


Aku tersenyum puas.


"Aku akan mengumumkan di sini, bahwa terdapat kecurangan di dalam kompetisi untuk menjadi Ratu Asher."


Hening. Para bangsawan akhirnya tidak langsung heboh dan mencoba untuk mendengarkan kalimatku secara menyeluruh terlebih dahulu.


"Bahwa, apa yang dilakukan oleh kandidat ratu yang lain merupakan sebuah perbuatan tercela."


Aku melirik Clare yang berada di sudut mataku. Bagus, dia kelihatan sedikit panik dan mencoba untuk tenang yang gagal.


"Apa yang dilakukan oleh Nona Clare di dalam kompetisi merupakan perbuatan yang tidak dapat diampuni, bahkan oleh Dewa Matahari sendiri."


Aku mengulurkan tanganku ke udara, memberi imaji, dan gulungan emas yang berpendar langsung muncul.


Para bangsawan kaget lagi, tapi aku mengabaikannya.


"Di dalam gulungan kertas ini merupakan bukti konkret bahwa Nona Clare selama ini telah memalsukan firman Dewa Matahari. Firman bahwa Nona Clare ditakdirkan menjadi salah satu dari kandidat calon ratu adalah sebuah kebohongan.


"Nona Clare membayar seorang pendeta kecil dengan harga yang tidak masuk akal, sehingga pendeta langsung setuju untuk melakukan perbuatan curang itu. Sayang sekali, Nona Clare, pendeta itu kini ada di penjara bawah tanah."


Aku melirik Clare dengan terang-terangan, membuat banyak atensi langsung teralih pada Clare.


Wajah Clare kini memerah dan kedua matanya memelotot dengan sempurna. Dia kelihatan panik dan entah mengapa, melihat ekspresi Clare mengirimkan sensasi kesenangan di dalam diriku sendiri.


"Tuan Arcelio, tolong bersumpah atas nama Dewa Matahari bahwa gulungan emas ini adalah asli."


Aku lalu menyerahkan gulungan emas pada Arcelio, yang langsung menerimanya.


Arcelio berdeham kecil dan membuka gulungan emas.


"Dilihat dari sisi mana pun, semuanya sangatlah asli. Seolah Tuan Putri mendapatkan gulungan ini langsung dari Dewa Matahari. Bahkan saya bisa merasakan keagungan dan kekuatan suci Dewa Matahari dari gulungan kertas ini. Tidaklah heran bagi Tuan Putri untuk mendapatkan firman Dewa Matahari secara langsung karena beliau adalah seorang saintess, yaitu orang yang dipilih Dewa Matahari secara pribadi.


"Saya akan membacakan isinya dari sini: Kerajaan Asher memiliki sejarah peperangan yang telah berlalu selama satu abad, menjadi tugasku untuk mengirim satu penguasa ke dalam negeri untuk memakmurkan Kerajaan Asher. Hanya satu ratu, hanya satu ratu, yang dapat memakmurkan Kerajaan Asher. Dan aku telah memilih Serethy Rexanne Asher sebagai seseorang yang pantas memakmurkan Kerajaan Asher."


Atas hal itu, Clare dijatuhi hukuman yang berat.


Para bangsawan memercayai Arcelio. Tentu saja karena pria itu merupakan seorang kardinal yang telah bersumpah kepada Dewa Matahari untuk tidak menodai nama Angelina.


Arcelio juga dipercaya sebagai pria yang bijak dan agung. Sehingga mustahil bagi semua orang meyakini bahwa Arcelio berbohong.


Bagus, semua orang memercayai Arcelio.


Aku tidak memedulikan ruang pesta yang kembali heboh dan membuka bibirku.


"Nona Clare, dengan segala hormat, aku mengambil kembali hak diriku sendiri sebagai seorang ratu Asher yang telah ditakdirkan," ucapku. "Kamu telah merebut hak itu dan membuat ide-ide menyesatkan sebagai rencana untuk membunuhku. Atas dasar ini, Nona Clare akan dijatuhi sebuah hukuman yang berat."


Aku senang. Jujur, aku senang. Melihat sorot tidak percaya Clare membuat sesuatu di dalam diriku melonjak. Ayolah, ini sama sekali tidak normal. Apakah melihat kejatuhan orang lain dengan perasaan antusias adalah hal normal pada awalnya pun? Tentu tidak.


Clare akan dihukum dengan berat dan aku malah senang? Apakah aku telah terkontaminasi dengan para psikopat itu hingga aku berlaku seperti ini?


