I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
4. Medusa Bahkan Lebih Baik


__ADS_3

Hidupku yang malang.


Aku tidak bisa langsung merasa tenang setelah menghindari bendera kematian yang pertama karena Viten telah memutuskan untuk tidak menyiksaku dan memasukkan aku ke dalam silsilah keluarga kerajaan.


Itu karena, antagonis di novel ini tidak hanya Viten. Ada juga tunangannya. Dan ada juga beberapa bangsawan lain yang ikut andil dalam penyiksaan Serethy.


Mereka semangat sekali dalam menyiksa Serethy secara fisik dan merusak mental Serethy.


Cuma Sir Derick, Malaikat Jatuh, saja yang baik.


Tapi menjadi baik saja tidak cukup, karena akhir tragis lah yang menunggunya.


Wanita gila itu muncul di ruang kerja Viten secara tiba-tiba, tanpa mengetuk, bahkan mendobrak pintu.


Sir Derick yang menunggu di balik pintu juga terkejut, tetapi menutup pintu begitu wanita gila masuk.


Dan meski benci mengakuinya, dia sangat cantik.


Wajahnya menampilkan sorot tegas dan elegan di saat yang bersamaan. Rasanya, senyum yang muncul di sana hanya akan menimbulkan senyuman sinis. Aku akan sujud syukur jika dia mau tersenyum ramah.


Gaunnya yang berwarna hijau sama mewahnya dengan gaun emas yang kugunakan.


Menurut novel, wanita ini adalah putri dari Duke. Dan pertunangan antara wanita gila dan Viten hanyalah pertunangan politik.


Viten tidak benar-benar menyukai wanita gila, tapi wanita gila sangat mencintai Viten.


"Clare, apa yang kau pikir kau lakukan?" tanya Viten dengan nada yang dingin.


Aku sedikit merinding, hanya sedikit. Viten bicara padaku dengan nada yang normal bahkan di aula singgasana, jadi aku tidak benar-benar mengalami hal ini sebelumnya. Nada dingin Viten adalah sesuatu yang tidak ingin aku alami seumur hidupku. Jika aku mengalaminya, maka kehidupanku akan berakhir.


Wanita gila, Clare, maju dan menggebrak meja dengan keras. Membuat botol tinta jatuh dan isinya tumpah.


Aku meringis dalam hati, apa tangannya baik-baik saja? Pasti sakit. Meja itu keras, kan?


"Itu seharusnya adalah kalimatku, Yang Mulia!" kata Clare dengan marah. "Apa yang kamu pikir kamu lakukan?! Menjadikan tawanan perang sebagai Keluarga Kerajaan. Aku-"


"Itu bukan urusanmu," sela Viten dingin.


Clare memelototiku dengan ganas, tapi aku mempertahankan ekspresiku yang poker.


"Yang Mulia, apa kamu tahu jika perkumpulan bangsawan sangat heboh saat ini?"


"Aku sudah menduganya."


"Itu sudah pasti, Yang Mulia! Mereka sangat heboh hingga rasanya berita ini akan segera tersebar ke seluruh kerajaan di dunia ini!"


Hei, itu berlebihan, kan?


"Bagaimana mungkin, seorang tawanan perang, menjadi Tuan Putri Asher hanya dalam satu malam! Ini dongeng, Yang Mulia! Kamu harus membedakan antara dongeng dan kenyataan!"


Haduh, berhenti berteriak, wanita gila. Telingaku berdengung.


"Jaga nadamu pada raja," kata Viten dingin.


Clare tersentak dan mundur satu langkah. Tapi dia tampaknya tidak akan menyerah semudah itu.


"Dengan segala hormat, saya, putri tunggal Duke Cyrill, meminta Anda untuk mencabut hak-hak Keluarga Kerajaan bagi Nona Serethy Matria."


Ho. Dia kini meminta sebagai putri Duke dan bukan tunangan raja. Dia teguh pendirian. Kita lihat bagaimana jalan ceritanya.


Sayangnya, tidak ada pop corn di sini, padahal kelihatannya akan ada drama yang seru.


"Aku menolak," balas Viten singkat. Dia mengacak rambut hitamnya.


"Tapi, Yang Mulia-"


"Aku menolak," tegas Viten dengan kejam.


