I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
42. Drama


__ADS_3

Pagi-pagi sekali setelah aku bangun dari tidurku, hal pertama yang kudengar adalah berita yang mengerikan.


Mantan Raja dan Putra Mahkota ada di sini! Mereka berhasil ditangkap!


Sial. Eh, aku tidak tahu apakah ini benar-benar kesialan atau apa, tapi yang benar saja! Tidak ketika aku sedang membangun pengaruhku untuk menjadi Ratu! Mungkin jika Serethy yang asli ada, dia sudah menjerit senang dan berlari untuk menemui keluarganya, tapi tidak denganku yang sudah mengetahui seluk-beluk keluarga itu.


Konsultasi dan penyembuhan dengan kekuatan suci juga belum benar-benar berakhir karena begitu banyaknya orang yang ingin disembuhkan dari penyakitnya. Aku sudah cukup kewalahan dengan mereka, dan jangan ditambah rumit dengan ditemukannya kedua buronan.


Aku juga harus mempertahankan konsistensi atas berita yang telah disebarkan selama wawancara, yaitu mengenai bagaimana aku perlu bereaksi terhadap mereka berdua.


Aku menghela napasku.


"Semangatlah, Tuan Putri," ujar Regina dengan bibir mengerucut lucu.


Haduh, dia manis sekali. Aku jadi tertawa kecil.


"Aku tidak apa-apa, Regina."


Melanie membetulkan kerutan di gaunku. "Apa Anda senang karena Anda akhirnya bertemu dengan keluarga Anda?"


Mau bicara kalau aku senang pun percuma, sebab keduanya bukanlah keluarga asliku. Baik mantan Raja dan Putra Mahkota adalah keluarga asli Serethy yang sangat ingin ia temui bahkan di chapter kedua novel [Luka Serethy], bagian di mana bajingan gila ingin menemui Serethy di kamarnya dalam alur novel.


Aku seolah telah merenggut hak Serethy untuk menemui keluarganya. Aku cukup merasa bersalah.


"Aku senang," balasku dengan senyuman di bibir.


Jelena menata rambutku dan melirik ekspresi wajahku. "Tapi Anda tidak sepenuhnya merasa senang."


Aku menghela napas. "Tentu kalian bertiga tahu jika aku sedang membangun pengaruhku sendiri, kan?"


"Kami tahu," jawab mereka bertiga secara bersamaan.


"Aku juga sudah menjawab bagaimana aku harus bereaksi ketika bertemu dengan mereka berdua di koran gosip Madam Kricia."


"Namun, Tuan Putri, bukankah tidak ada yang salah dengan itu?" tanya Regina.


"Memang tidak ada yang salah. Hanya saja, khalayak terlalu haus akan informasi dan rumor yang mentah sehingga bisa saja kehadiran keluargaku malah membuat usahaku untuk membangun pengaruh menjadi hancur."


"Eh, itu tidak akan mungkin, Tuan Putri!" seru Melanie. "Saya yakin bahwa rakyat yang telah Anda bantu dengan kekuatan suci Anda akan merasa sangat beruntung dan setia pada Anda."


"Benar, benar!" sambung Regina dengan suara antusias. "Mereka telah disembuhkan oleh Tuan Putri, bagaimana bisa mereka tidak membalas budi?"


"Tuan Putri." Kini, Jelena memanggilku. Dia tersenyum sambil melihat refleksiku di cermin. "Tolong buang kekhawatiran Anda yang tidak perlu. Rakyat mencintai Anda dan mendukung Anda sepenuh hati. Serta, tidak ada yang salah dengan menemui keluarga Anda. Bukankah sedari dulu, Anda pasti merindukan keluarga Anda?"


Aku menghela napas. "Ya, tentu saja dukungan tidak akan berbalik dariku hanya karena aku menemui keluargaku. Aku tidak akan buta pada hukum di Kerajaan Asher, tetapi setelahnya, akan kukasihi mereka. Itulah jawabanku pada wawancara dengan Madam Kricia."


Aku kemudian melihat refleksi kami berempat di cermin. Aku sudah selesai dengan gaun, rambut, dan riasan yang telah dikerjakan oleh ketiga pelayanku.


Perlahan, aku mengulas senyum di bibir merah muda.


"Terima kasih banyak Jelena, Melanie, dan Regina. Kuharap kalian akan terus bersamaku."


Seolah kalimatku memiliki sihir, ketiganya mulai tersenyum dengan penuh haru.


"Tentu saja, Tuan Putri!"


"Aduh, Tuan Putri ini bicara apa? Tentu saja kami akan berada di samping Tuan Putri selalu!"


"Benar, Tuan Putri. Saya akan terus bersama Tuan Putri. Tidak perlu risau."


Setelah sesi percakapan penuh haru, akhirnya aku keluar dari kamarku. Tepat ketika pintu dibuka, aku sudah diberikan pelayanan senyuman silau dari Sir Derick.


