![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Tubuhku bergetar hebat. Belum lagi, aku makin merasa mual ketika pria itu kian menghampiriku.
Bau darah dan anyir meningkat seiringan suara sepatu sol yang mendekat.
Figuran A lalu berdiri di depanku untuk melindungiku, membuat pria berambut hitam itu mengernyit kesal.
"Maafkan saya, Pangeran. Namun, saya ditugaskan untuk melindungi Tuan Putri," kata Figuran A dengan tegas.
Pangeran, Cioten Marilion Asher, hanya mendengus. Tangannya lalu dengan mudah mendorong Figuran A ke samping, kini aku dan Cioten benar-benar berhadapan.
Aku menutup mulut dan hidungku dengan kedua tangan. Bau darah itu membuat kepalaku pusing.
Aku tidak bisa menahan tubuhku yang makin bergetar ketakutan. Insting bertahan hidupku membunyikan alarm di dalam alam bawah sadarku dengan nyaring, menyuruhku untuk kabur secepatnya.
Namun, aura yang mendominasi dari Cioten benar-benar menghantamku dengan telak. Aku tidak bisa bergerak, seolah ada sesuatu yang tidak kasat mata tengah menekan pergerakanku.
"P-Pangeran." Figuran A belum menyerah.
Cioten menghela napas, dia lalu mengibaskan tangannya yang makin membuat darah tercecer di lantai.
"Aku tidak akan menyakiti Tuan Putri, aku janji. Sekarang, jangan ganggu percakapan kami, ksatria rendahan." Mata Cioten menyorot Figuran A dengan dingin hingga Figuran A mematung.
Ketika Cioten beralih menatapku, aku bisa melihat kilatan mata yang sama ketika kami bertemu di gazebo. Mengecualikan dengan bagaimana tubuhnya bermandikan darah yang membuatku merinding.
"Apa yang Tuan Putri lakukan di sini? Apa Tuan Putri belum tahu kalau di sini adalah wilayahku?"
Cioten mendekat ke arahku, membuatku melangkah mundur dan menabrak tembok. Kedua tangan Cioten naik, lalu mengunci pergerakanku di dinding.
Aku menetralkan raut wajahku. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan psikopat ini. Jika aku terlihat lemah, maka Cioten akan semakin puas.
"Aku tidak bisa tidur dan memutuskan untuk jalan-jalan." Namun, rupanya menyembunyikan getaran di nada suaraku adalah hal yang sulit. "Aku belum mengenal Istana Kebahagiaan dengan baik sehingga aku tanpa sadar memasuki wilayah Pangeran. Maafkan ketidaksopanan diriku, Pangeran."
"Heheh." Cioten terkekeh kecil, tangannya naik dan menepuk-nepuk kepalaku beberapa kali. "Tidak apa-apa, Tuan Putri. Manusia melakukan satu atau dua kesalahan di dalam hidupnya. Namun, jika manusia sudah melakukan tiga kali kesalahan, mereka akan dihukum."
Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Cioten melirik ke dalam ruangan di mana banyak mayat yang bermandikan darah.
"Mereka akan dihukum dengan mengutamakan rasa sakit yang menyenangkan. Merah. Darah merah yang menyegarkan. Aku menyukainya. Sangat-sangat menyukainya hingga aku nyaris ingin melihatnya di sini."
Cioten meraih ujung rambut merah mudaku. "Tapi sayangnya, jika aku melukaimu, Kakak pasti akan marah."
Aku mencoba agar tidak bergetar ketakutan. Aku harus bereaksi normal.
Cioten seolah mengatakan bahwa aku selamat hari ini karena baru melakukan satu kesalahan, tapi jika aku melakukan dua kesalahan lain di depannya, maka aku juga akan berakhir seperti mayat-mayat di dalam ruangan.
"Katakan, Tuan Putri. Apa kamu menikmati hidupmu?"
Apa yang harus kujawab? Jika kujawab, iya, apa dia akan langsung menikamku dengan belati yang tersembunyi di balik kemejanya?
Atau jika kujawab tidak, dia juga akan langsung menikam kepalaku?
"Tidak usah sungkan, Tuan Putri." Tangan Cioten yang bermandikan darah mengelus pipiku, menularkan darah di pipiku yang pucat. "Aku sangat suka jawaban yang jujur."
"Aku menikmati hidupku di sini," kataku tegas.
"Wah, itu—uhuk!"
Belum sempat Cioten menyelesaikan kalimatnya, dia terbatuk. Batuk yang terdengar sangat menyakitkan dan menyiksa.
Tes. Tes.