Yah, mungkin ini terjadi karena Clare telah membuatku resah bahkan ketika kami pertama kali bertemu, tidak, bahkan ketika aku masih membaca nama Clare di tatanan huruf dalam novel, wanita itu tidak bisa berhenti membuatku khawatir akan rencana gilanya dalam menyiksa Serethy.


"Untuk hukuman ini, aku menyerahkan segalanya pada Yang Mulia Raja untuk menentukannya."


Aku menatap Viten, dan kami membuat kontak mata.


Di manik merahnya, aku bisa merasakan rasa kepuasan di dalam diri Viten.


Aku memang tidak memberitahukan mengenai rencanaku ini pada Viten. Satu-satunya yang aku katakan padanya adalah aku ingin menggelar pesta dan Viten menyiapkannya tanpa kembali bertanya untuk tujuan apa aku menggelar pesta.


Mungkin saja kalimatku barusan membuat Viten sedikit senang. Itu karena Clare dinyatakan kalah dalam kompetisi gadungan itu dan aku adalah ratu yang ditakdirkan. Yah, hitung-hitung sebagai balas budi karena menjadikanku tuan putri dan hidup mewah di istana dibandingkan di penjara bawah tanah.


Viten segera berdiri dari tahtanya. Suaranya yang maskulin akhirnya bergema di udara setelah sekian lama dia tetap bungkam dan menikmati sebuah pertunjukan.


"Aku akui bahwa kejahatan Nona Clare sangatlah berat. Biar kuevaluasi kembali apa saja kejahatanmu, Nona Clare." Manik Viten yang berwarna merah membara sembari menatap langsung pada Clare yang berdiri kaku. "Pertama, kamu telah memalsukan firman Dewa Matahari, dan itu saja merupakan kesalahan yang sangat fatal. Kedua, kamu membohongi seluruh orang bahwa kamu dipercaya menjadi kandidat ratu kedua meskipun seharusnya hanya ada satu ratu. Ketiga, kamu telah berupaya untuk membunuh Serethy, ratu masa depan Asher, dan satu-satunya cara untuk memakmurkan Asher. Kesalahanmu ini akan membawa Kerajaan Asher ke dalam sebuah kehancuran apabila Serethy tidak mengatasi semuanya.


"Karena kesalahan Nona Clare yang telah mengancam Kerajaan Asher ...."


Jeda.


Seluruh bangsawan di lantai pesta menanti dengan perasaan berdebar. Terlebih Clare yang benar-benar kehilangan kata-kata untuk diucapkan.


Viten membuka bibirnya untuk melanjutkan, "Nona Clare akan dijatuhi hukuman mati."

__ADS_1


Ruang pesta kini benar-benar heboh. Suaranya begitu berisik hingga aku tidak yakin bisa mengatasi hal ini. Aula makin runyam ketika Viten memberikan kode pada ksatria yang berjaga untuk membawa Clare dari ruang pesta.


"Nona Clare! Tidak!"


Satu suara itu terdengar jelas di indra pendengaranku. Teriakannya begitu menyedihkan dan membuatku merinding.


Seseorang langsung berlari di ruang pesta dan menghadap Viten. Pria dengan rambut emas itu berlutut di depan Viten sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Yang Mulia! Saya mohon! Saya memohon kepada Anda agar tidak memberikan hukuman mati pada Nona Clare! Saya mohon dengan sepenuh hati dan jiwa raga saya. Saya berjanji akan memberikan apa pun pada Anda, tapi tolong jangan hukuman mati, Yang Mulia!"


Semua orang menatap pria yang berlutut di depan Viten seolah pria itu sudah gila.


Viten telah menetapkan hukumannya dan Clare sudah diseret oleh ksatria, kemungkinan menuju penjara bawah tanah, tetapi pria itu masih mau membela Clare setelah dinyatakan bersalah dan telah melecehkan nama Dewa Matahari serta mengancam Kerajaan Asher?


"Duke Alverro," panggil Viten. Seringaian Viten di bibirnya melebar. "Kudengar kau begitu terpikat pada Nona Clare dan menjadi anjing setia wanita itu. Apakah kau juga ikut andil dalam rencananya untuk membunuh Serethy?"


Alverro tidak mau menjawab. Dia hanya berlutut makin dalam dan hampir seperti bersujud.


Dia melakukan semuanya demi Clare? Demi wanita itu?


Dan aku seolah mendengar suara yang begitu familier keluar dari bibir Alverro.


Yah, bagaimana mungkin aku bisa melupakan suara itu? Pria Berjubah A mungkin kabur ketika aku melepaskan kekuatan suci, tetapi aku masih ingat dengan jelas bagaimana suaranya yang terus membuatku merinding.