"Selamat pagi, Tuan Putri," sapa Sir Derick sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


Haduh, baik dari pertama kali aku bertemu dengannya dan sampai sekarang, senyumannya masih tetap membuat jantung berdegup kencang, alias dia kelihatan sempurna dengan senyuman di wajah.


Aku balas tersenyum. "Selamat pagi, Sir Derick. Mau mengantarku menemui keluargaku?"


"Dengan senang hati, Tuan Putri."


Senyumannya memicu penyakit jantung.


...***...


Kami berada di penjara bawah tanah ketika Sir Derick menuntunku untuk menemui mantan Raja dan Putra Mahkota.


Sebagai komandan ksatria, Sir Derick memiliki hak istimewa untuk mengetahui keadan militer meskipun sebagian besar waktunya dihabiskan bersamaku.


Hatiku berdebar dengan gila. Perasaanku campur aduk tak keruan.


Mereka bukan keluarga asliku, melainkan Serethy. Dan apa yang Angelina ceritakan mengenai keduanya adalah bahwa keduanya telah mengabaikan Serethy karena mengira bahwa Serethy adalah anak haram. Jadi, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan ketika menghadapi keduanya.


Apakah aku perlu pura-pura senang? Atau menunjukkan ketidaksukaanku? Aku tidak tahu. Namun, tanpa terasa, aku tiba di hadapan sel mereka.


Mereka berdua tertunduk lesu dengan rantai di pergelangan tangan mereka dan bola besi di pergelangan kaki. Pakaian mereka yang lusuh terlihat sangat kotor oleh tanah dan lumpur, rambut perak identik itu kelihatan seolah telah kehilangan sinarnya, ditambah kulit pucat dan kurus.


Ketika suara langkah kakiku terdengar di depan mereka, keduanya mengangkat kepala mereka.


Dan begitu mata kami yang sama-sama sewarna violet bertabrakan, pria yang memiliki sedikit kerutan di wajahnya malah terisak haru, sementara yang lebih muda memiliki pupil yang bergetar di mata mereka.


"Serethy!" panggil keduanya secara bersamaan.


Keduanya bersikeras untuk menghampiriku, tetapi karena bola besi di kaki, keduanya sedikit kesulitan untuk melangkah.


"Serethy!" Pria dengan beberapa kerutan di wajahnya mulai mengucurkan air matanya dengan deras, yang sialnya kenapa dia sangat awet muda. "Ayah merindukanmu, Serethy-ku! Betapa Ayah merindukanmu."


"Serethy! Maaf! Maafkan Kakak! Kakakmu kehilanganmu ketika kita sedang dalam pelarian. Tapi syukurlah, oh, syukurlah kamu hidup!" Pria tampan yang mengatakan bahwa dirinya kakak bahkan memiliki mata yang berkaca-kaca dan ekspresi yang sangat meyakinkan. Dia kelihatan lega setelah melihat adiknya kembali dengan hidup.


Jujur saja, keduanya benar-benar hebat dalam drama. Ekspresi wajah meyakinkan, tubuh lemah yang seolah kehilangan keluarga mereka membuat mereka kehilangan nafsu makan, lalu nada suara mendayu yang membuat putri mana pun akan langsung memeluk mereka.


Namun, jika aku adalah Serethy yang asli, maka aku pasti akan melakukannya. Sayang sekali aku bukan Serethy yang asli.


Akan tetapi, aku memastikan bahwa kedua mataku pun dipenuhi kaca.


"Ayah, Kakak!" panggilku, kemudian merasa jijik dengan suaraku sendiri.


Aku menggenggam jemari mereka yang berada di antara jeruji, erat, seolah tak mau lepas.


"Serethy! Ayah merindukanmu. Syukurlah kamu hidup dengan baik."


"Dewi Matahari, terima kasih telah menyelamatkan Serethy."


"Apakah kamu makan dengan baik, Nak?"


"Apakah Kerajaan Asher menyiksamu? Apakah mereka memperbudakmu?"


Sungguhan, kapan sesi drama ini akan berakhir? Aku jadi jijik sendiri dengan mereka.


Untungnya, aku mendengar langkah kaki yang mendekat dan ketika aku menoleh, aku mendapati Viten menghampiriku dengan pakaian mewahnya. Seolah menunjukkan bahwa dia adalah rajanya di sini.


"Yang Mulia," sapa Sir Derick.


Viten mengangguk kecil pada sapaan Sir Derick kemudian fokus pada kami bertiga.


Viten memiliki pandangan yang aneh di matanya ketika melihat kedua tanganku digenggam oleh mantan Raja dan Putra Mahkota.


"Etrill Matria, Kallistar Matria," panggil Viten, mengungkapkan dua buah nama yang bahkan aku saja tidak tahu.

__ADS_1


Aku ingin sekali melepas genggaman tanganku dengan Etrill dan Kallistar, tetapi mereka tidak mau melepaskannya.