Aku jadi tidak bisa membedakan darah yang menetes adalah darah yang dia muntahkan atau darah dari para korbannya.
Darah itu menetes melalui gaun tidurku, mengotori warna putih menjadi darah.
"Duh, gaunmu jadi kotor, uhuk." Dia batuk darah lagi.
Bau anyir dan darah semakin menguat. Aku mual.
__ADS_1
"Tuan Putri, ingat, ya, ini rahasia. Percakapan kita, apa yang Tuan Putri lihat, darah merah yang asik, dan permainan belati. Semua yang ada di sini adalah rahasia."
Telunjuknya mendarat di bibirku, memaksaku untuk tutup mulut dengan segala yang kulihat.
Aku tersenyum di balik wajah pucatku, aku lalu mendorong tubuh Cioten yang mengunci pergerakanku di tembok lalu menunduk untuk melakukan salam.
"Tentu saja, Pangeran. Aku pandai menyimpan rahasia. Jadi, jika Pangeran mengizinkan, aku akan undur diri dari sini dan kembali melanjutkan tidurku. Pangeran juga harus segera tidur karena tubuh Pangeran yang lemah."
Aku menegakkan tubuhku dan tersenyum. Lalu, aku berbalik tanpa menunggu Cioten untuk membalas kalimatku.
Aku berlari sekencang mungkin, diikuti Figuran A di belakangku.
Aku kembali ke kamarku hanya untuk menyadari bahwa selendang ungu itu sudah menghilang dari bahuku dan aku penuh darah.
Aku bergidik dan merinding hebat.
Bagaimana mungkin kakak dan adik itu sama-sama psikopat?
***
Sarapan kali ini tidak hanya ada aku dan Viten, melainkan ada tambahan satu anggota lainnya, yaitu Cioten.
Biasanya, suasana di meja makan akan dipenuhi oleh hinaan Viten padaku. Yang selalu aku simpulkan bahwa Viten hanya mengatakan omong kosong.
Bagaimana mungkin wajah secantik Serethy disebut sebagai monster buruk rupa?
Jika mata merah Viten mengalami masalah, maka itu masuk akal. Jadi, aku hanya menganggap Viten sebagai pria yang juga ingin bercanda dengan keluarganya, yaitu aku.
Aku adalah keluarga resmi Viten setelah dinyatakan sebagai Tuan Putri Asher.
Sekarang, aku juga baru menyadari kalau aku memiliki keluarga lain selain Viten, yaitu Cioten.
Pria itu, yang sangat mirip dengan Viten, hanya melayangkan senyuman humoris di bibirnya. Tidak ada tanda-tanda psikopat seperti kemarin malam. Tandanya, dia ingin menyembunyikan sisi psikopatnya dari orang lain dan menutupnya dengan tawa.
"Kakak, bukankah Tuan Putri adalah adik bungsu kita?" tanya Cioten membuatku merinding.
"Saat kau mengatakannya, gadis ini masih di bawah dua puluh, kan?" ujar Viten sambil mengiris daging steak di piringnya dengan rapi.
"Ya, usiaku sembilan belas," kataku dengan tenang.
"Tuh, kan, perbedaan usia yang jauh~" ujar Cioten dengan riang.
Wah, aku sangat ingin membongkar topeng Cioten yang menyebalkan itu.
Entah mengapa, setelah mengetahui bagaimana rupa asli Cioten, aku melihat senyuman itu sebagai senyuman yang paling menyebalkan. Bagaimana mungkin ada sisi kegelapan yang tersembunyi rapi di balik senyuman riang?
"Yah, itu benar. Statusmu hanyalah Tuan Putri dan keluarga kerajaan. Jadi, aku akan mengadopsimu sebagai adik perempuan kami."
Hahaha. Ya ampun, lihat bagaimana satu orang psikopat dan satu orang menyedihkan itu saling berdiskusi tentangku.
Aku mengabaikan mereka dan mengisi perutku dengan daging steak yang dulu hanya bisa kuimpikan untuk kumakan.
Dulu, aku tidak akan pernah mampu untuk membeli daging steak yang mahal. Setidak beruntung itulah aku. Yah, mau bagaimanapun, steak di dunia asalku adalah makanan yang terlalu megah untuk orang biasa sepertiku.
Aku bisa mengatakan bahwa ini adalah transmigrasi yang indah. Mengecualikan bagaimana aku akan terus hidup dengan orang-orang gila di sekitarku.
"Oh ya, Tuan Putri. Pelayanku akan mengirimkan seledangmu ke kamarmu," kata Cioten tiba-tiba.
Aku tersentak dan memaksakan senyum. "Terima kasih atas kebaikan hatimu, Pangeran."
