I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
18. Kompetisi


__ADS_3

Mengetahui bahwa Clare adalah kandidat ratu kedua membuatku terdiam.


Wanita gila itu? Orang yang mendambakan cinta Viten di novel, tetapi tidak pernah mendapatkannya hingga Serethy mati?


Kenapa? Maksudku, kenapa alur novelnya melenceng jauh?! Yah, tidak apa-apa, sih, asalkan aku tidak disiksa oleh tokoh-tokoh di novel ini. Namun, bukannya disiksa secara fisik aku malah disiksa secara mental.


Lihat saja, begitu banyaknya orang yang menghadiri pesta perjamuan di Mansion Duke Cyrill dengan Clare sebagai tuan rumahnya.


Wanita itu benar-benar menyebar undangan pada hampir seluruh bangsawan untuk hadir di pesta perjamuan yang digelarnya. Tentu saja, tujuannya untuk mengonfirmasi kebenaran akan firman kedua mengenai dirinyalah yang merupakan kandidat ratu kedua yang menjadi topik panas di seluruh Kerajaan Asher.


Sementara itu, Clare sendiri masih belum terlihat di pestanya. Seolah menunjukkan bahwa dialah orang yang paling penting di dalam pesta ini sehingga dia memutuskan untuk tiba paling akhir.


Saat ini, aku sedang diajak bicara dengan nona-nona bangsawan lainnya. Sir Derick juga berdiri di sampingku untuk menjagaku dari gangguan apa pun.


"Saya lebih memilih Tuan Putri untuk menjadi ratu ke depannya," ujar seorang nona bangsawan yang kelihatannya sangat polos, tetapi malah mengatakan hal yang amat sangat menyeramkan buatku.


Menjadi ratu dan memiliki bendera kematian lainnya? Tidak, terima kasih.


Aku hanya membalas kalimat nona itu dengan senyuman lembut. "Terima kasih atas dukunganmu, Nona Arley. Aku menghargainya. Tapi, kupikir kita harus melihat potensi Nona Clare terlebih dahulu sebelum memilihku?"


"Tidak!" Arley dan temannya secara bersamaan menggeleng. Dia lalu merendahkan suaranya. "Tuan Putri, ini sebenarnya adalah rahasia umum. Tapi Tuan Putri belum tahu sepertinya, jadi di Kerajaan Asher ada banyak rumor yang beredar mengenai Nona Clare."


"Rumor?"


Arley mengangguk. "Benar, Tuan Putri. Dan itu bukanlah rumor yang baik."


Gracelynn, nona bangsawan lainnya mengangguk cepat dan tegas. "Nona Clare sebenarnya adalah wanita yang kejam. Itulah sebabnya Yang Mulia tidak pernah ingin menikahi Nona Clare."


Arley melanjutkan, "Namun, Yang Mulia tidak bisa memutuskan pertunangan karena Duke Cyrill memiliki jasa yang besar terhadap penobatan Yang Mulia menjadi Raja."


"Itu benar, Tuan Putri. Dulu, Duke Cyrill selalu mendukung setiap pergerakan Yang Mulia. Jadi, sebagai balas budi, seharusnya Yang Mulia menikahi putri Duke Cyrill. Akan tetapi, melihat kepribadian Nona Clare, tentu Yang Mulia harus memikirkan berkali-kali mengenai hal ini."


"Itulah sebabnya yang mulia masih belum menikahi Nona Clare."


"Bahkan saya pernah dengar jika Nona Clare menjadikan satu paviliun sebagai ruang penyiksaan bagi para pelayan yang telah melakukan kesalahan."


"Tidak jarang, banyak pelayan yang meninggal secara mengenaskan di sana."


"Atau, Nona Clare pernah menjadi penyebab atas menghilangnya seorang nona muda bangsawan beberapa tahun yang lalu, tetapi karena pengaruh Tuan Duke Cyrill, Nona Clare bebas dari segala hukuman, ditambah Nona Clare baru berusia sembilan saat itu."

__ADS_1


"Saya juga mendengar rumor itu saat saya masih kecil!" seru Nona Gracelynn, tercekat. "Katanya, nona muda bangsawan itu dibunuh dengan keji di paviliun khusus Nona Clare dan ketika nona muda itu meninggal, tubuhnya dimutilasi dan dibuang ke hutan untuk dijadikan sebagai makanan hewan buas."


Arley bergidik. "Nona Clare sangat menyeramkan, bukan? Dan jika Tuan Putri ingin tahu siapa nama nona muda yang dibunuh itu, namanya adalah So—"


Belum sempat nama nona muda itu disebutkan oleh Arley, pintu setinggi lima meter yang mengarah ke lantai pesta perjamuan terbuka. Lalu, di sana, munculah wanita gila itu.


"Nona Muda Clare Cyrill memasuki ruangan!"


Clare kemudian memasuki ruangan pesta perjamuan dengan anggun dan tegap. Ekspresi wajahnya datar dan dingin, tetapi tetap menguarkan aura yang memesona.


Rambut Clare yang berwarna zamrud dibiarkan tergerai dengan rapi, tetapi banyak pita dan aksesori yang menempel di kepalanya. Aku penasaran apakah kepalanya tidak terasa berat? Jujur saja, meski rambut merah mudaku hanya dipasang beberapa pita, aku merasa bahwa berat kepalaku bertambah.