"Tapi perkumpulan bangsawan sangat heboh! Banyak juga yang keberatan dengan keputusan Anda yang semena-mena!"

__ADS_1


"Aku tahu yang terbaik untuk kerajaanku."


"Tidak, Anda tidak tahu betapa buruknya Anda dalam membuat keputusan mengenai Nona Serethy Matria."


"Clare."


"Nona Serethy adalah tawanan perang, Yang Mulia. Nona Serethy telah kehilangan harga dirinya sesaat setelah dia dinyatakan sebagai tawanan perang. Apa yang membuat Anda berpikir untuk menarik seseorang yang memiliki harga diri rendah untuk berdiri di samping Anda?"


"Clare. Aku tidak minta pendapatmu."


"Yang Mulia, Anda akan kehilangan reputasi publik Anda dengan cepat."


"Tidak. Itu tidak akan mungkin."


"Tapi-"


"Sebenarnya, bangsawan tidak akan terlalu memedulikan hal ini. Mereka hanya peduli jika kekayaan dan pengaruh mereka akan terkuras apa tidak jika aku mengambil tawanan sebagai Tuan Putri atau tidak."


"Yang Mulia!"


Viten menghela napas. "Maka dari itu, aku akan membangun sendiri pengaruh bagi Tuan Putri."


Aku memelotot. Apa, sih? Apa yang mau dilakukan bajingan gila itu?


"Sedikit demi sedikit, aku akan menarik bangsawan untuk mendukung Tuan Putri. Tuan Putri tidak tertarik pada tahta, Tuan Putri hanya ingin hidup dengan damai sebagai Tuan Putri Asher."


...***...


Setengah jam kemudian, aku dan wanita gila, Clare, keluar dari ruang kerja Viten.


Clare tentu keluar dengan kekalahan telak. Perdebatan selama setengah jam itu sangat seru, aku nyaris tidak dapat mempertahankan wajah poker-ku, dan hampir tertawa terbahak jika aku tidak menahannya.


"Tuan Putri, bagaimana dengan pembicaraan Anda?" tanya Sir Derick padaku, masih sama lembutnya.


Aku mengangkat bahu. "Aku menjadi Tuan Putri Asher."


"Sir Derick, kamu tidak kontra pada keputusan Yang Mulia?"


Sir Derick hanya tersenyum. "Saya memercayai keputusan Yang Mulia."


Aku membuka mulutku untuk membalas sebelum seseorang memanggil Sir Derick.


"Sir Derick."


Kami berdua menoleh bersamaan dan mendapati Clare di sana, perlahan menghampiri kami.


"Senang bertemu dengan Anda, Nona Clare," kata Sir Derick disertai senyuman normal.


Normal? Entah mengapa, cara dia tersenyum padaku dan pada Clare sangatlah berbeda. Mungkin tidak ada yang menyadari hal ini, tapi aku adalah satu-satunya orang yang telah memperhatikan senyuman Sir Derick setelah bertemu dengannya. Katakan saja itu candu. Jadi aku benar-benar mengetahui perbedaannya meski hanya sedikit.


Apa Sir Derick membenci Clare? Di novel asli juga, Sir Derick pernah ingin mengajukan protes pada Duke atas perilaku Clare pada Serethy. Untungnya Serethy masih waras dan mencegah hal ini terjadi.


"Sir Derick, kamu mendukung putri palsu ini?" Tangan si wanita gila menunjukku secara langsung.


Sir Derick tetap mempertahankan senyumnya. "Saya mendukung Tuan Putri atau tidak, itu bukanlah urusan Anda, Nona Clare. Dan tolong bicara dengan sopan pada Tuan Putri."


Clare mendengus. "Yang Mulia tidak pernah tertarik pada wanita mana pun sebelumnya, lalu apa yang membuat dia tertarik pada putri palsu ini?"


"Saya yakin bahwa Tuan Putri memiliki pesonanya tersendiri," tegas Sir Derick.


"Bagaimana ini? Aku tidak percaya pada kalimatmu, Sir Derick. Aku yakin jika putri palsu ini pasti memamerkan tubuhnya di depan Yang Mulia dan menggoda Yang Mulia, bukan? Meski sebegitu tidak tertariknya Yang Mulia pada wanita, jika seorang wanita menyodorkan tubuhnya secara sukarela, Yang Mulia pasti akan tergoda."