"Ya, tentu saja. Kau adalah keluargaku sekarang, kita harus saling membantu."
Aku bergidik.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Viten yang kepo.
Aku hanya tersenyum kaku. "Tidak ada yang istimewa."
__ADS_1
"Itu benar. Aku hanya tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Putri ketika dia sedang jalan-jalan di malam hari."
"Apa? Jalan-jalan di malam hari adalah hal yang berbahaya, Serethy," kata Viten dengan tegas.
"Tapi aku cuma jalan-jalan di dalam istana," balasku tenang.
"Sama saja. Itu berbahaya."
Meski sesaat, aku bisa melihat Viten melirik Cioten.
Ah, jadi dia tahu mengenai perilaku psikopat adiknya? Dan tetap tutup mulut? Itu mengesankan.
Aku hanya menghela napas. "Aku akan memikirkannya."
"Dan bagaimana mungkin Sir Derick membiarkanmu jalan-jalan di malam hari ketika dia sendiri tahu bahwa bahaya banyak terjadi dan sangat rentan di malam hari?" Viten mengernyit kesal, dia menusuk daging yang juicy dengan emosi. "Apa Sir Derick ingin dipecat."
Aku memelotot. Hei, bajingan gila. Aku tidak mau dipisahkan dari Sir Derick. Kamu mau tahu alasannya? Itu karena cuma Sir Derick saja yang waras di dunia ini!
"Tidak bisa! Aku menentang keputusan itu dengan tegas, Yang Mulia. Lagipula itu bukan kesalahan Sir Derick, karena bukan Sir Derick yang menjagaku malam itu."
"Jadi Sir Derick membolos?"
"Kenapa kamu lancang sekali, Yang Mulia? Aku hanya menyuruh Sir Derick untuk beristirahat. Aku tidak bisa membiarkan Sir Derick berjaga 24 jam sehari, itu perbudakan."
"Ya itu benar, kemarin Tuan Putri datang dengan Ksatria rendahan berambut merah?" sambung Cioten membuat Viten mendelik.
"Apa itu benar?"
"Itu benar. Tapi aku yang memaksa ksatria itu untuk menemaniku jalan-jalan. Lagipula ini salahmu karena istana ini sangat membosankan!"
Viten terdiam setelah aku mengalahkannya dalam argumen. Aku kembali fokus pada steak-ku sebelum mata violetku melirik Cioten dalam sepersekian detik.
Aku bisa membaca pergerakan bibir Cioten yang bicara tanpa suara. "Rahasia," katanya.
Terserahmu, bajingan psikopat.
***
"Saya sangat lalai!"
Lagi-lagi Sir Derick berlutut di depanku secara berlebihan.
Aku hanya terkekeh dan menyentuh kedua bahunya dengan lembut.
"Bangunlah, Sir Derick. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun."
Aku bisa melihat telinga anjing Sir Derick menurun dengan sedih ketika dia menegakkan tubuhnya. Ah, manisnyaaa!
"Tapi saya membuat Tuan Putri jalan-jalan di tengah malam!"
"Hei, apa yang salah dengan jalan-jalan di tengah malam? Itu bukan berarti aku melakukan dosa hanya karena jalan-jalan, kan?"
"Tapi, saya dengar dari Jonath jika Tuan Putri berpapasan dengan Pangeran. Bukankah Tuan Putri sangat ketakutan?"
Aku mengerjap. Apa Sir Derick juga tahu mengenai perilaku psikopat Cioten?
Tapi menilai situasi, rasanya tidak akan ada yang tahu.
Secara teknis, Viten baru saja menjadi raja kurang lebih satu bulan yang lalu, dan pada saat dia menjadi raja lah Cioten bisa bergerak bebas dan meninggalkan paviliun terpencil yang ada di luar ibu kota. Sehingga keberadaan Cioten seharusnya mulai terlupakan dan tidak akan ada yang tahu pada perilaku psikopat bajingan itu.
"Bagaimana Sir Derick tahu mengenai Pangeran?"
"Tentu karena saya memaksa Jonath untuk menceritakan segalanya pada saya."
Kasian sekali Figuran A. Aku bisa membayangkan bagaimana Sir Derick mengguncang tubuh Figuran A untuk memuntahkan segala reka peristiwa yang terjadi padaku.
"Tuan Putri, saya berjanji untuk tidak meninggalkan sisi Anda lagi! Saya akan tidur di luar kamar Tuan Putri mulai sekarang!"
__ADS_1
Aku memelotot, tolong jangan menyiksa dirimu sendiri, Sir Derick!