![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Sebuah kereta kuda dengan lambang Duke Cyrill berjalan melintasi jalanan menuju area perburuan di hutan bagian utara Kerajaan Asher.
Di dalamnya, Clare duduk. Di hadapannya, seorang pria berambut emas duduk.
Verro mengenakan pakaian yang didominasi putih, sehingga menampilkan kecocokan antara setelan serta warna rambutnya.
"Jangan lupa, Verro."
Verro tersenyum lebar. "Tentu saja, Nona Clare. Aku akan menyapa beberapa bangsawan dulu di sana, lalu saya akan melanjutkan semuanya sesuai rencana."
Clare mengangguk senang. Dia menumpukan dagunya dan melirik keluar jendela. Area di sekitar sudah mulai dipenuhi oleh pohon-pohon dan rumah warga sekitar mulai berkurang. Tandanya, mereka akan segera tiba di area kompetisi.
"Bagaimana dengan pria bayaran itu?"
"Aku dan dia akan bergerak bersamaan, Nona Clare."
"Ini harus sempurna," kata Clare. "Ini harus sempurna."
Clare menusuk telapak tangannya dengan kuku hingga membekas di balik sarung tangannya yang tipis, dia mengenakannya untuk menutupi luka bekas cambukan yang pernah Viten lakukan padanya dulu.
"Tenang saja, Nona Clare. Aku akan memastikan ini untuk menjadi rencana yang sangat sempurna."
"Aku sudah kehilangan banyak."
"Nona Clare sudah kehilangan banyak."
"Jadi, jika rencana ini gagal, aku tidak yakin harus melakukan apa."
"Ya, benar."
Verro menatap Clare dengan sorot sendu.
"Akan tetapi, Nona Clare. Apakah posisi untuk menjadi ratu memang sepenting itu?"
Clare buru-buru menatap Verro dengan sorot intimidasi. "Verro, aku sudah pernah mengatakannya padamu, bukan?"
"Nona Clare. Terkadang cinta sepihakmu hanya akan membawa petaka, bagaimana jika menyerah saja pada posisi ratu dan kekasih Yang Mulia?"
Clare menggeretakkan giginya hingga berbunyi. "Kau! Katakan saja jika kau tidak ingin membantuku!"
Verro tersentak ketika Clare membentaknya. Dengan cepat, Verro meraih kedua tangan Clare dan mengecupnya.
"Maaf, maaf, maaf, Nona Clare. Aku janji tidak akan mengatakannya lagi, aku janji akan terus mendukung Nona Clare. Tolong redakan emosimu, Nona Clare."
Kedua tangan Clare bergetar oleh amarah, tetapi Clare membiarkan Verro untuk mengecup setiap jemarinya sambil mengatakan janji-janji layaknya mantra.
Tidak lama, kereta kuda akhirnya tiba di area perburuan.
__ADS_1
Verro langsung keluar dari kereta kuda dan mengulurkan tangannya pada Clare, yang menyambutnya dengan senyuman.
Kini, perhatian para bangsawan teralih pada keduanya.
"Tuan Duke Alverro dan Nona Clare bisa jadi pasangan yang manis!"
"Terlebih, rumor mengatakan bahwa Tuan Duke Alverro menyukai Nona Clare!"
"Ah, mereka sungguh-sungguh manis! Aku juga ingin pasangan seperti Tuan Duke Alverro!"
Alverro, atau Verro bagi Clare, hanya tersenyum manis pada publik. Dia benar-benar memiliki dua sisi di wajahnya, di mana dia hanya menunjukkan sisi luluhnya di hadapan Clare, sementara di hadapan publik dia adalah pria yang sopan dan ramah.
Alverro Cadeearo adalah Duke muda berusia 24 tahun yang terpaksa dinobatkan menjadi Duke. Hal ini disebabkan karena ayahnya mati dalam peperangan, yang menyebabkan Alverro, pria yang memang menjadi penerus Duke harus dinobatkan lebih awal daripada yang direncanakan.
Kini, Alverro dikenal sebagai Duke muda yang ramah dan polos. Akan tetapi, dia serius dalam pekerjaan dan tugasnya sebagai Duke.
"Kalau begitu, Nona Clare, aku akan menemui beberapa bangsawan lainnya di sini untuk membicarakan sesuatu. Nona Clare bersiaplah, tiga puluh menit lagi kompetisi perburuan akan segera dimulai," ujar Alverro dengan suara yang menenangkan.
Beberapa nona bangsawan yang curi-curi dengar merasa bahwa hati mereka tertembak panah cinta. Itu karena nada suara Alverro terdengar sangat manis dan menenangkan. Membuat nona muda mana pun jatuh hati.
Clare tersenyum pada Alverro. "Terima kasih, Tuan Duke Alverro. Semoga urusanmu berakhir sesuai dengan ekspektasimu."
"Terima kasih kembali, Nona Clare. Baiklah, sampai jumpa nanti."
Clare melambai pada Alverro yang bergerak menjauhinya dan menghampiri sebuah tenda yang biasanya diisi oleh orang-orang yang ingin melakukan percakapan bisnis atau privasi lainnya.