Aku kesal, tidak, marah. Aku marah pada wanita gila ini.


Aku bukan kau! Justru kamu yang akan segera melakukan hal itu seperti di novel, kan?


Aku tertawa internal.


"Nona Clare! Tolong jaga mulut Anda," kata Sir Derick membelaku.

__ADS_1


Aku menyuruh Sir Derick mundur. Aku akan mengatasinya.


"Tapi, Tuan Putri-"


"Tidak apa, Sir Derick. Percaya padaku."


Sir Derick tidak mengatakan apa-apa lagi hingga aku akhirnya maju dan menghadapi wanita gila secara langsung.


"Nona Clare, bukan?"


"Berhenti basa-basi tidak perlu. Kau pasti memberikan tubuhmu dengan cuma-cuma, kan?!"


Aku mempertahankan wajah poker-ku selama aku berinteraksi dengan semua orang, tapi khusus untuk wanita gila ini, aku memberikannya senyuman sinis.


"Aduh, bagaimana mungkin Nona Clare memiliki kesalahpahaman seperti ini? Aku tidak murahan seperti Nona Clare. Aku menghargai tubuhku seperti bagaimana aku menghargai nyawaku, jadi aku tidak mungkin memberikan tubuhku kepada Yang Mulia secara cuma-cuma."


Clare menggeretakkan giginya. "Bohong! Lalu kenapa Yang Mulia bisa memasukkanmu ke dalam keluarga kerajaan semudah itu dibandingkan aku?! Aku sudah bertunangan dengan Yang Mulia lama sekali, tapi Yang Mulia tidak pernah ingin meresmikan pernikahan!"


"Itu pasti karena Yang Mulia tidak menyukaimu. Apa yang kamu lakukan hingga Yang Mulia tidak menyukaimu?"


Aku terkekeh, berpura-pura simpati dengan mataku yang menatap untuk merendahkannya.


Dia makin menggeretakkan giginya.


Plak!


Dia menamparku dengan sangat keras hingga aku terhuyung.


"Tuan Putri!"


Belum sempat menyeimbangkan tubuhku, Clare sudah lebih dulu menarik rambut merah mudaku. Menjambaknya sekuat tenaga sambil berteriak memaki namaku.


"Ah!" Sungguhan, ini sakit.


Aku menarik gaunnya, tapi dia menendang tubuhku.


"Ah! Nona Clare!"


"Tuan Putri!" Sir Derick berlari mendekatiku, dia berusaha melepaskan jambakan Clare dari rambutku yang enggan lepas.


Dia benar-benar menjambak rambutku sekuat tenaga, seolah berharap untuk melihat rambutku tercabut dari akarnya.


"Nona Clare! Tolong hentikan! Ini keterlaluan! Anda menyakiti Keluarga Kerajaan!"


Clare mendengus, lalu menjambakku terakhir kali dengan keras, dan melemparku ke bata marmer.


Aduh, sialan. Wanita gila sialan itu.


Kepalaku berdenyut-denyut sakit dan mataku berkunang-kunang. Ditambah, tadi dia menendang perutku dengan sangat keras. Aku tidak akan kaget jika tulangku patah atau organ internalku terluka.


Sial, ini benar-benar menyakitkan.


Sir Derick langsung menggendong tubuhku dengan gaya pengantin. Dia menatap Clare dengan tajam seolah memberi peringatan sebelum dia membawaku ke kamarku di mana aku didandani sebelumnya.


"Astaga, Tuan Putri!" Jelena tampak terkejut dengan kondisiku yang kacau.


Aku tidak bisa menjawab karena kepalaku sangat pusing, bahkan sekarang dunia rasanya berputar-putar.


Wanita gila itu, dia benar-benar menyiksaku dalam pertemuan pertama kami dengan sekuat tenaga. Seolah berharap aku mati di saat yang sama.


Wanita itu sangat kejam, bahkan lebih kejam dalam novelnya. Di novel, dia menikmati makanan atau wine saat melihatku disiksa. Dia sangat menikmatinya.


Medusa bahkan lebih baik dari wanita gila itu.


"Ah, sakit," gumamku pelan.


"Cepat panggil dokter!"


Suara Sir Derick adalah hal terakhir sebelum aku kehilangan kesadaran.

__ADS_1


__ADS_2