Itu adalah suara dari Pria Berjubah A, tidak salah lagi.


Orang yang berada di balik Pria Berjubah A adalah Alverro.


Mataku semakin mendingin. Dasar gila. Rupanya ada Alverro yang menjadi antek Clare.


Alur novel berubah dengan signifikan setelah aku datang ke sini. Kupikir antek Clare hanyalah Lucette Mirele yang tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi di perkumpulan sosialita setelah insiden di pesta Marquis Krone, rupanya masih ada Alverro yang menjadi antek paling setia Clare.


Namun, aku juga tidak bisa gegabah dengan menuduh Alverro sebagai Pria Berjubah A.


Aku tidak memiliki bukti untuk ini. Jika aku asal menuduh, maka pertunjukan barusan akan berakhir sia-sia. Itu karena jika aku asal menuduh tanpa bukti konkret, maka pernyataan barusan akan diertanyakan kembali kebenarannya.


"Duke Alverro." Suara dingin Viten membuatku merinding. "Jawab aku, apa kau ikut andil dalam percobaan pembunuhan pada Serethy?"


Setelah menghela napasnya dengan bergetar, Alverro mengangguk pelan. "Saya ikut andil dalam hal itu."


"Apa?!"


"Bagaimana mungkin!"


"Tuan Duke Alverro adalah pria yang ramah dan baik, bagaimana bisa Tuan Duke melakukan hal yang tidak terpuji?"


"Tidak bisa dipercaya."


"Rupanya Tuan Duke Alverro telah menyembunyikan topengnya yang sebenarnya dengan sangat baik."


"Kurasa aku mendengar sesuatu pecah di hatiku."


"Aku kecewa padamu, Tuan Duke Alverro."


Viten menyeringai lebar, lalu dia memberikan kode pada ksatria untuk menyeret tubuh Alverro juga.


"Duke Alverro, bergabunglah dengan Nona Clare yang kau sayangi." Adalah apa yang diucapkan Viten setelah tubuh Alverro menghilang dari balik pintu ruangan pesta.


Hening mendominasi, meski kini masih terdengar bisik-bisik di berbagai sisi. Sebagian bangsawan tampaknya merasa sangat syok terhadap apa yang terjadi.


Yah, aku juga tidak bisa meluruhkan perasaan syok di hatiku.


Alverro Cadeearo, aku mendengar bahwa Duke muda itu merupakan seorang pria yang memerintah duchy dengan baik, dia juga merupakan pribadi yang bijaksana dan lemah lembut.


Tidak bisa dipercaya bahwa sosoknya yang asli adalah Pria Berjubah A. Mataku mendingin untuk beberapa saat. Karakter di novel ini benar-benar memiliki topeng yang berbeda untuk diperlihatkan pada publik. Entah itu Alverro atau bahkan para psikopat lainnya.


"Perhatian semuanya." Aku kemudian mencoba untuk kembali mendapatkan atensi dari seluruh bangsawan. "Tuan Kardinal, silakan lanjut berbicara."


Arcelio akhirnya membuka bibirnya kembali setelah kupersilakan bicara. "Dengan ini, saya, Kardinal dari Kuil Dewa Matahari, Arcelio Barnett, menjamin bahwa Tuan Putri Serethy akhirnya dinyatakan sebagai seorang Ratu di Kerajaan Asher dengan adil dan tanpa kecurangan apa pun."


Hening, sebelum akhirnya sorakan mendominasi aula pesta.


"Hidup Tuan Putri!"


"Sudah kuduga Tuan Putri yang akan menjadi Ratu!"


"Saya mendukung Tuan Putri dengan sepenuh hati saya!"


Aku tersenyum, tetapi masih mencoba untuk mempertahankan ekspresi kepercayaan diri di wajahku.


Lihat, semuanya berjalan sesuai rencanaku. Clare dijebloskan ke penjara dan aku akan menjadi ... ratu. Meski benci mengakuinya, itu adalah kebenaran bahwa aku harus bertanggung jawab dan menjadi seorang Ratu.


"Semuanya." Suaraku kembali menggema di lantai pesta. "Maaf telah menunda pesta karena masalah yang terjadi sebelumnya, pesta ini akhirnya secara resmi dimulai."


Aku memulai pesta dan menutup pertujukan yang menyenangkan barusan.

__ADS_1


Tanpa mengetahui bahwa ada beberapa hati yang patah karena pernyataan itu rupanya begitu menyakitkan bagi mereka. Namun, aku tidak menyadarinya.


__ADS_2