Sementara itu, Clare menumpukan pandangannya pada satu titik. Pada seorang gadis yang tengah berbincang di tengah-tengah nona bangsawan lainnya. Dia lalu menyeringai kecil, terkesan jahat.
Pada saat yang sama, keduanya membuat kontak mata.
...***...
Ketika matanya yang berwarna hitam menyorotku, aku langsung merasa merinding. Wow, lihatlah senyuman yang menutupi seringaiannya yang hanya berlangsung selama beberapa detik.
Dan sial, dia datang padaku. Dia menghampiriku dan menunduk singkat.
Ih, mengerikan. Aku jadi takut padanya setelah mendengarkan cerita Axel mengenai Sorena Krone.
Sisi lain Clare yang baru, yang tidak pernah aku tahu, fakta yang tidak pernah aku baca sekalipun dalam novel [Luka Serethy], bahwa Clare adalah psikopat sejati.
"Bersinarlah bintang Kerajaan Asher," salam Clare sambil menunduk dengan anggun, mengikuti apa yang diajari dalam kelas etiket dengan terampil.
Aku memberikannya senyuman ramah. Seolah kami adalah teman lama yang tengah berbincang ringan dibandingkan lawan kompetisi untuk menjadi ratu Asher.
"Halo, Nona Clare. Senang bertemu denganmu."
"Benarkah itu, Tuan Putri? Saya merasa tersentuh akan kalimat Anda." Clare menyeka sudut matanya yang benar-benar berair. Apa dia sungguhan tersentuh atau kemampuan beraktingnya di atas level rata-rata?
__ADS_1
Well, pasti level aktingnya yang tinggi.
"Kamu berlebihan, Nona Clare."
"Mana mungkin, Tuan Putri."
Clare meraih tanganku, menggenggam keduanya dengan erat. Hal ini membuatku tersentak kecil dan menjadi makin waspada.
"Tuan Putri, meski kompetisi ini merupakan kompetisi untuk menentukan siapa ratu Asher di masa depan, saya harap Tuan Putri dan saya akan terus berteman seperti ini."
Clare tersenyum dengan begitu manis, sehingga aku merinding.
Memangnya kita berteman? Tentu saja tidak. Aku tidak mau mengakui kalau kita adalah teman ketika dia sendiri menyorotku dengan sorot psikopat yang mengerikan itu.
"Tentu saja, Nona Clare." Meski begitu, aku tetap tersenyum lembut pada Clare.
Banyak pasang mata yang menatap kami dengan berbagai reaksi.
Dan hal yang harus kuperlihatkan pada publik adalah mengenai bagaimana Serethy sangat ramah pada Clare. Bagaimana Serethy akan menjadi figur yang layak dituruti oleh orang banyak.
Bangsawan adalah orang yang polos.
Mereka akan jatuh pada sifat ramah dan baik milik Tuan Putri. Well, meski tidak semuanya polos, akan ada banyak bangsawan yang jatuh ke dalam pesona kebaikan Tuan Putri.
"Aku harap, aku dan Nona Clare bisa tetap berteman. Dan aku juga mengharapkan kompetisi yang adil bagi kita berdua, ya. Tidak ada kecurangan sama sekali. Jika kita curang, bukankah hal ini menodai Kerajaan Asher dan Dewa Matahari?"
Samar-samar aku bisa melihat tatapan keji Clare yang langsung menghilang hanya dalam beberapa detik. Wow, dasar muka dua. Tapi tidak apa-apa. Itu karena manusia memiliki banyak topeng di wajah mereka. Dan mereka akan memilah-milah topeng yang akan digunakan ketika berinteraksi dengan orang yang berbeda-beda pula. Dan semenjak aku tiba ke dunia ini, banyak karakter yang memiliki banyak topeng seperti Viten dan Cioten. Hal ini membuatku tidak lagi kaget dan terkejut.
"Mana sudi saya menodai Kerajaan yang saya cintai ini, Tuan Putri. Dan juga, saya sangat patuh kepada Dewa Matahari, mana mungkin saya menodai kesucian sang Dewa? Bukankah saya adalah hamba yang kurang ajar jika saya melakukannya?"
"Betul. Saya sangat senang kamu bisa sadar diri."
Clare perlahan-lahan melepaskan genggaman tangannya padaku.
"Omong-omong, Tuan Putri. Senjata apa yang Anda gunakan untuk kompetisi ini?"
"Oh, itu panah."
"Panah?"
"Betul. Memanah lebih mudah bagiku."
"Kalau begitu, semoga sukses, ya, Tuan Putri."
Setelah mengatakan hal itu, Clare pamit dan berbalik.
Semoga sukses apanya? Bukankah kau yang mendoakan aku agar gagal dalam kompetisi ini? Yah, bukannya aku benar-benar mau memenangkan kompetisi dan jadi ratu Asher. Tapi aku tentu saja akan berjuang sedikit untuk menyenangkan Viten.
__ADS_1
...***...
Tebak, karakter Alverro terinsipirasi dari siapa? Tepat! Helio dari manhwa I Wanna Be U! Dia Duke muda dan cuma nampilin sorot luluhnya ke Medeia doang, kalau di sini, Alverro nunjukin sorotnya ke Clare doang.