Lalu, gaun yang dikenakan Clare terlihat sangat glamour dan mewah. Warnanya berwarna warna hijau celadon. Warna yang cocok apabila disandingkan dengan warna rambutnya. Lengan gaun itu panjang, seolah mencoba untuk menyamarkan bekas luka cambukan yang pernah didapatnya atas hukuman langsung dari Viten.


Belum lagi, perhiasan yang dikenakannya tampak berkilau ketika ditimpa cahaya. Clare jelas-jelas terlihat sangat cantik.


Aku tidak bisa tidak mengatakan bahwa Clare terlihat biasa saja ketika kehadirannya saja terlihat bagaikan malaikat dan terasa sangat agung.


Arley dan Gracelynn terdiam. Mereka terpukau karena Clare tampak begitu memikat dan indah di saat yang bersamaan.


Clare sangat mirip dengan kanvas rupawan yang tak dapat diperbandingkan.


Aku mengerjap panik ketika menyadari bahwa Clare tampak seolah menghampiriku.


"Apa pembicaraan kita ketahuan?" bisik Arley dengan takut.


Gracelynn sama takutnya dengan Arley. "Ini salah kita karena menggosipi Nona Clare di pestanya."


Clare lalu mengambil dua gelas wine dari nampan yang dibawa pelayan.


"Salam kepada bulan Kerajaan Asher ini, Tuan Putri." Clare tersenyum padaku, yang membuatku merinding karena ngeri.


Untuk apa wanita gila ini tersenyum seperti itu?! Kau membuatku takut! Jelas saja, itu karena pertemuan pertama kita yang sama sekali tidak mengesankan.


Aku dibuat babak belur olehnya ketika pertama kali bertemu, lalu Clare mendapatkan hukuman cambukan dari Viten atas dasar menyakiti keluarga kerajaan. Tentu saja itu bukanlah pertemuan yang mengesankan.


Ini adalah pertemuan kami yang kedua. Dan dia melayangkan senyuman setan di wajahnya! Dan dia memanggilku Tuan Putri alih-alih Nona Serethy seperti saat dia berdebat dengan Viten di ruang kerjanya.


Aku memaksakan senyum. "Halo, Nona Clare. Lama tidak bertemu denganmu."

__ADS_1


"Hoho. Itu benar sekali, Tuan Putri. Saya nyaris tidak bisa tidur karena terus memikirkan Tuan Putri."


Aku tertawa canggung. Apa yang dikatakan wanita gila itu pasti hanya omong kosong. Kalaupun iya, aku yakin dia terbakar api cemburu padaku karena Viten selalu dekat denganku hingga dia kesulitan tidur.


"Terima kasih atas perhatianmu, Nona Clare."


Aku merasa kalau di sampingku sangat sunyi, tempat di mana Sir Derick seharusnya berada.


Ketika aku melirik Sir Derick lewat sudut mataku, aku bisa melihat kedua tangannya sudah berada di gagang pedangnya. Siap menarik benda itu.


Aku kembali menaruh atensiku pada Nona Clare karena Sir Derick terlihat menyeramkan.


"Tuan Putri." Clare menyerahkan salah satu gelas wine padaku. "Bagaimana jika kita bersulang?"


Aku hampir meraih gelas itu ketika Sir Derick lebih dulu mengambilnya.


"Bagaimana bisa saya memercayai Anda jika wine ini tidak memiliki racun?" tanya Sir Derick dengan dingin.


Aku merinding hanya dengan mendengar nada suara Sir Derick yang dingin. Pelajaran baru untukku, jangan membuat Sir Derick marah.


"Ya ampun, Sir Derick. Mana mungkin aku melakukannya?" Clare tertawa singkat. "Hukuman cambukan dari Yang Mulia sudah cukup untuk menyadarkanku dari segala kesalahan yang telah kuperbuat pada Tuan Putri."


"Tuan Putri tidak bisa meminum minuman yang diberikan orang lain," jawab Sir Derick dengan nada tanpa bisa digugat kembali.


Clare hanya mengangkat bahunya dengan anggun. "Baiklah, kalau begitu."


Ting.


Suara gelas yang beradu di tangan Clare dan Sir Derick mengudara. Mengisi keheningan di lantai pesta perjamuan, di mana seluruh atensi para bangsawan tertuju hanya pada kami.


Clare kemudian menyesap wine di gelasnya. Kemudian secara alami, seorang pelayan menghampiri Clare dan wanita itu meletakkan gelas wine di atas nampan yang dibawa pelayan seolah sudah terbiasa.


Kemudian, Clare tersenyum ramah padaku. Di saat yang bersamaan, Clare melepas sarung tangannya dan melemparkannya padaku.


"Saya menantang Anda untuk berkompetisi yang menunjukkan siapa yang lebih layak menjadi Ratu Asher, Tuan Putri."


Hening.


Suasana yang sebelumnya cukup hening tambah terasa sunyi.

__ADS_1


Aku melirik sarung tangan putih yang tergelatak di lantai.


Aku menghela napas secara internal. Ini akan sangat merepotkan dan bisa saja membawaku ke dalam bendera kematian lainnya.


__ADS_2