"Bagaimana ini, Serethy?" tanya Viten sambil melirikku.


Aku menunjukkan sorot: hah? Bagaimana apa? Jangan tanya aku.


"Menurut undang-undang, para buronan yang kabur harus dijatuhi hukuman mati. Namun, hukuman bisa diringankan apabila anggota keluarga menuliskan surat permintaan untuk meringankan hukuman."


Aku ingin menghela napas kesal karena itu sangat merepotkan. Namun, aku tidak bisa. Aku harus memainkan peran yang baik sebagai seorang anggota keluarga mereka yang peduli.


"Yang Mulia, aku akan menulis surat permohonan," kataku dengan serius.


"Kau yakin?" tanya Viten. "Biar kuingatkan lagi apa kesalahan Etrill Matria dan Kallistar Matria. Mereka kalah dari peperangan dan kabur karena tidak ingin ditangkap. Mereka bahkan membiarkanmu tertangkap oleh pihak Kerajaan Asher, kau tahu itu, kan?"


Haduh, merepotkan. Namun, aku harus konsisten dengan peran putri yang mencintai ayahnya dan adik yang mencintai kakaknya.


"Aku yakin, Yang Mulia. Tolong beri aku waktu untuk menulis surat, aku akan melakukannya dengan cepat."


Viten mengembuskan napasnya. "Terserah padamu. Sampai jumpa." Kemudian, Viten membalikkan tubuhnya. Seolah kehadirannya di sini tidak terlalu berguna, melainkan untuk menunjukkan kekuatannya saja pada mantan Raja dan Putra Mahkota.


Aku menatap punggung pria itu yang menjauh dengan pandangan aneh, tetapi beralih menatap keluargaku, keluarga Serethy maksudnya.


Ayahku, Etrill, makin menangis dan Kallistar, kakakku, ikut menangis juga. Jika ini dunia nyata, mungkin kalian sudah dikontrak oleh agensi karena kehebatan kalian dalam bermain drama.


"Ayah, Kakak. Kumohon tunggu sebentar lagi, aku akan menyelamatkan kalian berdua," kataku dengan sorot sendu di wajah. Syukurlah, ekspresiku sangat meyakinkan sehingga keduanya langsung tersenyum lebar.


"Serethy, terima kasih! Kamu tidak tahu betapa aku menyayangimu," ujar Kallistar, dia mengecup punggung tanganku dengan penuh sayang.


Tak terkecuali Etrill yang mengelus rambutku dengan penuh sayang. Aku ingin melotot karena Jelena sudah menata rambutku dengan susah payah dan pria ini malah menghancurkannya. Namun, menjaga image, menjaga image.


"Terima kasih, putriku. Kamulah harapan kami satu-satunya."


Ho? Harapan apa, Pria Tua? Harapan untuk memanfaatkan pengaruhku sebagai calon Ratu maksudmu?


Aku jadi ingin merobek topeng di wajah keduanya secara kasar.


Setelah melalui perbincangan yang menguras mental dan tenaga, akhirnya Etrill dan Kallistar mau melepaskanku. Lagipula, masih ada jadwal konsultasi dan penyembuhan satu jam lagi, jadi aku harus bersiap.


Aku akhirnya keluar dari penjara bawah tanah. Untuk ketiga kalinya, aku mengunjungi tempat yang sama dan itu sama-sama bukan pengalaman yang menyenangkan.


"Tuan Putri, apa Anda senang bertemu dengan keluarga Anda?" tanya Sir Derick dalam perjalanan kembali ke kamarku.


Sir Derick mengatakan kalimatnya dengan ekspresi yang begitu cerah, seolah tidak tahu apa penderitaan mental yang kualami setelah menemui keduanya.


Aku memasang senyuman palsu. "Tentu saja, Sir Derick. Aku kehilangan mereka dalam pelarian dan aku akhirnya bertemu dengan mereka lagi."


"Apa Anda sedih mereka berada di balik jeruji?" Sir Derick bertanya karena melihat senyumanku sedikit kurang ikhlas.


"Benar sekali. Aku mana rela membiarkan keadaan mereka sekacau itu di dalam jeruji. Ayo kembali ke kamarku dan menulis surat permintaan kepada Yang Mulia."


"Baiklah, Tuan Putri. Saya akan membantu Anda dengan format penulisannya."


"Terima kasih, Sir Derick. Itu akan membantuku."


"Merupakan sebuah kehormatan bagi saya, Tuan Putri."


Aku balas tersenyum pada Sir Derick dan kembali menatap lurus ke depan.


Baiklah, Etrill dan Kallistar yang telah mengabaikan Serethy, apa tujuan kalian menyerahkan diri kepada Asher? Jika kalian berdua datang hanya untuk memanfaatkan pengaruh yang sudah susah payah kubangun, akan kuladeni permainan picik kalian berdua dengan senang hati.


...***...


Sampai ketemu di chapter berikutnya!

__ADS_1


16 Desember 2022


__ADS_2